Friday, November 29, 2019

Usaha Meraih Kepandiran

-->
Damhuri Muhammad




“Saya ingin menjadi Barbie sejati. Dan, saya sungguh ingin menjadi orang yang tak punya otak,” kata Blondie Bennet (43), perempuan asal California AS, dalam sebuah wawancara dengan Bracroft TV, 2014 silam. Blondie adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang terobsesi menjadi Barbie, boneka wanita pirang dan bertubuh langsing, temuan Ruth Handler (1916-2012). “Saya tidak suka menjadi manusia. Menjadi alamiah itu membosankan. Saya akan senang sekali, bila kelak berubah sempurna menjadi plastik,” kata Blondie, menegaskan betapa tak bahagianya ia hidup sebagai manusia. 
       Blondie telah menjalani lima kali operasi implan payudara, yang dalam laporan Daily Mail, menghabiskan  25.000 euro atau sekitar 400 juta. Ia juga secara teratur  melakukan tanning pada kulit agar kulitnya mirip Barbie, dan menyuntik botox pada bibirnya, agar tampak lebih berisi. Tak sampai di situ, tampilan Barbie tampak luar belum memadai. Baginya kesejatian sebagai  boneka harus dituntaskan dengan mencapai kebodohan, alias meniadakan kesibukan berpikir. Guna merengkuh titik bodoh itu, Blondie menjalani lebih kurang 20 sesi terapi. Ia mengaku--setelah menjalani terapi kepandiran--ia kebingungan sepanjang hari. “Suatu hari saya menjemput teman di bandara, dan saya tidak dapat mengingat apakah saya akan menunggu di area kedatangan atau keberangkatan. Saya juga tersesat 3 jam saat berkendara ke rumah ibu saya. Rumah tempat saya dibesarkan,” kata Blondie, sebagaimana dikutip Daily Mail (19/2/14).



www.cewekbanget.id


        Cita-cita ingin menjadi boneka, bukan impian Blondie seorang. Adalah Katie Lawrence, mahasiswi seni di London, juga punya kebiasaan ganjil. Hampir setiap hari ia menggunakan gaun Lolita dan riasan ala boneka layaknya wanita Jepang. Katie punya rencana, kelak akan melakukan operasi plastik, mengubah bentuk telinganya seperti elf. Ia juga mengejek gadis Barbie Valeria Lukyanova, yang menurutnya terlalu  membosankan. Mungkin itu sebabnya ia hendak memberi warna lain bagi penampilan boneka pada lazimnya. Dalam hal kecantikan, Katie tak bersaing dengan keindahan tubuh manusia lainnya, tapi ingin melampaui kecantikan boneka. Guna mememenuhi obsesi itu, Katie juga menghabiskan banyak uang setiap bulannya, untuk berbelanja pakaian,  kosmetik, dan aksesoris pendukung, hingga ia tampil sempurna sebagai boneka.
      Lain Blondie dan Katie, lain pula obsesi Celso Santebanes, laki-laki asal Brasil yang berjulukan Human Ken Doll. Celso mengubah penampilannya menjadi sosok boneka Ken, pasangan boneka Barbie. Disebut-sebut, ia telah menjalani  operasi hidung, dagu, rahang, dan implan silikon di dada (agar tampak lebih bidang). Setelah mendapatkan pengakuan dari banyak orang bahwa penampilannya mirip boneka, ia melakukan operasi lanjutan hingga betul-betul ternobat sebagai boneka. Santebanes mulai mengoperasi wajahnya setelah ia memenangkan kontes model pada usia 16 tahun. Setelah tenar sebagai Human Ken Doll, Celso dikontrak sebagai sebagai presenter talk show di Sao Paolo dengan imbalan besar. Ia meluncurkan produk boneka dirinya dengan merek Celso Dolls di Los Angeles, sebelum jatuh sakit, dan akhirnya meninggal pada 2015 silam. "Orang-orang kadang takut dengan penampilan saya, dan mencoba menghentikan saya berpenampilan seperti boneka," kata Celso,  sebagaimana dikutip www.tempo.co (7/6/15). "Saya menderita karena prasangka. Tapi dunia ini memang penuh dengan orang-orang yang suka menghakimi, saya sudah tidak peduli.” Sebelum meninggal dalam usia 21 tahun karena leukemia, Celso mengatakan, “Saya baru mencapai 90 persen dari apa yang saya inginkan.” Tak ada yang tahu 10 persen pencapaian yang belum  diraih Celso.  Tapi mungkin itu harapan yang sama dengan apa yang kini diperjuangkan Blondie Bennet; boneka sempurna, tanpa otak di kepalanya.
Dari sekian banyak orang yang ingin tampil sebagai boneka dalam hidup keseharian, mungkin belum ada yang setinggi Blondie Bennet cita-citanya; meraih kepandiran. Atmosfer politik Indonesia juga tak asing dengan istilah “boneka”. Kelompok oposisi kerap menggunakannya sebagai alegori dari etos kepemimpinan yang tak mandiri, lantaran dikemudikan oleh kekuatan tak kasat mata  di luar kekuasaan. Belantika dunia hiburan kini sedang riuh oleh obrolan seputar boneka, tepatnya boneka Barbie yang identik dengan penampilan seorang artis. Sedemikian terobsesinya ia pada kemolekan tubuh boneka berpinggang ramping itu, ia mengubah namanya menjadi Barbie. Namun, yang menjadi perhatian, bukanlah perkara kecantikan itu, melainkan soal keganjilan-keganjilan yang makin lama makin terasa menghibur.
Sebutlah misalnya, tentang biaya perawatan tubuh yang mencapai 4 milyar rupiah, hingga wajar bila penampilannya jauh lebih mewah dari sebelumnya. Tapi warganet tak bisa percaya, mereka tetap nyinyir dan berupaya mengumpulkan jejak digital tentang berapa sesungguhnya total ongkos untuk sekian  kali operasi plastik, implan payudara, dan semacamnya. Barbie versi +62 juga mengaku pernah tinggal di Nevada AS, tapi dalam jawaban atas pertanyaan jebakan tentang durasi penerbangan dari Indonesia ke AS, ia keceplosan bilang; 8 jam dengan penerbangan kelas bisnis. Seolah-olah penerbangan kelas bisnis berbeda pesawat dengan kelas ekonomi, hingga waktu tiba di bandara tujuan, juga berbeda. Keganjilan-keganjilan ini membuat warganet semakin gigih memparodikannya.
Tak berhenti di situ, sebuah akun media sosial dengan pengikut ratusan ribu, sampai menelusuri daftar nama mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, lantaran yang bersangkutan mengaku telah bertitel Sarjana Hukum dan kini punya kesibukan baru sebagai pengacara. Alhasil, ditemukan nama asli Barbie versi +62 dalam status sebagai mahasiswi, berikut keterangan tentang mata kuliah yang belum lulus. Sekali lagi, warganet membuat kabar viral, dan kita semua tertawa dibuatnya. Apa yang sedang diperankan oleh Barbie +62 seperti sindiran dalam bahasa yang  kentara, atas perilaku kita di era pasca fakta ini.  Mengabarkan peristiwa yang belum terang duduk perkaranya, menyebarluaskan informasi yang tak jelas sumbernya, bersemangat menyala-nyala dalam setiap obrolan di linimasa, yang kita tidak tahu pokok soalnya. Pokoknya ikut saja bicara, agar tak dikira kudet alias “kurang update.”  Saban hari bahasa kita mengundang tanya, mendulang curiga, dan memuncak pada hina dan cerca, lalu kita tertawa menikmati viralitasnya. Kontroversi Barbie +62 mungkin masih menjadi objek tertawaan, dan ia cuek belaka, bahkan tampak cukup menikmatinya. Jangan-jangan, ia tak sedang membuat sensasi, tapi sedang “latihan membuang pikiran,” seperti terapi yang dijalani Blondie Bennet, guna mencampakkan akal dari hidup manusiawinya.    
Obsesi Katie Lawrence, Celso Santebannes, Blondie Bennet, dan Barbie +62 boleh jadi adalah juga obsesi kita. Menjadi boneka yang saban hari dikendalikan oleh algoritma big data, rasanya belum cukup. Itu baru mirip boneka, belum boneka sungguhan. “Siapakah yang tak mau jadi Barbie? Hidupnya menyenangkan, hanya perlu berbelanja setiap hari, dan membuat dirinya selalu tampak cantik, tanpa harus memikirkan apapun,” kata Blondie Bennet. Pikiran hanya membebani. Kewarasan telah membosankan.  Marilah kita mencapai kepandiran yang paripurna…

Tuesday, October 22, 2019

Jejak Islam Kultural




-->
Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018)


“Hanya Indonesialah yang dapat diklaim sebagai tempat berlabuhnya agama-agama besar, dan mereka dapat hidup secara berdampingan,” demikian sinyalemen Parig Digan (1977), sebagaimana dikutip oleh A Bakir Ihsan (1996) dalam artikel Beragama Secara Kultural dan Struktural. Tesis itu memaklumatkan, agama adalah bagian dari identitas yang melekat dalam tubuh bangsa Indonesia. Sebagai agama besar, dalam rentang abad 13 hingga awal abad 19, Islam tumbuh secara kultural di bumi Nusantara. Inilah yang membedakan wajah Islam Indonesia dengan gelombang radikalisme yang sedang marak di masa kini.
Bila radikalisme bergerak dengan hasrat politik guna menggapai Negara Islam, formalisasi syariat, hingga tegaknya khilafah islamiyah, Islam berwajah Indonesia telah berabad-abad lamanya bernapas di medan kultural, yang tak menghancurkan ikon-ikon kultural di Nusantara. Menurut catatan Syaiful Arif (2010) dalam Deradikalisasi Islam, kedatangan Islam di Nusantara bukan sebagai “yang asing”, yang hendak menjajah, tetapi agama lentur yang hendak menyempurnakan proses kemanusiaan secara lebih paripurna. Itu sebabnya, terminologi konversi yang kerap digunakan dalam menimbang denyut Islamisasi Nusantara kurang tepat. Sebab, konversi menandakan berlangsungnya penaklukan Islam atas agama lokal, sehingga yang terjadi bukan dialog antarbudaya, tapi ikonoklasme atau penghancuran ikon budaya lokal oleh apa saja yang datang dari luar.
Islamisasi di Nusantara berlangsung tanpa melukai, tanpa menghilangkan simbol-simbol agama dan kepercayaan pra-Islam. Menurut Arif, bahasa yang pantas adalah adhesi, bahwa Islam dan agama pra-Islam mengalami proses dialog, dan karena itu orang Indonesia menjadi muslim tanpa kehilangan akar tradisinya. Hingga kini masih dapat disingkap wajah Islam Indonesia, yang mampu bersekutu dengan kearifan lokal, tanpa harus mengakibatkan gesekan, apalagi memicu berbagai kegentingan. Islam Indonesia yang tumbuh sejak berabad-abad silam adalah wajah yang terbuka, toleran, dan sadar kemajemukan. Islam tidak  memberangus wadah-wadah kebenaran dari  local wisdom. Wadah itu tetap dijaga, hanya isinya yang diluruskan, searah jalan ketauhidan. 
Praktik sesaji misalnya, tidak dilarang oleh para Wali. Hanya saja doa-doa yang di zaman pra-Islam ditujukan kepada nenek moyang, kemudian dialihkan kepada pencipta nenek moyang. Lalu, lahirlah kenduri, di mana berkat tidak hanya diperuntukkan bagi orang mati, tetapi juga orang hidup. Berkat akhirnya tak bermakna transenden, tapi juga sosial. Begitu juga dengan epos Hindu Dewa Ruci. Oleh Kiai Mutamakkin tidak diharamkan, bahkan pada titik tertentu, ia bisa menjadi medium simbolik bagi perjalanan spritual dalam Islam. Tatkala Bima Sakti bertemu dengan Dewa Ruci--yang tak lain adalah dirinya sendiri--Kiai Mutamakkin memaknainya sebagai pergulatan perang hawa nafsu, sehingga seorang muslim dapat menemukan “diri alit” yang di dalamnya terdapat hakikat ilahiyah. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, barangsiapa yang mengenali dirinya akan mengenali Tuhannya. Satu hal yang menurut Kiai Mutamakkin senapas dengan ajaran esoterisme Islam (Syaiful Arif, 2010)



Pidato Ketua Umum PB NU, KH. Said Agil Siraj dalam acara puncak Harlah NU yang ke-91 (31/1/2017) mencontohkan proses akulturasi nilai-nilai Islam dengan budaya lokal dalam masyarakat Islam di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sampai kini, warga muslim Kudus tidak mengonsumsi daging sapi demi menghormati para tetangganya yang beragama Hindu. Tradisi unik itu adalah warisan turun temurun yang dilestarikan oleh Sunan Kudus. Ia sangat menghormati tradisi masyarakat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci. Dalam istilah KH.Abdurahman Wahid, Islam Indonesia telah mengalami pribumisasi. Gus Dur memastikan, Islam telah membumi dalam kultur Indonesia. Monumentasi dari wajah Islam yang mengalami keberpaduan dengan kebudayaan itu dipancangkan oleh Walisongo melalui pelembagaan pesantren. Menurut peneliti Islam Nusantara, Zastrouw Al-Ngatawi (2018), pesantren adalah bukti peninggalan yang telah menjadi cagar budaya atas keberhasilan Walisongo dalam merancang strategi kebudayaan Islam Nusantara. Walisongo mengubah lembaga pendidikan Syiwa-Buddha yang sebelumnya bernama asrama menjadi pesantren. Di sana terjadi formulasi ketauhidan Syiwa-Buddha  (Adwayasashtra) dengan tauhid Islam yang dianut para guru sufi.
Pola ini mula-mula dilakukan oleh Sunan Ampel dengan mendirikan lembaga pesantren di Ampel Denta (Agus Sunyoto, 2011). Lalu, disusul oleh wali lain, dan hampir semua Walisongo memiliki padepokan tempat menuntut ilmu bagi para santrinya. Menurut Effendi Zarkasi (1977), ada tigal hal pokok yang diubah oleh Walisongo di pesantren; (1) kebiasaan samadhi sebagai puji mengheningkan cipta menjadi shalat wajib; (2) kebiasaan sesaji dan tetutug diubah menjadi pemberian sedekah; (3) adat kebiasaan meniru dewa dihilangkan dengan jalan kebijaksanaan. Transformasi itu berjalan tanpa guncangan kultural yang berarti. Para penganut Hindu-Buddha tidak merasa terancam. Mereka justru merasa ajaran Islam relevan degan keyakinan mereka.
Di pesantren, terjadi proses rekonstruksi kebudayaan yang bersumber dari ajaran Islam dan tradisi lokal Nusantara. Para wali membuka wawasan masyarakat mengenai keislaman dan kenusantaraan sehingga terjadi integrasi antara keduanya. Rekonstruksi itu dilakukan dengan membangun tradisi tulis menulis, tanpa mengabaikan tradisi lisan yang sudah berkembang. Dari sanalah  kemudian lahir berbagai karya sastra dalam bentuk babad, serat, dan suluk. Dalam catatan Drewes (1968), salah satu Wali yang tekun menulis kitab--baik dalam prosa, tembang, atau suluk--adalah Sunan Bonang. Beberapa suluk karya Sunan Bonang di antaranya Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, dan Suluk Bentur. Sementara  karya monumental Sunan Bonang adalah Serat Bonang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh B.J.O. Schrieke menjadi  Het book van Bonang.
Karya-karya para Wali itu mencerminkan terjadinya reinterpretasi dan reaktualisasi tradisi Nusantara dan ajaran Islam, sehingga ajaran Islam bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat Nusantara. Untuk merekonstruksikan kisah-kisah pewayangan dari Mahabarata dan Ramayana yang sarat dengan ajaran Hindu-Buddha, diperlukan sebuah korpus yang bisa memaktubkan nilai-nilai Islam dalam alur ceritanya. Lalu, lahirlah sejumlah lakon dalam dunia pewayangan seperti Dewa Ruci dengan kandungan ajaran tasawuf, Jimat Kalimasodo tentang penanaman tauhid, di mana tokoh-tokoh punakawan tampil dalam karakter yang egaliter (Ahmad Baso, 2013). Narasi baru dalam lakon pewayangan itu bertujuan untuk membangun kesadaran teologis Islami dan mewujudkan tradisi kerakyatan dalam dunia pewayangan yang sebelumnya bercorak elitis. Para Wali yang berperan dalam rekonstruksi dunia pewayangan itu adalah Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus.
Jejak Islam kultural yang mengejawantah dalam tradisi kesusastraan Nusantara, pelembagaan Islam kultural di pesantren, hingga arsitektur masjid yang masih berdiri di berbagai belahan Indonesia, tak menyisakan puing-puing bekas pertempuran, nihil aroma kebencian, jauh dari hasrat permusuhan. Islam kultural ibarat tanah yang lapang tempat bernaungnya setiap perbedaan di bawah panji-panji persaudaraan.


Usaha Meraih Kepandiran

--> Damhuri Muhammad “Saya ingin menjadi Barbie sejati. Dan, saya sungguh ingin menjadi orang yang tak punya otak,...