Posts

Showing posts from March, 2006
B U Y A

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Jawa Pos, 23 oktober 2005)

Setitik cahaya menyembul dari balik semak-semak di kaki bukit. Mungkin suluh orang yang mencari belut sawah atau menjaring ikan di sungai Batang Mungo sepanjang lereng bukit itu. Tapi, makin mendekat, makin jelas terlihat. Makin terang terasa. Lalu, cahaya itu menggulung seperti dihempas angin limbubu. Menggumpal, membulat, membesar seperti bola api. Melayang dan melaju kencang ke arah Surau Tuo. Lama sekali bola api itu berputar-putar di atas permukaan tanah kosong, tepat di sisi kanan mihrab Surau Tuo, hingga sekeliling surau itu terang benderang seperti tersiram sinar bulan purnama keempat belas. Padahal, malam itu bukan malam terang bulan.

"Pertanda apa ini, Bilal?" tanya Katik, gemetar dan tergagap-gagap."Ini petunjuk yang kita tunggu-tunggu selama ini."
"Petunjuk?" tanya Katik lagi, "Maksudnya apa?"
"Kita sudah beroleh jawaban tentang raibnya jasad buya," jawab Bilal, sambil …
Lidah Bermata Sembilu

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 04 Februari 2006)

BUKANKAH akan lebih baik bilamana perempuan itu mengakhiri riwayat Wildan? Menggorok lehernya, menikamkan belati di punggungnya, atau membubuhkan bubuk racun tikus ke dalam gelas kopinya? Ya, memang lebih baik jika perempuan itu membunuh Wildan, daripada ia terus menerus melukai Wildan dengan lidah bermata sembilu itu....

"Sssst...! Aku tak berniat membunuhnya. Ini sekadar menguji ketajaman sembilu lidahku."
"Iya, tapi setelah kau pastikan ketajamannya, kelak kau tetap akan menyudahi hidupnya bukan?"
"Tidak! Aku hanya memperlakukan dirinya sebagai batu asahan untuk mempertajam mata sembilu lidahku."

Masih terngiang-ngiang di telinga Wildan, janji yang pernah diikrarkan perempuan itu. Meski telah menjelma perempuan berlidah sembilu, ia bersumpah tidak akan melukai Wildan.

"Lidah sembilu ini akan melukai setiap lelaki, kecuali kau."
"Bukankah semua lelaki adalah musuhmu…
Perempuan Berkerudung Api

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 27 November 2005)

TIADA cela pada diri Nilam Sari. Cerdas otaknya. Tinggi sekolahnya. Taat ibadahnya. Anggun paras wajahnya. Santun tutur katanya. Lembut suaranya bila menyapa. Pandai benar ia membawa diri. Maka, banyaklah lelaki yang menaruh hati, berhasrat ingin mempersuntingnya. Pinangan pernah datang dari Tanbara. Lelaki dari kampung sebelah. Kabarnya, sudah tiga tahun berdinas sebagai tentara. Nilam Sari hanya menunduk dan diam sewaktu Tanbara beserta keluarga datang melamar. Tapi, bukankah tak menjawab sudah berarti sebuah jawaban? Diam pertanda menerima.

Senang tiada terkira Cu Sidar merasa. Tak disangka, ia bakal punya menantu tentara. Berpangkat sersan pula. Tegap tampangnya. Berwibawa penampilannya. Serasa mendiang ayah si Nilam bakal hidup lagi. Almarhum suami Cu Sidar, dulu juga tentara. Maka, yang hilang bakal berganti. Tentara berganti tentara. Semoga kelak mereka dikaruniai anak laki-laki yang bercita-cit…
Anak-anak Peluru

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 3 Juli 2005)

(1)

Anakku,

Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi, entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu, meski kau tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. Saat itu, ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu, hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu.

”Ibu restui kepergianmu, Nak! Tapi, jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!”
”Anak Peluru? Maksud ibu?”
”Peluru jika sudah ditembakkan, tak akan kembali ke moncong senapan, bukan?”
”Ibaratkan peluru itu seorang anak, dan moncong senapan itu seorang ibu. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan sete…
Image