Posts

Showing posts from October, 2006
Image
f
Kekerasan Atas Nama Kehormatan

(Kompas, 30 Juli 2006)

Judul: Burned Alive (edisi terjemahan)
Penulis: Souad
Penerjemah: Khairil Azhar
Penerbit: Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2006Tebal: 290 halaman

Oleh : Damhuri Muhammad

Perempuan hamil tua itu duduk dalam posisi membungkuk sambil membilas tumpukan cucian. Sayup-sayup terdengar pintu berderit. Saat menoleh ke belakang, lelaki bertubuh besar sudah berdiri di hadapannya. Orang itu, Hussein, suami kakak perempuannya, Noura. "Jadi, perutmu sudah besar, ya?" tanya Hussein, beringas.

Pucat pasi rona mukanya, ngeri membayangkan apa yang bakal diperbuat lelaki itu. "Aku akan mengurusmu!" ulang Hussein. Perempuan itu kembali menunduk, membilas tumpukan pakaian kotor. Sejurus kemudian, ia merasakan cairan dingin mengalir di kepalanya, menetes ke pipi, leher, kuduk, bahu hingga pergelangan tangan. Secepat kilat Hussein melemparkan korek api ke tubuh perempuan yang baru saja tersiram bensin itu. Api menyala, melala…
Image
Agar Pram Tak Jadi Berhala...

Resensi Buku: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Eka Kurniawan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2006)

(Media Indonesia, Kamis, 21 September 2006)

Oleh: Damhuri Muhammad

SUDAH jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan terminologi baru yang disebut Pramisme. Ini cukup berbahaya. Pram bisa saja berubah jadi 'berhala' yang selalu dipuja, tanpa cela.

Di sinilah pentingnya kajian komprehensif yang dilakukan sastrawan muda, Eka Kurniawan, lewat bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku ini dapat dianggap sebagai yang pertama membincang Pram dari sudut pandang anak muda. Eka hendak melurus…
P A D U S I

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Tabloid NOVA, Edisi 09/04/2006)

Seolah ada yang menghentak di rongga dadanya bila menatap mata perempuan itu, serasa menguap cairan di tenggorokan bila mendengar suaranya. Risih, salah tingkah, gugup. Mereka masih kelas dua waktu itu. Masih bau kencur. Duduknya di lajur meja murid perempuan.Sementara lelaki itu di deret paling belakang lajur meja murid laki-laki. Saat guru uraikan materi ajar, ia asyik mematut-matut bentuk tubuh perempuan itu, dan berharap sesekali ia menoleh ke belakang. Padusi, namanya. Tak termasuk kategori cantik bila dibanding dengan perempuan lain di kelas itu. Juga tak terlalu cerdas. Sedang-sedang saja rangkingnya. Tapi, kulitnya putih. Amat putih. Parasnya seperti orang Jepang. Mirip Oshin. Memang ia tidak cantik, tapi berwajah unik. Dan, lelaki itu suka!

Kota kecil itu terhampar di dataran tinggi, di garis tengah antara Padang dan Bukittinggi. Paling dingin dari kota-kota lain. Yang penting bukan soal suhu udaranya itu, t…
Menantu Baru

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Kompas, 09 Juli 2006)

Sudah lama Irham tak menerima kiriman oleh-oleh. Rendang Ikan Pawas Bertelur. Gurih dan sedapnya seolah sudah terasa di ujung lidah. Apa Mak sedang susah? Hingga tak mampu lagi beli Ikan Pawas Bertelur dan bumbu-bumbu masaknya? Tak mungkin! Kiriman wesel dari anak-anak Mak, rasanya tak kurang-kurang. Lebih dari cukup. Jangankan Rendang Ikan Pawas Bertelur, bikin Rendang Hati Sapi pun Mak tentu mampu. Tapi, kenapa Mak tak berkirim oleh-oleh lagi? Mak sedang sakit? Kenapa pula tak ada yang berkabar? "Bukan kau saja, saya juga sudah lama tak dikirimi Krupuk Cincang," keluh Ijal, kakak sulung Irham yang tinggal di Cibinong.

Sejak kecil, mereka memang punya selera berbeda-beda. Kepala boleh sama-sama hitam, tapi tabi’at lidah tak serupa. Mak hafal makanan kesukaan masing-masing mereka, anak-anak kesayangannya. Ijal suka Krupuk Cincang. Dulu, hampir tiap pekan ia minta dibuatkan makanan itu. Pernah Ijal mengancam tidak m…
Image
Rabu, 10 Agustus 2005
RESENSI BUKU : LARAS, Tubuhku Bukan Milikku

Ia Jadi 'Korban' Ayah dan Lelaki Binal

Oleh: Nerma Ginting

MEDIA INDONESIA, 10 Agustus 2005

Buku berjudul Laras, Tubuhku bukan Milikku berisi kumpulan cerpen karya Damhuri Muhammad. Lewat kata-katanya yang halus dan sederhana, karya itu terasa 'menggugat'.
Dengan tebal 226 halaman, novel yang dibalut sampul hitam dan biru tersebut menyajikan kisah gadis Laras. Ia terjerumus ke lembah nista akibat 'kasih sayang' ayahnya.
Seringkas waktu, ia berkemas membuntal pakaian, lalu bergegas meninggalkan kamar mungil, tempat kegadisannya tertebas. Ditinggalkannya kenangan tentang Yu Galih yang gampang marah, namun diam-diam amat penyayang. Juga soal Yu Ratmi, yang dengan berat hati menjual jam tangan hadiah ulang tahun dari Pakde Tejo untuk membayar SPP-nya yang tertunggak dua bulan.

''Sebelum perutmu bunting, cepat pergi dari rumah ini, anak setan!'' usir Emak dengan sorot mata garang. ''Ka…
Taman Benalu

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Koran Tempo, 9 Juli 2006)

Bagaimana mungkin cucu-cucunya kelak bakal memetik buah? Pohon Limau*) yang ditanamnya mati sebelum berputik. Jangankan berbuah, berputik pun belum. Mula-mula benalu tumbuh di pangkal-pangkal daun, di ujung reranting. Tapi, perlahan-lahan akarnya menjalar. Meliuk, melingkar serupa ular, membelit dahan. Lalu, melilit pohon induk. Sukar membedakan mana daun limau, mana daun benalu yang hidup menumpang. Bukankah daun benalu dan daun limau sama-sama hijau?

Ingatan Muncak tentu makin tumpul di usia yang sesenja ini. Makin tua, makin banyak yang terlupa. Apalagi mengingat-ingat, kapan persisnya pohon limau itu mati tercekik dibelit akar benalu. Kapan persisnya tumbuhan parasit itu menikmati hisapan terakhir sari makanan dalam daging pohon limau. Muncak hanya ingat, sejak benalu tumbuh, berurat-berakar, daun-daun limau layu. Warnanya berubah kekuning-kuningan, mersik dan akhirnya lepas dari ranting dan dahan. Helai demi helai jatu…