Posts

Showing posts from December, 2006
S U A K A

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 23 Desember 2006)

TUBUH langsing perempuan itu, kini terbaring menelentang dikelilingi elektrokardiogram, tabung-tabung oksigen, dan selang-selang infus. Jasadnya tak lebih dari gumpalan daging sekadar pembalut tulang belulang. Begitu pun raut wajahnya (yang menurut ketajaman mata batinmu adalah rona muka paling jernih dari semua perempuan yang pernah kau kenali), kini kian buram. Lebih buram dari wajah mentari tertindih mendung senja hari. Lalu, apa lagi yang masih bisa kau harapkan dari perempuan yang sudah setengah bangkai itu? Separuh hidup, separuhnya lagi sudah mati. "Aku tak butuh ranum tubuhnya. Aku hanya ingin ia sembuh. Itu saja!"Hmm...! Kau tak butuh sentuhannya, Andesta? Kau tak ingin mendengar desah suara dan sengah nafasnya manakala kalian sedang berpelukan? Kau tak ingin lagi tubuhnya bersandar di dadamu? dan kedua l…
Mempertahankan 'Iman' Kepengarangan?

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(Seputar Indonesia, 19 November 2006)
Kerap muncul dugaan (mungkin lebih tepat ; tuduhan) bahwa belakangan ini ada sejumlah cerpenis muda yang menggebu-gebu memburu publikasi di koran-koran minggu. Jangan heran, di hari yang sama, nama cerpenis tertentu bisa terpajang di tiga media berbeda (tentu dengan judul dan isi berbeda). Tiga cerpennya dimuat di tiga rubrik budaya koran minggu berbeda, pada hari yang sama. Saya agak sungkan menyebut nama, tapi para penyuka cerpen koran tentu sudah tahu siapa pemburu publikasi koran paling ulung sepanjang tahun 2005, misalnya. Saya punya teman seorang cerpenis yang cukup rajin mengirimkan cerpen ke meja redaktur (meski angka publikasi cerpennya tak segemuk yang diceritakan di atas). Ia pernah dijuluki 'raja koran minggu' (barangkali ini berlebihan). "Hoi, jangan terlalu mengejar jumlah publikasi! Itu bunuh diri kepengarangan!" kata teman lain, menasehatinya. Denga…
Melacak Jejak Indentitas Sastra Indonesia

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Republika, 26 November 2006, semula berjudul : Menegasi Indentitas Sastra Indonesia )

Corak historiografi kesusastraan Indonesia modern yang masih berpijak dan bertolak dari 'asal muasal' dan pendekatan teleologis, memang sudah amat melelahkan dan terlalu banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebagian pemerhati sastra mulai pesimis, kehilangan gairah, bahkan apriori. Nirwanto Dewanto, dalam esainya (Kompas, 4/3/2000) mempertanyakan, masih perlukah sejarah sastra? Ini mencerminkan ketidakpercayaannya pada konstruk sejarah yang ditegak-berdirikan tanpa 'kesadaran sejarah' itu sendiri. Sejarah sastra yang 'penuh lupa' atau sengaja lupa berkepanjangan. Andai seorang novelis atau penyair mengetahui sejak kapan sejarah sastra bangsanya bermula, dan bagaimana munculnya angkatan-angkatan dalam sastra, akankah ia tertolong untuk menghasilkan karya bermutu? Tidak!. Tak ada keterkaitan antara sejarah sastra den…