Posts

Showing posts from July, 2007
Gasing Tengkorak

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Suara Merdeka, minggu 22 Juli 2007)


Jangan coba-coba meludah di hadapan lelaki itu! Ia memang buruk rupa, muka kusut, mata juling, gigi kuning, mulut bau tembakau murahan, hanya satu dua orang yang tahan duduk lama-lama di dekatnya. Tapi jangan lupa, ia punya Gasing Tengkorak. Bila ia mau, semua perempuan di kampung ini bisa jadi bininya, tak peduli gadis belia, janda kembang atau bini orang. Bila Gasing Tengkorak sudah berkehendak, tak bakal ada perempuan yang menolak. Siapapun bakal takluk, tergila-gila pada tukang panjat pohon kelapa itu. Gasing bukan sembarang gasing. Bila lelaki itu sudah membaca mantra teluh sambil menggasing di malam buta, perempuan yang dituju akan terjaga, badannya serasa sedang direbus, panas alang kepalang, uring-uringan dan mulai menggigau, Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu! Besok pagi, perempuan itu akan bergegas mencari Dinir, lalu bermohon ; Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu!

Begitulah kejadian yang menimpa Nurmala…
Anak Bapak


Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Pikiran Rakyat, Sabtu 21 Juli 2007)

(1)

Seolah ada tangan-tangan gaib yang tengah sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipis bapak. Geli campur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukan itu, makin geli rasanya.Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah.

Jangan risau, nak! Tak akan lama kau tersiksa! Lihatlah, sebentar lagi Bapak bakal punya payudara. Kau meneteklah sepuasnya! Tak perlu mimik botol lagi. Bila haus, menyeruduk saja ke dada bapak. Ngangakan mulut, kenyotlah! Bila perlu sampai kempot. Kau suka yang mana? Kiri atau kanan? Setiap hari Bapak menyantap sayuran bergizi tinggi, agar kandungan susu Bapak melimpah. Supaya kau cepat besar. Sekarang, diamlah! Jangan menangis ter…
Yth, Tuan Nirwan..

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Esai ini disampaikan dalam acara TEMU KANGEN SENIMAN, di Yayasan PITALOKA, Kukusan, Depok, Minggu 15 Juli 2007).

Menyoal pergeseran selera penjurian dalam cerpen ‘Kompas’ pilihan 2005-2006, lewat esai Mendustai Sastra Koran (Kompas, 8/07/07), Binhad Nurrohmat hampir memaklumatkan ‘harga mati’ bahwa pemilihan cerpen terbaik yang diselenggarakan harian Kompas tiap tahun (sejak 1991 hingga sekarang) sudah tegak sebagai tradisi. Padahal, pihak Kompas yang kali ini langsung dipengantari Suryopratomo (Pemimpin Redaksi) telah menegaskan bahwa momentun tahunan itu hanyalah rutinitas yang kemudian secara serampangan dianggap ‘tradisi’. Berkebalikan dengan sikap Binhad yang begitu was-was ketika penjurian tahun ini sepenuhnya dipercayakan pada pihak luar bakal berpotensi ‘mencederai’ pilihan estetik Kompas yang telah dirawat sejak lama, Kompas justru sedang ‘berikhtiar’ agar rutinitas itu tak terjerumus ke dalam lubang kemapanan dan tak terkungkung da…