Posts

Showing posts from August, 2007
Anjing Pemburu

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(MEDIA INDONESIA,19 Agustus 2007)


Secepat kilat kepalan tinju mendarat di mulut Ipun, bocah sembilan tahun itu sempoyongan, terhuyung-huyung, hilang keseimbangan, lalu jatuh tersungkur. Piring berisi nasi dingin tanpa lauk yang tadi dalam genggamannya pecah berkeping-keping. Remah-remah tumpah, berserak di lantai. Tapi, ayah belum puas melampiaskan amarah, Ipun yang sudah tertelungkup dengan mulut berdarah, ditendangnya kuat-kuat hingga tubuh cekingnya terguling, menggelinding serupa bola pingpong.

“Ampun, ampun!” pekik Ipun, kesakitan.

Bila ayah sedang marah, aku, ibu, Ipun, dan adik-adik yang lain kerap hanya diam sambil berharap semoga amuk ayah segera reda. Kalau dihadang, ayah bisa lebih buas. Barangkali lebih buas dari binatang-binatang buruan yang selalu hendak ditaklukkannya. Kemarahan ayah pada Ipun seperti kemarahan yang menggelegak tatkala ia sedang berburu babi di hutan. Mungkin karena terlalu sering berburu, bagi ayah, rumah ini seol…
Bigau

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Kompas, Minggu, 12 Agustus 2007)

Semenjak usianya genap 80 tahun, orang-orang Kampung Lekung berkeyakinan, ajal Kurai sudah dekat. Melihat tubuh ringkihnya terkulai letai di atas dipan usang tanpa selimut, barangkali tak akan habis baju sehelai, ia sudah mengembuskan napas penghabisan. Rimba persilatan tentu berkabung sebab kehilangan pendekar paling licin yang pernah ada di Kampung Lekung. Mungkin sudah tiba saatnya, lelaki yang seluruh bagian tubuhnya tahan bacok dan tak mempan peluru itu mewariskan ilmu silat tua, lebih-lebih mewariskan Rantai Celeng yang telah tertanam selama bertahun-tahun di dalam daging paha sebelah kirinya. Sebelum terlambat, sebelum mayatnya dibenam ke liang lahat, sebaiknya Kurai segera menentukan siapa yang pantas menjawab hak waris barang keramat itu.

"Harganya lebih mahal dari harga diri Kurai sendiri," begitu luapan kekesalan seorang cukong barang antik yang datang ke Kampung Lekung tapi ditolak mentah-mentah ole…
Image
Sintren, Riwayatmu Kini…


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

Data Buku : Sintren -novel, karya Dianing Widya Yudhistira, Jakarta : Grasindo, 2007

(Kompas, 30 Juli 2007)

Bilamana tabiat para sastrawan hanya sekadar menjalankan laku mimetik dan menggambarkan wajah realitas sebagaimana yang "tersurat" saja (bukan tersirat), karya sastra tentu saja bakal segera menjemukan, lekas lapuk dimakan waktu. Lagi pula, laku peniruan sukar dipertanggungjawabkan sebagai kerja kreatif yang selalu saja menyimpan obsesi-obsesi literer. Maka, pergulatan melahirkan karya sastra semestinya bergeser dari sekadar tiru-meniru realitas menjadi sebuah "ikhtiar" menciptakan realitas baru, bila perlu dengan cara meloncati atau "melampaui" realitas usang, merangsek masuk ke lorong-lorong permenungan yang tidak berhasil ditembus oleh para filsuf.

Barangkali, di titik inilah letak perbedaan antara jalan sastra dan jalan filsafat. Bila tradisi berpikir diskursif-spekulatif di medan filsafat senantias…