Posts

Showing posts from March, 2008
Nasionalisme Sastra Pinggiran

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 8/Maret/2008)


Politik kolonial jelas membias dalam geliat pertumbuhan sastra Indonesia. Gejala ini tampak kentara sejak berdirinya Balai Pustaka (1918) sebagai lembaga penerbitan Belanda yang bukan saja ‘memperalat’ sastra, tapi juga ‘mengendalikan’ gerak-geriknya agar tak menjadi ancaman laten. D.A Rinkes (direktur pertama Balai Pustaka) seperti dikutip Maman S. Mahayana (2001), mencatat tiga kriteria yang digunakan Balai Pustaka dalam menyensor naskah-naskah yang akan diterbitkan yaitu tidak antikolonial, tidak menyinggung perasaan dan etika golongan tertentu, tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Akibatnya, lahirlah sastra elitis, tak menyinggung masalah perbedaan etnis, dan yang paling muntlak adalah terlarang menghembuskan semangat kebangsaan.

Pemerintah kolonial tak henti-henti berupaya membendung pengaruh bacaan non Balai Pustaka. Diusungnya sejumlah istilah pejoratif yang meminggirkan proses kreatif pa…