Posts

Showing posts from 2009

Dari Gontor ke Trafalgar Square...

Image
Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

Jawa Pos, Minggu 18/10/2009




BEBERAPA bulan lalu sebuah media melansir kabar perihal sinisme seorang pejabat—di lingkungan Pemprov Sumbar—terhadap etos kepengarangan novelis-novelis asal Minang yang katanya sedang merosot, sehingga mereka tidak mampu melahirkan karya-karya besar seperti "Laskar Pelangi", novel yang bisa membuat Belitong—kampung asal pengarangnya—tersohor hingga ke pelosok-pelosok. Ekspektasi petinggi itu terhadap “novel bermutu” dari para pengarang Minang dapat memicu sejumlah pertanyaan, misalnya, apa kriteria “karya besar” itu? Apakah novel yang berhasil menangguk apresiasi ratusan ribu pembaca, sehingga latar demografi dan geografi—sandaran kisahnya—menjadi termasyhur, dengan serta-merta dapat dinobatkan sebagai karya besar? Kalau begitu apa bedanya teks sastra dengan teks-teks dalam brosur-brosur yang diiklankan oleh biro perjalanan wisata? Bagaimana dengan novel yang sengaja menyamarkan latar tempatan? Apakah novel itu mustahil terk…

ROMANTIKA PASCA-ENAM LIMA

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, Minggu 02/08/2009)

BILA watak kepengarangan ditinjau berdasarkan ranah tematik yang dijelajahi seorang sastrawan, maka luka dan nestapa para eks-tapol pasca-1965 begitu identik dengan prosa-prosa karya Martin Aleida. Sukar disanggah jika dikatakan bahwa rupa-rupa peristiwa tragis-traumatis yang ditanggung para pewaris “dosa turunan”—lantaran stigma PKI—adalah “kampung halaman” kepengarangan mantan aktivis termuda LEKRA itu, sejak dari kumpulan cerpen "Malam Kelabu, Ilyana dan Aku" (1998), novelet "Layang-Layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi" (2000), hingga kumpulan cerpen "Leontin Dewangga" (2003). Sastrawan yang dijuluki sebagai penggerak “sastra kesaksian” itu tampak sukar untuk beranjak dari medan tempuh yang itu-itu juga. Disingkapnya setiap pintu, disiginya setiap ruang, disibaknya setiap tabir.

Demikian pula dengan konstruksi realitas yang terbangun dalam kumpulan cerpen, "Mati Baik-Baik, Kawan" (2009). …

Optimisme Dalam Prosa Betawi

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 18/07/09)

KHAZANAH Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932-2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya "Terang Bulan Terang Di Kali" (1955)—dicetak-ulang oleh Masup Jakarta (2007). HB Jassin (1954) mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta. Dialek lahir, tumbuh dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya. Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah “cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat, karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah Pulang Pesta, Pulang Siang, atau Bang Senan Mau ke Mekah, tidak menjalin cerita, hingga yang terasa hanya “suasana”. Kalaupun ada cerpennya yang mengandung “cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, g…

BADAR BESI

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu, 14/6/2009)

(1)

Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang sedang dicukurnya. Di tangannya, semua kepala sama harganya, atau barangkali tak berharga. Tak peduli orang terpandang, tetua adat yang pantang disentuh bahkan ujung rambutnya sekalipun, atau jawara kampung yang kerap menagih jatah begitu gilirannya duduk di kursi cukur, bila bertingkah macam-macam, tukang cukur itu tentu sangat berpeluang menggunting daun kupingnya.

Di suatu senja yang sepi pelanggan, ia kedatangan bocah sembilan tahun yang memohon-mohon, merengek-rengek, agar rambutnya lekas dipangkas. Rona mukanya ketakutan, matanya merah-sembab. Ia mengaku rusuk dan…

IKHTIAR MENYELAMATKAN PUISI

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, Minggu 17/5/2009)

SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair mashur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of Art for the sake of Art is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power—dogma ‘seni untuk seni’ adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan—lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan Payam-i-Mashriq (1923).

Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Indu…

JURU MASAK; Sebuah Telisik Ringan

Image
Oleh : KHRISNA PABICHARA




Pada Mulanya


KAMPUNG. Dari sanalah “Juru Masak” berpangkal. Dari sanalah Damhuri Muhammad, selanjutnya saya sebut Damhuri, mulai merakit cerita-cerita yang dikemasnya dengan telaten. Kampung, itu pula yang membuka gerbang ingatan masa kecil saya dan membuat saya “jatuh hati” pada kisah demi kisah yang dituturkan Damhuri dalam sehimpun cerita pendeknya itu. Kenapa? Karena saya orang kampung, itu jelas. Namun, ada pernik lain yang menyeret segala ingatan saya ke “kampung”.

Ketika saya menelisik cerpen-cerpen Damhuri, saya tiba-tiba teringat sentilan Raudal Tanjung Banua. Pengarang sebagai narator, dalam teropong Raudal, belakangan tampak begitu dominan dengan balutan bahasa yang rimbun dan miskin dialog.

Beruntunglah, ketika saya memasuki kampung Damhuri yang dikemas dengan bahasa sederhana dan bersahaja, saya menemukan narasi dan dialog yang ditata begitu imbang. Boleh jadi, sebagaimana tutur Damhuri, karena ia menulis cerpen layaknya meraut sepasang bilah layang…

Sastra yang Mendustai Pembaca...

(KOMPAS, Sabtu, 4 April 2009)

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

Seorang kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab.Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab.

Selepas bincang-bincang penuh basa-basi yang sesekali bernada menguji, Fulan bertanya kepada penguji yang tampak sudah kenyang pengalaman di dunia sastra terjemahan dari bahasa Arab itu—seperti roman- roman karya para pengarang Mesir: Thaha Husain, Naguib Mahfouz, Nawwal el-Saadawi, Radwa Ashour, atau Ala Al-Aswany.
”Jebolan universitas Al-Azhar (Kairo) banyak sekali. Kemampuan bahasa Arab mereka tak diragukan, kenapa Bapak malah memanggil saya?” Sambil menggeleng penguji itu bilang, ”Bahasa Arab mereka memang hebat…

Wajah sebagai Topeng

Image
Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(KOMPAS,15/Maret/2009)


SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah. Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitupun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri. Itu sebabnya, kerap terniscaya bahwa manusia itu adalah wajahnya, bukan akal-budinya, bukan pula ruhnya. Tak soal bila tuan tidak punya kaki lantaran diamputasi, tidak punya tangan lantaran cacat semenjak rahim. Tuan masih leluasa bergaul, bahkan menjalin hubungan asmara dengan orang-orang normal. Dijamin tuan masih bisa dikenali, wajahnya tuan masih bisa bersitatap dengan wajah-wajah lain, dan terus-menerus mengirimkan sinyal tentang segi-segi kedirian tuan. Tapi, apa jadinya bila yang cacat dari tubuh tuan adalah wajah? Masih percaya dirikah tuan tegak-berdiri, berinteraksi sebagaimana layaknya orang-orang yang puny…

MARDIJKER

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

(Suara Merdeka,Minggu 18/01/2009)


Sepintas lalu, orang-orang yang lalu lalang dari dan ke arah Latanza Cafe tentu sudah mafhum bahwa lelaki ringkih itu tidak jauh berbeda dengan gembel-gembel yang terus membiak seperti kuman ganas yang menggerogoti kota ini. Satu kakinya diselunjurkan, satunya lagi ditekuk untuk menyangga tangan yang sedang memegang puntung rokok kretek, tapi belum sempat dinyalakannya. Tampang kusutnya masih seperti yang sudah-sudah. Bajunya lusuh, penuh tambalan dengan jahitan serampangan. Celana belacunya panjang sebelah, pisaknya bolong, hingga kancutnya menyembul keluar. Tapi, tepat jam setengah lima sore, di saat pengunjung Latanza Cafe sedang ramai, ia akan tampak berbeda dari gelandangan-gelandangan yang lain. Lelaki itu akan berdiri dengan dada sedikit membusung, mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah Latanza Café, lalu berteriak,

“Rumah itu memang sudah jadi milik kalian. Tapi jangan sombong! Kalian tetap saja Mardijker, sama sep…
Image
Bayang-Bayang Tujuh

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(JAWA POS, Minggu, 4 Januari 2009)

Dalam sekali helaan napas, riuh sorak-sorai para petaruh yang berdiri di sekeliling lingkar arena sabung ayam di lereng Bukit Limbuku tiba-tiba terhenyak dalam hening. Orang-orang seperti dihadang kegamangan. Tiada hirau lagi para petaruh itu pada kibasan dan kelebat kaki-kaki bertaji dalam tarung Jalak Itam dan Kurik Bulu yang tengah berlaga begitu sengit hingga jambul kedua jago turunan Bangkok itu bergelimang darah. Semua mata seolah terisap ke dalam pancaran mata bengis Langkisau yang sedang mengamuk. Ia baru saja menghajar lelaki tanggung yang tampaknya orang baru di kalangan para petaruh.

Melihat raut mukanya yang begitu teduh, hampir bisa dipastikan ia bukan penggila judi sabung yang tengah menunggu kokok kemenangan Jalak Itam dan keok kekalahan Kurik Bulu, atau sebaliknya. Menurut penuturan seorang pejudi, ia guru ngaji yang sedang memantau kalau-kalau ada di antara murid-muridnya yang ikut-ikutan men…