Posts

Showing posts from 2010

Menghormati Pengarang Negeri Sendiri

Image
Oleh: DAMHURI MUHAMMAD


(Pikiran Rakyat, 12 Desember 2010)


Sejumlah Perkutut Buat Bapak (2010), karya Gunawan Maryanto dan Buwun (2010) karya Mardi Luhung ternobat sebagai pemenang kembar anugerah Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori puisi, selain Rahasia Selma (2010), kumpulan cerpen karya Linda Christanty, untuk kategori prosa. Dua buku sajak itu menyisihkan tiga nominator lain: Penyeret Babi (2010) karya Inggit Putria Marga, Tersebab Aku Melayu (2010) karya Taufik Ikram Jamil, dan Konde Penyair Han (2010) karya Hanna Fransisca. Sementara pemenang kategori prosa menyisihkan Kekasih Marionette (2009) karya Dewi Ria Utari, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2010) karya Agus Noor, 9 Dari Nadira (2010) karya Leila S Chudori, dan Klop (2010) karya Putu Wijaya.

Saya mengalami sebuah peristiwa sederhana di akhir kerja penjurian yang telah berlangsung sejak Juli 2010. Meski sederhana, pengaruhnya masih terngiang hingga kini. Waktu itu, saya menghubungi salah seorang nominat…

BANUN

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

(KOMPAS, 24 Oktober 2010)

BILA ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata “kikir” di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.

Ada banyak Banun di perkampungan lereng bukit yang sejak dulu tanahnya subur hingga tersohor sebagai daerah penghasil padi kwalitet nomor satu itu. Pertama, Banun dukun patah-tulang yang dangau usangnya kerap didatangi laki-laki pekerja keras bila pinggang atau pangkal lengannya terkilir akibat terlampau bergairah mengayun cangkul. Disebut-sebut, kemampuan turun-temurun Banun ini tak hanya am…

LETUSAN KRAKATAU DALAM SYAIR MELAYU

Image
LETUSAN KRAKATAU
DALAM SYAIR MELAYU


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(versi panjang dari resensi yang tersiar di harian Kompas, 19/9/2010)


KEPULAN awan panas membubung setinggi 70 km. Gelombang tsunami menyapu bersih kawasan pantai sebelah Sumatera (Lampung) dan Jawa (Banten dan sekitarnya). 36.000 orang tewas. Ribuan permukiman luluh-lantak. Harta-benda hanyut tergilas arus. Begitu para peneliti menggambarkan suasana kalut selepas letusan gunung Krakatau, 1883. Ombak setinggi 40 m dari perairan Selat Sunda mencapai pantai Australia, Srilangka, Calcutta, bahkan Cape Town, selang beberapa jam kemudian. Sementara letusan terdengar hingga 3000 mil. Tak mengherankan bila seorang peneliti menyebutnya letusan terbesar sepanjang sejarah bumi.

Lebih dari 1000 kajian tentang letusan Krakatau telah ditulis, sejak dari geologi, vulkanologi, metereologi hingga oseanografi. Bermunculan pula sejumlah prosa karya seniman Eropa dari tahun 1889 hingga 1969. Beberapa film yang menggambarkan bencana akbar itu te…

Anak-anak Masa Lalu

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

Jawa Pos, Minggu 20 Juni 2010


BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus dimaklumatkan?

Maka, dengan segelimang gamang yang tak ditampakkan, mengendap-endaplah bocah-bocah kerempeng itu, tepat pada waktu terlarang. Mula-mula, sayup-sayup terdengar jerit dan rintih anak-anak seusia mereka, bagai sedang didera rasa sakit yang tak tertanggungkan. Seiring rembang petang, makin terang kedengarannya, hingga mereka memercayai suara gaib yang membuat bulu kuduk meremang itu berasal dari lantai Jembatan Sinamar. Menimbang keriuhan yang k…