Posts

Showing posts from 2011

Para Pecundang dari Lampuki

Image
Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 13 Nov 2011)


SEKALI LAGI, silang-sengkarut konflik Aceh masa silam membuahkan novel. Kali ini bertajuk Lampuki, karya Arafat Nur, yang ternobat sebagai pemenang unggulan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, 2010. Lampuki─dirujuk dari nama sebuah kampung di wilayah Pasai─adalah realitas remuk, lantaran trauma perang dan iklim ketertindasan yang bagai tiada pernah khatam. Berkisah tentang remah-remah militansi seorang pemberontak bernama Ahmadi. Bila sedang aman, lelaki kekar berkumis tebal itu turun gunung, menyulut nyala-gairah anak-anak muda Lampuki, dengan janji muluk perihal martabat dan kejayaan bangsa Aceh masa datang, bila terbebas dari “penjajahan” orang-orang seberang. Mulut besar si Kumis Tebal berbusa-busa, meneriakkan ajakan berperang di balai-balai pengajian, kedai-kedai kopi, dan Pasar Simpang. Namun, tidak banyak yang tergiur. Alih-alih mengamini, mereka malah sibuk mencari alibi. Sebagian besar orang-orang Lampuki rela m…

Ari-ari Puisi

DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 24 Juli 2011)

SECARA fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung janin semasa bersemayam di rahim ibu. Namun jangan lupa, ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari ditanamkan? Bila menginginkan watak luhur yang dipuja-sanjung banyak orang, maka serakkan lah kembang tujuh-rupa dalam wadah ari-ari. Mendambakan kejeniusan yang pilih tanding? Sertakan pensil dan buku. Atau bilamana menginginkan jiwa petualang, bubuhkan pasir dari tujuh muara. Untuk syarat yang disebutkan terakhir, percaya atau tidak, bila sudah tiba saatnya, seorang anak akan melesat bagai pelor yang ditembakkan dari muncung senapan laras panjang. Pergi sejauh-sejauhnya, dan jangan harap ia bakal pulang. Anak itu akan menjadi petualang sejati, yang bakal segera melupakan jalan pulang. Lupa kembali ke pangka…

Mata Kesejarahan Onghokam

Image
(Majalah TEMPO, edisi 4-10 Juli 2011)


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD



PAGI buta di sudut Jakarta, lelaki ringkih dengan muka pasi dan gigil lutut melangkah terhuyung-huyung. Ia berhenti di pinggiran got yang penuh-sesak gundukan sampah, lalu melepaskan beberapa muntahan, hingga dari kejauhan tubuhnya tampak meliuk-liuk, nyaris terjungkal. Seorang wartawan muda bergegas meminggirkan mobilnya, berhenti di belakang orang tua bersimbah muntah itu. Wajah lelaki tua itu tidak asing baginya, karena ia pernah mewawancarainya perihal peristiwa pembantaian massal anti-komunis pasca 1965. Dipapahnya pemabuk itu, dituntunnya masuk mobil, diantarkannya pulang.

Lelaki renta itu adalah Onghokam (1933-2007), sejarawan senior, doktor jebolan Yale University, AS (1975). Pagi itu adalah perjalanan pulang Ong selepas pesta wine entah di mana. Cerita ini dituturkan seorang alumnus sejarah FSUI yang pernah mengecap kuliah Ong, dosen “killer” yang tidak taat pada disiplin administratif perkuliahan. Buku absensi maha…

Korupsi Dalam Teks Fiksi

Image
Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 29/5/2011)

TERMINOLOGI “lapan-anam” (86) yang menjadi gairah utama novel karya Okky Madasari ini terpelanting ke dalam tafsir yang pejoratif. Salah satu kata sandi kepolisian─selain 10.2, 813, 871, dan lain-lain─yang digunakan dalam berbagai komunikasi kedinasan itu pada dasarnya berarti dimengerti, dimaklumi, namun di sekujur tubuh novel setebal 252 halaman ini, “lapan-anam” bergeser menjadi sinisme, sekaligus pemakluman terhadap berbagai modus jual-beli perkara di sebuah kantor pengadilan, lantaran sudah menyehari, dianggap lazim, dan sama-sama tahu. Maka, dunia “lapan-anam” adalah dunia yang tidak lagi tabu, tapi dunia yang serba tersingkap, serba dibenarkan. Dunia yang memelintir kejujuran dan kebersetiaan pada kebenaran menjadi cacat-historis. Sebaliknya, kebohongan dan hipokritas berubah menjadi keluhuran yang pantas dipuja-puji.

Pemakluman─lebih tepat disebut pembenaran─semacam inilah muasal nestapa Arimbi, juru ketik putusan perkara yang ak…

Orang-orang Larenjang

Image
Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD


(Kompas, Minggu, 17 April 2011)


1

DARI pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancar-luaskan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan makian. Gema suara mereka bagai gendang irama gambus di musim helat, begitu semarak, begitu menyentak.

Ah, betapa lekas, betapa gegas, gunjing itu tersiar, bahkan jauh sebelum pantang dan larang kami langgar. Toa-toa itu bagai beranak-pinak, sambung-menyambung, balik-bertimbal, berteriak di pangkal kuping kami. Perihal beban berat yang bakal ditimpakan di pundak kami, tentang hutang yang selekasnya mesti kami lunasi. Diselang-selingi pula dengan peringatan yang kadang terdengar serupa ancaman: "siapa melompat siapa jatuh." Sekali lagi, jauh sebelum pantang dan larang yang disebut-sebut itu kami terabasi. Seolah-olah kami telah lengah menimba…

Elitisme Kritikus Seni

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas ,2/1/2011)


ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (Kompas, 9/1). Ia membincang berlimpah-ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus. “Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi, dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum “kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Menurut Arif, otoritas pengarang yang telah dilumpuhkan oleh perayaan tafsir-bebas pembaca juga berakibat pada “kematian kritikus.” Sebab, dalam banalitas pembacaan, komentar pakar seni tidak ada lagi bedanya dengan suara khalayak ramai. Tak jarang, pembaca jamak lebih berwibawa ketimbang kritikus seni.

Dalam konteks “kematian pengarang”, Barthes hanya mendeklarasikan perluasan hak pembaca, agar pengarang tidak menjadi satu-sat…

Intrik Politik dalam Cerita Silat

Image
Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

TAK diragukan bahwa gairah kepengarangan tiada bakal bersudah memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara disimpan sebagai “stock cerita”. Namun, tidak banyak pengarang yang terampil membuhul koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya, Dan Brown, yang menghubung-kaitkan rancang-bangun ceritanya dengan alur hidup dan riwayat kekaryaan seniman besar, Leonardo Davinci, hingga ia berhasil mendedahkan The Davinci Code yang menggemparkan itu. Begitu pun dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses menyuguhkan The Dante Club, novel yang telah melangitkan namanya dalam kancah sastra dunia.

Kepiawaian memadu-padankan kepengrajinan berkisah dengan sebuah gagasan besar tampaknya juga terupayakan dalam Nagabumi, (2010) karya terkini Seno Gumira Ajidarma. Sekilas, mungkin hanya tampak sebagai kelebat pertarungan dengan jurus-jurus jitu dalam rimba persilata…