Posts

Showing posts from 2012

Dahlan dan Sepatu Peradaban

Image
Damhuri Muhammad

Inilah kisah tentang sepatu. Kisah perihal cita-cita sederhana seorang bocah dari keluarga miskin di pelosok Magetan, Jawa Timur, yang ingin memiliki sepasang sepatu. Mengingatkan kita pada kemauan keras seorang siswa sekolah dasar di Iran guna mendapatkan sepatu, dalam film The Children of Heaven (1997), karya Majid Majidi. Berbeda dari film asing berdurasi pendek itu, Sepatu Dahlan adalah novel panjang yang diangkat dari tarikh kemiskinan masa silam seorang menteri bersahaja, yang dalam pertemuan-pertemuan penting sekalipun, tetap melenggang dengan sepatu kets, bahkan saat menghadap presiden di istana negara. Ia adalah Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group, yang kemudian dipercaya menjadi Dirut PLN, dan kini berlabuh di kursi menteri BUMN.Dahlan tak henti-henti menjadi perhatian, bukan karena dugaan korupsi sebagaimana yang menimpa sejumlah pejabat teras di republik ini, melainkan karena prestasi kerja, komitmen dan ketegasan sebagai pemimpin kementerian strategis, dan e…

Mengasah Cerita dengan Ketajaman Mata

Oleh: Damhuri Muhammad
 (Kompas, 7 Oktober 2012)
Selama berkurun-kurun filsafat modern telah memartabatkan akal sebagai pusat dalam setiap subjek manusia. Pikiran dinobatkan sebagai satu-satunya penguasa yang berwenang sebagai penentu segala arah, cikal dan muasal segala gerak, nakhoda dari sebuah bahtera bernama tubuh. Kesadaran Cogito, demikian Rene Descartes menamainya. Maka, tubuh-kasar menjadi sekadar sarang, sekadar kandang bagi akal. Sejak itu, tubuh terpelanting ke dunia tepi, dunia yang mutlak menjadi bangkai bila akal sudah mati. Meski begitu, dalam situasi yang paling menyehari, sejarah kerap memperlihatkan sejumlah momentum ketika akal bertekuk lutut di hadapan tubuh. Tengoklah seorang pekerja keras yang nekad begadang semalam suntuk guna melunaskan beban deadline yang kian mendesak. Satu-dua pekerjaan barangkali dapat ia tuntaskan, tapi di separuh malam, atau beberapa saat menjelang dini-hari, ia jatuh tertidur. Pikiran yang semula menjadi pusat dalam subjek pekerja kera…

Riwayat Perempuan Tuna Silsilah

Image
Oleh:  DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu, 3 Juni 2012)
Aurora terperangah setelah memperlihatkan sebuah karya fotonya pada Ivan Radovic. Pose Susana (kakak iparnya) dengan Diego Dominguez (suaminya) menimbulkan kesan ganjil. Dari cara ia merangkul pinggang Susana, Ivan menduga kuat bahwa Diego adalah suami Susana. Meski sudah ditegaskan bahwa lelaki dalam foto itu adalah suaminya--dan suami Susana adalah Eduardo--sangkaan itu tetap menjadi “api dalam sekam” bagi Aurora. Tak lama berselang, di remang cahaya lentera, Aurora menyaksikan Diego dan Susana bergumul dengan segenap hasrat tak terbendung di atas gundukan jerami, tak jauh dari rumah keluarga besar Dominguez.             Begitulah kerja fotografi yang tak sekadar memotret, tapi juga  menyingkap hal-ihwal tak terlihat. “Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat,” kata Juan Libero, maestro fotografi, guru Aurora. Mungkin saat membuat pose Susana dan Diego, Aurora ingin melihat bukti pengkhianatan suaminya. Sejak itu, Aurora mema…

TEMBILUK

Image

Gairah Seni dan Negara yang Abai

ADALAH lumrah bila sejumlah aktor di sebuah kelompok teater tekun berlatih dan sibuk mematangkan kesiapan artistik sebelum pertunjukan digelar. Namun, belakangan ini, di kelompok teater manapun di negeri ini, kerja-keras para seniman panggung bukan saja dalam rangka pencapaian estetik, tapi juga dibuat repot oleh sukarnya meyakinkan sponsor agar berkenan mendukung pagelaran mereka. Tak hanya para pemain, sutradara pun turun-tangan dalam urusan non-artistik. Kerja dalam segi-segi non-artistik hampir sama kerasnya dengan pergelutan kreatif guna mendedahkan pertunjukan bermutu. Akibatnya, konsentrasi pecah. Di satu sisi hendak membulatkan pencapaian estetik, tapi di sisi lain, peristiwa kesenian terancam gagal bila sponsor batal memberi dukungan. Lantas, bagaimana seniman bisa leluasa berkarya bila terus direcoki urusan-urusan non-artistik?

Lain teater, lain pula sastra. Proses kreatif dalam melahirkan sebuah novel misalnya, tersendat-sendat lantaran minimnya biaya riset dan pengumpulan …