Posts

Showing posts from 2013

Artefak Kenangan Mo Yan

Image
Oleh: Damhuri Muhammad
 (Majalah TEMPO edisi 25 Nov-1 Des 2013)


Di tangan Mo Yan (novelis asal Cina pemenang Nobel sastra 2012) truk rongsokan dapat menjadi gagasan hidup lantaran impresi-impresi prosaiknya. Dalam novel bertajuk Di Bawah Bendera Merah, Gaz 51 (truk militer buatan Soviet), tak sekadar ornamen, tapi terpancang sebagai tiangpengisahan. Dari awal hingga akhir, setiap cabang dan ranting cerita tak bisa lepas dari riwayat kendaraan militer yang telah berjasa bagi Cina itu---utamanya dalam urusan pengiriman logistik semasa perang melawan agresi AS (1950).           Novel yang dicetuskan sebagai memoar ini dibuka dengan kisah ketakmujuran Mo Yan di masa SD di Gaomi, provinsi Shandong. Ia dikeluarkan dari sekolah setelah ketahuan mengejek seorang guru yang bermulut besar, hingga kawan-kawannya menggelari guru itu dengan Liu Mulut Besar. Padahal, Mo Yan sekadar membandingkan ukuran mulutnya---yang juga besar---dengan mulut guru itu. Ia sedang menakar buruk muka sendiri, meski dal…

Lelaki Ragi dan Perempuan Santan

Cerpen: Damhuri Muhammad(Kompas, Minggu, 29 September 2013) Apa jadinya lemang tanpa tapai? Tanpa manis tapai, manalah mungkin legit lemang dapat digapai? Barangkali itu sebabnya buah tangan yang kau bawa dari pekan ke pekan tiada beralih dari lemang-tapai. Padahal, sekali waktu bolehlah rantangmu berisi paniaram, lepat-pisang, atau limping-rebus, dagangan emakmu yang lain. “Persekutuan kita seperti pasangan lemang-tapai ini,” dalihmu. Selalu. Perihal selera tentu aku bersetuju. Tapi, pernahkah kau menimbang asal mula pasangan lemang-tapai yang hakikatnya saling bertolak-belakang? Bukankah lemang ditanak dengan pati santan, hingga usianya tiada lebih dari satu hari? Bila tak lekas disuguhkan, tentu akan terbuang sebagai sipulut basi. Sementara bukankah tapai matang lantaran ragi? Makin diperam makin ajaib rasa manisnya.Tapai senantiasa melesat menuju aras keabadian, sedangkan lemang mundur ke ranah kesementaraan. “Akulah lemang, engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu,ikrarmu. Selalu.L…

Kampung Halaman sebagai Terminal

Image
Oleh: Damhuri Muhammad
(Majalah TEMPO, edisi 5-11 Agustus 2013)

Kisah-kisah dalam kumpulan cerpen Yang Menunggu dengan Payung karya Zelfeni Wimra, berdenyut di ruang penantian. Ironisnya, meski yang dinanti tak bakal datang, iman penantian justru kian teguh. Inilah lelaku Rahma dalam cerpen yang dipilih sebagai judul buku. Saban hari ia menanti kedatangan ayah, dan terus meyakinkan ibu bahwa pada suatu hari yang hujan, dari ujung jalan, ia akan menuntun ayahnya pulang dengan payung. Juga menunggu Rahman, yang berjanji segera pulang dari rantau untuk menikahinya. Tapi, sebelum kedatangan ayah, sebelum Rahman tiba, kampungnya diguncang gempa.Ratusan orang tertimbun reruntuhan, termasuk Rahma dan ibunya. Penantian Rahma terbawa sampai mati. Penantian selanjutnya, lelaki pembuat gula merah dalam Suara Serak di Seberang Radio. Saat nira mendidih, ia selalu menyalakan radio, dan tak pernah pindah gelombang dari acara Kotak Pos. Suara serak penyiar membacakan kartu pos dari pendengar telah me…

Rumah Amplop

cerpen  Damhuri Muhammad
(Jawa Pos, Minggu, 19 Mei 2013)
Di masa kanak-kanak, rumah kami selalu kebanjiran amplop. Ruang tamu, laci-laci ruang kerja papa, lemari pakaian mama, hingga rak-rak dapur, penuh-sesak oleh amplop dari berbagai rupa, warna, dan ukuran. Setelah mama dan papa mengamankan isi dari amplop-amplop yang berserakan itu, kami akan melepaskan lipatan-lipatan kertasnya, lalu mengguntingnya sesuai pola-pola yang kami sukai. Dari potongan-potongan kertas bekas amplop itu kami gemar membentuk huruf-huruf, yang kemudian tersusun sebagai R-E-I-N-A (mama), S-U-K-R-A (papa), dan nama-nama kami sendiri; Abim, Amru, dan Nuera. Sepulang sekolah, sepanjang hari, kami asik menggunting-gunting kertas-kertas bekas amplop, hingga suatu hari kami bersepakat memberi nama tempat tinggal kami dengan “rumah amplop”. Rumah tempat beralamatnya amplop yang datang dari berbagai penjuru. Rumah yang makin bercahaya, seiring dengan makin berhamburannya amplop ke dalamnya. Barangsiapa yang dengan sa…

INDONESIA DALAM BIOGRAFI PIKIRAN

Image
Oleh: Damhuri Muhammad




(Media Indonesia, Minggu 28 April 2013)



Pesawat capung melintas di langit Barebba, ketika seorang bocah bermain di bawah pohon asam yang membatasi wilayah permukiman dan hamparan sawah. “Jika besar nanti, aku mau naik kapal terbang seperti itu. Aku akan hinggap di atas pohon asam ini,” gumamnya pada seorang teman. Impian kanak-kanak itulah titik paling mula pengembaraan Mochtar Pabottingi, menembus lapis demi lapis cakrawala.Bukan semata-mata perjalanan spasial melintasi benua hingga berlabuh di Amerika, tapi juga tarikh pencapaian intelektual yang mengantarkannnya pada gagasan tentang “Indonesia”, yang mewujud-nyata--bukan sekadar bayangan sebagaimana ditegaskan Ben Anderson dalam terminologi imagined society.
Meski dibuhul dengan cerita dari serpihan-serpihan kenangan masa kecil di Bulukumba, masa menjadi aktivis di Yogyakarta, hingga kenangan masa perantauan di Amerika, novel bertajuk Burung-burung Cakrawala ini lebih tepat ditandai sebagai tarikh pikiran ketimb…

Sejumlah Elegi Alazhi

Image
Oleh: Damhuri Muhammad
(Jawa Pos, Minggu, 24/2/2013)



Di Paris, seorang perempuan bercadar sedang berbelanja. Setelah mendapatkan barang-barang kebutuhan, lekas ia menuju kasir untuk membayar.Kasir minimarketyang dituju adalah perempuan keturunan Arab dengan busana modern. Sinis ia menatap perempuan bercadar. Ia menghitung nilai barang-barang belanjaan perempuan bercadar, lantas melemparkannya secara kasar ke atas meja. Tapi, perempuan bercadar begitu tenang, hingga kasir kian geram. "Kita punya banyak masalah di Prancis dan cadar kamu itu salah satu masalahnya. Di sini kita berbisnis, bukan untuk pamer agama. Kalau kamu mau mengenakan cadar, pulanglah ke negerimu dan jalani agamamu sesukamu!" Sesaat perempuan bercadar berhenti memasukkan barang belanjaan ke dalam tas. Lekas ia membuka cadar, lalu menatap mata kasir. Wajah di balik cadar ternyata wajah perempuan kulit putih dengan sepasang mata biru. "Aku perempuan Prancis tulen. Begitu pula ibu-bapakku. Ini Islamku dan …