Posts

Showing posts from 2014

Dalam Kegamangan Manusia Urban

-->
Damhuri Muhammad





Tak ada lagi Minggu dalam diriku seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara
(Joko Pinurbo, 2012)




Suatu ketika seorang sejawat pengarang, membujuk saya untuk tinggal dan menetap di Jakarta. Sebuah kota, yang dalam imajinasi sahabat karib itu, bagai gelanggang raksasa tempat segala rupa pertarungan berlangsung begitu sengit, keras, dan beringas. Wahana tempat segala macam kompetisi dan kontestasi berlangsung sedemikian runcing, kejam, dan tiada ampun. “Kau bisa menjadi pengarang yang melambung setinggi langit, tapi dalam sekejap bisa pula tenggelam dan tak muncul ke permukaan untuk selama-lamanya,” katanya. Dengan intonasi suara yang dalam pendengaran saya terdengar sebagai “ancaman,” ia juga menegaskan bahwa kepengarangan yang telah saya upayakan selama bertahun-tahun, tidak akan ada gunanya, akan terbuang percuma, bilamana saya tidak berani hijrah ke Jakarta, arena pertarungan yang sesungguhnya. 
Maka, gambaran saya tentang kota metropolitan yang…

Menggali Pusara Bagi Bangkai Kenangan

Image
Damhuri Muhammad
(esai pengantar novel Maha Cinta  karyaAguk Irawan MN, 2014)

Keriangan masa muda boleh saja berlalu. Usia yang senantiasa menua tentu tak bisa dibendung. Di jagad yang fana ini, tak ada yang sanggup melawan keringkihan. Setiap tubuh bakal lapuk, setiap yang tangguh bakal rapuh, lantaran ia terus bergerak menuju keusangan. Renta, ringkih, dan rapuh adalah sebuah keniscayaan. Namun, dalam tarikh manusia, rupanya ada yang tak lekang dihempas waktu, yang tak mempan dimakan masa, yang terus-menerus hadir di sekitar kita, dan tak terlupa hingga dunia dan semesta raya digulung sekalipun. Ia bernama “kenangan,” atau lebih tepatnya; kenangan pada kisah cinta. Berakhir bahagia atau malah terpelanting ke dalam bahaya, banyak aral yang melintang atau lancar-mulus saja, tragik, dramatik atau melankolik, kenangan setiap orang pada kisah cintanya, tiada pernah terkelupas dari ingatan. Ia akan terus berkembang biak, beranak-pinak, dan secara tak sengaja diwariskan secara turun-temurun…

Bila Politik Bertopeng, Sastra Menyingkapkannya

Damhuri Muhammad
(Kompas, Minggu, 31/08/14)

Akibat sebuah kecerobohan, seorang ahli kimia molekuler mengalami kecelakaan di laboratoriumnya. Dalam sebuah eksperimen, wajahnya terbakar. Ia mengalami luka-luka keloid, hingga seluruh jaringan kulit mukanya rusak, bopeng, remuk tak berbentuk. Sejak itu, ia menjadi anonim, tak bisa dikenali lagi, terkucil, bahkan dikhianati oleh orang yang dicintainya--istrinya berselingkuh, tak bisa lagi bersetia pada suami tak bermuka. Ahli kimia itu kehilangan identitas yang dulu melekat di raut mukanya. Tak soal bila yang cacat itu tangan atau kaki, tapi apa jadinya bila ia kehilangan muka? Lalu, ia merancang sebuah topeng guna menggantikan wajah lamanya.Ingin terlahir kembali dengan wajah utuh. Hasilnya tak tanggung-tanggung, dengan perangkat teknologi dan bahan-bahan yang diolahnya sedemikian rupa, topeng ciptaannya bisa berkeringat, di permukaannya bisa tumbuh bulu dan jerawat. Namun, alih-alih topeng itu membebaskannya dari keterasingan, malah membu…

Jawul Menggerek Bendera

Image
-->Cerpen  Damhuri Muhammad 

“Itu barang berharga, masa kamu lupa?” bentak nyonya Sonia pagi itu. “Coba cari di lemari pakaian bekas, kalau ndakketemu, cari di gudang! Pokoknya bendera itu harus ketemu. Paham?” sambung nyonya lagi, suaranya sedikit meninggi. “Iya Nya, iya…” jawab Sumi, gugup. Meski Sumi mengobrak-abrik lemari pakaian bekas atau membongkar tumpukan barang-barang di gudang, ia tidak bakal menemukan barang yang dicari. Sebab, bendera itu kini ada di dalam celana Jawul. Setelah dikibarkan pada hari ulang tahun kemerdekaan tahun lalu, Sumi memang menyimpannya di gudang, tapidiam-diam Jawul mengambilnya, lalu membawanya ke tukang jahit untuk dibuat jadicelana pendek. Unik juga hasilnya, celana pendek Jawul memiliki dua warna. Sisi sebelah kiri putih, sisi kanannya merah. Karena serat bahannya kasar dan murahan, setelah hampir setahun dipakai Jawul, celana pendek itu mulai lusuh. Sisi kiri tak bisa disebut putih lagi, kuning juga bukan. Begitu juga sisi kanan, merah tidak…

Sekilas Info untuk Kawan-kawan yang Sedang Mengerjakan Tugas Sekolah

Kawan-kawan para siswa SMA/MA/SMK/MAK, terutama kelas XI, di mana pun Saudara berada. Sehubungan dengan banyaknya permintaan (via twitter) terhadap biodata saya guna kelancaran tugas kajian teks cerpen "Juru Masak" sebagaimana yang tercantum dalam buku bidang studi Bahasa Indonesia (Ekspresi Diri dan Akademik), Kurikulum 2013), di bawah ini saya publikasikan minibiodata yang Saudara perlukan;

Damhuri Muhammad, lahir di Padang, 1 Juli 1974. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2001). Bermukim di Jakarta. Ia menulis cerita pendek, esai seni, dan kritik buku di sejumlah media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Majalah TEMPO,Seputar Indonesia, Suara Pembaruan,Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, majalah GATRA, ESQUIRE, tabloid NOVA, dll. Karya fiksinya yang sudah terbit: Laras (2005), Lidah Sembilu (2006), dan Juru Masak (2009). Cerpennya Ratap Gadis Suayan, Bigau, dan Orang-orang Larenjang terpilih dalam buku cerpen pilihan Kompas, pada tahun…

Perempuanologi

Image
catatan ringan untuk buku "Negeri Atas Angin" kumpulan cerpen karya Wina Bojonegoro



1. Laki-laki sebagai Prosa, Perempuan sebagai Puisi

Saya punya dua anak. Satu laki-laki, satu perempuan. Jarak usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Semula saya mempercayai laki-laki atau perempuan sama saja, sebagaimana jargon program Keluarga Berencana (KB) warisan penguasa Orde Baru. Sama-sama bakal diasuh-dibesarkan, dituntun, dididik hingga mereka tumbuh menjadi anak-anak masa datang, yang mampu tegak dengan kaki sendiri, mampu merancang hidupnya secara mandiri. Namun--setelah menjadi ayah bagi sepasang anak yang akan saya kenang sebagai bagian paling ajaib dalam hidup saya--ternyata saya keliru besar. Laki-laki dan perempuan rupanya ibarat langit dan bumi. Bila laki-laki dapat diamsalkan sebagai prosa, maka perempuan adalah puisi. Yang disebut pertama luwes, sportif, stabil, dan konsisten. Sementara yang kedua, maju-mundur, tarik-ulur, labil, dan inkonsisten. Pendeknya, perempuan adalah se…