Posts

Showing posts from 2015

Gendang Kepulangan Leon Agusta

Image
Damhuri Muhammad
(versi cetak artikel ini tersiar di harian Padang Ekspres,  Minggu, 13 Desember 2015)

“Abang bahagia sebagai penyair?” Itulah pertanyaan penting yang dengan amat hati-hati pernah saya ajukan kepadanya. Ia hanya diam sembari menengadah, menimbang-nimbang sesuatu untuk diungkapkan. Bagi saya, diamnya cukup sebagai jawaban.Di kurun yang begitu sesak oleh kekeruhan yang tak terpermanai ini, rasanya kejernihan hanya dapat dipandang dari balik jendela puisi. Di jaman ketika kemunafikan diperjuangkan mati-matian, dan kejujuran dianggap ketercelaan, tubuh kebenaran hanya bisa disingkapkan oleh puisi. Sejak lama sahabat saya itu telah memilih jalan puisi. Ketika fotografer amatir seperti saya dipercayainya untuk membuat foto-profil guna dipasang di sampul belakang buku puisi terkininya Gendang Pengembara (2012), lensa kamera saya menangkap aura bercahaya dari raut mukanya. Ekspresinya dingin, tapi begitu tajam, seperti Charles Bronson. Lembut, tapi sedemikian tangguh, seperti…

Tentang Puisi Mantan Presiden

-->

Damhuri Muhammad




Sejarah puisi adalah sejarah yang pahit. Puisi kerap dicurigai, ruang geraknya dibatasi, tak jarang penyair dimusuhi, bahkan dilenyapkan tiada ampun. Bagi filsuf Plato, penyair tak lebih dari seorang penutur di jalan sesat. Lelaku kepenyairan sekadar peniruan yang tak akurat dari dunia senyatanya. Puisi berlumur dusta ketimbang menyingkap wajah kebenaran. Di belahan Timur, para penyair Arab seperti Zuhair, Trafah, dan Imrul Qays, dianggap kaum laknat, orang-orang majnun yang bertutur dengan kekuatan sihir, karena itu tak pantas dipercayai. Sejarah kita mencatat sebuah tragedi ketika Hamzah Fansuri (1607-1636) dienyahkan oleh kekuasaan Sultan Iskandar Muda, lantaran syair-syairnya dianggap menyebarkan ajaran tasawuf yang sesat. Kini, lembaran tarikh puisi yang suram itu telah ditutup. Puisi tak lagi dianggap berbahaya. Di republik ini, selepas tragedi Wiji Thukul (1998), hampir tak ada lagi penyair yang dimata-matai oleh tentara. Puisi telah disambut ramah…

Politik Tanpa Urat Malu

Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini tersiar di harian Padang Ekspres,  Kamis, 17/9/2015)

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Begitu kearifan lama, yang dalam riuh gelanggang politik masa kini tiada berdengung lagi. “Sekali lancung ke ujian,” yang dapat ditafsirkan dengan “sekali saja berbuat jahat,” bisa menggugurkan kepercayaan orang selamanya, dalam kontestasi politik justru menjadi modal sosial. Kejahatan korupsi misalnya, selalu mengundang perhatian, pelakunya kerap tampil di layar kaca, lalu tersohor seketika. Terkenal atau tercemar bukan soal pokok lagi. Batas antara keduanya bagai lebih tipis dari kulit bawang. Yang pasti, dua kata itu mengandung apa yang hendak direngkuh para politisi dalam persaingan menuju kekuasaan;popularitas. Dalam kenduri demokrasi menjelang Pilkada serentak pada Desember 2015, popularitas sekali lagi menjadi kata kunci dan syarat-rukun paling mula. Tak dapat disangkal, mantan Napi--apalagi Napi kasus korupsi--adalah individu-in…

Pergaulan Tanpa Perjumpaan

Damhuri Muhammad


(artikel ini sebelumnya telah tersiar di harian Kompas, 18 April 2015)

Sepuluh tahunlalu, warung kopi barangkali masih lazim menjadi tempat berkumpul, ruang yang lapang untuk bertemu-muka, dan bercengkrama dengan kawan-kawan sebaya. Tapi di era digital ini, kedai kopi--atau yang di kota-kota besar dimoderenkan menjadi cafe--telah beralih-rupa menjadi ruang untuk bersembunyi, tempat yang paling layak guna mengasingkan diri. Saban petang selepas jam kerja, dua orang yang selama berminggu-minggu duduk berdampingan meja di café yang sama, bisa tidak saling menyapa, apalagiberkenalan. Masing-masing sibuk dan asyik memencet keypad telpon pintar, tanpa peduli kanan-kiri. Keganjilan itu lumrah dan mungkin bisa dimaklumi, karena hampir semua pengunjung di café itu datang dengan itikad yang serupa; mencari kesendirian. Maka, jangan mengharapkan ada tegur-sapa yang ramah di sana--sebagaimana perjumpaan di kedai kopi masa silam--kecuali basa-basi yang tampak sangat dipaksakan. Ini p…

Eskatologi Batu Akik

--> Damhuri Muhammad


 (artikel ini sebelumnya telah disiarkan di harian Kompas, 18 Maret 2015)

Jauh sebelum histeria Batu Akik merajalela, di lereng sebuah bukit, pedalaman Sumatera, sekelompok orang menggelar semacam ritual mengangkat benda keramat dari sebuah lubang yang telah mereka gali selama berbulan-bulan. Dukun pilih-tanding khusyu’ membaca mantra, sementara tiga laki-laki bertubuh kekar berjaga-jaga dan waspada, bila ada orang lain yang mengintip peristiwa ganjil itu dari kedalaman rimba. Lalu, gumpalan-gumpalan tanah di dasar lubang menyembur hebat ke permukaan, seperti ada tenaga sempurna yang mengisapnya dari angkasa. Serpihan-serpihan tanah liat yang berjatuhan disambut dengan selembar kain putih yang lebih dahulu telah dihamparkan di sekitar lubang. Benda keramat yang mereka tunggu-tunggu telah berada dalam lipatan kain putih. Ia bernama Badar Besi. Batu hitam-bundar sebesar buah duku, yang dipercayai berkhasiat dapat membuat pemiliknya kebal senjata, alias tak …

Kami Mudik, Maka Kami Ada...

DamhuriMuhammad


(artikel ini sebelumnya telah disiarkan di harian Kompas, 11 Juli 2015)
Silsilah linguistik mudik dapat diurai dari kata dasar udik. Dalam ungkapan yang menyehari, mudik jamak dipahami sebagai perjalanan menuju hulu. Oleh karena wilayah hulu itu jauh di pedalaman, terpelosok di lereng-lereng perbukitan, maka terminologi udik mengacu pada daerah pedesaan, atau perdusunan. Demikian peneliti Sastra Melayu, Maman S Mahayana, menjelaskan dalam sebuah konferensi di UI, beberapa tahun lalu. Di sini makna udikmasih stabil, netral, dan tak bernada pejoratif.Bila saya mengaku “orang udik,” itu hanya berarti, saya datang dari dusun pedalaman atau dari pelosok jauh. Tapi seiring dengan pesatnya pertumbuhan kota di berbagai wilayah, dan Jakarta terpancang sebagai parameter segala bentuk kemajuan, terma udik mulai memikul beban. Maknanya bergeser menjadi wilayah yang belum tersapu peradaban. Kampungan, tertinggal, terbelakang, melekat sebagai sidik-jari kata udik. Ia bertolak belakang …

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita

Damhuri Muhammad
(Media Indonesia, 28/12/2014)


Bila tuan penyuka cerita, tuan tak perlu repot pergi ke toko buku, mengobrak-abrik rak buku fiksi guna menemukan jenis cerita yang sesuai selera. Di era facebook dan twitter, keseharian kita sudah bergelimang cerita. Di mana pun tuan berada--sedang bersantai di rumah, menunggu pacar di restoran cepat-saji, di sela jadwal rapatyang padat, atau sekadar mengisi waktu dalam kalutnya kemacetan di Jakarta--tuan leluasa menyantap rupa-rupa cerita. Tuan tiada bakal kekurangan stok cerita. Sebab, ia melimpah-ruah dan beralih-rupa dalam waktu tak terduga. Tuntas satu cerita, tiba cerita baru yang lebih dahsyat, hingga dalam beban persoalan yang kian berat, kita sedikit terhibur, atau mungkin terpesona dibuatnya. Ada kisah ringan tentang ibu rumah tangga yang “ngomel-ngomel” di dinding facebook lantaran fenomena “Jilboobs”--berjilbab di kepala, tapi menganga bagian dada (boobs)--yang seolah menyindir gayanya berbusana. Betapa tidak? Kepala memang suda…