Posts

Showing posts from 2016

Dalam Kebencian, Cinta Tak Hilang…

Image
Damhuri Muhammad

 (versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa, 29 November 2016)

“Bayangkanlah seorang gadis belia di Israel. Ia hidup di zona nyaman dan tak pernah bertemu muka dengan orang-orang Palestina”, demikian salah satu penggalan percakapan Niza Yanay, penulis buku Ideology of Hatred; The Psychic Power of Discourse (2012) dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh www.aljazeera.com (14/11/2012). “Secara personal, mungkinkah gadis itu memiliki kebencian terhadap warga Palestina atau semua orang Arab? Tapi,kenapa begitu banyak warga Israel--yang tak pernah dilukai oleh rakyat Palestina--kemudian membenci saudara-saudaranya di Palestina?” lanjut Niza, menjelaskan bagaimana cara kebencian bekerja. Baginya, kebencian bukan lagi sekadar hasrat yang membara di labirin personal, tapi kesadaran palsu yang sudah bergerak secara massal, karena dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang tak kasat mata. Atas dasar itu, ia berkesimpulan, kebencian telah beralih rupa menjadi ideolo…

Nelayan yang Malas Melepas Jala

Image
Damhuri Muhammad

(versi cetak dari cerita ini telah tersiar di harian Kompas, Minggu 6 November 2016)

Bagaimana sebaiknya kau mengumpamakan persekutuan dua manusia yang sama-sama meringkuk di lubuk asmara, tapi tak mungkin hidup bersama? Seorang penasihat hubungan percintaan spesialis usia setengah tua (es-te-we) pernah menyarankan; andaikan kau dan kekasih gelapmu sedang dilanda kegemaran mencari kesenyapan di sebuah pulau asing, atau sebut saja pulau tak bernama. Tapi kalian hanya boleh berada di sana sepanjang petang! Sebelum malam sempurna kelam, kalian sudah harus berlayar kembali ke pulau masing-masing. Kau pulang ke pangkuan suamimu. Kekasih gelapmu kembali menunaikan tugas mengurus keluarganya. Bagaimana bila kelak pulau tak bernama itu sudah menjadi target intel-intel swasta guna memotret setiap gerak-gerik penghuninya, lalu kabar akan tersiar di pulauku dan pulau kekasihku? Tanyamu pada suatu senja sambil memasang muka was-was ketimbang waspada. Di pulau tak bernama, cinta juga…

Tahayul dan Nalar yang Lumpuh

-->
--> Damhuri Muhammad

(versi asli dari artikel opini yang sebelumnya telah tersiar di harian Kompas, Jumat, 7/10/2016)

Jaman boleh maju, sains modern boleh pula tegak sebagai tonggak peradaban mutakhir, tapi mitos dan tahayul belum musnah dari rahim kultural kita. Dalam ketergesaan berkendara di lalu lintas Jakarta yang padat senantiasa, sekali waktu seseorang mungkin pernah melindas seekor kucing secara tak sengaja. Saat itu, biasanya ia akan langsung terhubung dengan nasihat orang-orang dahulu, bahwa segeralah hentikan kendaraan, bungkuslah jasad kucing yang berlumur darah itu dengan kain putih, lalu pusarakanlah secara layak. Perilaku semacam itu diselenggarakan bukan atas dasar pertimbangan etik, tapi digerakkan oleh seperangkat dalil mistik. Bila prosedur itu diabaikan, katakanlah si pelaku tancap gas belaka, sementara kucing yang naas dibiarkan terkapar tak berdaya, dipercayai akibatnya fatal; si pelaku bisa celaka. Ditabrak truk, atau mengalami kecelakaan t…

Dunia Digital dalam Teropong Analog

Image
Damhuri Muhammad

(versi cetakartikel ini tersiar di harian Kompas, Senin 29 Agustus 2016)



Suatu ketika, sahabat saya yang bermukim di Berlin (Jerman), mengunggah foto satelit Google Maps yang menampilkan jalan masuk menuju rumah masa kecilnya di Brebes, Jawa Tengah. Entah karena ia sedang rindu pulang, atau sekadar mengakui betapa sempurnanya Google Maps memetakan setiap wilayah di seluruh pelosok bumi. Bagai tak ada lagi yang luput dari intaian mata Google, bahkan hingga jalan setapak menuju kebun bawang tempat ayah bekerja saban hari, atau sudut dapur tempat ibu menanak nasi saban pagi. “Google Maps sudah memotret teliti sudut jalan kita. Ini jalan masuk ke rumah saya,” demikian saya kutipkan caption pendek dari laman media sosial kawan itu. Apa yang bertahun-tahun silam hanya dapat kita saksikan dalam tayangan film-film science-fiction kini betul-betul telah mewujud-nyata. Teknologi layar sentuh dan perintah suara (SIRI) yang dulu hanya dapat kita saksikan dalam film Minority Report (…

Jangkrik Aduan dan Monster Pokemon

--> Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa, 26 Juli 2016)

Dalam imajinasi awam saya, demam berburu Pokemon yang kini sedang mewabah, tak jauh beda dengan kegemaran berburu Jangkrik dalam permainan anak-anak sekitar tiga dekade silam. Monster virtual seperti Pikachu, Bulbasaur, Charmander dan Pidgey, saya analogikan dengan rupa-rupa jenis Jangkrik dengan sejumlah kebolehan saat serangga itu berlaga dalam kontes dunia kanak-kanak. PokeBall--perkakas untuk menangkap Pokemon--mungkin seperti ranting kayu, atau pisau tumpul guna menggali lubang Jangkrik, sementara PokeStop adalah semacam dapur emak di mana tersedia kaleng-kaleng bekas ikan sarden atau botol bekas guna mengurung Jangkrik-jangkrik hasil tangkapan. Begitu pun dengan Gym--arena pertarungan monster yang hanya dapat dimasuki bila pemainnya sudah mencapai level 5--saya bayangkan sebagai medan laga sederhana para Jangkrik andalan, yang biasanya berlokasi di tebing-tebing lapang, dan seda…

Anak-anak Dunia Maya

--> --> Damhuri Muhammad

(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa, 14 Juni 2016)

Di masa lalu, bila seorang anak hendak berpamitan, ia mesti mengetuk pintu kamar ayahnya, atau menghampiri ibunya ke dapur, untuk bersalaman, cium tangan, sebelum meninggalkan rumah. Tata krama dan laku santun itu kini telah diringkas oleh perkakas bernama gawai. Ia cukup mengetik satu-dua kalimat di layar telpon pintar, lalu kirim melalui fasilitas onlinemessenger ke nomor Mama-Papa, dan tuntas perkara. Mama-Papa akan membalas pesan-pesan digital dari anak-anaknya, lantas kembali tenggelam dalam rutinitas yang tiada sudah-sudah. Begitu selalu, hingga banyak keluarga seperti sedang membangun rumah di semesta jagad maya. Seolah-olah ramai perbincangan, seakan-akan semarak kehangatan, padahal mereka jarang bertemu-muka. Generasi yang lahir di era 1980-an hingga 2000-an adalah generasi yang tumbuh di lingkungan serba digital. Mereka meluncur ke bumi ketika dunia internet te…