Posts

Showing posts from 2017

Keriangan yang Punah

Image
Damhuri Muhammad

(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa 12 Desember 2017)


Jangan bergegas menuju dewasa. Tak perlu tergesa menuju tua. Sebab, puncak kegembiraan ada di masa kanak-kanak



Demikian pesan seorang ayah kepada anaknya dalam sebuah obrolan ringan akhir pekan. Sekilas terdengar ganjil dan barangkali dapat menimbulkan banyak pertanyaan. Sebab, lazimnya orangtua menginginkan anaknya lekas besar, segera matang, hingga secepatnya pula menggapai cita-cita. Saya membayangkan kegembiraan yang dimaksud oleh nasihat di atas. Jauh sebelum game online merajalela, anak-anak masa silam hanya mengenal permainan mobil-mobilan dari kulit Jeruk Bali. Bodi utamanya terbuat dari satu belahan simetris kulit Jeruk. Lalu, bagian atapnya diambil dari belahan simetris yang lain dalam ukuran lebih kecil. Empat roda dibentuk dari bahan yang sama, dengan perkakas sederhana hingga ukurannya sulit untuk dibikin persis sama. Rangka penghubung antara bodi, atap, dan empat roda hanya memerluk…

Tubuh Ayah Berwarna Tanah

Image
Damhuri Muhammad


(versi cetak cerpen ini tersiar di harian Kompas, Minggu, 10 September 2017)



Seberapa lama kita sanggup melihat kembali wajah yang pernah kita kekalkan dalam foto setelah ia meninggal dunia? Tanyamu sambil mencari potret diri seorang tokoh penting dalam sebuah folder khusus di laptopmu. Seorang teman kolumnis spesialis obituari menginginkannya, lantaran orang besar itu baru saja dilaporkan telah meninggal dunia. Bagaimana kalau yang muncul di layar monitor adalah wajah ayahmu sendiri, yang mungkin pernah kau abadikan sebelum ia pergi untuk selamanya? Kau sanggup menatapnya lama-lama? Sekadar melakukan olah-digital ringan untuk kebutuhan cetak buku Yasin dalam acara tahlilan 40 hari setelah kematian, misalnya? Bagimu, itu pekerjaan paling mengerikan. Barangkali lebih berbahaya dari upaya keras mendapatkan sebuah momentum pemotretan dalam situasi yang sedemikian genting. Wajah dalam foto itu seolah-olah ingin bercakap-cakap denganmu. Bibirnya seperti nyata bergerak. Tang…

Tarekat Puasa Bicara

Image
Damhuri Muhammad

(versi cetak artikel ini tersiar di harian  Kompas, Rabu, 14 Juni 2017)


Dalam keseharian kaum urban, saat Tuan berkunjung ke pusat perbelanjaan, mungkin sebelumnya Tuan hanya ingin mengisi waktu luang di akhir pekan, dan tidak berniat untuk berbelanja. Namun, macam-macam barang yang terpajang di etalase toko di pasar berpenyejuk udara itu, amat menggoda, hingga Tuan menyentuhnya. Sepatu model terkini, kemeja berkelas dengan potongan harga 50%, atau gadget canggih yang menggiurkan. Akhirnya Tuan takluk juga, dan ujung-ujungnya Tuan membawa salah satu barang itu ke meja kasir. Tuan sudah berbelanja sesuatu yang sejatinya tidak Tuan butuhkan. Demikian pula suasana keriuhan dalam karnaval kelisanan di dunia maya. Saat memeriksa kabar penting di linimasa akun media sosial, boleh jadi kita sedang tidak ingin menulis sesuatu, karena memang sedang tak ada yang perlu diperbincangkan. Namun, percakapan yang berhamburan, katakanlah isu yang sedang menjalar ke mana-mana (viral) ata…

Dalam Kepungan Kisah

Image
Damhuri Muhammad



(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Rabu, 19/4/17)




Gue sekarang nggak tahu mau apa. Gue bimbang. Kita lihat aja gue berani apa nggak.
Mungkin gue akan siarin langsung. Kalo nggak, ya hanya video kenang-kenangan 
untuk istri gue aja



Begitu curhatan seorang lelaki yang bermukim di Jagakarsa (Jakarta Selatan), sebelum ia bunuh diri dengan cara gantung diri, Jumat (17/3/17). Hingga artikel ini diturunkan, video pendek  itu masih dapat ditonton di Youtube. Para netizen gempar, sebab lelaki itu menyiarkan aksinya secara live di laman akun pribadi. Media melaporkan, sebelum ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, ia terlibat pertengkaran dengan istrinya, dan diduga pasalnya adalah cemburu. Sekilas, peristiwa itu seperti dramaturgi belaka, tapi amat nyata di depan mata. Orang tak p

K E S U M B A

Image
Damhuri Muhammad

(versi cetak cerita ini tersiar di harian Jawa Pos, Minggu, 16 April 2017) 
1 Peternak Kecemasan
Anak-anakku. Di usia yang menjelang renta ini, tibalah saatnya Ibu kisahkan kepada kalian tentang seorang lelaki yang sanggup melakukan apa saja demi hidup Ibu, kecuali bersetia! Ibu menyebutnya peternak kecemasan. Sebagaimana lelaku peternak, cemas yang saban hari ia rawat, diberinya pakan terbaik, dibiarkannya kawin-mawin secara leluasa, hingga beranak-pinak dari waktu ke waktu. Sebuah rongga di dadanya--yang Ibu andaikan sebagai kandang dari ternak-ternak itu--menjadi penuh-sesak, dan mungkin tak memadai lagi sebagai kandang. Akibatnya, kecemasan itu melimpah-limpah, lalu menjalar ke sekujur tubuhnya. Lututnya menggigil hebat bila Ibu terlambat berkabar, hanya untuk memastikan apakah Ibu telah selamat sampai di rumah, atau barangkali kereta api yang Ibu tumpangi mengalami gangguan signal di perjalanan. Kabar dari Ibu bagai siraman air yang senantiasa ia butuhkan guna memad…