Monday, December 10, 2018

Dalam Riuh Karnaval Kelisanan


-->
Damhuri Muhammad


-->



(versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, Jumat, 7/12/18)



Pada sebuah kuliah Filsafat Bahasa, saya bertanya tentang arti kata mengamankan dan menertibkan. Rata-rata mahasiswa menjawab, mengamankan berarti memberi rasa aman, atau menjauhkan dari ancaman. Dalam aksi massa terhadap terduga pencopetan misalnya, lazim digunakan kalimat “aparat telah mengamankan pelaku.” Sementara untuk menertibkan, hampir semuanya merujuk pada makna denotatif; aktivitas mengatur atau menata sesuatu yang semula semrawut.  Mahasiswa yang menjadi responden survei kecil-kecilan itu adalah generasi kelahiran 1998 ke atas, yang berarti di masa kejatuhan Orde Baru masih bayi. Itu sebabnya, tidak ada yang punya ingatan tentang konotasi mengamankan dengan aktivitas menangkap atau membekuk dengan cara-cara mengerikan. Begitu pula dengan makna menertibkan, tak ada imajinasi tentang perlakuan “menggusur secara paksa” atau “melibas massa dengan gas air mata.”
            Demikian kiranya riwayat bahasa dari masa ke masa. Di tangan bayi-bayi masa Orde Baru, konotasi “mengamankan” dan “menertibkan” telah kembali pada pangkal denotasinya, kamus kembali bekerja, dan dua kata itu selamat dari  konotasi yang menyeramkan. Anak-anak muda--yang kebetulan mahasiswa saya itu--tidak tahu bahwa konotasi terma “stabilitas, ”subversif,” dan  “pembangunan” yang hampir menjadi “tahayul” di masa Orba tak mungkin mengemuka, karena yang  boleh muncul hanya denotasinya. Bila menggunakan ungkapan penyair Afrizal Malna, makna-makna tunggal itu dijaga ketat oleh tentara.          
Tapi, itu datang dari masa kelam pengalaman memaknai language games yang menurut filsuf Ludwig Wittgenstein (1889-1951), akan mengalami pergantian aturan (rule of game) seiring dengan perubahan zaman. Di era media sosial,  kata-kata berhamburan bagai telur-telur yang menetas saban siang, dan tak ada yang denotasinya dikawal oleh “polisi” morfologi. Warganet leluasa menggunakan diksi, bebas menyingkap tafsir pejoratif atas kata-kata yang bergentayangan di Twitter, Instastory, Facebook, WhatsApp. Dari kebebasan memungut makna di rimba kata itu, saling berbalas status cadas, saling menyindir, hingga aksi blokir-memblokir jejaring pertemanan adalah situasi yang biasa terjadi.

Ilustrasi: www.malangtimes.com


            Frasa sederhana dan kalimat popular semacam Kelar Idup Lo, Situ Waras?  atau Masyuuuk Pak Eko, adalah contoh dari perayaan kelisanan, hingga pada akhirnya memerlukan kamus spesifik guna menyingkap horison kontekstualnya. Ketiganya bagai pisau bermata tiga. Bisa bercorak ofensif untuk mengudarakan sebuah isu baru, bisa pula defensif guna menahan diksi-diksi bernada menyerang, tapi bisa pula berposisi sebagai alegori atau satir yang menghibur, hingga apa saja komentar yang muncul dapat dikait-kaitkan dengan pilihan frasa atau kalimat popular itu, guna menggapai keriangan dalam suasana yang senantiasa menegangkan.
            Gelombang kelisanan itu rupanya menimbulkan hempasan yang cukup mengguncang atmosfir komunikasi politik menjelang Pilpres 2019. Arena kontestasi bagai dikepung oleh perayaan tafsir konotatif atas narasi yang berasal dari kedua kontestan. Indikasinya tampak sejak munculnya kalimat Tempe Setipis Kartu ATM. Kalimat yang bersumber dari pernyataan Cawapres Sandiaga Uno itu telah membiakkan banyak kemungkinan makna. Ada yang menyikapinya sebagai alegori, lantaran bahan baku kedelai impor kian mahal--yang berakibat pada meningkatnya biaya produksi--maka untuk menjaga stabilitas harga, ukuran tempe ditipiskan hingga mencapai ketipisan kartu ATM. Ada pula yang membangun konotasi, tak gampang mengimajinasikan ketipisan tempe yang setara dengan ketipisan kartu ATM, tapi karena Sandiaga yang berasal dari keluarga berada, sedari kecil hanya mengenal  kartu ATM, sampai di situlah imajinasinya tentang ukuran ketipisan tempe. Tak sedikit pula warganet yang berkomentar, itu hanya diksi-diksi jenaka yang sengaja dilepaskan guna mendongkrak popularitas Sandiaga yang dalam hitungan survei masih minim.
            Lalu muncul diksi “Sontoloyo” yang berasal dari Presiden Joko Widodo--kebetulan berstatus Capres petahana. “Sontoloyo” dibaca sebagai tanda semiotik yang mengacu pada kelayakan atau ketaklayakan seorang Presiden menggunakannya. Sudah dijelaskan berkali-kali, Jokowi hanya sedang menggunakan kiasan untuk sejumlah pihak yang menurutnya tidak fair dalam melihat itikad baik dari rencana kebijakan tentang Dana Kelurahan.  Diksi Sontoloyo juga tak menanggung beban makna yang berat. Presiden Sukarno pernah menggunakannya sebagai kiasan yang tak mendistorsi reputasi Presiden sebagai Kepala Negara. Tapi dalam arus kelisanan yang begitu deras, tafsir pejoratif dapat dirancang dengan berbagai argumentasi yang seolah-olah tersimak meyakinkan, hingga kemudian memicu polemik berkepanjangan.
Tafsir  pejoratif  juga muncul atas diksi Genderuwo dan yang terkini Tabok dari Jokowi, Tampang Boyolali dari Prabowo Subianto, Buta-Tuli dari KH Ma’ruf Amin. Barangkali sudah lumrah bahwa imajinasi tentang makhluk Genderuwo digunakan sebagai cara orang tua menakuti-nakuti anak-anak, supaya tak bermain hingga larut senja. Dalam horison pernyataan Jokowi, kebetulan ia hendak menganalogikan orang-orang yang gemar menakuti-nakuti rakyat dengan kabar yang tak dapat dipertanggungjawabkan akurasinya. Misalnya tentang ramalan Indonesia bakal ambruk, atau Indonesia akan bangkrut lantaran rapuhnya fundamental ekonomi, padahal tak ada yang perlu ditakutkan, karena menurut Presiden, setiap potensi masalah telah dipikirkan matang-matang, dan penyelesaiannya dikerjakan dengan perhitungan yang  prudent dan prinsip kehatian-hatian. Maka, alih-alih takut, seyogyanya yang dihembuskan adalah optimisme dan harapan-harapan baru bagi kegemilangan Indonesia di masa depan.
Capres Prabowo Subianto pun tak luput dari hempasan badai kelisanan sebagaimana yang dialami Jokowi, Sandiaga, Ma’ruf Amin. Frasa “Tampang Boyolali”  yang semula hanya dimaksudkan sebagai pengamsalan sederhana  tentang inferioritas bangsa kita di hadapan para pemodal asing, kemudian mengalami penyimpangan makna yang mengarah pada asumsi tentang penghinaan atas anak-anak bangsa, terutama yang tanah kelahirannya di Boyolali, Jawa Tengah. Polemik tentang “Tampang Boyolali” sampai menghabiskan waktu berhari-hari hampir di semua platform media sosial. Hal serupa juga dialami oleh Cawapres Ma’ruf Amin lantaran diksi “Buta-Tuli” yang semula dimaksudkan sebagai amsal dari sebuah kisah dalam Alquran, tentang orang-orang yang telah buta hatinya dan ditulikan pendengarannya. Tak ada tendensi menyinggung, apalagi menghina fisik. Namun, pesan yang dibelokkan sebelum tiba di tujuan, dapat dikapitalisasi guna mendegradasi moralitas produsennya. Berhari-hari pula linimasa dikepung oleh perdebatan yang jauh dari gagasan dan program-program kerja untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Karnaval kelisanan mungkin tak dapat dielakkan, tapi apakah marjin elektoral bisa diraih hanya dengan skor kalah-menang di gelanggang pertarungan tafsir pejoratif atas narasi kedua kontestan? Bila yang sedang diperebutkan adalah pemilih usia 17-34  tahun--disinyalir berjumlah puluhan juta dan dikalkulasi sebagai kunci kemenangan--apakah sudah terkonfirmasi mereka terpikat pada politik kelisanan yang nyinyir dan tak bermutu itu? Bahasa mereka tidak rumit, tidak polemis, bahkan hanya bahasa visual, atau semacam emoticon dalam percakapan daring. Karnaval kelisanan hanyalah tamasya kata-kata yang tak mengundang minat mereka. Habis-habisan berdebat soal Tempe setipis ATM, Sontoloyo, Tampang Boyolali, Buta-Tuli? Baper ah…                     
                
                        

Tuesday, November 27, 2018

Jokowi App dan Politik Harapan

-->

-->
Damhuri Muhammad




“Kurang 1 Minggu, Jokowi App Diunduh 10.000 Netizen.” Demikian kabar yang tersiar hanya 4 hari selepas peluncuran aplikasi Jokowi App. Angka yang terbilang fantastis untuk ukuran aplikasi android non-entertainment itu kiranya dapat membuktikan antusiasme warganet dalam mencari kanal guna mengukur, memeriksa, dan mengonfirmasi rupa-rupa kabar perihal Jokowi-Ma’ruf Amin, kontestan nomor 1, Pilpres 2019. Saya termasuk netizen yang sudah mengunduh aplikasi berlogo pasangan JKW-MA dalam format ilustrasi-siluet itu, lantaran penasaran dengan konten-konten yang katanya dirancang guna menangkal kabar dusta perihal Jokowi dan Ma’ruf Amin, yang belakangan makin gencar.
Setelah memeriksa beberapa artikel news, termasuk ilustrasi foto, gaya penulisan, tata letak dan corak artistik kemasannya, belum terasa benar bedanya dengan aplikasi-aplikasi sejenis.  Pun, secara tematik tidak terasa menyuguhkan sajian yang berbeda dari artikel-artikel news yang saban hari bermunculan di media-media daring, meskipun dari segi volume memang lebih ringkas dan tak butuh waktu lama untuk membacanya. Yang tampak istimewa adalah kemasan ilustrasi pada rubrikasi yang terdiri dari Lebih Dekat Jokowi, Kerja Jokowi, Lebih Dekat KH Ma’ruf Amin, Indonesia Maju, Sudut Pandang, dan Suaraku. Tujuh rubrik itu disimbolisasikan dengan foto-profil dalam ekspresi dan konsep fotografi yang berbeda-beda.
Rubrik Lebih  Dekat Jokowi, misalnya, dirancang dengan foto-profil Jokowi dalam ekspresi senyum bersahaja dengan latar belakang warna-warna futuristik yang mengingatkan saya pada semarak warna dalam hingar-bingar Asian Games 2018. Konten-konten dalam rubrik itu mengandung personal branding Jokowi sebagai family-man, intimasi dengan rakyat kecil, dan kegemaran Jokowi menggunakan simbol-simbol anak muda seperti; jaket kasual, sepeda motor modifikasi, musik metal, dan sepatu sneaker.  Rubrik pertama ini semacam pintu masuk untuk mengenal personalitas Jokowi, atau lebih tepatnya memperkenalkan kembali figur Jokowi pada pemilih pemula.
Oleh karena Jokowi tak mungkin lagi semata-mata mengandalkan personal branding lantaran sudah berstatus petahana, maka rubrik kedua disajikan dengan tajuk Kerja Jokowi. Berbeda dengan rubrik pertama, foto-profil Jokowi berubah menjadi sosok pekerja dengan helm proyek warna putih dalam ekspresi yang gigih dan bersemangat. Semacam upaya untuk menampilkan Jokowi sebagai Presiden RI yang berani membuat keputusan-keputusan besar--dengan risiko yang tentu juga besar--dalam pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia. Namun, konten-konten dalam rubrik ini memunculkan kesan inkonsistensi antara nama rubrik dan isinya. Aktivitas Blusukan Pasar, Jokowi Berlutut Memeluk Bulan, Hijrah menjadi Indonesia yang lebih baik, justru menjadi bagian dari rubrik Kerja Jokowi. Hingga saat kolom ini disiarkan, belum satu pun artikel tentang jejak pembangunan proyek-proyek mercusuar yang diunggah, tidak juga untuk pencapaian bidang ekonomi, seperti kestabilan inflasi, penurunan angka kemiskinan, peningkatan indeks pembangunan manusia, dan semacamnya. Pendeknya, tidak ditemukan wacana substantif yang berkaitan dengan  makna dari “Kerja Jokowi” yang dipasang sebagai tajuk rubrik.






Kejanggalan juga terasa pada rubrik Indonesia Maju yang disimbolisasikan dengan foto-profil pasangan Jokowi-MA dalam ekspresi yang visioner (memandang jauh ke depan), karena konten-konten yang semestinya mengandung politik pengharapan dan optimisme dalam membangun kegemilangan Indonesia, malah berisi laporan-laporan peristiwa tentang kehadiran Presiden RI di berbagai forum seremonial. Satu-dua memang berisi cuplikan pernyataan Jokowi tentang ekonomi kreatif dan digital-economy, namun bingkainya masih peristiwa momentual kepresidenan. Tim konten Jokowi App rupanya masih bermasalah dengan kategorisasi tematik, dan sangat mungkin defisit konten, terutama  yang relevan dengan ketersediaan rubrikasi.
Rubrik yang potensial adalah Suaraku, tersedia sebagai wadah untuk menampung catatan testimonial netizen yang diharapkan dalam bentuk cerita. Setiap orang dapat mengunggah cerita, berikut dengan ilustrasi, yang tentu tidak akan langsung tayang seperti kita mengunggah konten di aplikasi berbasis komunitas pada umumnya, tapi harus melewati mekanisme kuratorial yang akan ketat. Tapi inilah satu-satunya kanal yang dapat membangun interaksi netizen dengan Jokowi App.
Di luar dari kejanggalan itu, Jokowi App adalah kreativitas dan inovasi tentang cara berkomunikasi yang diperlihatkan oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi di bawah pimpinan Erick Thohir. Semula saya meragukan figur muda yang sedang naik daun itu, karena setelah beberapa lama terpilih sebagai team leader kampanye, belum tampak hasil kerjanya. Saya tidak mengharapkan Erick banyak bicara, karena  ia memang bukan tipikal pekerja yang mengandalkan retorika, apalagi akrobat kata-kata, melainkan tokoh belakang layar yang jago membuat sesuatu yang mengejutkan. Keraguan saya berangsur hilang setelah Erick Cs meluncurkan Jokowi App, 17 November 2018 lalu.
Saya membayangkan, bersama timnya Erick sedang berpikir keras,  bagaimana caranya Jokowi App tak sekadar bercorak informatif, tapi juga interaktif, sehingga dengan aplikasi itu Jokowi dapat menggapai intimasi dengan kaum digital-native yang selama ini digeneralisir secara serampangan dengan istilah generasi milenial. Interaksi atau keterlibatan yang intens adalah syarat utama dari sebuah aplikasi digital untuk meningkatkan tarafnya menjadi platform. Disinyalir oleh para ahli, sejauh ini di Indonesia, aplikasi digital yang sudah mengarah pada platform baru Go-jek (dengan fasilitas Go-Pay), Kaskus (dengan fasilitas forum-forum diskusinya) dan Bukalapak (dengan fasilitas Bukadompet). Pengukuran biasanya dilakukan pada tingkat ketergantungan user pada setiap aplikasi digital.
Ketika netizen semakin intens berinteraksi, baik dengan tim Jokowi, maupun dengan sesama pengguna aplikasi, maka pada level tertentu  platform akan meningkat menjadi  digital-ecosystem, di mana Jokowi App tidak lagi sekadar dirancang demi marjin elektoral sebagaimana itikad awalnya, tetapi sudah menjadi wadah interaksi permanen yang tak bisa dibubarkan begitu saja pasca Pilpres. Saya tidak berharap banyak pada taraf ini, karena rasanya terlalu ambisius untuk pekerjaan yang dibatasi tenggat waktu 6 bulan, tapi level platform belum mustahil digapai. Saya membayangkan tim kreatif sedang memikirkan sayembara-sayembara seperti lomba disain logo merchadise JKW-MA, lomba video yel-yel dukungan JKW-MA, lomba foto Instagram, termasuk lomba motion-graphics simulasi pencoblosan surat suara dan semacamnya, yang semua prosedur kepesertaannya terkait secara langsung dengan Jokowi App. Intinya menyediakan ruang bagi digital-native dengan memperlakukan mereka sebagai subyek, bukan semata-mata obyek dari konten-konten yang tersaji.
Dengan begitu, Jokowi App yang dirancang dengan kreativitas, inovasi, dan etos kolaborasi, dapat menjadi jawaban dari  ajakan pasangan JKW-MA untuk berhijrah dari psikologi ketakutan ke politics of hope dengan keberanian dan optimisme, dari ujaran kebencian yang memecah belah menuju ujaran yang menyatukan, dari kebuntuan akibat kebencian menuju iklim kekaryaan yang  membiakkan macam-macam keteladanan…                                 




Jejak Islam Kultural

--> Damhuri Muhammad ( versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018 ) “Hanya Indones...