Tuesday, July 31, 2018

Begal Payudara (dari Merampas ke Meremas)




Damhuri Muhammad


Di daerah tempat tinggal saya, Depok (Jawa Barat), ada seorang perempuan belia yang giat berusaha. Atas modal sendiri, ia memproduksi makanan ringan kemasan dengan merek Bikini, singkatan dari Bihun Kekinian. Produk itu sempat menghebohkan pada awal Agustus 2016 lalu. Bukan karena gurihnya rasa Bihun Kekinian itu, tapi karena kemasan plastik bergambar Bra, warna biru dongker dengan motif bintik-bintik putih di dalam lingkar kedua bulatannya. Di bagian bawah gambar itu tercantum sebuah kalimat pendek yang bernada ajakan; remas aku. Seolah-olah objek dari maklumat ajakan meremas itu adalah sepasang payudara yang  tersembunyi di balik Bra biru dongker itu, meski sebenarnya lebih tepat jika dipahami bahwa objeknya adalah bihun kering dalam kemasan itu. Di masa kanak-kanak, saat jajan bihun kering, bukankah kita biasa meremasnya terlebih dahulu, sebelum kemudian menyantapnya? 
         Kegemparan perihal Bihun Kekinian di jagat medsos itu kemudian berbuntut panjang. Produsen Bikini dituding telah melakukan penyebarluasan content pornografi. Selain itu, produknya diklaim pula tidak punya ijin edar, dan stempel halal di kemasan produk tersebut diduga palsu, alias dicomot tanpa melalui sertifikasi Majlis Ulama Indonesia (MUI). Boleh jadi pengusaha muda itu layak dipersalahkan, tapi berapa banyak content pornografi yang saban hari bergentayangan di jalan raya, apalagi di dunia maya? Dan, seberapa banyak sebenarnya produk-produk industri rumahan yang mengantongi ijin edar, apalagi sertifikasi halal dari MUI? Saya tidak yakin BP-POM punya datanya!



Lagi pula, masa berjualan kripik kemasan yang dipasarkan ke warung-warung di sekitar lingkungan mesti melapor juga pada negara? Kripik talas, kripik singkong, kripik kulit, atau kripik jengkol rasanya tetap maknyus dan laris manis tanjung kimpul tanpa ijin negara, tanpa stempel halal, juga. Di republik yang katanya pro  UMKM, begitu banyak soal remeh dan sepele yang dijaga ketat atas dasar “tahyul” regulasi, sementara perkara-perkara besar dan begitu serius malah tak terjangkau hukum. Sejak produk-produknya disita BP-POM, dan pengusaha muda itu tentu mesti berurusan dengan hukum, tak terdengar lagi kabar tentang Bihun Kekinian. Mungkin usaha kecil-kecilan yang semula telah berkembang lumayan pesat itu sudah gulung tikar. Meski begitu, saya berharap anak muda pemilik Bikini itu, tidak patah semangat, dan tetap melanjutkan usahanya. Perkara merek kemasan yang bikin gaduh itu,  tak usahlah dirisaukan. Ganti saja merek bihunnya dengan Cikini alias Cinta Kekinian. Saya yakin negara dan MUI akan merestuinya.
Tapi tak lama kemudian, lagi-lagi di Depok, daerah tempat tinggal saya, muncul kembali kegemparan serupa. Kali ini tak ada kaitannya dengan merek kemasan produk yang dikuatirkan bakal mengundang syahwat dan memancing berahi, tapi tentang kejahatan yang lazim disebut dengan Begal. Dalam bahasa awam, aksi begal biasa dipahami sebagai perbuatan merampas harta benda yang berlangsung di tempat sepi yang jauh dari pengawasan orang banyak. Depok  dikenal sebagai salah satu wilayah pingggiran Jakarta yang rawan begal, utamanya begal sepeda motor. Kepolisian wilayah Depok disebut-sebut cukup direpotkan oleh merajalelanya komplotan begal itu. Tak tanggung-tanggung, bukan hanya motor dan harta benda yang dirampas, tapi sudah banyak pula nyawa yang melayang.
Bukan begal motor itu yang sedang jadi perhatian saya, tapi kejahatan baru yang kini sedang melanda wilayah Depok; Begal Payudara. Sekilas istilah itu mungkin terdengar ganjil. Kalau makna umum kata “begal” seperti yang  telah saya ungkapkan di atas, maka dalam kasus Begal Payudara, tentu dapat diajukan pertanyaan; Apanya yang dibegal? Apanya yang dirampas? "Motifnya hanya iseng. Yang bersangkutan melihat korban berjalan seorang diri dalam situasi yang sepi. Pengakuannya dilakukan secara spontan," kata Kepala Satreskrim Polres Kota Depok, Kompol Putu Kholis Aryana, sebagaimana dikutip www.viva.co.id (16/1/18). Keterangan itu disiarkan setelah polisi berhasil membekuk pria pelaku Begal Payudara yang beraksi di Gang Kuningan, Margonda, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat. Pelaku berinisial ISL, berusia 29 tahun, ditangkap Senin malam, 16 Januari 2018, di kediamannya di Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.
Peristiwa Begal Payudara terulang kembali pada Minggu (15/7/18). Kali ini aksi meremas payudara menimpa seorang mahasiswi Universitas Gunadarma berinisial ATN (20 ). Perempuan berhijab itu mengaku, payudaranya diremas oleh seorang pengendara motor di Gang Swadaya Dua, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, sebagaimana dilaporkan www.republika.co.id (17/7/18). Selain kuliah, ATN bekerja sambilan dengan berjualan kue donat. Pagi itu, saat ia berjalan di gang yang sempit, tiba-tiba ada seorang pengendara motor melintas dari arah berlawanan. "Saya yang sedang membawa box berisi kue donat mengalah dan berhenti untuk membiarkan pemotor itu lewat. Tiba-tiba tangan kiri pemotor itu meremas payudara saya," tutur ATN di Mapolres Depok.
ATN mengaku, ia sempat melawan dan ingin lari. Tapi jalan sempit, dan ia tak bisa berbuat apa apa selain membiarkan aksi peremasan itu berlangsung tanpa halangan yang berarti. “Waktu mau kabur, dia memukul kepala saya, sambil mengancam, saya bunuh kamu," papar ATN. Untunglah kemudian ada seorang ibu rumah tangga keluar rumah hingga akhirnya pria tak dikenal tersebut kabur. Kejadian serupa ternyata sudah berulang kali terjadi di TKP itu.  Belakangan, Begal Payudara dilaporkan tidak hanya terjadi di Depok, tapi juga marak di beberapa wilayah di Jakarta. Mengingat makin maraknya aksi Begal Payudara,” pada Senin (30/7/18) Polresta Depok telah menyebarluaskan sketsa wajah pelaku yang diolah dari kejadian terkini yang kembali terulang di Kelapa Dua, Depok. 





Dalam istilah “Begal Payudara,” tak ada unsur perampasan uang, perhiasan, dan harta benda lainnya. Sebagaimana pengakuan korban, aktivitasnya hanya “meremas,” dan bukan “merampas.” Istilah itu kemudian mengingatkan saya pada istilah yang lazim dihubungkan dengan aktivitas  prostitusi, misalnya “berjualan barang basah,” yang kira-kira bermakna “dagangan laku, tapi barang tak berkurang.” Itu sama pengandaiannya dengan “Begal Payudara,” di mana perampasan terjadi, tapi tak ada barang yang hilang, bahkan payudara itu sendiri tetap utuh di tempatnya. Tanpa mengurangi empati pada korban, dalam aksi-aksi bejat yang amat memalukan itu, saya lebih nyaman menggunakan istilah “Remas Payudara” saja ketimbang “Begal Payudara.” Lebih empirik dan tidak terlalu menakutkan. Ngomong-ngomong soal remas, saya jadi ingat lagi plastik kemasan Bihun Kekinian yang mencantumkan frasa Remas Aku! di bawah gambar yang dituding saru itu. Bila dalam kasus Bihun Kekinian, yang diremas hanya bihun, maka dalam peristiwa-peristiwa “Begal Payudara,” yang diremas betul-betul daging mentah itu.
Warga Depok dan sekitar, atau sejawat-sejawat yang barangkan hendak singgah di kota pinggiran Jakarta tempat tinggal saya itu, boleh jadi sudah aman dari kemasan Bihun Kekinian, tiada perlu cemas lagi dengan keberingasan aksi Begal Motor, tapi tetap mesti berhati-hati dari aksi Remas Payudara. Hindarilah keluar rumah terlalu dini, dan gandenglah pacar atau teman laki-laki yang baik hati, bila Anda hendak melintas di gang-gang senggol yang sedang sepi…    

Damhuri Muhammad
Kolumnis

-->
 
-->
-->

Monday, July 30, 2018

Dari Pasangan Vespa Cokelat ke Pasangan Jokowi-Mahfud MD




 
Damhuri Muhammad
-->


Menimbang semakin tak terbendungnya rasa penasaran pada sosok penting yang bakal dipinang Jokowi sebagai Cawapres dalam kontestasi Pilpres 2019, di forum obrolan petang yang berlangsung di ruang rapat kantor Copras-capres Institute, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang menggelisahkan. “Siapa yang paling menderita akibat rasa penasaran itu?” Dilepaslandaskan oleh seorang anak muda yang konon masih belum tercatat sebagai analis, lantaran ia masih berada dalam masa uji-coba alias magang.

Namun, karena pertanyaan itu terbilang ganjil dan kedengarannya amat menantang, maka beberapa analisis senior yang berada di situ berebut untuk segera menghadangnya dengan jawaban. “Yang paling tersiksa tentu figur Cawapres dengan elektabilitas paling tinggi,” kata seorang analis sambil menyebut sebuah nama. “Ngawur itu. Bagi saya, yang paling menderita adalah media!” sela analis kedua, sambil mengajukan macam-macam argumentasi. “Mohon ijin Bro, menurut gue, yang paling tersiksa adalah Presiden Jokowi sendiri,” bantah analis ketiga, lagi-lagi dengan menyodorkan macam-macam pertimbangan.

            Perihal argumentasi teoretik dari ketiga analis senior Copras-capres Institute itu agaknya tak perlu saya ungkapkan. Sebab, bagi saya, ketiga jawaban yang tergesa-gesa itu salah, dan sama sekali tidak mencerminkan kehandalan analis pilih tanding. Figur-figur Cawapres yang saban hari namanya bergentayangan di media mungkin hanya sedikit repot atau katakanlah ge-er, tapi tidak akan sampai pada level tersiksa, apalagi menderita akibat rasa penasaran itu. Presiden Jokowi barangkali sekadar sibuk, atau katakanlah konsentrasinya lumayan terganggu, tapi pastilah tidak tersiksa, apalagi menderita. Begitu juga dengan media. Mungkin hanya kasak-kusuk, atau barangkali uring-uringan, jengkel tak berkesudahan, lantaran terlalu lama menunggu cerita baru, tapi sekali lagi, tidak akan sampai pada maqam tersiksa, apalagi menderita!

            Kalau begitu, siapa yang paling menderita? Bagi saya, yang paling menderita adalah para konsultan politik atau para analis seperti orang-orang yang berkhidmat di Copras-capres Institute itu. Statistik popularitas dan elektabilitas yang mereka ukur secara teliti dan presisi dari waktu ke waktu tak mungkin dapat memastikan siapa Cawapres terpilih itu, sementara tenggat semakin dekat. Mereka harus segera mendapatkan nama. Tuan Guru Bajang (TGB), Mahfud MD, Moeldoko, Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto, atau Sri Mulyani? Apa guna bersegera memastikan nama? Karena mereka harus melakukan profiling sedetail mungkin, menyigi dan menggali dalam-dalam setiap unsur keunggulan dari sosok terpilih itu, termasuk mencari setiap lekuk, celah, atau bolong-bolong yang berpotensi menjadi sasaran tembak para haters, dan seterusnya dan seterusnya.




         Bila mereka berposisi sebagai Jokowi-lovers alias kaum Cebong, maka potensi-potensi keunggulan Cawapres mestilah segera diterjemahkan ke dalam bahasa infografis, dimasukkan sebagai content video pendek, dan menjadi materi utama dalam menyusun semacam strategi komunikasi sebagai panduan bagi pasukan cyber-army di jagat twitter, facebook, dan instagram. Sebaliknya, bila mereka ditakdirkan sebagai Jokowi-haters alias kaum Kampret, maka setiap angka merah di rapor Cawapres terpilih akan segera muncul dalam daftar, dipreteli satu persatu sesuai tingkat ketercelaannya, untuk kemudian dipilih sebagai materi dalam memproduksi meme, video-parodi, dan tentu saja akan menjadi amunisi bagi para haters sebelum menabuh genderang twitwar.

Baik sebagai Cebong maupun sebagai Kampret, mereka juga sudah harus membuat target-target yang terukur perihal berapa kali content-content itu harus mencapai trending-topic dalam seminggu, berapa kali harus viral dalam sebulan, berapa kali harus menang voting dalam tiga bulan. Selain itu, mereka juga  sudah harus menyusun strategi menyerang secara brutal bila sewaktu-waktu popularitas jagoan sedang terancam, termasuk cara-cara bertahan bila mendapatkan serangan membabibuta dari pihak lawan.

         Tapi bagaimana mengerjakan itu semua bila sampai hari ini Cawapres terpilih belum juga diumumkan? Jokowi dan partai-partai pendukung tampaknya bersepakat akan mengumumkan Cawapres pada hari terakhir pendaftaran atau sekitar 7 atau 8 Agustus 2018. Mereka bisa saja melakukan profiling semua nama yang tercantum di bursa, tapi itu tidak mungkin. Selain menyita banyak waktu, itu juga berarti pemborosan, sementara mereka belum tentu akan menjadi klien. Untuk apa bersusah-susah memelihara 5 ekor, sementara yang akan mendatangkan untung besar hanya 1 ekor? Kira-kira begitulah pengandaiannya bila menggunakan alegori politik pasar ternak.

          Maka, supaya mereka tidak terlalu menderita, saya ingin memunculkan sebuah nama. Bila nama itu kelak tidak terpilih, setidaknya saya sudah menyuguhkan sebuah hiburan ringan di masa payah, tanpa imbalan apa-apa, tanpa berharap dipekerjakan sebagai analis Copras-capres Institute, juga. Nama itu adalah Mahfud MD. Kenapa Mahfud MD? Alasannya sederhana, karena Mahfud MD telah berhasil menaklukkan hati Megawati. Saya tidak perlu menjelaskan siapa Megawati, karena kalau para analis senior itu masih gagap dalam memahami sosok Megawati dalam konstelasi politik menjelang Pilpres 2019, lebih baik bubarkan saja lembaga Copras-capres Institute itu, atau alihkan menjadi perusahaan yang menjual jasa kepengurusan Paspor dan Surat Keterangan Berkelakuan Baik.

Lalu, bagaimana cara Mahfud MD menaklukkan hati Megawati? Saya akan berkisah tentang romantika tak biasa Mahfud MD dengan seorang perempuan bernama Zaziatun Nihayati yang terjadi pada tahun 1980-an. Dalam hal kisah ini, saya akan berhutang banyak pada buku Biografi Mahfud MD, Terus Mengalir (2013) karya Rita Triana Budiarti, wartawati senior, yang kebetulan juga sahabat karib saya. “Saya tidak pernah merasakan berpacaran dalam arti saling mencurahkan hati. Paling dari jauh saja melihat kalau ada orang cantik,” kata Mahfud, sebagaimana dikutip Rita dalam bukunya.

Begitulah Mahfud MD. Jangankan berduaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya, membonceng adik perempuannya saja, Mahfud sudah risih bukan main. Kalau mereka terpaksa pergi bersepeda bersama, Mahfud akan mengayuh sepeda sambil menunduk. Ia juga meminta adiknya Ina menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. “Nanti kamu dikira pacar saya,” kata Ina menirukan ucapan kakaknya masa itu. Sejak kecil Mahfud dibesarkan oleh keluarga santri, yang dalam perkara pergaulan dengan perempuan bukan muhrim aturan sangat tegas; tidak boleh. Tapi kepolosan itulah yang kemudian membuat perjumpaan mula-mulanya dengan Yatie (nama kecil Zaziatun Nihayati) menjadi seksi untuk ditelusuri.

Masa itu Mahfud sedang mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat lanjut, setelah ia dipercaya sebagai Ketua Departemen Dakwah HMI Komisariat Fakultas Hukum UII, Yogyakarta. Tiba-tiba muncul seorang peserta yang bukan pengurus. “Lho, ini siapa?” tanya Mahfud. Rupanya karena terbilang mahasiswi cantik, ia disuruh ikut oleh panitia yang lain. Padahal, kalau belum ikut basic training (batra), ia tak boleh jadi pengurus. Tapi, senior-senior bilang, “Tidak apa-apa, nanti batranya menyusul. Mumpung ada yang mau ikut.” Itulah gadis bernama Yatie, mahasiswi kelahiran Jember, Jawa Timur, 1959. Berasal dari keluarga santri yang terbilang berada. Mahfud dan teman-temannya masih naik angkutan umum, Yatie sudah punya Vespa. Dari Vespa cokelat itulah kisah cinta ini bermula. Dalam urusan mengantarkan surat, Mahfud sering mengendarai Vespa coklat itu dan Yatie selalu berada di jok belakangnya, hingga mereka beroleh julukan; pasangan Vespa cokelat.

Perboncengan demi perboncengan di Vespa cokelat membuat Mahfud baper, dan merasa dekat dengan Yatie. Itu pula yang membuat ia berani mengunjungi tempat kos Yatie. “Lalu, saya menjadi rindu,” kata Mahfud sambil tertawa. Tapi anehnya, setiap kali berkunjung, Mahfud tidak mengungkapkan apa-apa. Ia hanya duduk-diam, sambil membaca buku. “Kalau kamu senang sama saya, bilang sama orang tua saya,” kata Yatie yang akhirnya tidak tahan dengan aksi diam Mahfud. “Kamu senang nggak sama saya?” ulang Yatie lagi. Tapi Mahfud tetap tidak mengungkapkan perasaannya, hingga Yatie berkesimpulan sendiri. “Dia ke rumah terus. Wajahnya juga tulus,” kata Yatie, dan ia menerima Mahfud. Tak lama kemudian, Mahfud dan Yatie menikah, tepatnya 2 Oktober 1982. Zaziatun Nihayati adalah cinta pertama dan terakhir Mahfud.

“Jurus” diam inilah yang digunakan Mahfud untuk menaklukkan hati Megawati. Tentu tidak dalam arti sebagai pasangan Vespa cokelat dengan Yatie, tapi sebagai upaya paling tersembunyi untuk mendapatkan restu politik. Masih ingat heboh-heboh soal gaji jumbo Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) akhir Mei 2018 lalu? Sebagai ketua Dewan Pengarah BPIP, Megawati diserang habis-habisan lantaran nominal gajinya lebih dari 100 juta, atau lebih tinggi dari gaji Presiden. Oleh karena Mahfud terbilang aktif di twitter dengan followers lebih dari 2 juta orang, dan kebetulan pula ia salah satu anggota Dewan Pengarah BPIP, maka Mahfudlah yang menjadi sasaran tembak. Heboh-heboh itu bukan perkara yang besar bagi seorang Mahfud. Alih-alih bungkam, ia malah lantang bersuara menghadapi serangan yang datang bertubi-tubi.

Mahfud MD tampil bak juru bicara BPIP, menyampaikan bermacam-macam penjelasan perihal kenapa Megawati dan 8 anggota Dewan Pengarah BPIP lainnya tertulis akan menerima gaji setinggi itu. Ia menjawab semua pertanyaan, ia bantah semua tudingan, bahkan Mahfud sampai bersitegang dengan petinggi Parpol tertentu karena menurutnya tudingan petinggi itu sudah keterlaluan. Saya tidak yakin, aksi heroik yang cukup melelahkan itu dilakukan Mahfud setelah ia berkomunikasi terlebih dahulu dengan Megawati, tapi patut saya duga, Mahfud sengaja “pasang badan” dalam kemelut itu sebagai bentuk penghormatannya pada Megawati.

Tak mungkin rasanya negarawan sekelas Megawati melakukan klarifikasi di media dalam perkara gaji jumbo. Maka, Mahfud berinisiatif mengambil-alih peran tersebut tanpa diminta. Ia menggelar konfrensi pers, dan terus-menerus meladeni kenyinyiran netizen hingga akhirnya kasus itu mereda dengan sendirinya. Megawati pasti mengamati aksi Mahfud itu, dan petinggi PDI-P itu pun dapat memahami, begitulah cara Mahfud membela dan melindungi orang yang sangat dihormatinya. Mahfud MD dan Megawati saling diam, tapi perasaan keduanya tetap bekerja. Bila saling diam antara Mahfud dan Yatie kemudian membuahkan pasangan Vespa cokelat, maka saling diam antara Mahfud dan Megawati, besar kemungkinan akan membuahkan pasangan Jokowi-Mahfud MD di Pilpres 2019

Lagi pula, hubungan baik antara Mahfud dan Megawati bukanlah kedekatan yang berlangsung kemarin sore. Setelah dilantik sebagai Menteri Pertahanan RI pada 23 Agustus 2000, Mahfud dilanda keresahan lantaran ketidakhadiran Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri saat Presiden Gus Dur mengumumkan reshuffle kabinet itu. Beredar kabar bahwa Gus Dur bersikap emosional ketika Mega mempertanyakan nama Prijadi Prapto Suhardjo yang akan dilantik sebagai Menteri Keuangan, dan Mahfud MD  sebagai Menteri Pertahanan. Selain itu, kritik pedas pun berdatangan. Tak tanggung-tanggung, Amien Rais secara terang-terangan menegaskan bahwa pilihan Gus Dur atas Mahfud MD sebagai Menhan adalah sebuah degradasi. Sebab, menteri yang digantikan Mahfud MD adalah Prof. Juwono Sudarsono, guru besar Hubungan Internasional, sementara Mahfud MD adalah guru besar ilmu hukum yang tak memiliki rekam jejak  politik. “Mahfud sedang menggali kuburnya sendiri,” kata Afan Gaffar, guru dan sahabat Mahfud sendiri.

Adapun yang paling mengganjal di pikiran Mahfud waktu itu adalah soal hubungannya yang tidak terlalu baik dengan Wapres Megawati. Oleh karena itu, ia ingin segera hubungan tersebut menjadi cair hingga ia dapat bekerja dengan leluasa. “Ya sudahlah Dik, nanti ketemulah dengan Mbak Mega,” kata Taufiq Kiemas (alm) suami Megawati yang ia jumpai dengan perantaraan seorang sahabat. Pertemuan yang hangat itu membuat Mahfud berbesar hati. Sambutan Taufiq Kiemas sangat bersahabat. Setelah pertemuan itu Taufiq Kiemas  bahkan menghubungi Mahfud via telepon. “Dik, saya mau kirim tukang jahit ya. Mau nggak ya?” kata Taufiq. Mahfud tak menolak. “Kasihanlah. Masak Menteri Pertahanan jasnya tidak bagus begitu,” kata Taufiq lagi.




Lalu, tibalah saatnya perjumpaan dengan Megawati. Berlangsung di Istana Wapres karena waktu itu Mahfud hendak melaporkan kesiapannya untuk menerima kedatangan Menhan AS Wiliam Cohen. Rupanya Megawati juga memanfaatkan kesempatan itu untuk menjelaskan sikapnya tentang pengangkatan Mahfud sebagai Menhan. “Pak Mahfud, saya tidak pernah menolak Anda sebagai Menhan dan Prijadi sebagai Menteri Keuangan. Waktu itu saya hanya bertanya kepada Mas Dur, Mahfud dan Prijadi ini siapa? Saya tidak kenal, nanti Mas Dur angkat diganti lagi. Begitu saja. Kan Mas Dur sukanya ganti-ganti begitu,” kata Megawati.

“Saya sudah kenal dua orang ini sejak 16 tahun lalu. Orang ini baik,” kata Mega menirukan jawaban Gus Dur. “Kalau Mas Dur sudah kenal baik ya sudah, saya setuju,” jelas Mega lagi kepada Mahfud. Dengan begitu, maka tidak ada lagi persoalan antara Mahfud dengan Mega. Hingga masa pemerintahan Gus Dur berakhir, hubungan Mahfud dan Megawati mulus-mulus saja, dan hingga kini Mahfud sangat menghormati Presiden RI ke-5 itu.

Di saat iklim politik di tanah air sedang memanas lantaran tuntutan mundur pada Gus Dur, Mahfud minta ijin kepada Presiden atas rencana keberangkatannya ke India guna menindaklanjuti MoU dengan Menhan India. Gus Dur telah memberikan lampu hijau, tapi karena cuaca politik sedang tidak normal, lagi-lagi atas dasar penghormatan, Mahfud juga menghadap Wapres. Megawati meminta keberangkatan ke India  ditunda hingga situasi reda. “Saya sendiri akan ke India. Nanti Pak Mahfud ikut rombongan saya saja,” kata Megawati. Mahfud mengikuti saran Wapres, dan sekali lagi baginya, sikap Mega itu mengonfirmasi bahwa Megawati tidak punya persoalan pribadi dengannya. Mega minta keberangkatannya ditunda bukan karena ia tak suka Mahfud, tapi karena ia menjanjikan untuk ikut dengan rombongan Wapres.  

Persentuhan terakhir Megawati dan Mahfud MD dalam relasi bawahan-atasan, terjadi setelah pemerintah Gus Dur jatuh pada 23 Juli 2001 dan kabinet dinyatakan demisioner. Waktu itu terjadi peristiwa perkelahian dan kebakaran di LP Cipinang, dan Mahfud baru saja dilantik sebagai Menteri Kehakiman dan HAM. Dalam insiden tersebut, seorang saksi kunci kasus Tommy Soeharto meninggal dunia di dalam Lapas. “Saya ini sekarang menteri demisioner, tapi saya kan tidak boleh diam melihat seperti ini. Apa yang terjadi di sana?” tanya Mahfud pada Sekjen Depkeh. Lalu diperoleh informasi bahwa ternyata Kalapas Cipinang itu sudah 2 tahun sakit karena serangan stroke. Ia tidak bisa bekerja efektif hingga Lapas Cipinang tak ada yang mengendalikan. 

Mahfud memberanikan diri membuat kebijakan darurat, mengganti Kalapas Cipinang, meski ia berstatus sebagai menteri demisioner. Lagi-lagi atas dasar penghormatannya pada Presiden Megawati, Mahfud MD menulis surat yang menyatakan bahwa ia menyadari posisinya sebagai menteri demisioner, yang tidak boleh melakukan langkah-langkah strategis, termasuk mengganti pejabat. Tetapi LP Cipinang membutuhkan tindakan cepat, karena itu ia mengganti Kalapas. Mahfud meminta maaf kepada Presiden, dan tampaknya Megawati tidak mempermasalahkan tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh Mahfud.

Uraian serba singkat ini hanya secuil dari sekian banyak cerita tentang Mahfud MD. Sedalam apa penguasaannya dalam disiplin politik hukum dan hukum tata negara? Gagasan-gagasan substantif apa yang telah ia dedahkan sebagai guru besar hukum tata negara? Bagaimana aksi-aksi beraninya selama menjabat sebagai Menhan? Setinggi apa loyalitasnya kepada Gus Dur, terutama setelah Gus Dur jatuh? Upaya-upaya hukum apa yang ditempuhnya untuk merebut kembali Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari kubu Matori Abdul Jalil? Setangguh apa ia dapat bertahan dari godaan  uang, apartemen mewah, dan tanah ribuan hektar selama menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) 2008-2013? Sedramatik apa polemiknya dengan Sekretaris Kabinet Dipo Alam dan Mensesneg Sudi Silalahi di era SBY?  Seakrab apa hubungannya dengan Luhut B Pandjaitan? Bagaimana ia membantah tudingan soal deal-deal politik dengan Aburizal Bakrie menjelang Pilpres 2014? Kepada sejawat-sejawat analis di Copras-capres Institute, saya sarankan untuk menggalinya dari buku Biografi Mahfud MD; Terus Mengalir, karya Rita Triana Budiarti. 






Bila Anda ditakdirkan sebagai Kampreters, jangan kuatir, tumpukan cerita menarik tentang Mahfud MD yang termaktub dalam buku setebal 614 halaman itu tak hanya menyuguhkan informasi tentang ketokohan dan intelektualitas Mahfud MD, tapi juga menampilkan sosok ayah tiga anak itu sebagai manusia biasa, yang tentu tak lepas dari berbagai kekurangan. Selamat berkelana kawan-kawan Cebongers dan Kampreters. Membacalah, dan menderitalah…


Damhuri Muhammad
kolumnis

-->

Thursday, July 26, 2018

Almanak Derita Orang Sumatera



 
Damhuri Muhammad
-->



Di petang yang gersang, telah terjadi sebuah  peristiwa naas di pematang sawah masa kanak-kanak saya. Tubuh kekar paman saya--satu-satunya laki-laki bertenaga yang masih tersisa di kampung halaman--tergeletak bergelimang darah. Sebilah belati menikam rusuknya dari arah belakang. Ia tertuduh sebagai pencuri air dari sawah seberang. Musim kemarau di Sumatera adalah juga musim kucing-kucingan berebut air. Lengah sedikit, air bisa beralih ke sawah orang. Itu berarti benih padi akan mati sebelum tinggi dan membesar. Bahasa yang berlaku di musim payah itu bukanlah bahasa mulut, tapi bahasa parang, cangkul, sabit, dan belati. Tikam-menikam, tusuk-menusuk, keroyok-mengeroyok, seperti kebiasaan membasuh muka di pagi hari. Bila kurang awas, areal persawahan bisa berubah menjadi taman pemakaman.          

Begitulah derita yang mendera paman saya. Sebelum bersimbah darah pematang lengang itu, ia juga pernah dipolisikan oleh backing komplotan penebang liar di hutan sekitar  areal persawahan. Lahan sawah yang tak seberapa, dahaga senantiasa, sementara aliran air dari bukit makin lama makin langka, lantaran pohon-pohon terus-menerus ditebang. Paman saya pasang badan, berkacak-pinggang di hadapan para jagoan itu, hingga tiba saatnya ia dilumpuhkan dengan sebuah rekayasa tengik, lalu meringkuk di tahanan beberapa lama. Tentulah paman kalah, dan akhirnya ia berdamai dengan rupa-rupa kepayahan. Tanpa harapan, tanpa perhatian, bahkan hingga keringat yang mengucur dari kuduknya bercampur dengan amis darah di petang celaka itu.


            Nestapa itu bukan tanggungan paman saya seorang. Tapi, telah menjadi bagian dari keseharian yang getir dari orang-orang Sumatera. Di Riau--provinsi terkaya ketiga di republik Indonesia, dan daerah penghasil CPO terbesar dengan total produksi mencapai 7.570.854 ton/tahun (37% dari total produksi nasional)--lebih dari 6 juta warganya hanya bisa pasrah dan tengadah dalam doa, saat menghadapi bencana asap, sejak 17 tahun terakhir. Buku bertajuk Robohnya Sumatera Kami (2015) mencatat, pembakaran lahan dan hutan di Sumatera--terutama di Sumsel, Riau, Jambi dan Bengkulu--sudah menjadi bagian dari almanak derita masyarakatnya. Kalender derita itu konsisten dengan kalender kegiatan perkebunan kelapa sawit dan HTI.

         Buku yang ditulis oleh para aktivis WALHI  wilayah Lampung, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Sumbar, Riau hingga Aceh itu bagai sedang membuat peta derita yang sedang dipikul orang-orang Sumatera. Di ujung paling utara, ada kisah tentang kelompok Tani di sebuah desa, bersama warga di sekitar Gunung Rajabasa, Lampung Selatan, yang sedang terancam alam dan keselamatannya, akibat industrialisasi, dan investasi rakus lahan. Juga kisah seorang Bapak di Mesuji, korban kriminalisasi karena ia berupaya mempertahankan tanahnya dari perampasan oleh korporasi perkebunan sawit. Masih di wilayah Lampung Selatan, warga dijerumuskan ke dalam berbagai konflik horisontal dan vertikal, demi melancarkan megaproyek pembangkit listrik geothermal.

            Di Bengkulu, ada kegetiran ibu bernama Yus. Ia menggugat perusahaan perkebunan Kelapan Sawit tertua di Bengkulu, PTPN VII, karena perusahaan itu memaksanya menyerahkan tanah terakhir miliknya, hanya tersisa 1,5 hektar setelah perampasan oleh negara dan swasta, setelah penggusuran kuburan suaminya. Ada pula kisah Mbah Kardi beserta warga di Bengkulu, yang harus tersingkir berulang-ulang. Betapa tidak? Dahulu Mbah Kardi dipaksa menyerahkan tanah dan kampungnya di Jawa untuk pembangunan waduk Gajah Mungkur, kini Mbah Kardi dipaksa meninggalkan tanah dan kampungnya karena pertambangan batubara.

          Nestapa orang-orang di Bengkulu setali tiga uang dengan luka warga di Sumbar, seperti di Batang Kapas (Kabupaten Pesisir Selatan), Palembayan (Kabaputen Agam), Kepulauan Mentawai, dan Pasaman Barat. Mereka berkisah tentang perseteruan di antara sesama mereka, tentang lahan-lahan pertanian yang lenyap, tentang kedaulatan pangan yang hilang sehingga harus mengonsumsi beras miskin, tentang akses transportasi-komunikasi yang tak memadai, lebih-lebih tentang ancaman bencana gempa dan tsunami. 






        Saya tak sedang mempromosikakan buku Robohnya Sumatera Kami, yang penemuannya memang mengejutkan, bila tak bisa saya sebut “membangkitkan kemarahan dan mengobarkan api perlawanan.”  Buku itu hanya mengembalikan ingatan saya pada Sumatera masa silam. Sumatera yang oleh Belanda dipilih sebagai wilayah utama pengerukan bahan galian mineral dan batubara secara sistematik. Kuasa Belanda menancap tajam selepas perjanjian Inggris-Belanda (Traktat London) pada 1824 dan 1871 yang mencabut klaim Inggris atas Sumatera, dan mengakhiri perang kedua negara itu.  Melalui eksploitasi ekonomi dan keterampilan administrasi, Belanda perlahan-lahan membuka wilayah pedalaman Sumatera dan mengukuhkan kekuasaannya sepanjang abad ke-19.

           Lepas dari cengkraman dan watak kemaruk kolonialisme Belanda, Sumatera disambut oleh mulut santun ideologi pembangunan dengan segenap janji-janji muluk tentang kemakmuran dan kesejahteraan. Dalam praktiknya, pertumbuhan yang senantiasa dipidatokan itu, hanya mengabdi pada tolak-ukur ekonomi makro, seperti Pendapatan Domestik Bruto (PDB), peroleh pajak, dan sederet instrumen statistik lain, yang tak ada urusannya dengan perubahan  peruntungan masyarakat Sumatera. Pemerintah, pusat maupun daerah, melihat manusia-manusia Sumatera tak lebih dari benda-benda demografik yang  berguna hanya di musim Pemilu dan Pilkada. Lapangan kerja yang dijanjikan,  hanya dinikmati segelintir orang, karena industri memerlukan tenaga-tenaga terampil. Maka, manusia-manusia Sumatera terjerat dalam jala kemiskinan dengan jejaring bersimpul-mati. Bebas dari mulut harimau, nganga mulut singa menyambutnya. Jauh lebih kejam, jauh lebih beringas.

       Mengenang Sumatera yang kaya, tapi manusia-manusianya tak kunjung dapat mencicipinya, saya teringat obrolan santai dengan sejarahwan Anhar Gonggong di pantai Pulau Bacan, Halmahera Selatan, suatu ketika. Kekayaan, kata Anhar, memiliki dua sisi yang saling berseberangan. Ia bisa membuat pemiliknya berlimpah kesenangan, tapi bisa pula membuat ia teraniaya dan begitu menderita. Karena kita kaya rempah-rempah, minyak, biji besi, bauksit, nikel, tembaga, batubara, lalu kolonialisme bercokol ratusan tahun lamanya. Lantaran kekayaan kita yang hendak mereka kuasai, kita diadu-domba, dianiaya, dibuat mati sia-sia. Konon, di Papua emas berurat-berakar, dan sudah puluhan tahun perusahaan asing mengeruknya. Sementara masyarakatnya mengurut dada dalam menyiasati hidup yang mesti disewa. 



Begitu pula dengan kekayaan Sumatera. Sampai tak terbilang banyaknya, dan tak tertandai lagi wilayahnya, tapi masyarakatnya harus lapang dada mengonsumsi beras miskin. Kalau memang Pancasila punya sila tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, bagaimana cara menjelaskan makna “keadilan”  dalam terminologi “beras miskin” (Raskin) itu?  Bukankah yang kaya dan yang miskin di republik ini  sama-sama makan nasi dari gabah yang tumbuh di  sawah dan ladang yang sama? Ini bukan saja pelecehan terhadap hak-hak hidup setiap warga negara, tapi juga penghinaan terhadap gagasan keadilan itu sendiri. Dan, Sumatera lagi-lagi harus menangunggnya.    

        Demikianlah Sumatera. Si kaya yang kian letih. Si kaya yang sedang terpuruk dan merintih-rintih. Orang-orang tak punya harapan akan masa depan seperti paman saya, bergentayangan di mana-mana. Aceh, Sumut, Riau, Sumbar, Bengkulu, Jambi, Sumsel hingga Lampung, sukar melepaskan diri dari almanak bencana. Baik bencana akibat kekayaan hutannya dikeruk tanpa ampun, maupun bencana lantaran alamnya memang rawan. Setiap hari batubaranya diangkut iring-iringan truk sarat-muatan, tapi listrik di hampir semua wilayahnya, mati delapan kali sehari. Sumatera, yang para pemikirnya konon dipuja sebagai penyangga kedigdayaan bangsa besar ini, tapi kini warganya saling tikam, berebut air guna mengairi sawah yang retak-rengkah…



Damhuri Muhammad
esais

-->

Wednesday, July 25, 2018

DRAMATURGI ORANG-ORANG BERLARI



 
Damhuri Muhammad




Selepas melesatkan 2 gol ke gawang Portugal, Edinson Cavani melangkah terengah-engah sambil menahan ngilu di kaki kirinya. Cristiano Ronaldo yang berdiri tak jauh darinya, lekas merangkul dan memapah Cavani ke pinggir lapangan. Peristiwa itu terjadi dalam laga Uruguay vs Portugal, babak 16 besar Piala Dunia 2018, Fisht Stadium, Sochi, Minggu (1/7/2018), menit 70 saat Uruguay sudah unggul 2-1. Tak ada gol tercipta setelah itu, hingga Portugal harus angkat koper lebih awal.
            “Ronaldo sedang mempertontonkan etos olahragawan sejati,” puji akun  twitter  resmi Sporting News. Tapi dalam lalu lalang decak-kagum itu, muncul pula sinisme yang menimbang aksi CR7 tak lebih dari upaya melipat waktu bagi prosesi keperihan Cavani, karena Portugal sedang tergesa hendak menyamakan kedudukan. Aksi itu tak patut dipandang sebagai moralitas seorang megabintang, sebab yang dilakukan CR7 adalah mempercepat Cavani ke luar lapangan, lalu laga lekas dilanjutkan. Begitu komentar sebuah akun twitter dalam tagar #URUPOR.





            Demikianlah wajah sepak bola. Dalam keindahan yang memabukkan, tumbuh pula sakwasangka yang kerap mengundang cela. Gegap-gempita kemenangan yang dirayakan para pendukung Prancis di sebuah Pos Kamling pinggiran Jakarta, berkelindan dengan duka para pendukung Argentina setelah tim Tango takluk di bawah kuasa talenta muda asuhan Didier Deschamps, Sabtu (30/6/18). Saat itu dunia bagai terbelah. Satu kepingan penuh sesak oleh puja-puji bagi remaja 19 tahun, Kylian Mbappe, yang mampu menggetarkan gawang Franco Armani, dua kali. Sementara kepingan yang lain, sarat oleh umpatan kasar bagi Lionel Messi, yang sekali lagi masih gagal mengantarkan bangsanya ke podium juara dunia.
            Batas antara terang dan kelam barangkali hanya setipis kulit bawang. Dalam 2 x 45 menit, bila beruntung, seorang pemain akan mendulang riuh tepuk tangan, lalu media akan menobatkan sejumlah rekor. Bila sial, katakanlah tak sengaja melakukan gol bunuh diri seperti dialami Andres Escobar, punggawa Timnas Kolombia di Piala Dunia 1994, AS. Momen itu terjadi pada menit 34. Andres bermaksud memotong umpan silang yang dilesatkan lawan. Alih-alih mematahkan serangan, kakinya malah mendorong bola masuk ke gawang sendiri. Itulah keunggulan pertama bagi AS yang kemudian berakhir dengan skor 2-1. Dalam hitungan hari selepas Timnas Kolombia pulang dini, Andres sedikit rileks guna melupakan kekalahan pahit itu dengan mengunjungi sebuah klub malam bersama beberapa temannya. Ia terlibat keributan kecil dengan sekelompok orang yang mengolok-olok penampilan buruknya. Saat melangkah menuju mobil, enam peluru bersarang di tubuh Andres. Di lapangan ia melakukan gol bunuh diri, di dunia nyata nyawanya disudahi.
            Mengenang tragedi berdarah di negara yang hitam-putih dan maju-mundur sepak bolanya ditentukan oleh mafia semacam Pablo Escobar, maka kegagalan eksekusi penalti Mateus Uribe dan Carlos Bacca ke gawang Inggris 4 Juli 2018, membersitkan doa, agar keduanya tak bernasib naas seperti Andres. Tapi, ancaman tiada terelakkan. “Matilah Carlos Bacca. Kami tidak memerlukan kamu. Jangan kembali ke sini!” begitu sebuah ancaman dimaklumatkan oleh pendukung Kolombia bernama David Castanedavia via akun twitter-nya, sebagaimana dikutip Aditya Gilang di www.eyesoccer.id (5/7/18). Fanatikus Kolombia yang lain menulis; “Carlos Bacca, lebih baik Anda bunuh diri. Jadi, Anda tidak perlu hidup dalam derita."
         Sisi kelam sepak bola digambarkan oleh Edinson Cavani dalam sebuah kolom reflektif bertajuk Letter to My Younger Self, yang tersiar di www.theplayerstribune.com (29/6/18), satu hari sebelum ia memancangkan kemenangan Uruguay atas Portugal. Semacam monumentasi ingatan masa kecil Cavani yang ia panggil dengan nama Pelado. Digilas oleh kepayahan hidup keluarganya, berpindah-pindah rumah kontrakan, yang juga berarti  kepindahan poster-poster pemain idola di dinding kamarnya, jauh sebelum ia terlahir sebagai bintang. “Manakala kau telah menjadi profesional, kau akan memiliki semua yang dulu kau impikan. Untuk itu kau harus berterima kasih. Tapi aku harus jujur padamu, Pelado. Hanya ada satu tempat di mana kau masih bisa punya kebebasan penuh. Itu berlangsung sekitar 90 menit, jika kau beruntung!”
Cavani menukilkan betapa ringkasnya waktu untuk menghirup kebebasan bagi seorang bintang. Di luar 90 menit, hidup Cavani sangat mekanik dan beku. Hotel, bus, tempat latihan. Dari tempat latihan, naik bus, lalu terbang ke arena bertanding. Dari pesawat ke bus lain, lalu sampai di stadion. Sekadar ke luar untuk menikmati sinar matahari, bukan perkara gampang. “Dalam banyak hal, kau hidup dalam mimpi. Kau adalah tawanan dari mimpi itu. Kau tak dapat melepas sepatu dan bermain di tanah. Banyak hal akan membuat hidupmu sangat rumit, dan itu tak bisa dihindari.”
Barangkali itu sebabnya, selepas bertanding, Garrincha (1933-1983), pemain legendaris Brasil yang bersinar di Piala Dunia 1958 dan 1962, pergi menemui teman-temannya untuk mabuk sampai pagi. Dalam buku Simulakra Sepak Bola, kolumnis Zen RS (2016) mencatat, ketika Garrincha meninggal dunia dalam kemiskinan, jenazahnya diarak  dan diratapi puluhan ribu orang di Rio de Janeiro. Mereka merasa telah bergabung dalam tindakan sewenang-wenang membiarkan sang pahlawan mati dengan cara amat menyedihkan.
Brasil adalah mata air yang tak pernah kering. Bermain sepak bola bagi orang Brasil seperti kebiasaan berkumur-kumur saban pagi. Telah meraih 5 kali juara Piala Dunia dan melahirkan dewa-dewa sepak bola sejak Pele, Zico, Ronaldo, Ronaldinho, hingga Neymar dan Coutinho, tapi hanya di Brasil pula kerap terjadi aksi bunuh diri rakyatnya saat timnya tersingkir dari Piala Dunia. Sepak bola Brasil kian berjaya, tapi Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) tak kunjung lepas dari cengkraman para cartolas (aristokrat bermental korup). Bintang-bintang Brasil memilih hengkang dan merumput di klub-klub Eropa. "Saya tidak akan kembali ke Brasil dengan tawaran berapa pun!" kata Ronaldo pada seorang reporter (1998), sebagaimana dikutip Franklin Foer (2006) dalam buku Memahami Dunia Lewat Sepak Bola (diedisi-Indonesiakan oleh Marjin Kiri dari How Soccer Explains the Wolrd; The Unlikely Theory of Globalization, 2004). 





Luca Modric, Ivan Rakitic, dan Mario Mandzukic yang berhasil  membawa Kroasia ke final Piala Dunia 2018, tentulah belum lupa suasana di stadion tatkala Red Star Beograd (Serbia) berhadapan dengan Dinamo Zagreb (Kroasia). Fanatikus kedua kesebelasan itu berani mati dan berani membunuh demi tim mereka. Sepak bola mengobarkan api kebencian antaretnis. Holiganisme dibiarkan tumbuh, bahkan dibekali latihan militer, agar para supporter piawai menghajar dan membunuh. Fairplay yang digembar-gemborkan tak mengeringkan lapangan dari busa hasil “main sabun" antara tuan pemilik klub besar dengan oknum-oknum dalam asosiasi wasit. “Banyak wasit Italia mengendarai Fiat,” kata Domenico Gramazio, politisi Italia, dalam sidang parlemen pada 1998. Ia mengecam kemenangan Juventus atas Inter Milan yang dianggap tak lazim karena petinggi Juve telah menyuap wasit.
Sepak bola adalah sejenis dramaturgi dari orang-orang yang berlari selama 90 menit. Baik-buruk, puji-cela, tak bersarang dalam bagan hierarkis dari atas ke bawah, seperti etika dan agama. Sportifitas dijunjung tinggi, tapi rupa-rupa keculasan guna merebut kemenangan tak mungkin diakhiri. Teknologi Video Asistant Referee (VAR) mungkin dapat menyingkapkan hal-hal yang tak terjangkau mata wasit, tapi dramaturgi mustahil berhenti. Yel-yel kemenangan akan senantiasa sahut-menyahut dengan ratap pilu kekalahan…
           
  
Damhuri Muhammad
kolumnis


Yang Menolak Jinak, Niscaya Akan Diterkam?




 
Damhuri Muhammad
-->


Dalam duka dan linangan airmata, segenap keluarga akhirnya merelakan kepergian Rizki Ahmat (19), anak muda penyuka reptil, setelah dipatuk ular jenis King Cobra (ophiophagus hannah) piaraan sendiri. Bermula dari atraksi yang ia pertontonkan di hari bebas kendaraan (CFD), Bundaran Besar, Palangkaraya, Kalteng, Minggu (8/7/18). Pertunjukan bermain dengan King Cobra itu sejatinya berlangsung lancar dan beroleh tepuk tangan yang semarak. Tanpa rasa takut, Rizki terus menerus memancing reaksi reptil yang memiliki bisa mematikan itu dengan cara menginjak bagian tengah tubuhnya, hingga kepala King Cobra tegak dengan mengembangkan semacam sayap di sisi kiri dan kanannya. Selepas itu, Rizki mendekat perlahan-lahan, hingga jarak antara kepalanya dengan kepala ular itu kurang dari satu jengkal. Lalu, Rizki mendaratkan sebuah ciuman tepat di kepala King Cobra kesayangannya.

Seolah-olah ular itu sudah jinak dan mengerti kemauan tuannya. Setelah pertunjukan usai, Rizki asyik mengobrol dengan teman-temannya. Tak sengaja si Raja Cobra lepas dari kendalinya, lalu mematuk lengan kanannya. Hanya dalam hitungan menit, Rizki merasa pusing dan segera dilarikan ke RS Doris Sylvanus Palangkaraya. Menurut keterangan dokter, awalnya korban tampak kuat, namun setelah dilakukan perawatan beberapa jam kemudian, kondisinya memburuk. Setelah dirawat lebih kurang selama satu hari satu malam, Rizki akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.  



  

Meski secara medis telah dinyatakan meninggal dunia, pihak keluarga  berkeyakinan Rizki masih hidup. Sebab, dari kepala hingga dada Rizki masih terasa mengeluarkan hawa panas, meski dari bagian perut ke bawah sudah dingin. Karena itu, mereka meyakini keberadaan ular itu dapat menolong Rizki untuk bangkit dari mati suri. Ritual pun digelar. Jenazah Rizki disatukan dengan ular yang mematuknya dalam sebuah kelambu transparan. Menurut nujum seorang paranormal, bila King Cobra itu kembali mematuk badan Rizki, bisa yang telah merasuk ke pembuluh darah korban akan terhisap, dan Rizki akan hidup kembali. Namun, tiga hari ritual tak membuahkan hasil. Keluarga akhirnya mengikhlaskan kematian itu. Jenazah Rizki dimakamkan,  Kamis, 12 Juli 2018.

            King Cobra yang telah merenggut nyawa Rizki mengingatkan saya pada siasat Mayor Tua, seekor babi putih yang secara cerdas mengumpulkan kawanan binatang di peternakan milik Tuan Manor, dalam novel alegorik Animal Farm (1945) karya George Orwell. Mayor Tua memaklumatkan, kemerdekaan kaum binatang akan tiba. Mereka tidak akan dieksploitasi lagi. Sebagaimana sebelumnya, Tuan Manor mengeksploitasi tenaga, telur, susu, bulu para binatang untuk keuntungan pribadinya. Bahkan, setelah mengabdi, daging dan tubuh mereka akan tetap menjadi santapan manusia. Mayor Tua mengobarkan semangat pemberontakan, meski tak lama kemudian ia mati. Dua babi muda bernama Snowball dan Napoleon melanjutkan ajaran Mayor Tua. Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia guna merencanakan pemberontakan. Hingga tibalah kesempatan itu, para binatang bersatu untuk memberontak, dan mereka berhasil mengusir Tuan Manor, si pemilik peternakan.

            Meskipun setelah berkuasa Snowball dan Napoleon pecah kongsi hingga kebebasan yang didambakan kaum binatang itu tak kunjung terwujud, saya menggarisbawahi terma “eksploitasi” yang erat kaitannya dengan sejarah hubungan manusia dan hewan. “Sepanjang sejarah, hubungan manusia dan binatang adalah hubungan penaklukan, atau tepatnya penjinakan dan domestikasi,” kata kolumnis Zen Hae (2018) dalam Sihir Binatang dan Hikayat Penaklukan, yang tersiar di www.beritagar.id (4/3/18). Binatang dijinakkan atau didomestikasi agar ia berguna bagi manusia sebagai hewan penjaga, sumber makanan, sumber ekonomi atau sekadar objek kesenangan.      

Tapi, sesayang-sayangnya manusia pada hewan piaraan, domestikasi tetap saja berpotensi aniaya bagi hewan. Tengoklah misalnya, seorang kolektor ikan di Mojokerto, Jawa Timur, yang secara sengaja melepaskan tak kurang dari 18 ekor ikan Arapaima di Sungai Brantas, akhir Juni 2018. "Ikannya diangkut menggunakan pikap, diberi terpal supaya bisa diberi air. Juga diberi tabung oksigen," kata Baihaqi, saksi mata pelepasan ikan itu sebagaimana dilaporkan detikcom, Selasa (26/6/2018). Tak lama berselang, warga sekitar memburu ikan yang habitat aslinya di Sungai Amazon, Amerika Selatan itu. Media riuh oleh protes dari kalangan pencinta habitat sungai, karena disebut-sebut ikan yang berbobot 100 kg dan panjang 3 meter itu bisa melahap 5-10 kg ikan-ikan kecil di sekitarnya. Dengan begitu, pelepasan ikan monster tersebut sama saja dengan pemusnahan besar-besaran terhadap ikan-ikan lokal di Sungai Brantas. Diduga kuat, kolektor Arapaima tak sanggup lagi menghidupi piaraannya, hingga nekat melepasnya ke habitat bebas. 



            Bila King Cobra di Palangkaraya membunuh tuannya sendiri, Arapaima di Mojokerto memangsai ikan-ikan lokal di Sungai Brantas. Dua riwayat penaklukan manusia terhadap hewan itu sama-sama berakibat pada kematian. Saya hendak menimbang dua peristiwa itu sebagai alegori dari hubungan antara penguasa dan objek yang dikuasai dalam realitas politik masa kini. Sebut saja hubungan Presiden terpilih dengan para konstituennya dalam Pilpres 2014. Mohon maaf, saya ingin membaca hubungan antara seorang kandidat dengan jutaan konstituen yang telah mengantarkannya ke gerbang kekuasaan, dengan pengamsalan hubungan seorang Tuan dengan hewan-hewan liar yang berhasil dijinakkan, diberi asupan makanan yang memadai, dalam sebuah sangkar yang nyaman. Sebagaimana lelaku seorang penyayang binatang, mula-mula sang Tuan memberi perhatian penuh dengan sederet janji manis tentang kesejahteraan penghuni sangkar di masa datang. Namun, seiring berjalannya waktu dan keasyikan Tuan menikmati kekuasaan, perhatian itu perlahan-lahan berkurang, janji-janji tentang kemakmuran dan kebahagiaan warga sangkar terabaikan.

            Layanan yang diberikan Tuan semakin jauh dari nilai-nilai perikebinatangan. Asupan makanan tidak lagi memadai hingga sesama hewan piaraan tak jarang saling terkam untuk sekadar bertahan hidup. Sangkar yang semula berlimpah makanan, kini dilanda paceklik hebat, kumuh, tak terawat. Sejak itulah, kerumunan hewan mulai resah, dan meragukan komitmen sang Tuan pada janji-janjinya, bahkan sudah banyak yang hilang kepercayaan pada Tuan yang semula ramah dan dermawan. Bisik-bisik mulai terdengar, musyawarah rahasia digelar, intrik-intrik direncanakan, yang semuanya berujung pada ikhtiar guna membebaskan segenap warga sangkar dari cengkraman kuasa  Tuan. Mereka sepakat untuk merebut kembali marwah keliaran yang dulu direnggut Tuan secara santun dan lemah lembut. Bila perlu, keliaran itu kelak mereka gunakan untuk meluluhlantakkan kuasa sang Tuan.

            Sembari membayangkan alegori yang mengerikan itu, jagat maya kembali diguncang oleh kabar tentang pembantaian 292 ekor buaya yang terjadi pada Sabtu, 14 Juli 2018 lalu, di Sorong, Papua Barat, sebagaimana dilansir  detikcom  (16/7/18). Massa membantai ratusan buaya setelah seorang warga bernama Sugito tewas dicabik-cabik seekor buaya saat sedang mencari rumput di sekitar area penangkaran. Dari 292 ekor buaya, dua ekor di antaranya milik pemerintah dan 290 ekor lainnya adalah aset pemegang izin, PT Mitra Lestari Abadi. Kebiadaban itu beroleh sorotan dunia. Media-media asing ikut menyiarkan peristiwa itu. Majalah TIME menulis berita dengan judul Hundreds of Crocodiles Slaughtered in Retaliation for Attack on a Villager in Indonesia, dan menggarisbawahi bahwa polisi dan pejabat setempat tak berdaya menghentikan pembantaian buaya tersebut. Al-Jazeera menampilkan foto pembantaian buaya yang dirilis dari kantor berita Antara. Media itu menulis dengan judul Indonesia mob kills nearly 300 crocodiles in revenge attack. Para netizen, dalam dan luar negeri, tak henti-henti menghujat aksi balas dendam manusia terhadap kebuasan kaum hewan itu.




            Kisah tragik yang ketiga ini juga hendak saya perhatikan sebagai alegori dari kebuasan bangsa manusia terhadap hewan piaraan yang semula dijinakkan demi kesenangan dan keuntungan. Tapi bila kebuasan itu menjadi senjata makan tuan, manusia akan beralirupa menjadi mahkluk yang jauh lebih buas. Alegori perihal kebuasan ini pernah muncul dalam sebuah cerita pendek Eka Kurniawan berjudul Caronang (2005). Berkisah tentang anak anjing dari negeri entah, yang konon bisa berjalan dengan dua kaki. Dibawa pulang oleh pasangan keluarga muda dan diinginkan sebagai teman bermain bagi anak semata wayang bernama Baby. Caronang yang jinak diajari macam-macam aktivitas, mulai dari mengambil koran di belakang pintu, mengambil sepatu di pagi hari, hingga cara mengokang senapan berburu. Dari waktu ke waktu Caronang dewasa semakin matang, semakin handal mengerjakan banyak hal di rumah keluarga Baby, bahkan mulai mahir berkelahi dengan gadis kecil itu. Dalam sebuah perkelahian yang tak terhindarkan dengan Baby, Caronang berhasil melepaskan tiga tembakan dari senapan berburu hingga merenggut nyawa Baby. Tak ada yang bisa dilakukan oleh pasangan muda itu selain menghabisi nyawa Caronang sebagai balas dendam atas pembunuhan keji terhadap putri semata wayangnya.

            Alegori Caronang kian mencemaskan saya. Meski hewan-hewan piaraan berhasil merebut kembali martabat kebuasan mereka, kuasa Tuan ternyata jauh lebih ganas. Bila ada warga sangkar yang meragukan kemurahan hati Tuan, dan coba-coba melakukan perlawanan, Tuan tak akan segan menghabisinya, sebagaimana kerumunan manusia menyembelih ratusan buaya penangkaran di Sorong, Papua Barat. Atau seperti ayah-bunda gadis kecil Baby yang secara keji menyudahi hidup Caronang, anjing piaraan mereka.

Sampai di sini, saya mulai membayangkan kontestasi politik Pilpres 2019, akan saling terkam, saling baku-hantam, saling menikam. Meski tak dapat saya pastikan, apakah kerumunan hewan pembangkang akan berhasil mencabik-cabik kuasa sang Tuan sebagaimana kawanan ikan monster menghabisi habitat ikan-ikan lokal di Sungai Brantas, atau seperti bisa King Kobra merenggut nyawa tuannya sendiri. Kenyataan sebaliknya juga mungkin terjadi. Sang Tuan, dengan kuasa di genggamannya, membinasakan kebuasan yang menolak jinak. Jangan-jangan, kini Tuan telah menandai pembangkang mana yang akan dimusnahkan lebih awal. Ah, mungkin saya hanya sedang ngelantur, karena terlalu sering membaca berita-berita ngawur…





Damhuri Muhammad
Kolumnis

  

-->

Jejak Islam Kultural

--> Damhuri Muhammad ( versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018 ) “Hanya Indones...