Friday, August 31, 2018

Bila Ingin Selamat, Jangan Kasari Emak-emak!



 
Damhuri Muhammad
-->



Yang tahu masalah dapur adalah ibu-ibu.Yang paham ekonomi keluarga adalah ibu-ibu. Kesejahteraan keluarga tak akan terwujud tanpa peran Ibu.

Begitu kutipan kalimat pendek dari Khofifah Indar Parawansa, yang tertera dalam infografis di salah satu laman media sosial, menjelang Pilgub Jatim 2018 lalu. Di bagian bawah foto profil Menteri Sosial (2014-2018) itu termaktub catatan kecil yang menjelaskan bahwa kutipan itu diolah dari pidato Khofifah dalam peringatan Harlah Muslimat NU ke-72 di  Blitar (31/3/2018).
Bagi saya, kalimat pendek yang sengaja digunakan oleh tim sosialisasi Khofifah sebagai Cagub Jatim, adalah semacam kesadaran tentang pentingnya suara emak-emak di medan politik jaman now. Kesan yang muncul saat mengamati infografis itu adalah pengakuan bahwa dalam setiap keluarga--sebagai unit terkecil dalam kehidupan kewargaan--ibu adalah figur paling berpengaruh. Bila harga sembako melonjak naik, yang repot emak-emak. Bila biaya berobat mahal, yang susah emak-emak. Bila tagihan listrik melejit tinggi, yang pusing juga emak-emak. Demikian kira-kira pengandaian sederhananya.
Data  KPU Provinsi Jawa Timur, April 2018 mencatat, dari 30.155.719 pemilih yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilgub Jatim, sebanyak 15.315.352 adalah perempuan. Angka yang fantastis itulah yang barangkali mendorong tim Khofifah-Emil untuk tak henti-henti menyapa emak-emak di sepanjang masa kampanye. Di pasar-pasar tradisional, di desa-desa pusat aktivitas home industry, di pabrik-pabrik, hingga perkampungan nelayan,  Khofifah bersentuhan dengan dunia emak-emak. Percakapannya tak jauh-jauh dari pendidikan anak, gizi balita,  angka kematian ibu melahirkan, hingga ekonomi keluarga dalam situasi ketimpangan sosial yang mencolok, terutama antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Jawa Timur. 




Alhasil, suara emak-emak pun tumpah-ruah untuk pasangan Khofifah-Emil dengan selisih kemenangan sekitar 6%, di atas pesaingnya Gus Ipul-Puti Guntur. Seorang Ibu hamil yang meminta Khofifah mengusap-usap perutnya dengan harapan dapat melahirkan anak pintar seperti sang kandidat, ibu-ibu lansia yang masih bekerja di pabrik pengolahan tembakau di Jember memeluk Khofifah dengan tatapan berkaca-kaca, dan sederet cerita tentang perjumpaan Khofifah dengan emak-emak di seantero Jatim, telah menjadi obrolan panjang di media menjelang masa pencoblosan Pilgub Jatim 2018. Pendek kata, Khofifah berhasll merebut hati emak-emak.
Emak-emak adalah emak-emak. Ia boleh saja anggota Muslimat NU, boleh juga anggota Parpol, atau aktivis penggerak PKK, tapi urusan yang mereka geluti sehari-hari sama belaka. Tak ada emak-emak yang tak berurusan dengan kebutuhan sehari-hari, urusan biaya sekolah anak-anak, urusan biaya berobat, urusan tagihan listrik, dan segala macam perkara yang menyangkut ekonomi keluarga. Pernah dengar emak-emak pedagang kaki lima yang protes keras dengan cara memperlihatkan bokong lantaran lapak mereka hendak ditertibkan oleh Satpol PP? Lalu, ada pula cerita tentang perilaku berkendara emak-emak yang lazim terdengar dengan istilah sen ke kanan, beloknya ke kiri? Atau kisah tentang emak-emak yang nekat ngebut di jalan lintas antarkota antarpropinsi, menyelinap di antara truk-truk gandeng, tanpa helm dan kelengkapan keamanan berkendara lainnya?
Tentang keberanian dan militansi emak-emak, saya jadi ingat riwayat ketumbangan kerajaan bisnis Puspo Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Hanya dalam hitungan bulan setelah pengusaha asal Solo itu dinobatkan sebagai Presiden Poligami Indonesia pada 2003, tak kurang dari 30 restoran yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia rontok satu per satu. “Tiada hari tanpa kampanye poligami,” kata Puspo, sebagaimana dikutip oleh laporan utama Gatra  (No.23, edisi 21 April 2003). Sejak 1999, Puspo yang beristri empat, gencar mengibarkan bendera poligami. Salah satunya lewat Biro Konsultasi Keluarga Sakinah dan Poligami (BKKSP), yang menyewa ruangan khusus di hotel bintang lima Lor In di Jalan Adi Sucipto, Solo, Jawa Tengah. Menurut pengakuan Eko Suryono, Koordinator BKKSP Solo, Setiap bulan kantornya minimal didatangi 15 ''klien'' untuk konsultasi poligami.
Di kantor itu tersimpan daftar tak kurang dari 100 wanita, baik janda maupun gadis, yang siap dijadikan istri kedua, ketiga, atau keempat. Selain di Solo, BKKSP juga memiliki cabang di Yogyakarta, Bandung, Magelang, Jakarta, Medan, Malang, dan Denpasar. Pada pertengahan 2001, Puspo membentuk Mapolin alias Masyarakat Poligami Indonesia, dan ia didaulat sebagai ketuanya. Para kolega menjuluki Puspo sebagai ''Presiden Poligami Indonesia''. Pada masa ketika Puspo gencar berkampanye tentang poligami, di Bandung ada sebuah stasiun radio bernama News FM yang secara rutin menggelar acara bertajuk “Puspoligami” di mana Puspo Wardoyo selalu tampil sebagai narasumber.
Di titik ini, emak-emak mulai bersuara. News FM yang menyiarkan talkshow “Puspoligami” dicurigai telah disponsori oleh pemilik RM Ayam Bakar Wong Solo itu pun menjadi sasaran makian. ''Kalau masih jadi sponsor, kami tak mau dengar radio itu lagi,'' ujar seorang ibu, dengan suara lantang. Puncak kenekatan Puspo Wardoyo mengampanyekan poligami adalah penyelenggaraan Polygamy Award 2003.  Penjaringan kandidat dilakukan    lewat iklan di sejumlah media nasional. Para pelaku poligami yang berminat mendapatkan Polygamy Award diminta menghubungi Sekretariat Mapolin di Solo. Di iklan itu tercantum alamat e-mail dengan nama nyentrik: presiden_poligami@yahoo.com.
Award akan diberikan kepada laki-laki yang bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Lalu istri pertama yang ikhlas ''menyedekahkan'' suaminya untuk orang lain. Ustadz yang getol menyosialisasikan hukum poligami juga akan dianugerahi penghargaan.  Protes emak-emak muncul di mana-mana. Tak tanggung-tanggung, aktivis perempuan NU di Muktamar NU ke-31 Boyolali, Jawa Tengah, memboikot  katering dari RM Ayam Bakar Wong Solo. Protes keras itu disampaikan langsung oleh Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. "Kami sesalkan tindakan panitia yang menghidangkan makanan dari RM Ayam Bakar Wong Solo, apa maksud panitia tersebut? Bagi kami, ini pelecehan dan menginjak-injak harkat dan martabat perempuan, karena pemilik restoran itu pelaku poligami," kata Shinta Nuriyah sebagaimana dilaporkan detik.com (28/11/2004). Mantan Ibu Negara itu, menilai praktik poligami setara dengan perbudakan yang juga telah ditentang oleh manusia di seluruh muka bumi.
Sejak itulah protes emak-emak bergulir bagai tiada henti. Tidak dengan turun ke jalan, tapi cukup dengan cara menyebarluaskan himbauan untuk tidak lagi mem-booking RM Ayam Bakar Wong Solo di cabang mana pun dalam acara-acara arisan, perayaan, selamatan, hingga ulangtahunan. Bagi emak-emak yang berprofesi sebagai pegawai kantoran, mereka tak henti-henti berkampanye guna memboikot semua produk restoran milik Presiden Poligami Indonesia itu. Alhasil, dalam waktu tak lebih dari 1 tahun, hampir semua cabang RM Ayam Bakar Wong Solo sepi pengunjung, dan kini usaha yang dulu menopang kegemilangan kerajaan bisnis Puspo Wardoyo tinggal puing-puing dan nyaris tak bangkit lagi. Begitulah akibatnya kalau perasaan emak-emak dilukai.  
Nestapa yang melanda mubaligh kondang Abdullah Gymnastiar  atau  Aa Gym setali tiang uang dengan redupnya kejumawaan bisnis Puspo Wardoyo. Sejak tersiar kabar tentang pernikahan keduanya pada 2016 lalu, da’i dengan jutaan jamaah yang dikenal banyak berceramah tentang kiat-kiat menggapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah itu, juga menjadi sasaran protes emak-emak. Popularitas Aa’ Gym terdistorsi tajam. Jadwal tayangnya di televisi tiba-tiba raib. Sebagaimana dilaporkan liputan6.com (16/10/2016), omset bisnis Aa Gym menurun drastis setelah ia memaklumatkan pilihan berpoligami. Pada 2007, aktivitas kunjungan ke Pondok Pesantren Daarut Tauhid berkurang hingga 70%.  Aa Gym disebut-sebut melakukan pengurangan karyawan. Menurut laporan, sekitar 40% dari karyawannya dirumahkan.
Sekali lagi, begitulah kalau hati emak-emak sudah tercabik-cabik. Akan sukar dibendung bila emak-emak sudah bertindak. Di medan kontestasi politik, kalkulasi-kalkulasi hasil survei tentang preferensi pemilih perempuan bisa buyar seketika jika sewaktu-waktu muncul “badai” yang memicu perubahan sikap emak-emak. Video-video pendek yang menggambarkan perilaku kasar aparat negara terhadap inisiator tagar #2019GantiPresiden, Neno Warisman, yang bergentayangan di laman media sosial sejak 25 Agustus 2018 lalu, tampaknya tak bisa lagi dipandang remeh. Baik bentakan kasar maupun sentuhan-sentuhan fisik yang tak hanya diterima oleh Neno, tapi juga emak-emak pengusung spanduk #2019GantiPresiden lainnya di beberapa kota, sangat berpotensi menyisakan goresan luka di hati emak-emak. Dalam statistik hasil pantauan udara lembaga riset berbasis Social Network Analysis (SNA), Astramaya, sejak 25-31 Agustus 2018, volume perbincangan yang mengandung kata kunci “Neno Warisman” di platform media daring dan media sosial telah mencapai angka 291.695, mengungguli volume perbincangan tagar #2019TetapJokowi, yang hanya berada di angka 66.013.
Tingginya volume perbincangan itu disumbang banyak oleh isu keterlibatan aparat negara dalam operasi pemulangan paksa Neno Warisman dari Pekanbaru (Riau) ke Jakarta. Arah perbincangan bukan lagi pada deklarasi-deklarasi #2019GantiPresiden yang oleh sebagian pihak dianggap mengandung bahaya perpecahan itu, tapi lebih pada pertanyaan kenapa aparat negara begitu kasar pada seorang emak-emak? Masa’ untuk mengamankan satu orang emak-emak saja sampai-sampai BIN harus terlibat? Percakapan yang kini masih terus bergulir cenderung membuat contrasting tajam antara aparat negara melawan emak-emak, dengan trend yang terus meningkat dalam seminggu terakhir. 
Sebagai salah satu inisiator #2019GantiPresiden, boleh jadi Neno membawa kepentingan politik tertentu, namun yang tak mungkin dibantah, bahwa Neno adalah seorang emak-emak, yang tak jauh dari urusan keseharian emak-emak pada umumnya. Bila perasaan Neno terlukai, atau bila Neno terus dibuat kecewa, maka puluhan juta emak-emak yang suaranya mungkin sedang terwakili oleh suara Neno, besar kemungkinan juga akan terlukai. Kalau itu benar-benar terjadi, maka yang bisa saya kenang hanyalah nasib buruk yang telah menimpa Presiden Poligami Indonesia… 

Damhuri Muhammad
kolumnis
 
-->


-->

Friday, August 24, 2018

Toa dan Antena di Abad Linimasa






Damhuri Muhammad





Baiklah. Ini hanya cerita kecil tentang Antena. Sekadar merawat patahan ingatan di masa ketika orang-orang desa masih asing dengan internet, apalagi signal selular. Saat digasak letih setelah seharian bekerja di sawah, satu-satunya hiburan yang membahagiakan adalah menyimak siaran pertandingan sepakbola yang mengudara secara langsung via pesawat radio. Tak ada visual, hanya audio yang merekam sorak-sorai di stadion, lengking bunyi peluit wasit,  dan tentu saja suara komentator yang memandu imajinasi pendengar perihal arah bola, siapa yang tumbang kena tackling atawa sliding, atau siapa yang berhasil membobol gawang lawan. Tekanan suaranya naik-turun, tempo dan intonasi juga disesuaikan dengan situasi dramatik yang tengah berlangsung di lapangan hijau. 

Bila suara yang keluar tidak jernih, putus-putus, atau sesekali diselingi bunyi krasak-krusuk saat on air, itu berarti ada problem dengan antena.  “Radionya besar, tapi antenanya pendek!” begitu biasanya cemooh mengemuka. Tak ada guna ukuran besar, speaker kiri-kanan, bila antena tak berdaya menangkap gelombang. Lama-lama kalimat itu berubah menjadi kiasan, terutama bagi orang yang berbadan besar dan bertelinga lebar, tapi daya tangkap lingkar otaknya begitu mini. Orang yang suka berkoar-koar tentang suatu kabar, padahal pengetahuannya terhadap kabar itu amat dangkal, karena sekali lagi; antenanya tak sampai. Lazimnya, dalam perkara-perkara yang rumit dan memerlukan pengetahuan serius, si telinga lebar tak akan beroleh kepercayaan. “Urusan ini hanya mungkin diberikan pada orang yang antenanya tinggi!” kira-kira begitu ungkapannya. 




Kini, obrolan soal antena tentu sudah tak penting. Antena penangkap signal selular tak menjulang tinggi, cukup dengan ukuran dalam satuan milimeter, itupun dibenamkan dalam bodi telpon pintar, tapi hasil tangkapannya jernih menakjubkan. Sudah jarang kita mendengar keluh-kesah perihal antena yang payah atawa antena bekas sambaran petir yang membuat tangkapan audionya berisik alias noisy tak karuan.

Tapi ada soal genting yang kemudian muncul. Di saat antena Wifi sudah amat cerdas, dan antena telpon pintar yang sudah lebih dari sekadar pintar, justru para netizen abai memakai “antena.” Tengoklah, lalu lalang perbincangan di linimasa; apa saja dibicarakan, apa saja diteriakkan, apa saja diperdebatkan, sementara pengetahuan tentang perkara-perkara itu luar biasa dangkalnya. Sedangkal antena masa lalu menangkap gelombang siaran drama Saur Sepuh di radio AM. Alih-alih menyukai antena, netizen malah sangat menggemari toa. Dengan toa, mereka dapat mengeraskan suara, memaklumatkan kehebatan, mewartakan setiap pencapaian, menyebarluaskan kekecewaan dan penyesalan, hingga mengembuskan aroma permusuhan. Toa jaman kontemporer adalah linimasa atawa dinding-dinding perbincangan media sosial.

Bila diukur dengan statistik, berapa kali netizen berbicara dalam sehari, berapa jam ia mengakses linimasa, berapa kali update status, berapa kali ganti picture-profile, berapa kali berkomentar, berapa kali membalas atau menangkis serangan dalam sebuah twitwar, saya pastikan statistiknya berkali-kali lebih tinggi angkanya dari aktivitas membaca cermat setiap kabar, berapa kali mengonfirmasi kebenaran sebuah fakta, dan berapa kali memeriksa ulang setiap kali ada content baru yang sedang viral. Kalau ada semacam skala perbandingan antara berbicara dengan mendengar, saya ingin menuliskan skalanya dalam 5 (bicara); 0,5 (mendengar). Atau bila menggunakan pengamsalan organ tubuh manusia, dapat dikatakan bahwa saban hari kita hidup dengan satu mulut, dua mata, tapi dengan nol telinga.

Di jagat maya, hampir semua orang ingin didengar, dilihat, dikomentari, bahkan sedapat-dapatnya diperbincangkan. Hanya sebagian kecil yang dapat bertahan lama dalam aktivitas membaca, memeriksa, menyelami sebuah peristiwa, lalu diam tanpa melibatkan diri dalam perbincangan. Sekali lagi, kalau boleh dituliskan dalam sebuah skala perbandingan, maka saya berani mengatakan rasionya 10 (ingin dibaca, ingin didengar, ingin dikomentari); 2 (mendengar, membaca, memeriksa).

Oleh karena manusia mutakhir tak gemar mendengar, maka sedikit saja ada suara tinggi, ia bagai tersiksa, seperti dikepung teror, hingga seolah-olah tak bakal selamat bila suara yang bising itu segera reda dan berlalu. Seandainya ada suara yang mereka sukai, biasanya itu tidak bisa didengar bersama-sama, tapi akan ia nikmati sendiri dengan alat semacam hands free atau headphone yang terkoneksi pada gadged-nya.

Ribut-ribut soal toa, bagi saya tak lepas dari runtuhnya kegemaran mendengar, yang seiring dengan semakin pesatnya kecanduan berkomentar. Seolah-olah ada semacam dalil yang ditaati bersama bahwa “di linimasa, banyak mendengar adalah tidak milenial.” Perihal toa yang sedang menjadi sorotan--lantaran ada seorang ibu yang diduga merasa terganggu oleh tingginya volume suara adzan dari sebuah masjid--barangkali adalah sebuah i’tibar bahwa kita sudah terlalu lama meringkuk dalam ruang mabuk bicara dan gila komentar, hingga kegiatan mendengar kemudian bergeser menjadi tabu yang memalukan. Kalau saja mulut kita yang berdekatan dengan sebuah tampuk microphone, jangankan menghindar, besar kemungkinan mulut itu justru akan meronta-ronta ingin segera melepaskan suara. Tanpa peduli, berapa pun tinggi volumenya.. 


Damhuri Muhammad
kolumnis
                 
-->

Tuesday, August 21, 2018

Tanak-nasi yang Dibuburkan dan Kuasa Ratu Ubur-ubur


Damhuri Muhammad



Tersebutlah sebuah kisah haru dari negeri Sakura, sebagaimana dinukil-ulangkan oleh Endis Karayya (2013) di weblognya www.mencatatjepang.blogspot.com.  Tentang petaka yang melanda Raja Naga. Masih dalam hitungan bulan usia pernikahannya dengan Ratu Naga, tiba-tiba Sang Ratu yang cantik jelita  ditumbangkan oleh penyakit ganas. Konon, penyakit itu tiadalah dapat disembuhkan oleh tabib handal dari mana pun, hingga Sang Raja Naga hampir saja berputus asa.

            Namun, suatu ketika, dalam sakit yang tiada tertanggungkan itu, Ratu Naga berkata kepada suaminya. “Carilah hati dari seekor Kera. Ingat! Hati dari seekor Kera yang masih hidup! Hati itu adalah satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan penyakitku!” Sontak Raja Naga terperanjat mendengar permintaan permaisurinya. Betapa tidak? Pasangan yang semula bahagia dan sentosa itu  hidup di dasar laut, sementar Kera tentulah hewan darat, yang tiadalah mungkin bakal terjangkau. “Apakah kau lupa, Sayang? Kita makhluk laut, kita hidup di dasar samudera, sementara hati Kera yang kau dambakan itu hidup di daratan lepas,” demikian Raja Naga membangkitkan keinsyafan permaisurinya.





          “Apakah kau lupa, Kekasihku?  Bukankah kau seorang Raja? Kalau kau sungguh-sungguh mencintaiku, tentulah semuanya dapat kau upayakan!” balas Ratu Naga. “Atau kau memang menginginkan istrimu ini lekas mati, supaya kau bisa menikah lagi?” tambah Ratu Naga lagi. Lantas mulailah Raja Naga berpikir keras. Sekeras keinginannya untuk menyembuhkan istri yang dicintainya.

           Tibalah saatnya Raja Naga bertitah kepada pelayannya. Pelayan yang setia, namun pandir alang-kepalang; Ubur-ubur. “Tugas ini sangat berat, tapi aku harus memerintahkan dirimu untuk  pergi ke daratan. Setiba di sana, carilah seekor Kera. Lalu, kabarkan kepada Kera itu bahwa ada sebuah negeri yang sangat indah, nun di bawah laut. Sebut saja namanya Negeri Naga. Tempat tinggal yang jauh lebih membahagiakan daripada tempat tinggal si Kera itu,” kata Raja Naga kepada Ubur-ubur. “Pokoknya kau bujuklah Kera itu dengan bermacam-macam cara, agar ia bisa terbawa olehmu ke istana kita ini,” tegas Raja Naga lagi.

            Perlu diketahui, pada masa itu wujud Ubur-ubur masih seperti ikan pada umumya. Ia punya sirip dan ekor. Juga punya kaki-kaki mungil untuk bisa berjalan di daratan. Singkat cerita, sampailah Ubur-ubur di daratan. Tak lama kemudian, Ubur-ubur itu melihat seekor Kera yang sedang meloncat-loncat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya.

       “Wahai Tuan Kera! Berhentilah sejenak. Aku ingin menyampaikan sebuah kabar gembira kepadamu,” begitu Ubur-ubur menyapa dengan bahasa yang terdengar hangat dan bersahabat.

            “Oh, ada apa rupanya, Ubur-ubur?”

         “Tuan Kera yang baik, di bawah laut sana, ada sebuah negeri indah dan permai. Namanya Negeri Naga. Cuacanya sejuk sepanjang tahun. Pohon-pohonnya tinggi dan rindang. Buah-buahan melimpah ruah. Dan, satu lagi yang perlu Tuan tahu, di Negeri Naga tak ada makhluk jahat bernama manusia!”

        Kera pun terperangah mendengar kabar dari Ubur-ubur.  Diam-diam ia membayangkan betapa menyenangkan dam membahagiakan hidup di Negeri Naga. Betapa riang-gembiranya hidup bergelimang buah-buahan yang ranum dan mengenyangkan.

            “Ayolah! Apa lagi yang Tuan pikirkan? Mari ikut denganku ke Negeri Naga!” bujuk Ubur-ubur.

Tanpa berpikir panjang lagi, Kera segera melompat ke atas punggung Ubur-ubur. Mereka mengarungi samudera, bergegas menuju Negeri Naga.

            Di tengah perjalanan, tiba-tiba Kera dihadang ragu dan bimbang. Perihal kenapa si Ubur-ubur, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba muncul, lalu mengajaknya pergi ke Negeri Naga. “Kenapa kau mengajakku untuk hidup di Negeri Naga?” begitu Kera bertanya pada Ubur-ubur yang sudah membayangkan betapa senangnya hati Raja Naga melihat kedatangan mereka nanti.

           “Jadi, begini Tuan Kera. Majikanku, Raja Naga akan mengambil hati dari tubuhmu. Ia membutuhkan hati itu untuk menyembuhkan penyakit istrinya, Ratu Naga,” jawab Ubur-ubur, sejujur-jujurnya. Sepolos-polosnya. Sedungu-dungunya.

           “Oh, jadi semua bujukanmu hanyalah tipu daya?” kata Kera dalam hati. Ia sama sekali tidak memperlihatkan raut muka kecewa, apalagi marah pada Ubur-ubur.

          “Tuan Ubur-ubur. Saat ini tak ada yang lebih menyenangkan hatiku selain melayani Paduka Raja yang Mulia. Tapi sayang sekali, aku meninggalkan hatiku di pohon tempat aku meloncat-loncat di daratan tadi. Daging hatiku itu berat sekali, sehingga aku lebih suka melepaskannya sebelum bermain. Oleh karena itu, kita harus kembali ke daratan, mengambil hati yang tertinggal itu,” kata Kera kepada Ubur-ubur.

        Tanpa berpikir panjang pula, Ubur-ubur setuju-setuju saja pada rencana Kera. Namanya juga hewan pandir. Ubur-ubur sama sekali tidak menyadari bahwa rencana Kera adalah balasan dari tipu daya yang telah membuat ia tergoda untuk datang ke istana Raja Naga. Begitu Ubur-ubur dan Kera kembali tiba di daratan, Kera segera melompat dari punggung Ubur-ubur, lalu melompat lagi ke sebuah dahan pohon tempat ia bermain tadi.

“Tuan Ubur-ubur. Hatiku sudah tidak ada di pohon ini. Mungkin seseorang sudah mencurinya!”

“Tapi Tuan tak perlu kuatir. Saya berjanji akan mencari dan menemukannya kembali.”

Ubur-ubur terdiam sejenak. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi lama-lama akhirnya ia bisa juga mempercayai janji si Kera yang baik hati itu.

          “Begini saja Tuan Ubur-ubur. Untuk sementara, lebih baik Tuan kembali dahulu ke Negeri Naga. Kabarkanlah apa yang terjadi di daratan ini kepada Baginda Raja Naga,” begitu Kera membujuk si Ubur-ubur yang tampak makin pandir itu. Tanpa bertanya-tanya lagi, Ubur-ubur pun segera meluncur ke laut lepas.

      Baginda Raja Naga berang tiada ampun. Atas kepandiran Ubur-ubur itu ia memerintahkan pelayan-pelayan lain untuk memberi hukuman yang setimpal atas kebodohan pelayan setia yang memalukan itu. “Pukulilah Ubur-ubur dungu itu sampai sekujur tubuhnya berubah menjadi lunak. Jangan sisakan sekeping tulang pun di tubuhnya,” titah Raja Naga dalam amarah yang memuncak. Maka terjadilah peristiwa penghukuman yang trengginas itu, hingga riwayat ketangguhan tubuh Ubur-ubur beralihrupa menjadi makhluk yang lembek, lunak, tanpa sekeping tulang pun yang tersisa. Itulah sebabnya hingga kini kita melihat Ubur-ubur sebagai hewan yang tubuhnya tak lebih dari gumpalan bubur, transparan, dengan tentakel-tentakel yang melayang-layang di dasar laut.

          Tapi jangan lupa, kelak di kemudian masa, meski mungil-lunak dan tanpa tulang, Ubur-ubur dianugerahi sebuah racun yang mematikan. Orang yang tersengat Ubur-ubur, bisa mengalami kram, berhalusinasi, bahkan tak jarang yang meninggal. Bila dalam fabel dari Jepang itu Ubur-ubur dikisahkan sebagai hewan pandir, di era milineal ini, khususnya di Indonesia, hewan dungu itu ternyata telah menguasai tahta tertinggi di istana kerajaan. Adalah Aisyah Tusulamah Baiduri Intan  dan Rudi Chairul Anwar, warga Sayabulu Tower, Kelurahan Serang, Kota Serang, Banten, yang tertunjuk sebagai pasutri, pasangan Ratu-Raja, penguasa Istana Ubur-ubur. Aisyah juga ternobat sebagai utusan langsung Ratu Kidul. 




Disebut-sebut, Istana Kerajaan Ubur-ubur juga sudah punya semacam lembaga negara non-struktural dengan pejabat-pejabat teras seperti Ketua Penerima Tamu Kerajaan, Ketua Keluarga Kerajaan, Ketua Pengembangan Program Kerajaan Urusan Ritual, Ketua Urusan Ide Kreatif untuk Raja, serta Ketua Urusan Pertamanan. Lembaga-lembaga ini mungkin semacam Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Kantor Staf Presiden (KSP), jika dibandingkan dengan Istana Merdeka, tempat Presiden Joko Widodo bekerja dan bekerja saban hari. Saya tidak ingin membahas ajaran-ajaran sesat yang sejak awal Agustus 2018 lalu telah ditudingkan banyak pihak pada Sang Ratu Ubur-ubur, karena yang jauh lebih menarik bagi saya adalah, kenapa Sang Ratu menamai  singgasana kekuasaannya dengan Kerajaan Ubur-ubur?

“Ubur-ubur binatang laut bertubuh kecil, tapi kalau mereka bersatu bisa menenggelamkan sebuah kapal besar,” begitu bunyi nujum Ratu Aisyah sebagaimana dikutip oleh banyak media hari-hari ini. Menurut hemat saya, ada benarnya sabda utusan Ratu Kidul itu. Sebab, jangan-jangan si Ubur-ubur pandir yang telah dikutuk menjadi makhluk berdaging selunak bubur itu telah menguasai istana Raja Naga. Bukankah dalam fabel Jepang di atas tak pernah dikisahkan Ratu Naga sudah sembuh, dan Raja Naga telah berbahagia. Tidak! Kisah itu  seperti digantung begitu saja, dan saya ingin membayangkan kuasa Raja Naga sudah dilengserkan oleh kudeta pasukan Ubur-ubur. Dengan begitu, tahta istana Negeri Naga kini telah beralih ke tangan Raja dan Ratu Ubur-ubur, yang di jaman mutakhir ini, ternyata nongol di Serang, Banten, alias tak terlalu jauh dari Istana Negara.

Begitu mengerikan kedengarannya kekuatan yang kini dimiliki oleh Ratu Ubur-ubur. Betapa tidak? Raja dan Ratu Ubur-ubur mengaku telah mendapat nubuat gaib dari kuncen (juru kunci) kekayaan dunia yang tersimpan di dua bank Internasional, yaitu Bank Swiss dan Bank Griffin 1999, Birmingham. Bila tak ada aral yang melintang, uang yang berlimpah itu pasti dapat menutupi Defisit APBN dan membereskan utang-utang negara yang bakal jatuh tempo pada 2019. Kepada Presiden Jokowi, Ratu Ubur-ubur juga bersabda: Jadilah engkau satria piningit yang sesungguhnya. Janganlah engkau menjadi seseorang seperti pemerintah di masa lalu, yang hanya mementingkan kekuasaan,  yang menyengsarakan rakyat dan mengorbankan yang lain!

Entah kenapa, saya ingin sedikit menambahkan titah Ratu Ubur-ubur itu, terutama dalam kaitannya dengan alegori Ubur-ubur, hewan lemah yang dalam sejarah kemaritiman Nusantara barangkali hanya sebagai mentimun bungkuk (masuk karung, tapi tak masuk hitungan). Orang-orang lemah,  orang-orang yang terpaksa membuburkan tanak-nasi lantaran persediaan beras yang terbatas, bilamana bersekutu, lalu menyatukan racun-sengat yang mematikan, niscaya akan melibas kuasa cecunguk-cecunguk istana dengan cara yang tak diduga-duga. Sebagaimana sebuah syair Arab klasik pernah dinukilkan; la tahqarrana shoghiran fi mukhashamatin. Inna al-ba’udha tudma muqlatil asadi. Dalam sebuah pertarungan, jangan sekali-kali Tuan remehkan musuh yang bertubuh kecil, karena bahkan nyamuk pun mampu mendarahi seekor singa…   


Damhuri Muhammad
Kolumnis
-->

Thursday, August 09, 2018

Kardus Copras-capres dan Gerobak Tukang Loak


Damhuri Muhammad






Setelah beralih ke teknologi mirrorless, kamera DSLR saya banyak menganggur, dan lama-lama mungkin tidak akan berguna lagi. Daripada tergeletak begitu saja di lemari, akhirnya tiba juga keinginan saya untuk menjualnya.  Lalu,  saya maklumatkan spesifikasi dan asesoris yang tersedia di sebuah forum jual-beli online. Tak lupa nominal harga yang saya tawarkan untuk barang bekas itu. 
Pertanyaan mula-mula yang diajukan oleh seorang penadah adalah, masih ada kardusnya ndak gan? Kardus yang diinginkan penadah tentu bukan kardus biasa, tapi kardus resmi dari perkakas elektronik yang sedang saya iklankan. Di kardus itu akan tampak wujud kamera, merek produk, spesifikasi sensor, ukuran lensa kits, dan berbagai info penting lainnya. Oleh karena saya termasuk kolektor yang tidak telaten, saya tidak dapat memenuhi permintaan penadah itu. Setelah membelinya lebih kurang 7 tahun lalu, saya lupa entah di mana saya menyimpan kardusnya. Mungkin masih ada di gudang, atau barangkali sudah ikut terbawa oleh gerobak Tukang Loak yang sering menadahi barang-barang bekas di rumah saya.
            Kalau masih ada, biasanya di dalam kardus yang masih terawat itu, juga akan ada kwitansi pembelian, kartu asuransi, manual book, dan CD perangkat lunak. Tapi karena saya sudah bilang tak ada kardus, maka si penadah tidak lagi melanjutkan harapannya. Akibatnya, harga akan jatuh, dan kemungkinan terjadinya deal akan butuh waktu. 





Apa pasal? Ya, kardus itu. Bagi para makelar alias penadah barang-barang elektronik, kardus adalah syarat wajib. Sebab, hanya dengan kardus itu martabat barang usang dapat diselamatkan. Seolah-olah dengan kardus itu, kamera saya yang sudah jelas-jelas bekas, setidaknya “pernah baru,” pernah ada bungkusan plastiknya, ada kwitansi pembelian, ada kartu asuransi, dan macam-macam pernah yang lain. Dengan begitu, barang bekas dapat terjual kembali dalam waktu cepat, tentu dengan sedikit untung yang bisa diperoleh si makelar tadi.
        Dari secuil pengalaman itu, saya mulai menghormati dunia kardus. Mungkin kedengarannya remeh. Bahwa kardus tak lebih dari pembungkus. Setelah isinya dikeluarkan, kardus akan terpelanting sebagai sampah. Paling banter hanya dapat digunakan untuk menadahi barang-barang bekas yang lain, sebelum kemudian berakhir di bak sampah.
Tapi bagaimana kalau kardus yang hilang dari gudang Anda adalah kardus kamera DSLR Nikon D3? Bila kemudian Anda terpanggil untuk melepas barang berharga puluhan juta itu, tanpa kardus bawaannya, harga jualnya akan terjun bebas, bahkan hanya separuh dari tawaran mula-mula Anda. Betapa tidak berharganya barang bekas yang pernah menjadi koleksi Anda, betapa terpuruknya kehormatan sebuan benda yang pernah menyumbang banyak pada hidup Anda.
Dalam kisah kecil di atas, kardus bekas tak dapat dipandang sebagai  objek yang rapuh dan kadaluarsa. Dalam semiotika Barthesian, ia memiliki konotasi yang tangguh dan bernilai. Tanpa kardus yang pernah membungkusinya, barang mahal milik Anda akan terdistorsi menjadi rongsokan belaka. Kadang-kadang merek sebuah barang dapat ternobat sebagai nama yang tak lekang dihantam jaman. “Tetangga baru saja membeli Sanyo baru,” begitu biasa kita bercakap, meski pompa air yang dibeli tetangga itu adalah pompa merek Panasonic. Merek bisa jumawa sebagai mitos. Dan, setiap merek senantiasa termaktub di kardus kemasan.
          Namun, nasib kardus rupanya tak selalu mujur.  Pada Agustus 2011 lalu, sebagai tindak lanjut dari sebuah Operasi Tangkap Tangan (OTT), KPK menemukan barang bukti berupa Kardus Durian Montong berisi uang 1,5M. Saat itu, KPK mengamankan  Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan, Pembangunan Kawasan Transmigrasi (Ditjen P2KT) bernama I Nyoman Suisnaya, Kabag Program Evaluasi di Ditjen P2KT bernama Dadong Irbarelawan dan seorang kuasa direksi PT Alam Jaya Papua bernama Dharnawati. Uang dalam Kardus Durian tersebut diduga sebagai commitment fee untuk Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, Menakertrans RI masa itu, atas pengalokasian anggaran DPIP untuk 4 daerah di Kabupaten Papua, Keerom, Manokwari, Mimika dan Teluk Wondama, yang digarap PT Alam Jaya Papua. Disebut-sebut, uang itu berasal dari seorang kuasa direksi PT Alam Jaya Papua bernama Dharnawati. Penerimanya bernama Nyoman Suisnaya dan Dadong Irbarelawan.
            Poin saya bukan pada kasus yang menurut sejumlah pihak sudah game over itu, tapi pada kardusnya. Dalam peristiwa itu, kardus tidak lagi dimartabatkan oleh apa yang dibungkusnya, tapi malah menghinakan,  termasuk menghinakan pengirim dan penerimanya. Konotasi kardus berbalik 180 derajat dari kewibawaan kardus barang elektronik bekas di pasar jual-beli online. Alih-alih merawat mitos tentang Durian Montong yang pernah dibungkusinya, kardus keparat itu malah mendedahkan mitos yang lain. Buktinya, setiap kali saya melihat foto-foto jumbo Cak Imin di hampir  ¼ jalan raya di Pulau Jawa, saya tidak bisa menghindar dari ingatan tentang Kardus Durian penemuan KPK itu.
Belakangan ada pula yang menyebutnya Durian Gate.  Sedemikian merajalelanya baliho dan spanduk sosialisasi Cak Imin sebagai Cawapres dalam 10 bulan terakhir, sampai muncul sebuah kelakar yang konon berasal dari  seorang wisatawan asing; Who is Muhaimin? Lalu sopir taksi yang membawa bule penasaran itu menjawab dengan santai; Muhaimin is Kandar. Oleh karena Kardus Durian telah menjadi mitos di kepala saya, maka jawaban yang sejatinya bagi saya adalah; Muhaimin is a part of Durian Gate.
         Omong-omong soal kardus, 2 hari menjelang ditutupnya pendaftaran Capres-Cawapres 2019, tepatnya 8 Agustus 2018, menjelang dini hari, umat medsos dilanda “gempa politik” setelah elit Partai Demokrat melepaskan cuitan tentang Prabowo Subianto sebagai Jenderal Kardus. Tudingan itu bermula dari perubahan sikap politik petinggi Partai Gerindra itu dalam waktu kurang dari 24 jam. Elit Partai Demokrat menuding kemesraan yang manis di antara dua mantan Jenderal (SBY & Prabowo) diporakporandakan oleh  suguhan kardus berisi 500M untuk meng-entertaint 2 partai mitra koalisi. Mahar mahabesar itu yang menurut elit Partai Demokrat adalah tiket Sandiaga Uno sebagai Cawapres yang akan mendampingi Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019. 







            Lagi-lagi poin saya bukan pada tudingan elit Partai Demokrat dan tiket Cawapres Sandiaga Uno, tapi pada frasa “Jenderal Kardus” yang dilepaslandaskan oleh elit Partai Demokrat itu. Idiom “Kardus” menyuguhkan setidaknya dua kemungkinan. Pertama, merujuk pada kisah kecil tentang kardus kamera DSLR jadul saya di atas, sebagai “bekas” Jenderal yang telah mengukir banyak prestasi di masa silam, sejatinya memang amat membutuhkan kardus atau kemasan yang membuktikan bahwa ia “pernah baru,” dan karena itu kardusnya akan melaporkan macam-macam pencapaian, kegemilangan semasa menjadi Pangkostrad, keberanian di garis pertahanan, komitmen kebangsaan, dan lain-lain.
Mengamati kasak-kasuk yang berlangsung selama menjahit koalisi ruwet menjelang masa pendaftaran, pendukung Prabowo yang saya ibaratkan seperti kolektor kamera DSLR Canon 1D Mark III, tampaknya tidak lagi menyimpan “kardus” yang dapat mempertahankan purna-jual barang bekasnya. Kardus  itu barangkali telah lama hilang atau dibuang bersamaan dengan timbunan barang-barang loak. Maka, posisi tawarnya lemah, dan transaksi cash on delivery (COD) tak akan secepat barang bekas yang masih disertai kardus. Seandainya pendukung masih dapat menemukan kardus bagi barang bekas yang sedang diiklankan itu, tentu ceritanya akan sangat berbeda.
           Kedua, kardus juga dapat berkonotasi sebagai pembungkus aroma akal-bulus di mana pada akhirnya uang jua yang memutuskan segala perkara. Sudah repot-repot menjahit koalisi dengan macam-macam cara dan bahasa politik, manakala kardus berisi uang ratusan milyar sudah berbicara, segalanya buyar, semuanya bisa batal. Sekutu dua jenderal bisa terancam pecah-kongsi, mulut manis yang semula saling memuji bisa beralihrupa menjadi umpatan yang saling menyakiti, koalisi bisa berantakan akibat gempa politik yang tiba menjelang dini hari.
       Sampai di sini, kardus tidak lagi memartabatkan, tak sekadar mendistorsi kehormatan pemberi dan penerimanya, tapi juga akan mengepung semua subjek yang terlibat, di sebuah ruang yang tak lebih lapang dari ruang dalam sebuah kardus. Sesak dan hampir tanpa ruang gerak. Tergeletak sebagai barang-barang bekas, yang sewaktu-waktu bakal diangkut oleh gerobak si Tukang Loak… 



             Damhuri Muhammad
kolumnis

Saturday, August 04, 2018

Harga Jengkol di Republik Congor


Damhuri Muhammad





Satu hari menjelang dibukanya pendaftaran Capres-cawapres 2019,  di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, harga Jengkol dilaporkan menembus angka Rp.100.000/kg. Sebagaimana dikabarkan detik.com (3/8/2018), harga Jengkol yang melejit itu hampir mendekati harga daging sapi. Berdasarkan data Infopangan Jakarta, harga rata-rata daging sapi murni (semur) Rp 117.024/kg, sedangkan rata-rata harga daging sapi has (paha) Rp 123.500/kg. Bukan hanya di Jakarta, Jengkol juga langka di sebagian besar wilayah Jawa Barat. Di Bogor, harga Jengkol dibandrol 60.000/kg, sementara harga sebelumnya hanya Rp 20.000/kg.
            "Sudah 2 bulan ini harganya terpatok di angka Rp 70.000/kg. Harga normalnya mah biasanya cuma Rp 40.000/kg," kata Alex, pedagang Jengkol  di Pasar Baru Bekasi, Bekasi Timur, Kota Bekasi (Jawa Barat), sebagaimana dikutip kompas.com (18/7/2018). Alex mengaku, omsetnya menurun drastis. Ia menjelaskan, jika harga normal peminat Jengkol sangat banyak, tapi saat harga melonjak seperti ini, ia sepi pembeli. “Yang berani beli, barangkali hanya orang-orang yang gila Jengkol,” kata Alex berkelakar. Kabar perihal kelangkaan Jengkol bukan hanya datang dari Jakarta, Jawa Barat, tapi Jengkol juga menjadi perbincangan di beberapa pasar di Jawa Tengah dan sekitarnya. 




            Siapa yang tidak doyan Jengkol? Semur Jengkol, Gulai Jengkol, Jengkol Balado, atau Kripik Jengkol adalah hidangan yang hampir menjadi legenda. Rasanya begitu ajaib. Buah yang mentahnya begitu keras, jika dimasak dengan tingkat kepiawaian tertentu, dapat berubah menjadi semacam rasa daging, dan menurut para penggilanya, lebih lezat dari daging ayam. Rasanya khas, meski hanya diracik dengan bumbu-bumbu ala kampung. Bila dengan menu-menu biasa, kita hanya menghabiskan sepiring nasi, dengan Jengkol Balado khas Padang, atau Semur Jengkol khas Betawi,  kita akan menyesal bila tidak menambah sepiring nasi lagi. Selepas melahap 2 piring ukuran jumbo dengan menu Jengkol, sekujur tubuh akan basah peluh. Kita butuh waktu untuk menyandarkan punggung sambil berselonjor kaki  sejenak, untuk meredakan kekenyangan.
          Bagi orang-orang tertentu, Jengkol boleh jadi bukan menu yang rutin dikonsumsi, tapi paling tidak, seminggu sekali Jengkol pasti terhidang di meja makan. Biasanya diperlakukan sebagai pemicu selera. “Peduli setan dengan aroma kamar mandi setelah itu,” kata seorang sahabat penggemar Jengkol. Jangan kuatir, kini sudah banyak cara memasak Jengkol yang dapat meniadakan aroma ganjil setelah melahapnya, baik aroma yang menyeruak dari mulut, maupun aroma yang bersenyawa dengan air seni. 
            Tapi Jengkol tetaplah Jengkol. Kodratnya memang begitu.  Rasanya maknyus dan bikin ketagihan, tapi limbah aromanya tak jarang membuat kita disumpahi orang sekantor. Bila tak percaya, setelah makan Jengkol di hari Minggu, coba lepaskan urine di toilet kantor Anda pada hari Senin. Betapapun Anda mengguyur closed berkali-kali, aroma itu bagai abadi, bagai bisa melekat di dinding dan rongga closed.  Kita hanya bisa berpura-pura tidak tahu, manakala orang-orang bergunjing tentang siapa keparat yang telah menumpahkan racun di toilet kantor.
            Tobatkah kita makan Jengkol? Kalau ada yang mengaku telah bertobat, saya pastikan itu hanya Tobat Sambalada, dan bukan Tobat Nasuha. Tobat yang pertama adalah tobat tidak akan makan sambal lagi di saat uring-uringan dan kelimpasingan kepedasan. Tapi begitu pedas yang menyiksa itu lewat dan reda, sambal disantap lagi. Mengumpat-umpat tak karuan lantaran kepedasan, lalu bersumpah lagi, tapi esoknya makan sambal lagi. Begitu seterusnya. Sementara Tobat Nasuha adalah yang sebenar-benarnya tobat. Menyesali sebuah perbuatan, dan bertekad kuat, bahwa perbuatan itu adalah yang terakhir, dan tak akan diulang kembali.  
            Bila sekali waktu Anda menjadi target makian setelah Anda berbicara dengan rongga mulut yang mangap maksimal dalam sebuah majlis yang berdekatan dengan hidung banyak orang--sementara kemarin malam Anda menggelar pesta Jengkol--apakah Anda akan bertobat tidak akan makan Jengkol lagi?  Aroma Jengkol tentu tak sedap, tapi tanpa Jengkol pun, hari-hari ini rasanya tak ada mulut yang tak memuntahkan aroma busuk. Di era kelisanan yang kian merajalela ini, apalagi menjelang Pilpres 2019, mulut lebih digdaya ketimbang telinga, apalagi akal.  Mulut politisi, mulut pengamat, mulut haters, mulut lovers, mulut cebongers, mulut kampreters, bagai sedang berada dalam sebuah karnaval congor. Apapun persoalan yang potensial untuk membesarkan nama kandidat yang dijagokan, akan dibicarakan. Apapun perkara yang dapat menjatuhkan lawan akan dilepaslandaskan di linimasa. Itu semua, tidak bisa dilakukan tanpa congor.
            Intrik-intrik politik, modus-modus penggiringan opini, komentar-komentar untuk memassalkan sebuah isu, kebencian yang terus diembuskan, dalil-dalil moral yang diboncengi pesan politik, adalah bentuk-bentuk aroma busuk dari congor-congor yang bergentayangan di linimasa. Sudah begitu banyak undang-undang dikerahkan untuk menghadang aroma busuk itu, sudah banyak nasihat dikampanyekan, banyak pula hukuman telah dijatuhkan,  apakah kita bertobat? Sebagaimana tobat makan Jengkol, pertobatan dari karnaval congor di tahun politik ini, barangkali juga sekadar Tobat Sambalada, bukan Tobat Nasuha.



            Melonjaknya harga Jengkol, yang diperkirakan baru akan normal pada November 2018 mendatang, barangkali sebuah teguran, atawa semacam “pesan kenabian,” yang mengingatkan untuk mengurangi aroma tak sedap yang membersit dari banyak mulut selepas pesta Jengkol. Bagi para penggembira karnaval congor dalam hingar-bingar menjelang Pilpres 2019, melangitnya harga Jengkol mungkin sebuah sasmita Tuhan bahwa congor-congor yang gandrung menganga, perlu mingkem sejenak, hingga aroma tak sedap yang cetar-membahana, tak mengakibatkan timbunan limbah yang berbahaya di kemudian hari…               
                  


Asap yang Pandai Menyimpan Api

Damhuri Muhammad (Versi cetak artikel ini tersiar di harian Riau Pos,  September 2015. Bertepatan de...