Bahkan Bila Inneke jadi Tersangka, Ranjang itu Tak Akan Ternoda



 
Damhuri Muhammad
-->




Hingga catatan ini saya siarkan, sejawat karib saya, Abdul Mustajab,  masih sukar menerima kenyataan, Inneke Koesherawati telah berurusan dengan KPK. Sebesar apapun hina dan cela yang kini dihantamkan banyak orang pada Inneke, bagi Abdul Mustajab, itu tidaklah akan mengurangi penghormatannya pada sosok perempuan yang sudah banyak berjasa dalam pertumbuhan mula-mula masa dewasanya.

“Kalau itu benar adanya, bagiku petaka itu hanya riak kecil dari sebuah gelombang dahsyat yang pernah dihadapinya di masa lalu!” kata Abdul Mustajab meyakinkan saya. “Ibarat ikan di samudera luas, Inneke adalah ikan yang telah dibesarkan oleh amuk badai. Ia pasti tangguh, tegar, dan tentu tawaqqal menerimanya,” tambah Abdul Mustajab lagi.        

Diam-diam saya ikut mengaminkan doa Abdul Mustajab pagi itu. Diam-diam pula saya menumpangkan kesedihan dalam imajinasi kawan lama itu. Sebegitu terganggunya ia lantaran Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Lapas Sukamiskin, Bandung, 21 Juli 2018 lalu, pagi-pagi buta Mustajab menelpon saya. “Tak usah kau ikut-ikutan menghujat Inneke. Bagaimanapun juga, ia telah mengembuskan kegembiraan tak terkira di zaman kita! Saat ini, bungkam adalah cara paling bijak untuk berterima kasih pada Inneke,” begitu kalimat penutup Abdul Mustajab. 



 

Masa itu, saya, Abdul Mustajab, Injang Alpencino, dan Kerong Ahmad Muzakkir, adalah siswa kelas III Madrasah Aliyah. Kami punya kegandrungan yang berbeda-beda. Saya penyuka Sepak Takraw, Abdul Mustajab tekun belajar Kaligrafi,  Injang gila menonton judi adu-kerbau, dan Kerong adalah penggemar tidur siang. Tapi kami disatu-padukan oleh sebuah kegemaran serupa;  membaca novel stensilan karya Anny Arrow. Tak gampang memperoleh novel bergelimang lendir  di masa itu. Lebih tidak gampang lagi mendapatkan kesempatan untuk menikmatinya. Entah bagaimana caranya, entah dari mana pula sumbernya, Abdul Mustajab, selalu saja membawa serial buku-buku Anny Arrow ke sekolah. Bergonta-ganti judul saban minggu. Setiap judul kami baca secara bergiliran.

Modus membaca Anny Arrow paling favorit pertama kali diperkenalkan oleh Kerong. Saat guru pelajaran Nahwu-Sharaf berbuih-buih menjelaskan duduk perkara tasrif sembilan di depan kelas, Kerong menyelipkan buku kecil itu di dalam kitab Qawa’id al-Lughah al-Arabiyah. Karena dimensi buku pelajaran Tata Bahasa Arab itu lebih besar, maka Anny Arrow langsung dapat terhisap di dalam lipatannya. Sama sekali tak kentara kalau ada buku di dalam buku. Ada bacaan haram dalam lembaran-lembaran kitab yang halal. Sementara mulut guru berbusa-busa melafazkan perubahan kata demi kata dalam aksen Arab yang kental, Kerong berpura-pura serius menyimak, dan saat guru menuliskan lafaz-lafaz di papan tulis, mata Kerong sigap menukik ke bawah, seolah-olah sedang membaca apa yang sedang dijelaskan guru, padahal ia sedang menikmati adegan-adegan syur yang dirinci Anny Arrow dalam bahasa yang sungguh membuat jantung berdetak kencang.

Begitulah, kami akan beroleh giliran satu persatu. Dan, setelah semuanya berhasil mengkhatamkan 1 judul, tibalah saatnya kami berbagi fantasi.  Berbincang dari hati ke hati tentang apa yang telah kami peroleh selama petualangan bersama Anny Arrow. Tapi lama-lama, rasanya tidak menarik kalau hanya dibahas dan dibahas, apalagi stensilan-stensilan keparat itu tak mencantumkan gambar sama sekali. Kecuali sampul depan, keseluruhan isinya melulu teks. Kami bosan, kami jenuh.Kami ingin lebih.

Untuk melawan kebosanan, hanya ada dua pilihan yang tersedia. Pertama, berpatungan uang sebesar Rp.750,- lalu pergi bersama-sama ke sebuah rumah yang tak jauh dari sekolah. Bergabung dengan rombongan lain, serahkan uang hasil patungan pada tuan rumah, lalu pintu akan ditutup rapat. TV ukuran 14" segera menyala, menampilkan gambar berwarna dari sebuah video-player yang memutar sebuah kaset. Dalam durasi 90 menit kami menyaksikan “Film Unyil” alias film porno dengan kategori sesuai permintaan; semi, XX, atau XXX.

Saya dan Abdul Mustajab, kurang berminat. Sebab, film yang rata-rata aktornya bule itu terlalu to the point, terlalu berterus-terang, terlalu vulgar atawa bertelanjang. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba sudah beraksi saja. Adegan syur yang hambar, tanpa cerita, tanpa sensasi yang mengguncang-guncang imaji. Tapi Injang Alpencino dan Kerong Ahmad Muzakir begitu enjoy. Seolah-olah itulah yang mereka inginkan. Tak perlu berbelit-belit, ngobrol, bertemu di jalan, atau pakai kisah dokter dan pasien. Langsung saja. Toh, ujung-ujungnya akan begitu juga. Demikian kira-kira dalil pegangan Injang dan Kerong. 







Pilihan kedua, tersedia setiap malam minggu, di area lapangan bola, lebih kurang 1 km dari kos-kosan kami. Konon, datang dari kota propinsi, lengkap dengan perkakas pemutar rol untuk layar lebar, lalu film dapat dinikmati di layar tancap. Bila gerimis tiba, penonton bubar. Misbar, demikian orang menyebutnya. Di layar itulah saya dan Abdul Mustajab mengenal Ranjang yang Ternoda (1993). Berkisah tentang Doni--diperankan oleh Dicky Wahyudi--seorang manajer yang punya hubungan asmara dengan Tesa (Gitty Srinita), putri pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Tesa dikirim oleh ayahnya untuk sekolah ke Jepang dengan harapan kelak ia akan memimpin perusahaan itu bersama Doni. Di saat Tesa sedang berada di luar negeri itulah kisah yang sesungguhnya terselenggara.

Doni main mata dengan sekretaris cantik bernama Nina (Inneke Koesherawati). Adegan demi adegan Doni-Nina tampil begitu detail. Tak sevulgar tontonan yang diminati Injang dan Kerong, tak ada busana sungguh-sungguh terbuka, tak ada aktivitas yang betul-betul intim,  tapi konsep  visualnya sangat menggoda. Setidaknya, adegan-adegan panas yang juga disaksikan oleh orang sekampung tanpa batasan usia itu, telah sempurna menerjemahkan apa yang kami bayangkan dari pengalaman-pengalaman membaca Anny Arrow. Dari bahasa verbal ke bahasa visual, dari pengandaian-pengandaian hambar ke tayangan bergambar yang membuat dada tak henti berdebar-debar.

Akibat hubungan terlarang itu, Nina pun hamil. Sementara kepulangan Tesa semakin dekat. Nina harus lekas disingkirkan. Singkatnya, Doni-Tesa akhirnya menikah, tapi perusahaan itu bangkrut. Mereka berpisah, dan Doni ingin kembali pada Nina. Tapi itu sudah tak mungkin bagi Nina. Selain cerita yang diselang-selingi oleh rupa-rupa adegan syur dalam berbagai properti dan konsep penyutradaraan, hal menarik lainnya dari peristiwa menonton film panas itu adalah ketika kami sudah terbang melayang-layang di belantara kesaruan masing-masing, tiba-tiba lampu mati dan yang tersisa hanya layar putih tertimpa remang cahaya bulan. Mustajab yang tadinya sudah berlayar sampai jauh, seketika harus kembali ke pangkal jalan. Konsentrasinya buyar oleh teriakan penonton yang menyumpah-nyumpahi PLN, termasuk memaki-maki operator misbar.

Tapi, kami tak pernah bosan menonton dari pekan ke pekan.  Hingga saya dan Abdul Mustajab menjadi mahasiswa di kota Provinsi, petualangan itu berlanjut sampai Pergaulan Metropolis (1995), Setetes Noda Manis (1994), Kenikmatan Tabu (1994), Bebas Bercinta  (1995), Ranjang Cinta (1995), hingga tidak lagi rasanya film yang dibintangi Inneke yang belum kami jajali. Lagi-lagi di bioskop misbar atau bioskop kelas kampung dengan karcis seharga Rp.3.500. Sejak itulah Inneke ternobat sebagai bintang yang bersinar dalam setiap lekuk imajinasi kami. Mustajab mungkin punya pacar, tapi hanya dengan fantasi-fantasi ganjil sepulang dari bioskop itu kami bisa lebih leluasa, lebih bergembira. Pacar saya atau pacar Mustajab dipastikan tak akan bisa memenuhi fantasi-fantasi itu.

Kami kuliah di IAIN. Saban hari dikepung oleh petuah-petuah moral. Jangan begini jangan begini, tak baik begini tak baik begitu. Calon-calon Ustadz sedapat-dapatnya mesti dijauhkan dari khayalan-khalayan keji itu. Tapi siapa yang bisa melarang orang berfantasi, aturan apa yang bisa membendung gairah manusia yang paling purbawi? Tak ada kuasa yang mampu menghambat kegembiraan kami dalam fantasi tentang desahan dan lenguh napas Inneke saat beraksi dengan adegan-adegan panas di layar misbar. Kontras perbedaan antara kutek merah di jari tangan Inneke dengan warna kulit di bagian dada yang berbulu dari laki-laki kekar di ranjangnya tak bisa enyah dari ingatan Abdul Mustajab. Begitu juga dengan siluet dada, leher, bibir seksi Inneke yang bergerak dalam tempo lambat, sampai kini masih lestari dalam memori saya.Arsip-arsip visual perihal keanggunan tubuh Inneke telah menjadi representasi paling awal bagi generasi saya, tentang estetika tubuh perempuan. Inneke adalah ukuran, Inneke adalah teladan, setiap kali kami berbincang dalam perkara-perkara ketubuhan perempuan. Bagi kami, keterampilan dramatik Inneke telah menjadi kurikulum dalam pelajaran tentang bagaimana cara berlaku lembut pada perempuan, cara membuat kehangatan yang lama bertahan, dan cara membahagiakan perempuan, terutama dalam masa-masa penuh kegentingan.   

Saya dan Abdul Mustajab sudah lama terpisah. Kami juga sudah bertahun-tahun menjauh dari imaji tentang tubuh Inneke yang membuai perasaan itu--karena Inneke telah hijrah menjadi muslimah yang taat. Sejak itu pula kami kembali ke khittah. Insyaf dengan cara masing-masing. Saya berkhidmat sebagai ta’mir musholla di sebuah permukiman padat pinggiran Jakarta, sementara Abdul Mustajab mengabdi sebagai guru Aqidah-Akhlak di sebuah pesantren tua peninggalan kakek-buyutnya di pedalaman Sumatera. Bagi Mustajab, juga bagi saya, ranjang Inneke tak akan ternoda, bahkan bila nanti KPK tega menetapkannya sebagai tersangka…  




Damhuri Muhammad
Kolumnis
-->

Comments

Popular posts from this blog

Yudi Latif dan Kuliah Umum tentang Keadilan

Lelaki Ragi dan Perempuan Santan