Tuesday, September 25, 2018

Bola Menggelinding, Darah Bercucuran…


Damhuri Muhammad







Beograd, 1990-an. 30 menit sebelum pertandingan Red Star dan Partizan berlangsung, klub suporter Red Star bernama Ultra Bad Boys mengumpulkan orang-orang terkuatnya di ujung stadion, tak jauh dari rimbunan pepohonan yang baru tumbuh. Masing-masing membawa batangan logam dan pentungan kayu.  Mereka membentuk formasi V dan mulai berjalan mengitari stadion dengan tampang-tampang beringas. Memukuli setiap orang yang menghalangi. Mula-mula mereka menyerang suporter Partizan, lalu menerjang barikade polisi. Serangan yang begitu cepat, hingga suporter Partizan dan polisi di sekitar stadion tak sanggup membendung gempuran Ultra Bad Boys. Tak lama berselang, mereka meninggalkan korban-korban yang bergelimpangan. Seperti jejak baru mesin pemotong rumput. 

Begitu kisah Draza, pemimpin Ultra Bad Boys, yang secara rinci ia uraikan saat diwawancarai oleh Franklin Foer, jurnalis bola dan peminat kajian globalisasi, yang terbukukan dalam Memahami Dunia Lewat Sepakbola  (2006). Keberingasan Draza, setali tiga uang dengan sepak terjang Krle,  pentolan Ultra Bad Boys yang tak kalah ganasnya. “Metode apa yang paling Anda sukai untuk memukul orang?” tanya Foer waktu itu. “Potongan besi, tendangan khusus untuk mematahkan tungkai ketika orang lengah!” balas Krle sambil menghentakkan kaki di bawah meja, memperlihatkan bahwa ia sangat terlatih. Red Star dan Partizan adalah musuh bebuyutan dalam sepakbola Serbia. Kepada Foer, Draza bilang, “Fans Partizan pernah membunuh suporter Red Star berusia 15 tahun. Ia sedang duduk di stadion, mereka menembak dadanya. Monster-monster itu membunuh si bocah. Mereka tak tahu batas.” 

            Krle adalah tukang pukul Red Star sepanjang masa keemasan klub  itu. Pada 1991, Red Star menjuarai Piala Champion, dan telah menjadi catatan penting dalam sejarah sepakbola Yugoslavia sebelum negara itu pecah berkeping-keping. Terlepas dari sejarahnya sebagai tunggangan nasionalisme Serbia, Red Star dikenal sebagai klub yang berhasil menyatukan bakat-bakat khusus dari berbagai etnis di Yugoslavia. Para pengamat sampai menyematkan berbagai stereotip pemain yang dimiliki Red Star. Pemain asal Slovenia dikenal sebagai bek handal, menyeret menentang ke depan tanpa kenal lelah. Orang Kroasia memiliki kecenderungan Jerman untuk menyambar peluang mencetak gol. Orang Bosnia dan Serbia adalah penggiring dan pengumpan yang kreatif, meski kurang tajam dalam taktik. Campuran bakat-bakat khusus itu bersenyawa guna menghajar tim-tim unggulan Eropa Barat. Krle adalah jagoan yang ikut ambil bagian dalam pasukan holigan untuk Red Star. Di barisan Red Star, pasukan holigan diorganisir sedemikian rupa dan dipersenjatai, karena urusannya bukan hanya sepakbola, tetapi sekaligus menjadi pasukan tempur Milosevic, pelaku permbersihan etnis yang paling efektif dalam sejarah genosida.




            Holiganisme dalam gambaran Foer, hanyalah sebagian kecil dari gelombang besar kekerasan di jagat sepakbola Eropa yang sudah tumbuh sejak lama. Mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar stadion bukanlah pemandangan baru. Sejak 1980-an, holiganisme sepakbola telah dinyatakan sebagai musuh utama barat. “Aib bagi masyarakat beradab,” kata Margaret Thatcher suatu ketika. Berdasarkan data korban yang tewas akibat holiganisme sepakbola pada 1980-an, Inggris dinobatkan sebagai produsen suporter ganas terbesar di dunia, meski bukan satu-satunya. Kekerasan telah menjadi bagian dari sepakbola di seluruh Eropa, Amerika Latin, dan Afrika. Hanya saja, suporter Serbia sedikit lebih terorganisir dan diberi perkakas yang memadai untuk membunuh. Para penggila bola tentu belum lupa malapetaka besar di stadion Heysell, Brussel (Belgia), saat pertandingan final piala Champions Eropa antara Liverpool dan Juventus, 29 Mei 1985. Tak kurang dari 39 orang kehilangan nyawa dan ratusan lainnya terluka karena perilaku para holigan Liverpool, yang membalas serangan publik Italia pada final di tahun sebelumnya.

            Rupa-rupa peristiwa berdarah di dunia sepakbola itulah yang barangkali membuat si kulit bundar tak hanya berkerabat dengan kegirangan dalam yel-yel kemenangan, tapi juga tiada berjauhan dengan airmata lantaran holiganisme yang begitu lekas merenggut nyawa. “Sepakbola, tampak olehku, bukanlah sebuah permainan untuk  kesenangan dengan menendang bola, tapi ia hanyalah sebuah spesies dari perkelahian,” demikian kalimat yang tertera dalam Animal Farm, novel karya  George Orwell. Di tanah air, dalam rentang waktu Januari hingga Agustus 2018, sebagaimana dicatat oleh www.jawapos.com (24/9/18), sudah 16 nyawa melayang. Tak hanya berasal dari suporter klub Liga 1, tapi juga pendukung Liga 2 dan Liga 3. William Wijaya (16 tahun), suporter klub Liga 3 Persitara Jakarta Utara, tewas dibacok dalam bentrokan di Jakarta Timur, 4 Agustus 2018 silam.

            Kabar yang sangat memilukan pekan ini adalah tewasnya Haringga Sirila (23 tahun), suporter Persija, di area Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, sebelum laga Persib Bandung kontra Persija, Jakarta, Minggu (23/9/18).  Selepas peristiwa pengeroyokan itu, beredar rekaman video amatir yang memperlihatkan kebrutalan para pengeroyok saat menghabisi rivalnya hingga roboh tak berdaya. Korban dihujani pukulan dengan balok kayu, botol, dan benda-benda keras lainnya. Tendangan dan hantaman tak henti-henti disarangkan di tubuh korban. Saat korban sudah meminta ampun dalam kondisi berlumur darah, tendangan, pukulan, hantaman, terus berlangsung, hingga nyawa korban tak terselamatkan.

Dalam pantauan mesin penelusur percakapan dunia cyber, Astramaya, peristiwa biadab itu telah mengundang banyak ungkapan duka dan belasungkawa, yang disertai kutukan keras terhadap penyelenggaraan kompetisi bola di Indonesia. Hingga kolom ini diturunkan, hanya dalam 3 hari, Astramaya telah menghimpun tak kurang dari 45.864 perbincangan tentang luka yang bakal terus menganga dalam sepakbola Indonesia itu. Interaksi yang berlangsung dalam topik ini terpantau cukup beragam. Bukan hanya mengarah pada permintaan hukuman yang berat atas kebuasan  massa yang terdiri dari anak-anak muda pendukung Persib, tapi juga pada atmosfir sepakbola Indonesia yang jauh dari prestasi, tapi terus mencatat rekor hilangnya banyak nyawa. Belakangan telunjuk netizen mengarah pada PSSI, tapi alih-alih beroleh respons yang menunjukkan rasa tanggung jawab, Ketua Umum PSSI (yang kebetulan juga merangkap sebagai pejabat publik) malah membuat rekor volume perbincangan baru di jagat maya,  yang  terhimpun dalam tagar  #SiapPakEdy. “Apa urusannya Anda bertanya seperti itu?” kata Ketua Umum PSSI dalam sebuah wawancara televisi, saat ditanya seputar peristiwa tewasnya suporter Persija. “Bukan hak Anda  bertanya kepada saya.”

            Respons emosional yang terdengar lumayan janggal itu telah menyita perhatian warganet, hingga tak lama kemudian, berhamburan dialog-dialog pendek yang berasal redaksi kalimat sinis Ketua Umum PSSI.  “Iya, karena yang berhak bertanya kepada Pak Edy hanyalah malaikat Mungkar dan Nankir,” demikian salah satu bunyi dialog yang muncul di laman twitter. Namun, terlepas dari duka yang dalam, kutukan terhadap kekerasan dalam sepakbola kita, dan rupa-rupa kejengkelan terhadap PSSI, kebiadaban yang telah dipertontonkan oleh suporter bola kita, sebagaimana terang dan gamblang dalam rekaman yang beredar sejak Senin (24/9/18), membuat saya membayangkan pekatnya kegelapan yang akan menyelubungi masa datang sepakbola Indonesia, entah untuk berapa generasi ke depan. Bila seharusnya sepakbola bertabur keriangan, bergelimang kegemilangan, di republik ini sepakbola seperti jalan yang lapang menuju upacara-upacara pemakaman... 





            Damhuri Muhammad

Kolumnis


-->

Thursday, September 20, 2018

Emak-emak dan Kuasa Tak Bernama


Damhuri Muhammad




Saya memanggil perempuan yang melahirkan saya dengan sebutan “Amak.” Konon, kata  “Amak” masih berkerabat dengan “Ummy” (Bahasa Arab) yang bermakna Ibuku atau Ibu saya. Perubahan ungkapan dari Ummy ke Amak tampaknya semacam pergeseran yang menyesuaikan diri  dengan  pengalaman berbahasa orang Minang, entah sejak kapan. Amak juga saya gunakan sebagai sebutan untuk  beberapa saudara perempuan ibu saya,  baik saudara kandung maupun saudara sepupunya.  Meski begitu, ada 1-2 kerabat dekat Amak yang saya panggil dengan sebutan “Ibu.” Seingat saya, itu terjadi karena mereka adalah bagian dari keluarga besar saya yang sudah bermukim secara permanen di kota. Sementara saya, Amak, dan kerabat-kerabat Amak yang saya panggil dengan sebutan serupa, belum beranjak dari kampung. Saat mereka berkesempatan pulang kampung bersama keluarga di momentum-momentum tertentu, di situlah saya mendengar anak-anaknya menggunakan panggilan “Ibu.” Saya ikut-ikutan menggunakan sebutan serupa.
       Tapi, saya tetap merasa asing dengan kata “Ibu.” Saya canggung melafalkannya. Saya merasa terlalu kekota-kotaan, atau dalam bahasa masa kini, terlalu urban, padahal sejak kecil hidup saya tak beranjak dari sudut kampung. Oleh karena itu, saya menggunakan sebutan “Ibu” sekadar untuk berbasa-basi. Sekadar menyenangkan hati orang kota, yang barangkali sudah merasa udik bila masih dipanggil dengan sebutan “Amak.” Masa itu, saya tidak bisa menaruh hormat pada terminologi “Ibu.” Alih-alih menghormati, setiap kali mengungkapkan kata “Ibu” saya malah merasa bersandiwara belaka, dan sedikit-banyaknya merasa telah melecehkan saudara Amak yang sedang berlibur itu. 



 

            Berbeda situasinya dengan sebutan Amak. Bukan saja sebutan penghormatan, tapi juga kata yang sakral dalam hidup saya. Separah-parahnya perangai seorang anak, bila dalam pesan-pesan peringatan yang mendarat di kupingnya terkandung kata “Amak,” segala yang keras akan melunak, segala yang liar akan berubah jinak. “Awas kau, nanti awak bilang perangaimu itu pada Amakmu!” bila sudah begitu ancaman yang terdengar, alamat bahaya bakal tiba. Banyak orang boleh menggertak, banyak orang boleh mengancam, dengan ungkapan secadas apapun, tapi gertakan yang paling bertenaga selalulah yang mengandung potensi kuasa Amak di dalamnya. Dengan begitu, orang yang paling saya hormati, sekaligus saya takuti sejak dulu, tak lain adalah Amak.
            Bila mencurahkan perhatian dan kasih sayang, dari ujung rambut hingga ujung kaki anak-anak, tak ada yang luput dari perhatian Amak, sepanjang hari, sepanjang waktu. Urusan makan, urusan kesehatan, urusan pakaian, urusan keselamatan, bahkan hingga urusan pasangan hidup alias jodoh, tak ada yang sungguh lepas dari genggaman “kuasa” Amak. Dalam hal ajaran dan didikan, kata-kata Amak adalah sabda. Sementara dalam perkara kekecewaan dan kemarahan, kata-kata yang keluar dari mulut Amak adalah keperihan, adalah penderitaan, yang sulit disembuhkan. Sejauh ini di generasi saya, tak ada yang sungguh berani atau nekat melawan. Sebagian besar takluk dan bersimpuh di hadapan Amak.  
         Oleh karena sedemikian besarnya pengaruh Amak dalam hidup saya, rasanya sebutan khas itu tidak lagi sekadar tanda atau nama bagi perempuan yang melahirkan saya, tidak sekadar berkonotasi pada muasal atau sumber dari setiap curahan perhatian dan kasih-sayang yang tak berhingga, tapi sudah ternobat menjadi mitos perihal kuasa yang tak kunjung dapat ditumbangkan. Mitos di sini bukan dalam pengertian yang berhubungan dengan realitas klenik dan metafisik, tapi mitos dalam kacamata semiotika Barthesian. Mitos yang tercipta oleh konotasi yang terus berulang dalam kurun waktu amat panjang. Seperti kebiasaan orang-orang kampung saya menyebut Honda bagi nama sepeda motor. Boleh saja mereka memiliki sepeda motor bermerek Yamaha atau Suzuki, tapi mereka selalu menyebutnya dengan nama Honda. “Tetangga kita punya Honda baru!” demikian desas-desus yang biasa terdengar, meski tetangga itu baru saja membeli sepeda motor Kawasaki, bukan sepeda motor bermerek Honda. Demikian pula dengan Amak. Boleh saja orang-orang kampung saya yang merantau ke kota itu menyebut orangtuanya dengan panggilan Ibu, Mami, atau bahkan Memo, kami tetap melihat hubungan mereka sebagai hubungan Anak dan Amak. Dan sekali waktu, bila mereka tak pulang bersama ibu, kami akan bertanya;  Amakmu ke Mana? (bukan Mamimu ke mana?)
            Dalam suasana perebutan wacana yang mengarah pada kooptasi istilah Emak-emak dan Ibu Bangsa, dua minggu terakhir ini, bukan bermaksud hendak membesar-besarkan satu kontestan Pilpres tertentu, faktanya Emak-emak memang jauh lebih menarik perhatian ketimbang Ibu Bangsa. Emak-emak terkesan lebih familiar, alamiah, informal, sementara Ibu Bangsa terdengar agak dipaksakan, seremonial, dan terlalu formal. Dalam pantauan perangkat penelusur lalu-lalang percakapan di dunia cyber, AstraMaya, hingga kolom kecil ini saya turunkan, ditemukan 113.367 percakapan yang mengandung terma Emak-emak. Terdiri dari 1.809 artikel news  dan  111.758 konten unggahan di social media. Jumlah volume perbincangan tentang Emak-emak itu berada jauh di atas volume perbincangan tentang Pelemahan Rupiah yang hingga pekan ini hanya berada di angka  17.787.
          Netizen yang sejak awal mempopularkan istilah The Power of Emak-emak  bagai tak ingin berhenti beropini bahwa istilah itu sama sekali tak bermaksud merendahkan martabat perempuan. Alih-alih mendistorsi peran dan kontribusi perempuan di panggung politik, The Power of Emak-emak justru hendak menegaskan ketangguhan posisi perempuan sebagai kekuatan tak terduga dan tak bernama, dalam konstelasi politik masa kini. Yang tak mampu membuat Emak-emak terpikat, atau yang terlambat meluaskan jaringan ke wilayah Emak-emak, mungkin bakal terkapar dalam kekalahan yang tak terduga pula. Kata “Emak,” “Amak,” “Umak,” atau “Omak” sudah lama bercokol di ranah kultural masyarakat Indonesia. Setinggi apapun tingkat pendidikan seorang anak, selebar apapun jarak ideologis antara seorang anak dengan perempuan yang melahirkannya, sekali dia menggunakan sebutan Emak tak akan berubah menjadi Ibu, Mami, atau Memo.
Bila dilacak secara cermat, ada ratusan novel Indonesia yang  menggunakan sebutan Emak, Amak, Umak, atau Omak untuk menamai karakter perempuan yang bersetia membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Bahkan orang sekaliber Daoed Joesoef, Ph.D jebolan universitas ternama di Paris, Prancis, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru, menjuduli sebuah memoarnya dengan Emak (2003).
Sementara “Ibu Bangsa,” adalah terminologi yang hanya terdengar di mimbar-mimbar formal-seremonial, dalam pidato-pidato resmi, dan perbincangan menara gading yang tak membumi di percakapan akar rumput. Tak hendak meremehkan konsep Ibu Bangsa, atau kontribusi banyak tokoh perempuan yang telah membesarkan nama republik ini, tapi terma Emak, Amak, Omak atau Umak, memang terdengar lebih akrab, lebih mengakar. Amak boleh saja tak cukup bersekolah, tak berijazah, tapi di negeri ini ada banyak Emak-emak yang telah melahirkan negarawan dan tokoh-tokoh besar. Dalam perkara mendidik anak, kebutuhan anak, kesehatan anak, pakaian anak, bahkan hingga pasangan hidup (jodoh) anak, tak ada yang luput dari perhatian Emak-emak. Sebesar apapun kuasa Tuan, setinggi apapun jabatan Tuan, jangan pernah berniat melawan Emak. Ampun Mak!

Damhuri Muhammad
kolumnis 


-->

Thursday, September 13, 2018

Korupsi Berjamaah atau Beregu, yang Penting; Masuk Pak Eko...


Damhuri Muhammad



“DPRD Malang Cetak Rekor Korupsi Beregu.” Demikian cuitan akun twitter @Liputan9 yang diunggah pada Selasa (4/9/18). Dilengkapi poster online berisi sederet foto-profil anggota DPRD Kota Malang dengan rompi orange khas tersangka KPK. Hingga kolom ini diturunkan, menurut statistik mesin  pemantau perbincangan jagat cyber, Astramaya, cuitan akun berpengikut 941.000 itu, telah diunggah-ulang (retweet) warganet sebanyak 6.212 kali, dan disukai sebanyak 1.620 kali. Rekor popularitas cuitan @Liputan9 itu hanya satu tingkat di bawah popularitas cuitan akun resmi Presiden Joko Widodo (@jokowi), yang berpengikut 10,3 juta orang. Cuitan yang mengandung keprihatinan Kepala Pemerintahan dan himbauan kepada segenap anggota legislatif di seluruh Indonesia untuk senantiasa menjaga kepercayaan rakyat itu, telah diunggah ulang (retweet) sebanyak 3.658 kali dan disukai  sebanyak 12.920 kali.





Poster online itu tampaknya dirancang dalam suasana psikologis selepas peristiwa kompetisi akbar dalam Asian Games 2018 di mana Indonesia tercatat mencetak rekor perolehan medali emas terbanyak di sepanjang keikutsertaan di ajang itu. Tak mau kalah dari atlet-atlet Indonesia yang telah membukukan macam-macam rekor, 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang (Jatim) juga mencatat rekor baru, dalam kategori; Korupsi Beregu. 22 orang politisi dari berbagai Parpol yang semuanya memakai rompi orange, sebagaimana terekam dalam foto-foto yang beredar luas di media sejak 3 September 2018, sekilas memang tampak seperti kontingen yang baru pulang dari sebuah kejuaraan. Hanya saja, kontingen orange itu tak disambut dengan sukacita sebagaimana penyambutan kontingen olahraga setelah meraih kemenangan besar, tapi dihujani umpatan dan makian oleh warganet.

Sebagaimana dicatat oleh Firdaus Baderi lewat www.neraca.co.id (7/9/18), 22 orang tersangka itu adalah rombongan terakhir yang tiba di Kuningan, Jakarta. Sementara 19 anggota DPRD Malang lainnya sudah lebih awal mendekam di rumah tahanan, hingga total tersangkanya menjadi 41. Rekor korupsi beregu itu bermula dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK tahun 2017, yang menciduk   Ketua DRPD Kota Malang Arief Wicaksono. Arief diduga menerima suap dari Walikota Malang non-aktif Mochamad Anton, terkait pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Kota Malang tahun 2015. Arief disangka menerima jatah Rp 100 juta dari total suap Rp 700 juta. Kemudian sisa uang suap itu dibagikan pada anggota dewan lainnya.

Dari segi jumlah pelaku, rekor korupsi dalam kategori beregu ini sebenarnya belum bisa dikatakan pecah oleh anggota DPRD Kota Malang. Sebab, pada tahun 2004 silam, Pengadilan Negeri Padang (Sumatera Barat), memvonis 43 anggota dewan bersalah dalam kasus korupsi APBD senilai Rp 5,9 miliar. Sebelumnya, Kejaksaan Tinggi Sumbar di bawah pimpinan Kajati Antasari Azhar menetapkan seluruh anggota DPRD Sumbar 1999-2004 yang berjumlah 65 orang sebagai tersangka dalam kasus penggunaan APBD. Jadi, bila di  Malang masih tersisa 4 orang anggota DPRD-nya, di Sumbar waktu itu, rekornya; sapu bersih. Tak seorang pun yang tersisa.

Namun, dalam kasus korupsi ramai-ramai yang terjadi di DPRD Sumbar, istilah yang muncul bukan Korupsi Beregu, tapi Korupsi Berjamaah. Tak dapat disangkal, konotasi kata “Berjamaah” tentu lebih religius dan asketik. Dalam tuntunan ibadah dalam Islam misalnya, keutamaan shalat berjamaah berkali-kali lipat besarnya bila dibandingkan dengan shalat yang dilakukan seorang diri. Tapi bila disandingkan dengan kata “korupsi,” keistimewaan terma “berjamaah” mengalami penjungkirbalikan yang tajam. Sebab, dalam perilaku korup, alih-alih keutamaaan yang berlipat ganda diperoleh, yang datang justru azab dan hukuman. Setidaknya sanksi sosial yang berkali-kali lipat lebih besar dari sekadar sanksi bila kejahatan itu dilakukan sendirian.

Di sini kata “berjamaah” berada dalam wilayah paradoks kental. Dalam bahasa agama, ia sangat mulia, sementara dalam bahasa sehari-hari (ordinary language) maknanya terdistorsi ke ranah yang rendah. Kerendahan itu belum termasuk bila ditambahkan gambaran tentang prosesi berlangsungnya sebuah ibadah yang terselenggara secara berjamaah. Di sana ada imam yang memimpin, yang tak boleh salah bilangan rakaatnya,  yang harus menjaga tuma’nina (berhenti sesaat di antara urutan-urutan prosesi shalat), yang harus menjaga tartil bacaan shalat, yang harus mengukur tenaga dan usia para jamaah dengan durasi waktu bacaan ayat, yang semuanya berujung pada terjaganya kekhusyukan shalat semua jamaah. Lalu, bagaimana kalau imamnya adalah imam dalam korupsi berjamaah? Hukuman apa yang setimpal bagi orang yang menjadi pemimpin dalam kejahatan bersama?

Dengan begitu, terminologi Korupsi Beregu jauh lebih lunak. Hanya merujuk pada prinsip soliditas sebuah tim, katakanlah seperti etos kerjasama dalam sebuah kesebelasan sepakbola. Betapapun besarnya kebintangan 1-2 pemain, tanpa etos komunal, tanpa kerjasama, tim itu akan mudah ditumbangkan. Dalam sebuah tim, tak ada imam dengan segenap persyaratan berat yang mesti  dipenuhi, hanya ada kapten. Itupun gampang digonta-ganti sesuai penilaian dan arahan pelatih. Tapi ada hal menarik dalam etos komunal sebuah tim. Bila kemenangan berhasil direngkuh, semua pemain pasti sepakat bahwa prestasi itu digapai dengan kerja bersama, saling bahu-membahu, dan tak satu pemain pun yang berani mengklaim bahwa kegemilangan itu disebabkan oleh keringat dan kerja keras sendiri.

Begitu pula ketika 1-2 pemain secara tak sengaja melakukan kesalahan-kesalahan minim, yang dapat menganggu ritme kerja sama dalam mengejar kemenangan, biasanya segenap anggota tim akan memaklumi dan memaafkannya. Bahkan ketika pada akhirnya mereka gagal dalam sebuah kompetisi, tak ada yang sungguh merasa beralasan untuk menuding 1-2 pemain sebagai penyebab  kekalahan yang memalukan itu. Semuanya akan memaklumi dan memaafkan, atas nama kesalahan bersama atau bahkan kegagalan bersama. 

Dalam keseharian masyarakat komunal, pemakluman-pemakluman semacam itu juga kerap terjadi. Bagi para pengemudi di Jakarta misalnya, tidak apa-apa menerobos lampu merah, tak soal menerabas trotoar dalam macet berat, toh orang lain dan banyak orang juga melakukannya. Atau dalam berbagai aksi penghakiman massa di jalanan misalnya, seolah-olah tindakan menganiaya, bisa berkurang kadar aniayanya jika dilakukan bersama-sama.

Omong-omong soal “Korupsi Beregu,” seolah-olah kejahatan korupsi akan berkurang kadar kebejatannya kalau dilakukan berjamaah. Tidak apa-apa menerima suap, sepanjang orang lain juga menerimanya. Toh, bila ada yang menghujat atau ada sanksi hukum, semua orang juga akan menanggung sanksinya. No worries. Maka, kabar tentang terciduknya para tersangka korupsi yang bagai menggantang anak ayam, barangkali karena para pelakunya berpegang pada etos komunalisme semacam ini. 

Kita boleh berteriak-teriak dengan toa, dalam berbagai aksi anti-korupsi, tapi bila sewaktu-waktu keluarga kita sendiri yang terduga sebagai pelakunya, biasanya kita tutup mulut, bersembunyi, dan sedapat-dapatnya melindungi pelaku, atas nama kecemerlangan sebuah keluarga, atas dasar nama baik sebuah lembaga, atau atas dasar kehormatan sebuah klan. Bila desakannya tak tertanggungkan, biasanya kita menunggu atau mencari momentum ketika 1-2 anggota keluarga besar terhormat yang lain, 1-2 oknum di lembaga yang lain, putra-putri terbaik dari klan atau suku yang lain, melakukan hal serupa. Dengan begitu, kita sudah satu jamaah atau satu regu dengan mereka. Tak ada lagi soal!  Korupsi berjamaah atau beregu, yang penting masuk Pak Eko…

     

-->

Jejak Islam Kultural

--> Damhuri Muhammad ( versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018 ) “Hanya Indones...