Tuesday, November 27, 2018

Jokowi App dan Politik Harapan

-->

-->
Damhuri Muhammad




“Kurang 1 Minggu, Jokowi App Diunduh 10.000 Netizen.” Demikian kabar yang tersiar hanya 4 hari selepas peluncuran aplikasi Jokowi App. Angka yang terbilang fantastis untuk ukuran aplikasi android non-entertainment itu kiranya dapat membuktikan antusiasme warganet dalam mencari kanal guna mengukur, memeriksa, dan mengonfirmasi rupa-rupa kabar perihal Jokowi-Ma’ruf Amin, kontestan nomor 1, Pilpres 2019. Saya termasuk netizen yang sudah mengunduh aplikasi berlogo pasangan JKW-MA dalam format ilustrasi-siluet itu, lantaran penasaran dengan konten-konten yang katanya dirancang guna menangkal kabar dusta perihal Jokowi dan Ma’ruf Amin, yang belakangan makin gencar.
Setelah memeriksa beberapa artikel news, termasuk ilustrasi foto, gaya penulisan, tata letak dan corak artistik kemasannya, belum terasa benar bedanya dengan aplikasi-aplikasi sejenis.  Pun, secara tematik tidak terasa menyuguhkan sajian yang berbeda dari artikel-artikel news yang saban hari bermunculan di media-media daring, meskipun dari segi volume memang lebih ringkas dan tak butuh waktu lama untuk membacanya. Yang tampak istimewa adalah kemasan ilustrasi pada rubrikasi yang terdiri dari Lebih Dekat Jokowi, Kerja Jokowi, Lebih Dekat KH Ma’ruf Amin, Indonesia Maju, Sudut Pandang, dan Suaraku. Tujuh rubrik itu disimbolisasikan dengan foto-profil dalam ekspresi dan konsep fotografi yang berbeda-beda.
Rubrik Lebih  Dekat Jokowi, misalnya, dirancang dengan foto-profil Jokowi dalam ekspresi senyum bersahaja dengan latar belakang warna-warna futuristik yang mengingatkan saya pada semarak warna dalam hingar-bingar Asian Games 2018. Konten-konten dalam rubrik itu mengandung personal branding Jokowi sebagai family-man, intimasi dengan rakyat kecil, dan kegemaran Jokowi menggunakan simbol-simbol anak muda seperti; jaket kasual, sepeda motor modifikasi, musik metal, dan sepatu sneaker.  Rubrik pertama ini semacam pintu masuk untuk mengenal personalitas Jokowi, atau lebih tepatnya memperkenalkan kembali figur Jokowi pada pemilih pemula.
Oleh karena Jokowi tak mungkin lagi semata-mata mengandalkan personal branding lantaran sudah berstatus petahana, maka rubrik kedua disajikan dengan tajuk Kerja Jokowi. Berbeda dengan rubrik pertama, foto-profil Jokowi berubah menjadi sosok pekerja dengan helm proyek warna putih dalam ekspresi yang gigih dan bersemangat. Semacam upaya untuk menampilkan Jokowi sebagai Presiden RI yang berani membuat keputusan-keputusan besar--dengan risiko yang tentu juga besar--dalam pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia. Namun, konten-konten dalam rubrik ini memunculkan kesan inkonsistensi antara nama rubrik dan isinya. Aktivitas Blusukan Pasar, Jokowi Berlutut Memeluk Bulan, Hijrah menjadi Indonesia yang lebih baik, justru menjadi bagian dari rubrik Kerja Jokowi. Hingga saat kolom ini disiarkan, belum satu pun artikel tentang jejak pembangunan proyek-proyek mercusuar yang diunggah, tidak juga untuk pencapaian bidang ekonomi, seperti kestabilan inflasi, penurunan angka kemiskinan, peningkatan indeks pembangunan manusia, dan semacamnya. Pendeknya, tidak ditemukan wacana substantif yang berkaitan dengan  makna dari “Kerja Jokowi” yang dipasang sebagai tajuk rubrik.






Kejanggalan juga terasa pada rubrik Indonesia Maju yang disimbolisasikan dengan foto-profil pasangan Jokowi-MA dalam ekspresi yang visioner (memandang jauh ke depan), karena konten-konten yang semestinya mengandung politik pengharapan dan optimisme dalam membangun kegemilangan Indonesia, malah berisi laporan-laporan peristiwa tentang kehadiran Presiden RI di berbagai forum seremonial. Satu-dua memang berisi cuplikan pernyataan Jokowi tentang ekonomi kreatif dan digital-economy, namun bingkainya masih peristiwa momentual kepresidenan. Tim konten Jokowi App rupanya masih bermasalah dengan kategorisasi tematik, dan sangat mungkin defisit konten, terutama  yang relevan dengan ketersediaan rubrikasi.
Rubrik yang potensial adalah Suaraku, tersedia sebagai wadah untuk menampung catatan testimonial netizen yang diharapkan dalam bentuk cerita. Setiap orang dapat mengunggah cerita, berikut dengan ilustrasi, yang tentu tidak akan langsung tayang seperti kita mengunggah konten di aplikasi berbasis komunitas pada umumnya, tapi harus melewati mekanisme kuratorial yang akan ketat. Tapi inilah satu-satunya kanal yang dapat membangun interaksi netizen dengan Jokowi App.
Di luar dari kejanggalan itu, Jokowi App adalah kreativitas dan inovasi tentang cara berkomunikasi yang diperlihatkan oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi di bawah pimpinan Erick Thohir. Semula saya meragukan figur muda yang sedang naik daun itu, karena setelah beberapa lama terpilih sebagai team leader kampanye, belum tampak hasil kerjanya. Saya tidak mengharapkan Erick banyak bicara, karena  ia memang bukan tipikal pekerja yang mengandalkan retorika, apalagi akrobat kata-kata, melainkan tokoh belakang layar yang jago membuat sesuatu yang mengejutkan. Keraguan saya berangsur hilang setelah Erick Cs meluncurkan Jokowi App, 17 November 2018 lalu.
Saya membayangkan, bersama timnya Erick sedang berpikir keras,  bagaimana caranya Jokowi App tak sekadar bercorak informatif, tapi juga interaktif, sehingga dengan aplikasi itu Jokowi dapat menggapai intimasi dengan kaum digital-native yang selama ini digeneralisir secara serampangan dengan istilah generasi milenial. Interaksi atau keterlibatan yang intens adalah syarat utama dari sebuah aplikasi digital untuk meningkatkan tarafnya menjadi platform. Disinyalir oleh para ahli, sejauh ini di Indonesia, aplikasi digital yang sudah mengarah pada platform baru Go-jek (dengan fasilitas Go-Pay), Kaskus (dengan fasilitas forum-forum diskusinya) dan Bukalapak (dengan fasilitas Bukadompet). Pengukuran biasanya dilakukan pada tingkat ketergantungan user pada setiap aplikasi digital.
Ketika netizen semakin intens berinteraksi, baik dengan tim Jokowi, maupun dengan sesama pengguna aplikasi, maka pada level tertentu  platform akan meningkat menjadi  digital-ecosystem, di mana Jokowi App tidak lagi sekadar dirancang demi marjin elektoral sebagaimana itikad awalnya, tetapi sudah menjadi wadah interaksi permanen yang tak bisa dibubarkan begitu saja pasca Pilpres. Saya tidak berharap banyak pada taraf ini, karena rasanya terlalu ambisius untuk pekerjaan yang dibatasi tenggat waktu 6 bulan, tapi level platform belum mustahil digapai. Saya membayangkan tim kreatif sedang memikirkan sayembara-sayembara seperti lomba disain logo merchadise JKW-MA, lomba video yel-yel dukungan JKW-MA, lomba foto Instagram, termasuk lomba motion-graphics simulasi pencoblosan surat suara dan semacamnya, yang semua prosedur kepesertaannya terkait secara langsung dengan Jokowi App. Intinya menyediakan ruang bagi digital-native dengan memperlakukan mereka sebagai subyek, bukan semata-mata obyek dari konten-konten yang tersaji.
Dengan begitu, Jokowi App yang dirancang dengan kreativitas, inovasi, dan etos kolaborasi, dapat menjadi jawaban dari  ajakan pasangan JKW-MA untuk berhijrah dari psikologi ketakutan ke politics of hope dengan keberanian dan optimisme, dari ujaran kebencian yang memecah belah menuju ujaran yang menyatukan, dari kebuntuan akibat kebencian menuju iklim kekaryaan yang  membiakkan macam-macam keteladanan…                                 




Thursday, November 22, 2018

Hinalah Saya, Agar Kami Sama-sama Menanggungnya...



-->


Damhuri Muhammad




Dalam hitungan yang janggal, bagi sejumlah warganet, ujung dari bulan Oktober 2018, bukan berakhir di tanggal 31, tapi dapat diperpanjang hingga 31,32, 33, dan seterusnya. Apa pasal? Mereka menanti peluncuran mobil Esemka, sebagaimana yang dikabarkan oleh Cawapres 01, KH Ma'ruf Amin, dalam sebuah forum di Jember, beberapa waktu sebelumnya.


Perpanjangan waktu untuk mempertahankan bulan Oktober 2018 tak lain adalah kiasan yang digunakan netizen atas "janji" MA yang tak kunjung terwujud. Jangankan wujud mobil Esemka, pabrik yang disebut-sebut MA sedang melakukan produksi massal  itu, tak jelas di mana rimbanya. Atas dasar itu netizen kecewa, dan menuding MA telah mengumbar kabar dusta.


Tak lama berselang, dan belum tuntas perkara hinaan yang langsung diacungkan ke wajah MA, mantan Rais 'Am NU dan Ketua MUI itu diserang lagi dengan peluru yang baru. Kali ini ia dituding, lagi-lagi mengumbar kabar dusta perihal Jokowi akan bagi-bagi sertifikat tanah untuk petani. Masih dapat diperdebatkan duduk perkara soal ini, tapi poin saya adalah, sekali lagi ia menjadi sasaran cercaan dan makin warganet.





Tak berhenti sampai di situ. Hanya dalam hitungan hari, bully-an netizen kian bertambah-tambah, utamanya setelah tersiar kabar tentang kata "buta" dan "budek" (tuli) yang dikiaskan MA untuk orang-orang yang tak terpanggil lagi hatinya melihat dan mendengar hal-hal yang baik di era pasca fakta ini. Tak tanggung-tanggung, MA didesak untuk minta maaf, karena telah menyinggung perasaan saudara-saudara kaum difabel.


Dalam situasi ketika tudingan pembohong dan pelaku penghinaan fisik terhadap kaum difabel diarahkan ke batang hidungnya, makian bagai beranak-pinak, melanda personalitas MA. Dalam kontroversi siapa yang berperan membebaskan Habib Rizieq Shihab pada sebuah pemeriksaan oleh otoritas kepolisian Saudi Arabia, MA pun terseret dan dituding pendusta. Apa pasal? Secara gamblang ia menyatakan, HRS bebas karena ada peran Konsulat Jenderal RI Saudi, yang kemudian ternyata memunculkan kabar bantahan. Lalu, jadilah tudingan pendusta itu semakin tegas ditudingkan pada MA.


Tak hanya itu, soal pernyataan MA yang menyebut Jokowi sebagai Santri Situbondo pun, kemudian membuat ia bagai tak henti-henti menjadi bulan-bulanan netizen. Ini baru permulaan. April 2019 terbilang masih jauh. Saya bisa membayangkan betapa santri-santri MA, jamaah, dan kyai-kyai yang selama ini menghormatinya, tentu mengurut dada, dan barangkali juga tidak tega melihat guru dan panutan mereka, dihujani umpat-cerca yang tak reda-reda.

Tapi yang menakjubkan adalah para santri yang jumlahnya mungkin ratusan ribu, jamaah dan segenap tokoh-tokoh pesantren yang menghormati MA, justru diam seribu bahasa, dan bersikap seperti menghadapi angin lalu belaka. Sama sekali tak ada pembelaan yang berarti, tak ada protes, apalagi kemarahan yang meluap-luap. Dingin-dingin saja. Datar-datar saja. Seperti tak terjadi apa-apa.

Setelah merenung beberapa lama, sambil terus membayangkan wajah Kyai Ma'ruf Amin yang tetap sejuk dan bercahaya, saya akhirnya beroleh i'tibar bahwa bukankah bagi seorang ulama besar sekaliber MA, batas antara dipuji dan dicaci hanya setipis kulit bawang, atau barangkali sudah tidak ada lagi batas itu, alias sama belaka. Bukankah itu pula yang selama ini ia tanamkan sebagai laku asketik pada segenap santri-santrinya, hingga mereka melihat suasana yang sedang mengepung kyai mereka bukanlah sesuatu yang gawat atawa perkara yang genting. Dengan begitu, sebesar apapun hinaan atawa makian yang melanda, Insya Allah tiada bakal mempan, dan tidak akan menggoyahkan itikad MA untuk memperbaiki bangsa ini menjadi lebih bermartabat.

Bila diperiksa secara saksama, tengoklah, MA seolah-olah menyerahkan diri untuk dicerca, membiarkan reputasinya dirusak sedemikian rupa, lalu seperti pasrah menerima sinisme bahkan gelombang fitnah yang bertubi-tubi. Jangan-jangan, begitulah cara dia memberi tauladan. Seperti sufi yang telah meniadakan ukuran pujian dan hinaan dalam kesehariannya. Seperti Nabi yang alih-alih membalas perlakuan orang yang memfitnahnya, malah berbalik mendoakan keselamatan orang itu.

Jangan-jangan, karena Jokowi sudah terlalu banyak menanggung kedengkian, hasutan, dan tuduhan ini-itu, Ma'ruf Amin ingin sedikit mengambil jatah itu, ingin ikut memikul beban itu, ingin sedikit mencicipi nikmatnya anggur  kedengkian itu, ingin membuat Jokowi sedikit ringan melangkah, hingga leluasa untuk terus bekerja. Maka, "Hinalah saya, supaya kami sama-sama menanggungnya..."


Damhuri Muhammad
kolumnis


Usaha Meraih Kepandiran

--> Damhuri Muhammad “Saya ingin menjadi Barbie sejati. Dan, saya sungguh ingin menjadi orang yang tak punya otak,...