Hinalah Saya, Agar Kami Sama-sama Menanggungnya...



-->


Damhuri Muhammad




Dalam hitungan yang janggal, bagi sejumlah warganet, ujung dari bulan Oktober 2018, bukan berakhir di tanggal 31, tapi dapat diperpanjang hingga 31,32, 33, dan seterusnya. Apa pasal? Mereka menanti peluncuran mobil Esemka, sebagaimana yang dikabarkan oleh Cawapres 01, KH Ma'ruf Amin, dalam sebuah forum di Jember, beberapa waktu sebelumnya.


Perpanjangan waktu untuk mempertahankan bulan Oktober 2018 tak lain adalah kiasan yang digunakan netizen atas "janji" MA yang tak kunjung terwujud. Jangankan wujud mobil Esemka, pabrik yang disebut-sebut MA sedang melakukan produksi massal  itu, tak jelas di mana rimbanya. Atas dasar itu netizen kecewa, dan menuding MA telah mengumbar kabar dusta.


Tak lama berselang, dan belum tuntas perkara hinaan yang langsung diacungkan ke wajah MA, mantan Rais 'Am NU dan Ketua MUI itu diserang lagi dengan peluru yang baru. Kali ini ia dituding, lagi-lagi mengumbar kabar dusta perihal Jokowi akan bagi-bagi sertifikat tanah untuk petani. Masih dapat diperdebatkan duduk perkara soal ini, tapi poin saya adalah, sekali lagi ia menjadi sasaran cercaan dan makin warganet.





Tak berhenti sampai di situ. Hanya dalam hitungan hari, bully-an netizen kian bertambah-tambah, utamanya setelah tersiar kabar tentang kata "buta" dan "budek" (tuli) yang dikiaskan MA untuk orang-orang yang tak terpanggil lagi hatinya melihat dan mendengar hal-hal yang baik di era pasca fakta ini. Tak tanggung-tanggung, MA didesak untuk minta maaf, karena telah menyinggung perasaan saudara-saudara kaum difabel.


Dalam situasi ketika tudingan pembohong dan pelaku penghinaan fisik terhadap kaum difabel diarahkan ke batang hidungnya, makian bagai beranak-pinak, melanda personalitas MA. Dalam kontroversi siapa yang berperan membebaskan Habib Rizieq Shihab pada sebuah pemeriksaan oleh otoritas kepolisian Saudi Arabia, MA pun terseret dan dituding pendusta. Apa pasal? Secara gamblang ia menyatakan, HRS bebas karena ada peran Konsulat Jenderal RI Saudi, yang kemudian ternyata memunculkan kabar bantahan. Lalu, jadilah tudingan pendusta itu semakin tegas ditudingkan pada MA.


Tak hanya itu, soal pernyataan MA yang menyebut Jokowi sebagai Santri Situbondo pun, kemudian membuat ia bagai tak henti-henti menjadi bulan-bulanan netizen. Ini baru permulaan. April 2019 terbilang masih jauh. Saya bisa membayangkan betapa santri-santri MA, jamaah, dan kyai-kyai yang selama ini menghormatinya, tentu mengurut dada, dan barangkali juga tidak tega melihat guru dan panutan mereka, dihujani umpat-cerca yang tak reda-reda.

Tapi yang menakjubkan adalah para santri yang jumlahnya mungkin ratusan ribu, jamaah dan segenap tokoh-tokoh pesantren yang menghormati MA, justru diam seribu bahasa, dan bersikap seperti menghadapi angin lalu belaka. Sama sekali tak ada pembelaan yang berarti, tak ada protes, apalagi kemarahan yang meluap-luap. Dingin-dingin saja. Datar-datar saja. Seperti tak terjadi apa-apa.

Setelah merenung beberapa lama, sambil terus membayangkan wajah Kyai Ma'ruf Amin yang tetap sejuk dan bercahaya, saya akhirnya beroleh i'tibar bahwa bukankah bagi seorang ulama besar sekaliber MA, batas antara dipuji dan dicaci hanya setipis kulit bawang, atau barangkali sudah tidak ada lagi batas itu, alias sama belaka. Bukankah itu pula yang selama ini ia tanamkan sebagai laku asketik pada segenap santri-santrinya, hingga mereka melihat suasana yang sedang mengepung kyai mereka bukanlah sesuatu yang gawat atawa perkara yang genting. Dengan begitu, sebesar apapun hinaan atawa makian yang melanda, Insya Allah tiada bakal mempan, dan tidak akan menggoyahkan itikad MA untuk memperbaiki bangsa ini menjadi lebih bermartabat.

Bila diperiksa secara saksama, tengoklah, MA seolah-olah menyerahkan diri untuk dicerca, membiarkan reputasinya dirusak sedemikian rupa, lalu seperti pasrah menerima sinisme bahkan gelombang fitnah yang bertubi-tubi. Jangan-jangan, begitulah cara dia memberi tauladan. Seperti sufi yang telah meniadakan ukuran pujian dan hinaan dalam kesehariannya. Seperti Nabi yang alih-alih membalas perlakuan orang yang memfitnahnya, malah berbalik mendoakan keselamatan orang itu.

Jangan-jangan, karena Jokowi sudah terlalu banyak menanggung kedengkian, hasutan, dan tuduhan ini-itu, Ma'ruf Amin ingin sedikit mengambil jatah itu, ingin ikut memikul beban itu, ingin sedikit mencicipi nikmatnya anggur  kedengkian itu, ingin membuat Jokowi sedikit ringan melangkah, hingga leluasa untuk terus bekerja. Maka, "Hinalah saya, supaya kami sama-sama menanggungnya..."


Damhuri Muhammad
kolumnis


Comments

Popular posts from this blog

Yudi Latif dan Kuliah Umum tentang Keadilan

Lelaki Ragi dan Perempuan Santan