Adab Meratap Bagi yang Kalah


-->
Cerpen: Damhuri Muhammad



Kau boleh takabur. Bebas untuk sesumbar, dan tiada larangan berkacak pinggang sambil mendabik dada dengan rupa-rupa keangkuhan. Boleh jadi saban hari kau berangan-angan tentang kejayaan, kekuasaan, bahkan kedigdayaan. Tapi, dalam setiap pertarungan yang telah dan akan dihadapi oleh kaummu, sepanjang bumi masih berputar, anak-cucumu tak akan pernah mewarisi buku catatan kemenangan. Ingatlah, sejak dunia ini mulai terkembang hingga kelak ditenggelamkan seperti Kapal Nuh, riwayat panjang kaummu telah ditakdirkan sebagai penumpang biduk kalah. Kalian telah dikutuk sebagai pecundang abadi. Camkanlah itu!
Oleh karena timbunan kenangan tentang kaum yang  kau  berhalakan itu hanyalah kitab kekalahan, maka tak akan pernah ada kegembiraan, dan jangan berangan-angan tentang gegap gempita pesta-pesta kemenangan. Dari riwayat demi riwayat pertempuran yang telah merusak-binasakan daya juang orang-orang kalian, dan tentu saja meremukkan perasaan para tetua kalian, maka yang paling mungkin dapat kalian lakukan hanyalah meratapi kekalahan.
Namun, menangis sesenggukan sembari menghentak-hentakkan kaki di lantai rumah kayu, atau mengguling-gulingkan tubuh letih kalian di pekarangan gersang, hanya akan membuat kesedihan itu semakin dalam. Menyesali kehebatan dan kepilih-tandingan yang tiada kunjung membuahkan hasil dengan linangan airmata, hanya akan semakin mengoyak-ngoyak dan meruyakkan luka-luka kekalahan yang tiada kunjung sembuh itu. Maka, secara cuma-cuma, akan kuberi kalian sebuah petunjuk tentang adab meratap yang lebih modern. Semacam cara merawat kepedihan yang jikalau kalian lakukan dengan sungguh-sungguh, niscaya bakal mendatangkan keriang-gembiraan sesaat, dan jikalau diamalkan secara rutin dengan penuh kedisiplinan, boleh jadi akan mendedahkan kebahagiaan yang berusia panjang.


ilustrasi: Unsplash 


1.               Mereka Menang karena Curang

Perihal adab meratap paling mula ini, telah aku tuangkan dalam bentuk kisah masa kanak-kanak.  Kira-kira begini ceritanya;

Zulfikar Bamekblok sedang kecanduan bermain catur. Maklumlah, ia baru saja merasa mahir menggeser-geser bidak dalam permainan adu strategi itu. Konon, ia belajar secara otodidak dari tayangan youtube. Sesumbar sudah menguasai  banyak taktik dan siap menghadapi lawan pilih tanding. Di perempatan kecil, kawasan padat, pinggiran kota perantauan, tempat warga biasa nongkrong sambil bermain catur, Zulfikar begitu percaya diri menantang Abdul Mustajab. Berkali-kali salah langkah, berkali-kali pula ia minta diulang, dengan alasan kurang fokus atau kurang konsentrasi. Berkali-kali kalah, tapi ngotot ingin main lagi dan main lagi, dengan harapan pada permainan penghabisan ia dapat meraih kemenangan.  Abdul Mustajab meladeni Zulfikar dengan segala macam tingkah kekanak-kanakannya. Banyak yang jengkel melihat kesabaran Mustajab. Banyak mengalah, memaklumi, memaafkan, agar Zulfikar nyaman bermain, dan tak mudah terpancing emosi.
Sekali waktu, Mustajab ingin menguji kesabaran Zulfikar. Ia menyerang habis-habisan. Semua taktik amatiran Zulfikar patah dengan cara tak terduga. Zulfikar kelabakan. Ia kalah bertubi-tubi.
            “Curang! Kau menyerang terus. Saya sudah babak-belur, kenapa kau hajar terus?”
          “Sejak kapan taktik menyerang itu disebut curang?” ketus seorang pemandu sorak. Sinis.
          “Maunya dia saja yang menyerang. Orang diminta bertahan terus? Amatir tengik kau!” bisik penonton lain.
Zulfikar benar-benar terdesak. Bergerak satu langkah lagi, ia dipastikan tumbang. Tak ada cara untuk selamat dari gempuran Mustajab.
        “Saya mati langkah. Mari kita bubar saja…” kata Zulfikar, berharap dukungan penonton.
            “Bubar? Selesaikan dulu. Satu langkah lagi, ko’id  kau…”
            “Pokoknya saya mau bubar! Saya  tidak mau main lagi. Paham kalian?”

Senyap seketika. Gertakan Zulfikar terdengar begitu mengerikan. Maklumlah, ia pensiunan tentara. Masih tampak sisa-sisa kebengisan di raut mukanya. Bila terus diladeni, ia bisa ngamuk betul-betul. Bisa melayang ke udara itu papan catur.
           Dari kisah sederhana itu, selayaknya kalian meneladani etos dan kepribadian Zulfikar Bamekblok. Bahwa bila kekalahan sudah tak terelakkan, segeralah perlihatkan tampang sangar, tampakkan pangkal lengan besar, lalu gertak lawan tanding dengan tudingan kecurangan. Sebarluaskan pesan itu ke setiap penjuru kampung, bahwa jangan sekali-kali mengakui keunggulan, apalagi kemenangan lawan.  Sebab, kaum kalian yang hebat dan terpandang itu hanya dapat dikalahkan dengan kecurangan. Tanamkan sebuah ajaran dasar pada anak-cucu kalian, bahwa sportivitas dan lapang dada menerima kekalahan adalah tidak beriman!

Ilustrasi oleh Langit Amaravati


2.              Tanamkan Kebencian pada Pemenang

Di masa silam, tersebutlah kisah tentang sebuah kaum yang didera kekalahan dalam ajang pemilihan Presiden. Konon, sebagian besar warganya tak menyukai calon pemimpinnya, hanya karena menurut selera purba mereka, calon itu tak punya tampang pemimpin. Bagi mereka, yang bakal menjadi harimau itu sudah belang sejak mula. Sementara si calon yang tak mujur itu, untuk menjadi tikus saja, tak menampakkan ekor sedikit pun. Segelintir orang saja yang diam-diam menaruh hormat. Tapi apalah daya, calon yang dipandang remeh itu, rupanya berhasil meraup dukungan dari kaum yang lain, dan akhirnya ia berhasil menduduki kursi Presiden.
Kaum yang kalah itu terus-menerus mencerca Presidennya, bahkan ada yang lantang bersuara; Kami Tidak Makan Infrastruktur. Suatu ketika sebuah jembatan ambruk di jalur nadi wilayah kaum itu. Presiden yang senantiasa dihujat dan dihina itu selekasnya berkata; “Lalu lintas putus karena jembatan ambruk. Ini jalur nadi perekonomian. Pemerintah telah merakit jembatan sementara untuk memulihkan kembali jalur penting itu. Tahun depan kita bangun jembatan permanen!” Demikian pemimpin yang tak dihormati itu hendak membangun sebuah jembatan hati,  guna menghubungkan hatinya dengan hati rakyat, yang belum tentu akan beralih menyukainya.
I’tibar yang  dapat digali dari kisah sederhana itu adalah, jangan sekali-kali tergoda untuk menerima itikad baik pemimpin yang kalian benci. Katakan saja, membangun jembatan dan semacamnya itu memang tugas dan tanggung jawab pemerintah, dan lagi pula kalian sudah membayar pajak, bukan? Selanjutnya, berlaku dengkilah terhadap segala pekerjaan yang telah dilakukan pemimpinmu. Ajaran pokoknya adalah tidak akan pernah ada yang benar, sepanjang pekerjaan itu dilakukan oleh pemimpin yang bukan pilihan kalian.
Presiden membangun jalan tol, pelabuhan udara, pastikan itu tiada berguna, bahkan hanya akan semakin menumpuk utang negara. Presiden membebaskan rakyatnya dari biaya sekolah dan biaya berobat, itu juga salah besar, karena hanya akan membuat rakyat tidak mandiri dan sudah pasti menghambur-hamburkan triliunan uang negara. Pokoknya dalam hal apa saja, kalian salahkan saja Presiden itu. Panen gagal, adalah salah Presiden. Harga telur anjlok atau harga jengkol lebih mahal dari harga daging, juga salah Presiden. Perkampungan kalian yang kerap dihantam bencana, mungkin juga karena ulah Presiden yang tak becus bekerja. Bila perlu, kalau ada kabar tentang kucing belang yang beranak-pinak di dapur istana negara, salahkan juga Presiden yang tak kalian inginkan itu. 
Bila kalian dikutuk sebagai orang-orang yang senantiasa kalah, maka Presiden yang terus kalian olok-olok dan kalian tertawakan itu adalah orang yang dikutuk sebagai pemimpin yang selalu salah di mata rakyatnya. Begitu rumus kebencian yang perlu kalian gunakan!   

3.              Berhalakan Kejayaan Masa Silam

Bukankah kaummu adalah puak yang  konon jumawa di masa silam? Leluhur dan nenek moyangmu adalah orang-orang yang punya andil besar dalam mendirikan bangsa besar ini. Para cerdik-pandai jebolan universitas-universitas ternama di Eropa, yang tanpa keterlibatan mereka, negara tempat bermukimnya berbagai kaum ini belum tentu tegak sebagaimana kini. Maklumatkanlah kejayaan masa lalu kaummu, terutama tentang orang-orang hebat yang lahir dari lembaga yang kalian beri nama Industri Otak. Pemikir jempolan, diplomat ulung, politisi kawakan, ideolog mumpuni, pakar tiada lawan, yang sejauh ini  belum terlahir dari kaum yang lain. 
Dalam setiap obrolan, gunakanlah cerita berulang dari kurun golden age itu sebagai mukaddimah sebelum kalian membincang hal-ihwal yang lain. Pukul mental setiap lawan bicaramu dengan tarikh-tarikh pendek tentang ketersohoran orang-orang yang tumbuh besar dalam kaummu. Akan lebih dahsyat lagi bila kau dapat meyakinkan banyak orang bahwa salah satu dari tokoh-tokoh besar itu memiliki hubungan kekeratan dengan silsilah keluarga besarmu.  Tegaskanlah pada setiap kesempatan berbicara bahwa dulu--sekali lagi dulu--orang-orang tua kami adalah para pahlawan yang jasa-jasanya tak akan terbalas oleh republik yang kini saudara-saudara huni. Tanpa ide dan gagasan-gagasan brilian mereka, kalian hanya akan menjadi rakyat yang membungkuk-bungkuk di hadapan raja-raja Jawa. Dari orang-orang penting yang lahir dari rahim kaum kami itulah sendi-sendi dasar negara--yang kini dikuasai orang lain itu--dipancangkan. Mereka orang-orang terpilih,  orang-orang istimewa yang isi kepalanya cairan otak semua, yang setiap kalimatnya adalah sabda, yang lalu dikutip oleh sekian banyak buku, dan diteliti banyak sarjana, dalam maupun luar negeri.
Dalam karnaval-karnaval kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu itu, jangan segan-segan kau merendahkan kaum yang tak mampu melahirkan siapa-siapa kecuali bangsa tukang atau begundal-begundal keparat yang alih-alih memberi sumbangsih pada negara, malah kekenyangan selepas makan besar di istana negara. Abaikanlah pertanyaan-pertanyaan ganjil semacam; (1) Kalau memang ada politisi handal dan piawai, kenapa tak seorang pun dari mereka yang berhasil menggapai pucuk kekuasaan? (2) Kenapa republik ini melulu dikuasai oleh orang-orang dari kaum lain, sementara tokoh-tokoh besar yang kau banggakan itu tersingkir ke tepi-tepi?  (3) Dari kaum yang menurutmu telah melahirkan negarawan yang berpikiran terbuka, kenapa generasi penerusnya hanya menjadi gerombolan yang bernapas dengan sumbu pendek, yang gemar memelihara kebencian, gandrung membaca persoalan dengan kacamata kuda, dan mudah menyala amarahnya? Tak perlu kalian tanggapi sinisme seperti itu. Anggap saja orang-orang yang meragukan kemuliaan kaummu sebagai gerombolan kurang terdidik yang tak suci hatinya.
Lalu, bila ada anak-anak muda kaummu yang membelot dan tidak mau menjadi jamaah dari khutbah-khutbah kebencian para tetuamu, kutuk dan sumpahilah mereka sebagai malin kundang kontemporer yang tidak tahu bagaimana cara membalas guna. Usir mereka dari lingkaran dan silsilahmu yang bermartabat adiluhung itu. Anggap saja mereka sebagai anak-anak haram jadah yang tak diinginkan kelahirannya. Hukumlah mereka dengan mengembuskan kebencian tingkat dewa, sebagaimana kebencianmu pada musuh-musuh yang telah mengalahkanmu. Tanamkan pelajaran penting pada anak-cucumu, bahwa yang tak mahir merawat kebencian, tak bakal dapat bagian. Yang tak ikut ambil bagian dalam kenduri-kenduri silaturahmi berisi pesan-pesan kebencian adalah selemah-lemahnya daya juang.       
Ringkasnya, bergembiralah dengan cara memuja kebesaran kaummu di masa lalu, berbahagialah dengan senantiasa menghina kaum lain--yang barbar, dekaden, dan pandir---lantaran tak dilahirkan dari leluhur berdarah biru. Iri, dengki, benci, hujat dan caci-maki, adalah semacam rukun yang mesti kalian penuhi demi meraih bahagia dalam nganga luka lantaran kekalahan berkepanjangan.   
Demikian tiga petunjuk jitu guna melawan kepedihan akibat kekalahan berkesinambungan. Dengan tiga petunjuk yang kuberikan secara gratis ini, kalian dapat menutupi raut muka yang terluka. Yang bakal tampak di permukaan hanyalah keriangan dan suka cita,  meskipun nun di kedalaman, isinya penuh sesak oleh ratapan.  Kunamai tiga petunjuk itu dengan adab meratap bagi yang kalah. Bila dilakukan secara khidmat, niscaya kaummu akan ternobat sebagai juara dalam menyembunyikan ratap kekalahan...  

Depok, 2019
                 

Comments

Popular posts from this blog

Bahkan Bila Inneke jadi Tersangka, Ranjang itu Tak Akan Ternoda