Monday, July 22, 2019

Wajah Indonesia dari Pantauan Udara



Oleh DAMHURI MUHAMMAD



Main isu apa kita hari ini? Begitu cuitan ringan yang terbaca di linimasa Twitter pada sebuah pagi di bulan Januari 2019. Sepintas lalu, tak ada yang istimewa dari kalimat ringkas itu, apalagi jika menimbang nama akun yang tampak ganjil, alias anonim. Tapi, setidaknya kalimat yang mengandung tanda tanya itu tersimak sebagai bahasa kiasan tentang betapa ruang perbincangan di media sosial (Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, dan semacamnya) telah menjadi hamparan luas bagi sebuah usaha bernama; “Peternakan Isu.” Saban hari, isu bagai digembalakan, diberi asupan pakan yang berlebih-lebihan,  beranak-pinak, berkembang biak dalam hitungan menit, lalu digiring ke mana-mana sesuai keinginan para peternak.

Foto: Damhuri Muhammad 

            Adalah pekerjaan yang tak terlalu sulit jika di pagi buta media-media arus utama telah menyediakan sebuah “Isu Panas”.  Katakanlah misalnya, keriuhan yang muncul akibat protes seorang petinggi partai terhadap kehangatan antara Presiden Jokowi dengan Jan Ethes yang tak lain adalah cucu pertamanya. Pasalnya sederhana, terlalu sering memamerkan aktivitas “bermain dengan cucu” di masa kampanye Pilpres 2019 disinyalir sebagai pelanggaran, karena mengekspolitasi anak di bawah umur.  Pro-kontra pun segera memenuh-sesaki linimasa. Barisan pemandu sorak (baik yang berbayar atau pendukung suka rela) berbalik “menyerang” tudingan itu.  Macam-macam argumentasi dimaklumatkan dengan rupa-rupa meme, video pendek, komik, animasi dan semacamnya, yang pada intinya adalah memastikan bahwa tudingan “eksploitasi anak di bawah umur” tersebut tak berdasar, karena Presiden Jokowi tak mungkin dilarang untuk menggendong cucunya dalam keramaian. Alih-alih beroleh pembenaran atas “serangan”-nya, elit partai yang dimaksud malah jadi bulan-bulanan selama berhari-hari, dengan volume perbincangan mencapai ratusan ribu, bahkan sampai pada titik yang mendistorsi reputasinya sebagai politisi senior.
            Sebaliknya, dari isu yang sedang menjalar ke mana-mana itu, personal branding Jokowi sebagai  Family Man semakin terkukuhkan dan tanpa disengaja, warganet akhirnya membuat contrasting tajam antara Jokowi sebagai orang yang berhasil memimpin keluarga dengan kandidat kompetitor (Prabowo Subianto) yang dipersepsikan sebagai figur yang gagal dalam membina kehidupan rumah tangga.  Dengan begitu, keberatan elit politik di atas rupanya berimplikasi besar terhadap munculnya sentimen negatif pada figur Prabowo.
         Namun, tingginya volume percakapan (biasanya dapat mencapai ribuan) dan tingginya engagement (Retweet, Like, Reply, Mention) terhadap isu tersebut, tidak selalu berlangsung secara normal dan alamiah. Dari kedua belah pihak yang sedang berkompetisi, terdeteksi semacam CyberTroops (Pasukan Dunia Maya) yang bekerja dengan akun-akun robot guna meramaikan perbincangan hingga kemudian tercapailah apa yang biasa dikenal dengan Trending Topic. Tak dipungkiri bahwa dalam setiap isu selalu ada Top Influencer dengan ratusan ribu bahkan jutaan pengikut (politisi, pengamat, musisi, artis, ulama, atau aktivis medsos), tapi pemberdayaan robot (biasa disebut BOT) dalam “peternakan isu” juga tak bisa disembunyikan.
            Seperti apa robot-robot bekerja di dunia maya, dan siapa majikan dari robot-robot itu, adalah salah satu pokok perhatian dalam serial buku Membaca Indonesia (Jilid 1-4) karya Ismail Fahmi ini.  Bila di masa lalu, para analis media melakukan aktivitas media monitoring secara manual dengan meng-kliping setiap berita yang muncul di media cetak, di era big data ini pekerjaan itu secara cepat dapat dilakukan secara digital.  Dinamika isu yang setiap hari meriuhkan jagat maya, popularitas, favoribilitas, bahkan hingga daya rusaknya terhadap banyak persoalan, kini dapat dilakukan secara digital, dengan “menghisap” data perbincangan melalui perangkat bernama Social Network Analysis (SNA). Ismail Fahmi merancang kerangka kerja SNA itu berdasarkan algoritma big data yang dapat memantau content dalam 4 platform, yaitu Online News, Twitter, Facebook, Youtube dan Instagram, yang kemudian ia namai dengan Drone Emprit (DE). Tanpa bersusah payah melakukan kategorisasi dan kalkulasi, mesin yang menggerakkan DE secara real time dapat mengeluarkan data hasil pantauan secara kuantitatif (angka ril dan prosentase), baik dalam bentuk tabel, grafik, maupun kurva.
         Berdasarkan filter “kata kunci” yang relevan,  hampir tak ada  isu yang luput dari “tangkapan” DE. Volume dan trend  merupakan dua kategori yang nyaris dapat diperoleh secara instan, sementara kurva sentimen membutuhkan sedikit pekerjaan “data cleansing” guna memastikan akurasi dan presisinya. Dalam hal memetakan sentimen atas setiap isu yang sedang menjadi perhatian, engine DE membutuhkan semacam Machine Learning hingga kemudian terasah menjadi mesin cerdas.  Tak kurang dari 118 esai analisis media terhimpun dalam 4 jilid buku yang dibuhul dengan judul Membaca Indonesia ini, dihasilkan dari mengolah hasil temuan SNA. Mulai dari perang tagar  #2019GantiPresiden versus #2019TetapJokowi, Kisruh Bulog versus Mendag, #SkandalSandiagaUno, Pidato Games of Thrones, Gabener atau Goodbener, Politikus Sontoloyo, #SaveMukaBoyolali, Sandiaga Melangkahi Makam Kyai, Reuni PA 212, Akuisisi Saham Freeport, Tol Trans Jawa, Hoaks 7 Kontainer, Propaganda Rusia, #SandiwaraUno, hingga Menteri Pencetak Utang, dalam rentang waktu pantauan sejak September 2018 hingga Februari 2019.
Isu-isu besar yang telah menggemparkan media daring dan jagat linimasa dalam rentang waktu kampanye Pilpres 2019 tersebut dipetakan berdasarkan volume percakapan (popularitas), trend sentimen (favoribilitas), Top Influencer (dalam hal distribusi pesan), yang kemudian berimplikasi terhadap temuan-temuan tentang pola penggiringan isu (baik secara alamiah maupun dengan pemberdayaan  buzzer-buzzer berbayar), bilangan usia sebuah isu, target-target tak terlihat dari setiap gelagat “beternak” isu,  fakta-fakta tentang isu yang justru bekerja seperti "senjata makan tuan", pola-pola kontra-narasi dari pihak yang merasa diserang, bahkan hingga potensi-potensi kisruh di dunia nyata  akibat agitasi dan propaganda tak sudah-sudah di dunia maya.
Foto: Damhuri Muhammad 



Analisis media berbasis SNA yang sejak lima tahun belakangan ini digunakan oleh Drone Emprit tentu bukan tanpa kelemahan. Sejauh ini kerja penjaringan data pada lima platform yang telah disinggung di atas, masih berbasis teks, dan itupun yang paling maksimal hanya di Twitter (karena platform ini lebih terbuka ketimbang Facebook, Instagram, dan Youtube) dan Online News. Sementara wilayah tangkapan data di platform Facebook, lantaran sistem yang ketat dan tertutup, hanya dapat dilakukan pada FanPage (akun personal tak bisa ditembus), lalu di Instagram hanya dapat ditangkap pada kolom komentar.  Data dalan bentuk video, baik di Youtube maupun Instagram (yang kini telah menjadi ikon dari “kuasa visual”) tak dapat ditangkap oleh mesin SNA yang kerja pencariannya masih berbasis teks.
Terlepas dari kelemahan yang tentu sudah dipikirkan oleh talenta-talenta kreatif di Drone Emprit, serial buku Membaca Indonesia ini dapat diposisikan sebagai cara mengamati Indonesia dengan kaca mata yang jernih, berimbang, dan terukur. Rupa-rupa “contoh kasus” yang  dihadirkan para analis dalam buku ini dapat menjadi panduan bagi pembaca (yang tentu juga adalah netizen yang terlibat), guna menimbang setiap wacana secara penuh perhitungan, tak mudah tersesat, apalagi hanyut dalam gelombang besar samudera big data yang tiada batasnya. Lalu, kita akan main isu apa ini hari?    



(DATA BUKU. Judul: Membaca Indonesia (serial). Penulis: Ismail Fahmi, dkk. 
Penerbit:  Media Kernels, Jakarta.Cetakan:  I, Mei 2019. Tebal:  4 Jilid)
                  

Jejak Islam Kultural

--> Damhuri Muhammad ( versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018 ) “Hanya Indones...