Monday, August 12, 2019

Ikhtiar Mengikis Kedengkian




Damhuri Muhammad



(versi cetak artikel ini tersiar di Harian Kompas, Selasa, 6 Agustus 2019)




Ada pengalaman tak lazim di sebuah Musholla kecil, wilayah Beji-Depok (Jabar), terutama saat kultum selepas subuh. Jamaah  khusyu’ mendengar tausiah pendek yang disampaikan oleh entah siapa. Disebut “entah siapa,” karena narasumbernya langsung saja berkisah tentang perjalanan ribuan laron menuju pusat cahaya, tanpa mukaddimah, juga tanpa pengantar ta’mir Musholla. Tak ada pergeseran posisi duduk jamaah dari posisi selepas shalat subuh. Hijab pembatas shaf laki-laki dan shaf perempuan pun tak disingkapkan, hingga jamaah ibu-ibu hanya dapat menyimak audio dari pengeras suara, tanpa bertatap muka dengan ustadz. Demikian pula dengan jamaah laki-laki. Dalam posisi bersimpuh yang belum berubah, mereka hanya melihat sedikit pergeseran kabel mikrofon yang secara perlahan diarahkan ke tempat duduk ustadz, yang rupanya akan bertugas pagi itu. Tausiah tak disampaikan di mimbar yang sebenarnya tersedia di samping mihrab. Ustadz tetap duduk dalam posisi semula, bersamaan dengan jamaah shaf pertama.
            Namun, tamsil alegorik yang menggambarkan petualangan panjang para salik menuju hadirat Tuhan, melalui cerita tentang kawanan laron yang patah sayap sebelum tiba di pusat cahaya, atau tentang seekor laron yang hangus terbakar lalu tiada, dalam pusaran cahaya yang sudah lama dirindukannya, mengalir begitu khidmat. Tanpa nada berteriak-teriak atau seperti membentak-bentak sebagaimana yang lazim terjadi pada dakwah mimbar. Tak ada bisik-bisik, tak ada pula yang menguap lantaran mengantuk. Semuanya menunduk dan terhanyut dalam kisah laron menuju pusat cahaya, yang dinukilkan ustadz dengan bahasa yang menggugah perasaan.


Ilustrasi: www.artmajeur.com




         Usut punya usut, ternyata ta’mir Musholla itu sudah cukup lama menggelar dakwah non-mimbar semacam itu. Konon, metode itulah formula baru yang mereka sepakati setelah berdiskusi panjang tentang semakin tak efektifnya dakwah mimbar, terutama dalam implikasinya terhadap moralitas jamaah. Dalam beberapa halaqah diskusi selepas maghrib, sejumlah pengurus yang rata-rata santri muda itu, kerap melontarkan otokritik terhadap model dakwah mimbar yang mereka sebut dengan “ngaji kuping.” Kuping saja yang mendengar, sementara hati, absen. Itupun bagi yang tak mengobrol dalam bisik-bisik atau yang tak mengantuk. 
Aspek mobilisasi massa mungkin masih dapat diraih oleh dakwah mimbar, tapi seberapa jauh implikasi etisnya terhadap kesalehan sosial umat?  Banyak orang boleh jadi berkenan hadir pada majelis ta’lim, apalagi bila narasumbernya ustadz-ustadz beken dengan channel youtube di atas 5 juta subscriber. Jamaah tentu  menikmati guyonan-guyonan khas ustadz “seleb”. Namun, sepulang dari tabligh akbar, tak ada yang berubah. Ghibah jalan terus, intensitas hasad  tak reda, riya’ dan takabur tak kunjung lenyap. Pendeknya, biduk lalu kiambang bertaut. Saat mendengar ceramah, seolah-olah akan bertaubat, tapi kenyataannya tak ada yang sungguh-sungguh berubah. Tak ada ihsan yang terpancar dari keinsyafan yang sebentar belaka. 
        Lain jamaah subuh di Depok, lain pula pengalaman jamaah Jumat di sebuah Masjid dalam lingkungan kompleks perkantoran, sebagaimana pernah diceritakan oleh Sidarto Danusubroto (2018) pada sebuah diskusi. Saat itu, suara azan telah berkumandang. Samar-samar terdengar mukaddimah sebuah khutbah, pertanda khatib sudah naik mimbar. Tapi, sejumlah karyawan masih bergerombol di beberapa koridor dan pelataran, sembari mengobrol atau sekadar mengutak-atik tombol-tombol virtual di perangkat gadget masing-masing. Belum ada tanda-tanda mereka akan bergegas menuju masjid terdekat guna menunaikan shalat Jumat. Pemandangan ganjil itu selalu berlangsung setiap Jumat. Setelah berkali-kali ditelusuri, ternyata mereka tak sedang melalaikan kewajiban, tapi sekadar menunda kehadiran di rumah Tuhan, hingga prosesi khutbah selesai, dan sang khatib turun dari mimbar.
Apa pasal? Isi khutbah itulah pangkal soalnya. Dengan suara yang berapi-api, mulut berbusa-busa, khatib meneriakkan klaim-klaim kebenaran. Dengan bahasa yang keras dan sarkas, khatib menuding orang-orang yang berbeda iman sebagai kaum sesat dan kafir. Seperangkat dalil ditartilkan,  dengan segenap tafsir dangkal, yang lebih terdengar sebagai cercaan dan makian ketimbang kedalaman kajian yang bernas dan menyejukkan. Dakwah yang semestinya berisi himbauan dan ajakan untuk meningkatkan kualitas iman, dan menyebarluaskan pesan-pesan perenial keislaman sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) beralihrupa menjadi bahasa kebencian, bahkan ancaman yang mengerikan.
Eksklusivisme yang sedang mewabah itu kemudian terdukung oleh dunia digital dengan media sosial sebagai jantungnya. Dari pagi hingga pagi kembali, kita bagai dikepung oleh narasi-narasi keras yang tersiar secara massif. Laman-laman akun pribadi, linimasa facebook, twitter, instagram, hingga grup-grup WhatsApp penuh sesak oleh himbauan bernada propaganda, bahkan dalam batas-batas tertentu--meminjam istilah Donny Gahral Adian--bisa terjerumus pada agitasi atas nama kitab suci, yang dalam beberapa tahun belakangan telah menimbulkan sejumlah potensi kegentingan.
Atas dasar  itu, barangkali jalan keberagamaan yang lemah-lembut menjadi penting dan relevan. Apa yang direkomendasikan dan secara terukur telah diikhtiarkan oleh Haidar Baqir melalui gerakan Tasawuf: Mazhab Cinta agaknya perlu dipertimbangkan. Sebagai peneliti Sufisme Islam--yang langsung menimba ilmu dari pakar semacam Annemarie Schimmel (1922-2003)--melalui buku-buku pengantar tasawuf yang sudah terbit sejak 2015, Haidar melakukan simplifikasi gagasan-gagasan tasawuf-falsafi, agar mudah dicerna oleh semua kalangan, dan langsung dapat diamalkan dalam aktivitas keseharian.
Pendekatan praktis ini terasa pada dua buku yang ditulis Haidar, yaitu Belajar Hidup dari Rumi; Serpihan-serpihan Puisi Penerang Jiwa (2015) dan Dari Allah Menuju Allah; Belajar Tasawuf dari Rumi (2019). Kedua buku itu berisi dasar-dasar pemahaman tentang mujahadatunafs (upaya keras melawan hawa nafsu) dan riyadhah (latihan ruhani guna menggapai kesucian hati) dalam safari spritual menuju hadirat Tuhan, berdasarkan tafsir atas puisi-puisi terpilih  dari Mastnawi karya besar Maulana Jalaludin Rumi (1207-1273). Keduanya juga menjadi rujukan dalam episode-episode tausiah dua menit di channel youtube yang ia namai Tadarus Rumi. Tak hanya itu, Haidar juga sering mengunggah serpihan-serpihan tafsirnya terhadap puisi-puisi Rumi di akun twitter pribadi, dengan followers ratusan ribu orang dan respons yang sangat antusias.
Orientasi gerakan Tasawuf; Mazhab Cinta adalah memastikan wujud ihsan  sebagai puncak pengalaman keislaman dan keimanan. Dalam bahasa sederhana dapat dikatakan, keislaman dan keimanan umat tak perlu lagi diragukan, tapi apakah Islam dan Iman tersebut dapat memuncak dengan  terpancarnya Ihsan? Dalam buku terkininya, Mengenal Tasawuf; Spritualisme Dalam Islam (2019), Haidar menguraikan pemahaman Ihsan sebagai moralitas yang sudah steril dari egoisme, hati yang sudah bersih dari nafs al-ammarah bi al-su’ (nafsu rendah yang terus mendorong ke arah keburukan), dan sebagai gantinya adalah rasa cinta kepada Allah dan kepada sesama makhluk-Nya.
Suluk yang ditempuh dengan  mujahadatunafs dan berbagai riyadhah guna meraih kesucian hati hingga tersingkap sebagai ruang tajalli-nya Tuhan, merupakan pilihan etos keberagamaan yang menekankan dimensi eros (kerinduan pada Tuhan) guna menyempurnakan orientasi fiqh. “Langit dan bumi tak mampu menampung-Ku,” demikian firman Tuhan rujukan favorit para sufi, “Yang mampu menampung-Ku adalah hati orang Mukmin.” Menurut Haidar, teks itu relevan dengan puisi Rumi yang berbunyi; Jiwa adalah cermin bening. Tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan dalam diri tak tampak, karena kita tersuruk di bawah debu. Begitu tamsil Rumi perihal hati yang keruh oleh dengki, benci, takabur, riya’ dan semacamnya, yang di era pasca-fakta ini sedang menjadi kebiasaan, sebagaimana kebiasaan berkumur-kumur saban pagi. Jalan tasawuf hendak mengikis dan memusnahkannya dengan kedalaman cinta yang tiada berhingga…            

2 comments:

Umpan Ikan Mas Tanpa Kroto said...

Thanks for sharing, artikelnya menarik..

Devi P.Wihardjo said...

Trimakasih atas tulisan yang menyejukkan

Jejak Islam Kultural

--> Damhuri Muhammad ( versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018 ) “Hanya Indones...