Friday, September 20, 2019

Lingkar Luka Suhita




Damhuri Muhammad


Sepintas lalu, orang-orang yang tumbuh besar di lingkungan kesantrian tampak seperti orang-orang yang bahagia. Kasih sayang orangtua melimpah-ruah, puja dan sanjung datang dari mana-mana, martabat dan kehormatan keluarga tak perlu ditanya, silsilah atau nasab menjadi incaran para pemburu calon menantu, segala kebutuhan terpenuhi, tak pernah kurang satu apapun jua. Namun, santri juga manusia. Yang bisa saja jenuh berdiri lama di garis kesantunan dan etos kesantrian di mana jangkar pergaulan muda-muda relatif dibatasi. Tak mungkin bermain terlalu jauh dari masjid. Peci dan baju muslim adalah atribut setengah wajib. Mimbar atawa podium-podium majelis ta’lim adalah habitus yang tak mungkin dihindari. Termasuk kesanggupan bersekolah ke Timur Tengah yang tentu demi kesinambungan  estafet kepempimpinan di pesantren.
     Dalam situasi yang serba terjaga, yang lama-lama bisa terasa sebagai “penjara” itu sekali waktu santri diam-diam ingin melompati pagar pesantrennya. Ingin lepas-bebas menghirup udara luar. Tampil sebagaimana anak-anak muda lainnya,katakanlah menggondrongkan rambut, berkaos oblong dan celana jeans, nongkrong di café hingga larut malam, atau bergabung dengan komunitas penyuka musik-musik cadas, hingga menjalin asmara dengan perempuan yang tak mungkin direstui. Tapi itu bukanlah perkara yang gampang. Tak akan leluasa. Banyak mata yang mengawasi, banyak “intel-intel swasta” yang selalu memantau, hingga lambat-laun akan tiba juga kabarnya di bilik ayah-ibu, Kyai dan Nyai, yang menjadi panutan banyak orang. “Kadang-kadang saya ingin berjoged dan berjingkrak-jingkrak di panggung dangdut,” begitu kata seorang sahabat santri suatu ketika.  “Saya ingin merokok, ingin pakai celana pendek di keramaian, bahkan ingin punya tato. Tapi mana mungkin?” ketusnya lagi.  
            

foto: Instagram @koleksi_safira

Usaha keras untuk menyimpang dari garis tegas kesantrian semacam itulah yang dapat ditemukan dalam novel Hati Suhita, karya Khilma Anis ini. Laki-laki bernama Birru, anak tunggal pasangan Kyai dan Nyai, pemilik pesantren besar dengan ribuan santri, menolak permintaan sekolah ke Timur Tengah. Alih-alih bersiap menjadi ulama dengan segala disiplin ilmu yang mesti dikuasai, ia malah kecanduan buku-buku filsafat Barat dan novel-novel pembangkit semangat perlawanan. Di kampus, Birru malah aktivis perlawanan kelas berat yang kerap tampil di orasi-orasi podium terbuka. Bertolak belakang dengan harapan Abah-Ummi. Selepas menuntaskan pendidikan sarjana, alih-alih mengurus pondok, Birru malah membangun usaha penerbitan buku, membuka café yang tujuannya tak lain adalah untuk mengumpulkan kader-kader pergerakan. Itulah yang membuat ia makin berjarak dengan Abah, meski diam-diam beroleh dukungan dari Ummi.  
      Birru telah menelikung dari “Garis Abah” dan telah girang-gemirang dengan kebebasan yang didambakannya, tapi masih ada satu tanjakan yang belum dapat diloncatinya, yaitu jodoh pilihan Abah-Ummi. Perempuan bernama Alina Suhita. Cantik alang kepalang. Sopan dan lembut tingkat dewa. Hafidzah kelas berat. Putri Kyai besar, sahabat Abah-Ummi. Orang yang sangat diandalkan Ummi dalam pengelolaan pesantren Al-Anwar.  Akhlaknya terpuji dan berperan sebagai jantung yang menggerakkan semua aktivitas pesantren. Suhitalah yang menggantikan posisi yang seharusnya ditempati Birru, putra semata wayang itu.   
      Di dunia luar, Birru melawan apa saja yang perlu ia lawan. Memperjuangkan hak asasi orang-orang tertindas.  Tapi di dalam, ia tak bisa mengelak dari kehadiran Suhita, ia tak berdaya melawan perjodohan guna menentukan masa depannya sendiri.  Pernikahan dengan Alina Suhita ia terima demi kebahagiaan Ummi. Betapa tidak? Sejak Birru masih berseragam Tsanawiyah, nama Alina Suhita telah dihadirkan Ummi di rumahnya. Nama yang kelak akan tertera di undangan pernikahan Birru. Nama yang tak mungkin beralih ke yang lain. Lantaran sedemikian dekatnya santriwati terbaik itu dengan Ummi, ia mengenal ibunda Birru seperti mengenal urat lehernya sendiri. Jam minum obat Ummi, jenis obat-obatan yang mesti dikonsumsi Ummi, cara mengatasi bila sewaktu-waktu kesehatan Ummi drop, dan apa saja yang berkaitan dengan aktivitas keseharian Ummi, sempurna dikuasainya. Di mata Birru, Suhita bukan saja cerdas dan telaten mengelola pesantren yang selama di tangannya berkembang pesat, tapi juga mahir membahagiakan Ummi. Tanpa Suhita di pesantren Al-Anwar, situasi akan lekas genting, Abah bakal uring-uringan, Ummi bisa jatuh sakit.  Dan, Birru, adalah orang yang tak bisa hidup tanpa Ummi.  Bila Birru sakit, hanya sentuhan tangan Ummi yang mampu menyembuhkannya.
     Maka, pernikahan yang mulia dan didoakan oleh puluhan Kyai sepuh itu hampa. Alih-alih ada cinta yang bersemayam di dalamnya, Suhita yang tak berdosa dan tak salah apa-apa, mesti berlinang airmata. Betapa tidak? Hingga usia pernikahan telah genap 7 bulan, Birru belum menyentuh Suhita. Bahkan sekadar berbaring di ranjang yang sama pun, tak. Suaminya memilih tidur di Sofa, tak jauh dari ranjang. Sementara Suhita yang telah lebih dulu mencintai Birru, senantiasa tidur dalam keadaan menutup aurat. Sekadar berganti pakaian pun,  lantaran merasa tubuhnya tak mungkin dilirik Birru, ia memilih di kamar mandi. Kamar pengantin hanya berisi tartil suara mengaji, lafaz halus shalat malam suami-istri, percakapan seperlunya. Selebihnya diam. Kaku dan beku. Birru selalu pulang larut malam. Hidangan makan malam bikinan Suhita dingin, tak terjamah, sebagaimana tubuhnya yang belum tersentuh, tak mengundang selera.
     Tak ada yang tahu kesenyapan ganjil di ruang privat pasangan Suhita-Birru. Suami yang tak punya selera dan menghabiskan waktunya dengan chatting mesra dengan seseorang entah siapa, Birru yang sesekali bersuara tinggi lantaran Suhita merapikan buku-buku di meja, sementara tempat ia menyimpan buku itu tak diketahui Birru. Di hadapan Ummi dan Abah, mereka bersandiwara, seolah-olah pasangan yang bahagia. Sementara di kamar, dan memang hanya di kamar--karena Birru tak pernah mengajak Suhita ke luar--keduanya bagai terkeranda dalam sunyi. Suhita terus menerus menangis dalam kesendiriannya, sementara Birru riang-gemirang, karena di sana masih ada perempuan lain yang setia mendengar keluh kesahnya; Ratna Rengganis. Anggun tak terkira, jago menulis, luas jejaring, orang paling diandalkan dalam proyek-proyek Birru Cs. Berkali-kali Suhita memergoki foto-profil Rengganis di layar gawai Birru, terutama saat ada telpon masuk, dan gawai suaminya tergeletak di atas meja. Suhita boleh saja menguasai Pesantren Al-Anwar, menguasai Ummi dan Abah, tapi hati suaminya berada di genggaman Rengganis.
    Berbeda dengan Birru, Suhita bukan aktivis pergerakan. Ia tak biasa melawan. Apalagi berangan-angan melompati “pagar kesantrian”. Ia hanya bisa merahasiakan kesedihannya, ditanggungnya saja perih luka itu, demi Ummi, mertua yang sangat menyayanginya, juga demi Birru, suami yang sudah dicintainya. Maka, novel setebal 400-an halaman ini penuh sesak isak-tangis Suhita yang jatuh ke dalam. Ke dalam sebuah liang di ulu hatinya. Ia tak pernah mengukur sudah sedalam apa gerangan genangan tangisnya, di tujuh bulan usia pernikahannya.  
Suhita adalah anak patuh, tak neko-neko, tak banyak tahu dunia luar. Urusannya hanya menjaga hapalan, mengasuh para santri, mengurus manajemen pondok, dan yang paling pokok adalah menjaga hati Ummi dan Abah. Dibiarkannya saja gelak-tawa Birru bersama Rengganis. Ditunaikannya segala kewajiban pada suami.  Pakaian, makanan, dan semua detail keperluan laki-laki. Dikaguminya Birru dalam posisi yang amat berjarak. Dada berbulu, tubuh yang atletis, wajah yang rupawan, tapi jangan sekali-kali berharap dapat menyandarkan letih di bahunya. Jangan sekali-sekali menanti belaian dan kecupan, kecuali dalam rangka  berpura-pura di hadapan Ummi. Entah sampai kapan.
       Pengarang memberi kesempatan pada lima  karakter kunci untuk berbicara dalam novel ini. Suhita, Aruna (sahabat karib Suhita), Dharma (laki-laki yang menyukai Suhita), Birru dan Rengganis, diberi tempat sebagai subyek yang berkisah, terutama untuk menjahit kepingan pertistiwa yang seluruhnya bertumpu pada derita Suhita. Di sinilah keganjilan mulai terasa. Pola penceritaan, teknik-teknik pengamsalan yang selalu dikaitkan dengan kisah-kisah pewayangan Jawa, termasuk penggunaan istilah Jawa, hampir terasa seragam pada setiap subyek. Tak mudah membedakan mana Suhita, Aruna, Dharma, Birru dan Rengganis, ketika masing-masing berperan sebagai subyek berkisah. Semuanya terasa familiar dengan Arjuna, Ekalaya, Durduyana, Banowati, dan semacamnya. Seolah-olah semuanya penggemar wayang.  Seolah-olah semuanya adalah Suhita. Padahal, Rengganis yang tak bertradisi santri, dan tak terlalu banyak digali silsilahnya, sangat berpeluang menjadi subyek yang mandiri dan berbeda dengan personalitas Suhita. Begitu juga Birru, yang sedari awal telah digambarkan sebagai representasi jiwa pemberontak, ketika berperan sebagai subyek yang berkisah, tak menampakkan watak kerasnya, tak pula tegas resistensinya terhadap fatsun kesantrian yang mengekang kebebasannya sebagai pribadi anti-kemapanan. Dalam batas-batas tertentu, Birru setali tiga uang saja dengan Dharma. Anak patuh dan masih bertahan dalam berbagai “kungkungan” yang membatasi ruang geraknya.
     Selain itu, yang cukup mengganggu adalah properti penceritaan dalam bentuk kendaraan roda empat dengan merek yang terkategori barang mahal. Tak soal ketika properti itu muncul ketika Birru sudah berkarir sebagai penguasa. Tapi saat Rengganis menyingkap mula-mula perkenalannya dengan Birru di kampus yang saya duga adalah IAIN atau yang kini telah menjadi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,  pada waktu pengisahan yang saya terka, mahasiswa IAIN SUKA rasanya masih dekat dengan kendaraan roda dua, ketimbang mobil, apalagi mobil mewah seperti milik Birru. Setahu saya, Anak Kyai setajir apapun, sekali lagi di waktu pengisahan yang saya duga, tetap saja masih menunggangi sepeda motor.
       Namun, terlepas dari keganjilan-keganjilan kecil itu, dramatisasi romantika segitiga (Birru-Suhita-Rengganis) yang menggoreskan luka bagi para pelakunya, tapi tetap  mendedahkan kebanggaan bagi keluarga santri yang mendambakan kegemilangan masa depan pesantren mereka, adalah elegi yang jika diselami kedalamannya, akan membutuhkan lembaran-lembaran tisu guna mengeringkan lembab pipi akibat rembesan airmata. Suhita memang perempuan tabah, tak gampang menyerah, dan yakin tak mungkin kehilangan mustika ampal-nya; Birru. Tapi Suhita juga manusia. Sebagaimana Birru, yang telah berseberangan dengan Abah, menikmati kebebasan, dan akhirnya pilihan bebas itu melukai istrinya yang tak salah apa-apa. Sesekali muncul hasrat Suhita untuk melawan. Kehendak ingin pergi, dan menyusun rencana guna menghidar dari lingkar luka yang mengepung hidupnya…




DATA BUKU

(Judul:  Hati Suhita. Penulis:  Khilma Anis. Penerbit:Telaga Aksara, Yogyakarta. Cetakan:  XII, Mei 2019. Tebal:  405  halaman)
-->






Monday, September 16, 2019

Asap yang Pandai Menyimpan Api



Damhuri Muhammad




(Versi cetak artikel ini tersiar di harian Riau Pos,  September 2015. Bertepatan dengan bencana asap yang melanda wilayah Riau, dan Sumatera pada umumnya)  




Dalam sebuah kisah bertajuk Yang Datang dari Negeri Asap (2014), sastrawan yang bermukim di Pekanbaru (Riau), Hary B Kori’un, secara satir sekaligus dramatik, mendeskripsikan sosok Alia, perempuan belia yang tiba-tiba muncul dari gumpalan asap. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Melangkah perlahan-lahan menyusuri trotoar. Jalan tampak memutih. Asap di mana-mana. Konsep waktu terhisap dalam kepungan asap yang tak kunjung menipis. Pagi, siang, atau petang tak dapat lagi dibahasakan. Raut muka orang-orang yang lalu-lalang tersembunyi di balik masker. Dari kejauhan, busana mereka tampak seragam dalam warna kelabu, karena terselubungi oleh warna asap yang tak mungkin dielakkan.
   Bilamana mata batin seorang sastrawan telah mencurahkan penglihatannya guna memonumentasikan sebuah peristiwa, dapat dipastikan itu bukan peristiwa yang biasa, apalagi peristiwa remeh-temeh. Kabut asap--sebagaimana yang kini tengah melanda Riau, Sumut, Jambi, Sumsel, dan berdampak sangat parah di seantero Sumatera--yang menjadi pusat perhatian sekaligus panggilan penciptaan sastrawan itu tercatat sudah berkali-kali terjadi, terutama sejak 1990-an, dan tak tertuntaskan hingga kini. “Seperti tamu tahunan yang tak pernah lalai berkunjung ke kota kami,” demikian keluhan seorang sejawat di Riau. Sedemikian terbiasanya kawan-kawan di Sumatera menghadapi bencana kabut asap, komikus Iggoy el-Fitra, dalam serial komik Si Bujang (2015) mengabadikan jawaban Asya (karakter perempuan balita) setelah Si Bujang bertanya; Asya kalau udah besar mau jadi apa? Secara spontan dan lugas Asha menjawab, Mau jadi petugas pemadam kebakaran, Om Bujang.  Biar bisa ikut padamkan kebakaran di negeri ini.




Inilah petaka yang hampir niscaya di kampung halaman imajiner Alia, seperti ternukilkan dalam kisah tragik karya Hary B Kori’un. Oleh karena sedemikian kerapnya kabut asap melanda, dengan sangat yakin Alina berkabar pada kekasihnya, bahwa orang-orang di kampung kelahirannnya tidak perlu makanan. Sebab, asap telah menjadi asupan nutrisi mereka. Vitamin, karbohidrat, dan serat sudah terkandung dalam asap. Sepintas lalu, mungkin terdengar mengada-ada, main-main, dan berlebihan. Namun, bila ditimbang dengan kepayahan ratusan ribu bahkan jutaan warga Riau, Sumut, Jambi, Sumsel dalam menghadapi bencana kabut asap sejak beberapa hari belakangan ini, Hary B Kori’un seolah-olah telah menujumkan kabar perihal musibah besar itu, jauh-jauh hari sebelumnya.
Sejumlah penerbangan ke Sumatera terpaksa dibatalkan. Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sempat lumpuh beberapa hari. Jarak pandang hanya dalam hitungan ratusan meter. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dinyatakan telah masuk kategori tidak sehat. Sekolah-sekolah diliburkan hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan. Aktivitas perekonomian sudah pasti terganggu dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Pendek kata, asap dapur saudara-saudara kita di Sumatera nyaris padam karena dihantam oleh kepulan demi kepulan asap yang berembus dari hutan belantara. “Pejabat makan suap, pengusaha makan kakap, rakyat makan asap,” demikian salah satu narasi keprihatinan yang  di-posting  seorang  netizen di media sosial Instagram dengan tagar #masihmelawanasap. Solidaritas bermunculan dari segenap penjuru republik ini. Himbauan agar pemerintah pusat segera turun tangan mengalir deras, hingga presiden pun cepat-tanggap, lalu terjun langsung ke sejumlah titik api di wilayah Sumsel.
“Di mana ada asap, pastilah di situ ada api,”  bukankah begitu petuah dan nasihat yang kita dengar sejak masa kanak-kanak? Namun, kearifan lapuk itu kini terdengar kian samar dalam nyala api di semak-semak belukar hutan Sumatera. Tak dapat disangkal bahwa tak ada cara yang lebih cepat dan jitu dalam membuka lahan  baru selain dengan cara membakar. Di masa silam para tetua kita juga menggunakan cara serupa. Tapi tak sekalipun sejarah mencatat, bahwa api yang mereka nyalakan merembet ke mana-mana, apalagi menjadi penyebab dari bencana kabut asap sebagaimana kini. Hutan liar yang mereka rambah cukup untuk kebutuhan kebun dan ladang sendiri, dan mereka tak pernah lupa menyisakan lahan yang bakal diwariskan pada anak-cucu di kemudian hari. Asap yang mereka buat adalah asap yang jelas asal-usul apinya. Api yang mereka kobarkan sangat gampang dipadamkan. Segampang mereka memadamkan kobaran gejolak keserakahan yang bersemayam dalam diri setiap manusia.
Sementara asap yang kini telah mengakibatkan segenap derita dan kepayahan rakyat di republik ini, adalah asap yang  begitu lihai menyembunyikan api. Tak ada yang sungguh-sungguh dapat memastikan dari mana sesungguhnya muasal nyala api itu. Alih-alih memastikan di mana sebenarnya titik api paling mula, kita lebih gandrung menghitung titik-titik panas yang kita bahasakan secara canggih dengan hotspot. Kita inventarisir dari hari ke hari, kita catat perkembangannya dengan tekun dan saksama, lalu kita kaji secara mendalam dan komprehensif dengan berbagai pendekatan saintifik. Sementara saudara-saudara kita di Sumatera semakin sesak napasnya, semakin rabun penglihatannya,  semakin lumpuh daya-upayanya.       
Jangan-jangan tabiat kita dalam urusan bakar-membakar ini telah ditunggangi sejak lama oleh api ketamakan guna menumpuk keuntungan sebesar-besarnya, dan karena itu kita mesti membakar hutan seluas yang kita dambakan, tanpa mempertimbangkan ada rejeki orang lain yang terlindas karenanya. Ada hak-hak hidup orang lain yang  kita renggut secara sadar dan kasar. Membuka lahan baru tidak lagi sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagaimana etos orang-orang di masa lalu, tapi didorong oleh keinginan hendak menumpuk keberlimpahan yang tak berhingga banyaknya. Kaya yang mahakaya, dan kita tidak lagi peduli, ada jutaan orang yang lantaran bencana kabut asap ini, hampir tidak bisa memastikan apakah esok pagi asap dapur mereka masih dapat mengepul, atau justru bakal pudur selamanya?
Mungkin itu sebabnya, bencana asap selalu dan selalu saja berulang. Sepanjang kita tidak beritikad memadamkan kobaran api keserakahan homo economicus  yang  terus menyala di lahan-lahan industri perkebunan, maka seperti telah dinujumkan oleh sastrawan Hary B Kori’un di kampung halaman imajiner Alia, saudara-saudara kita di Sumatera juga akan meniscayakan asap sebagai asupan nutrisi mereka saban musim kemarau. Balita-balita mereka akan semakin tegas bercita-cita hendak menjadi petugas pemadam kebakaran, kelak bila mereka sudah dewasa. Agar mereka dapat berkhidmat memadamkan api yang tak sudah-sudah menganiaya hutan belantara kita. Agar mereka dapat menghadang gempuran asap yang dari tahun ke tahun semakin pandai menyimpan api. Bukan api biasa, tapi api yang berasal dari lelaku ketamakan purba kita...       
         

  Damhuri Muhammad
Sastrawan




Jejak Islam Kultural

--> Damhuri Muhammad ( versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018 ) “Hanya Indones...