Tuesday, October 01, 2019

Pancasila Untuk Semua


Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini berjudul Pancasila dan Generasi Digital
Tersiar di harian Kompas, 16 September 2017)



Lantaran tak patuh pada rambu-rambu, Mustajab--pengendara sepeda motor asal Madura--disemprit seorang Polantas. “Tolong SIM-nya Pak!” kata petugas itu. Dengan logat Madura yang kental, Mustajab menjawab; “Maaf Pak, saya belum punya SIM, tapi saya warga negara yang baik. Saya hapal Pancasila, Pak!” Alih-alih berpikir hendak menilang Mustajab, Polantas malah mengikuti kepolosan Mustajab. “Kalau Bapak memang hapal Pancasila, coba bunyikan sila ketiga,” katanya. Hampir tanpa jeda, dengan lantang Mustajab bilang, “Indonesia kompak, Pak!” Polantas itu terbahak-bahak, hingga tubuhnya berguncang-guncang.
Kisah ringkas di atas menyebar dari mulut ke mulut di zaman Orde Baru--ketika Pancasila disakralkan sedemikian rupa--dan terus berkembang dalam banyak versi hingga kini. Sepintas mungkin tersimak sebagai lelucon belaka, tapi jika diselami lebih dalam, personalitas Mustajab dalam peristiwa itu, alih-alih memperlihatkan kesadaran yang matang terhadap laku Pancasilais, justru yang mengemuka adalah ketakutan yang luar biasa pada wajah otoritarianisme, yang secara terencana melakukan indoktrinasi, agar segenap rakyat menjadi manusia Pancasilais. Bila membangkang, tentu akibatnya fatal. Situasi keterancaman itu yang menimbulkan kegamangan, sehingga Mustajab secara tak sengaja mengalihbahasakan Persatuan Indonesia dengan  Indonesia Kompak. 
Kini lelucon itu mungkin telah mendapatkan momentum baru. Rejim telah berganti, indoktrinasi bertopeng penataran P4 sudah lama berlalu, dan yang tersisa hanya sense of humor yang mungkin akan terus lestari. Saya membayangkan kisah pendek itu digarap secara komikal dengan konsep grafis yang maksimal, tentulah akan menjadi perhatian kaum digital native yang jumlahnya sangat banyak itu, apalagi jika divisualilasikan dengan teknologi animasi, lalu diunggah di situs berbagi video.
Indonesia Kompak adalah redaksi yang keliru bagi sila “Persatuan Indonesia,” tapi istilah khas anak muda itu justru dapat membawa generasi baru Indonesia pada kesadaran tentang etos persatuan dalam kehidupan yang beragam, terutama ketika gelombang intoleransi berbasis SARA nyaris merapuhkan sendi-sendi kebhinekaan belakangan ini. Tokoh-tokoh imajiner yang saya bayangkan akan bermunculan di dunia komik, animasi dan semacamnya, akan memancangkan memorable line di benak pemirsa, dan sukar dilupakan dalam rentang waktu yang panjang.

ilustrasi; harian Kompas




Laku Pancasila dalam kehidupan keseharian ini  juga menjadi pilihan yang diambil oleh Yudi Latif (2014) dalam buku terkininya Mata Air Keteladanan (Pancasila dalam Perbuatan). Teladan perihal sila Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, diuraikan Yudi dengan menampilkan kisah pertemanan sejati dua politisi kawakan pada akhir dekade 1950-an, Prawoto Mangkusasmito (1910-1970)  dan  IJ Kasimo (1900-1986). Prawoto adalah tokoh Partai Masyumi, yang menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (1952-1953) dan Wakil Ketua I  Konstituante (1956-1959). Karena Prawoto adalah pribadi yang bersahaja, hingga akhir tahun 1950, ia belum juga punya rumah. Di zaman ketika banyak pejabat negara bergelimang harta dengan karnaval kemewahan yang saban hari dipamerkan di jalan-jalan protokol, mungkin sulit membayangkan pejabat penting yang masih tinggal di rumah sewa. Tapi demikianlah faktanya, Prawoto sudah lama menyewa sebuah rumah di Jalan Kertosono, Jakarta.
Dalam suasana perbedaan pandangan politik yang kian meruncing di forum Konstituante, kabar tentang Prawoto dengan rumah sewaan itu sampai di telinga IJ Kasimo, Ketua Partai Katolik. Tanpa diminta, Kasimo langsung membantu. Pemilik rumah sewa itu seorang suster Katolik keturunan Tionghoa yang tinggal di Belanda. Kasimo berupaya menghubungi pemilik itu, melakukan persuasi agar ia berkenan menjual rumahnya pada Prawoto. Tak lama berselang, rumah itu berpindah hak milik pada Prawoto. Sumber lain menyebutkan, bahkan Kasimo, ikut andil dalam mengumpulkan uang, agar Prawoto segera memiliki rumah itu.
Persahabatan Prawoto-Kasimo yang berbeda pandangan politik, juga berbeda agama, menurut Yudi adalah cerminan dari semangat ketuhanan yang berperikemanusiaan. Pada sila pertama Pancasila, yang ditegaskan bukan siapa “Tuhannya,” melainkan “ketuhanannya.” Ketuhanan yang dimaksud adalah laku “menuhan.” Artinya meniru sifat kasih Tuhan. Apapun agama dan Tuhannya, jika kita bisa meniru dan menjiwai sifat kasih Tuhan sesuai tuntunan agama masing-masing, kita akan sampai pada titik “keesaan,” yakni persatuan dalam kebajikan. Maka, sila pertama menghendaki bangsa Indonesia berketuhanan dengan menjiwai sifat kasih-sayang-Nya, dan menjadikannya sebagai sumber moralitas dalam kehidupan dan kemasyarakatan. Kesungguhan mencintai Tuhan akan memancarkan kasih sayang pada sesama makhluk, dengan sikap keagamaaan yang lapang dan toleran. Persahabatan Prawoto-Kasimo adalah juga kisah yang tiada bakal lapuk, akan selalu bersarang dalam ingatan banyak orang, tentang laku Pancasila--yang tak perlu repot-repot dipidatokan dengan penataran P4 selama berhari-hari.
Selain Abdul Mustajab Disemprit Polantas, ada versi lain dari humor tentang sila Pancasila. Diceritakan  tentang seorang siswi Madrasah Tsanawiyah bernama Hindun, yang diomeli oleh guru mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).  Ketika Ibu Guru bertanya berapa jumlah sila Pancasila, dengan tegas Hindun menjawab; “Enam!” Tak tanggung-tanggung, Hindun diusir ke luar kelas. Sepulang sekolah, ia mengadu pada bapaknya. Jangankan dibela, Hindun semakin disalahkan. “Kamu salah. Sila Pancasila itu jumlahnya 5, bukan 6!” kata bapak Hindun. “Dijawab 6 saja sudah kena marah, apalagi dijawab 5? Bisa tidak naik kelas aku, Pak! ” balas Hindun sambil manyun.  
Sebagaimana Mustajab, Hindun juga karakter imajiner yang dapat dikemas sesuai selera anak-anak muda zaman ini. Ia bisa muncul sebagai tokoh komikal, film kartun, dan rupa-rupa konsep visual yang saban hari dapat disaksikan oleh netizen. Menghadirkan Pancasila dalam iklim kreatif generasi  digital-native  rupanya memang bagian dari konsep Pengajaran Pancasila Gaya Baru, yang pernah dirancang secara intens oleh Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), dan sedang ditunggu oleh banyak orang. Namun, yang perlu mengamalkan Pancasila tentu bukan rakyat belaka, UKP-PIP, yang kini telah berubah nama menjadi BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) diharapkan pula membidik pemerintah sebagai sasarannya, hingga Pancasila menjadi milik semua orang di republik Pancasilais ini.
Setelah Polantas terpingkal-pingkal lantaran jawaban Indonesia Kompak dari Mustajab, lelucon di atas sejatinya belum selesai. Mustajab lanjut membacakan bunyi Sila Keempat, lancar tanpa keliru. Anehnya, setelah itu ia diam. “Kurang satu sila lagi, Pak! kata Polantas mengingatkan. Mustajab cuek saja. “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” begitu Polantas mendiktekannya. “Maaf Pak, apakah itu sudah ada dalam Pancasila kita?” tanya Mustajab, lalu memacu sepeda motornya dengan kecepatan penuh… 

No comments:

Jejak Islam Kultural

--> Damhuri Muhammad ( versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, 7 Juni 2018 ) “Hanya Indones...