Thursday, March 26, 2020

Masa Depan Ketakpastian

-->

Damhuri Muhammad






Siang itu Musholla kecil di samping rumah saya telah digembok. Para pengurus inti telah membawa kunci ke rumah masing-masing. Tidak untuk dibuka kembali menjelang Ashar, sebagaimana biasa, tapi untuk di-non-aktifkan sementara, guna mematuhi himbauan social distancing (belakangan istilahnya berubah menjadi physical distancing) di masa darurat wabah Corona. Sekilas saya pandang wajah seorang pengurus. Tampak pasrah saja menerima hasil keputusan bersama itu, meski jauh di kedalaman, raut mukanya menyiratkan bimbang yang tak akan mungkin terbahasakan.
Tanpa mengurangi hormat pada segala upaya dalam memutus mata rantai penularan virus mematikan ini, kebimbangan itu adalah bagian dari kebimbangan massal, akibat ketakpastian-ketakpastian yang merajalela. Sampai kapan kita akan menutup pintu bagi jamaah? Sampai kapan kita harus berpisah dengan keriangan anak-anak saat mengeja alif-ba-ta? Sampai kapan rapat-rapat rutin perihal pembagian infaq untuk yatim dan fakir miskin akan ditunda? Sampai kapan rapat-rapat warga perihal iuran makam, kerja bakti rutin, dan keamanan lingkungan mesti diberhentikan?
Tak ada kepastian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kecil itu. Semakin nyinyir dipertanyakan, semakin jauh kami dari kepastian. Sementara ketakpastian-ketakpastian itu terus menumpuk, saya dan para pengurus Musholla yang lain, senantiasa dikepung oleh berbagai kabar perihal wabah Corona yang berseliweran di grup-grup percakapan daring. Kami bagai tenggelam dalam air bah informasi yang tak ada habis-habisnya sepanjang hari. Mulai dari angka-angka dan statistika jumlah korban meninggal di seluruh dunia yang dimutakhirkan setiap hari, persentase rata-rata kematian, kesembuhan, dan peningkatan jumlah kasus, hingga berbagai macam kisah dramatik seputar wabah Corona di dalam negeri, yang hingga kini, bagai bagian dan sub-sub bagian dari sebuah roman panjang yang tak khatam-khatam.



Foto: Koleksi Pribadi


Arus deras dari banjir kabar  itu seperti saling berpacu dengan kecepatan penularan wabah Corona itu sendiri. Banyak orang tiba-tiba muncul dalam wajah seorang epidemiolog, virolog, dan pakar teori konspirasi. Berbagai istilah bergentayangan di linimasa, mulai dari  lockdown, social distancing, work from home, stay at home, physical distancing, dan belakangan juga marak diperdebatkan; herd immunity. Dalam nada berkekalar, seorang warganet menyebut fenomena ini dengan sindrom “Kemringgrisisme Tengik di Musim Korona”. Menjelaskan apa itu virus, apa itu Corona, pada khalayak jamak, sukarnya alang-kepalang, harus dijelaskan pula duduk perkara makna kata-kata asing itu. Seolah-olah Corona hanya akan menjangkiti kaum darah-biru, sementara kami yang awam di kasta paling bawah, tak bakal dihampiri Corona. Apakah penyakit bisa memilih-milih warna kulit dan martabat sosial bangsa manusia? Demikian warganet itu bertanya.
Sedemikian ajaibnya banjir informasi yang melanda kita, Selain vaksin guna menangkal pandemik Corona, menurut WHO, beberapa waktu lalu, kita juga membutuhkan vaksin guna membasmi "infodemik" alias banjir informasi tentang virus itu sendiri. Kedua vaksin itu belum ditemukan hingga kini. Tangkapan data udara Drone Academy dengan kata kunci "Covid-19" dalam rentang waktu 2 hari terakhir (22-23 Maret 2020) saja, menghimpun 2.831.458 konten yang mengandung kata "Covid-19". Tak kurang dari 1.675.849 akun medsos aktif dengan frekuensi unggahan (berisi konten Covid-29) 1-5 kali. Di masa physical distancing di mana banyak orang bekerja secara daring (tentu didominasi oleh kegandrungan bermedsos), Twitter dan Facebook kabarnya sedang mengurangi kualitas tampilan video guna menghindari banjir konten agar sistem penyimpanan datanya tidak tiarap. Arus deras kabar yang dibawa oleh konten-konten yang membludak itu, bergerak amat cepat, bahkan lebih cepat dari penularan Covid-19 itu sendiri. Ada yang benar, tapi tak sedikit pula yang menyesatkan, bahkan tak jarang telah memicu kepanikan. Dalam seminggu terakhir, situs resmi www.covid19.go.id telah menangkal tak kurang dari 188 konten hoaks tentang Corona. Jumlah yang akan terus bertambah sepanjang masa darurat bencana nasional.
Dengan rupa-rupa upaya yang telah dilakukan, lalu kapan kurva statistika korban Corona akan melandai? Atau jika masih akan terus menanjak tajam, di bulan apa kira-kira penularan itu akan memuncak di Indonesia? Sudah sampai di mana pekerjaan para ahli dalam kerja penemuan vaksin  guna membasmi Corona? Demikian topik obrolan pagi kami, di WAG pengurus Musholla. Sekali lagi tak ada kepastian atas pertanyaan-pertanyaan yang mengandung  kecemasan itu. Alih-alih  kepastian, banjir informasi tentang Corona, malah semakin menebalkan kebimbangan, dan tak jarang membuat kami terombang-ambing di antara “percaya”, “waspada”, “sabar”, “kecewa” dan “takut”. Pagi kami percaya, siang berubah takut, sore “waspada”, malam “kecewa” dan sebelum tidur, hanya kesabaran yang dapat mengendalikan kepanikan kami.
Dalam masyarakat komunal, jika kita sedang bimbang, biasanya kita perlu berbagi, bercakap-cakap dengan sesama, setidaknya untuk memastikan bahwa bukan saya belaka yang sedang berada di zona galau, karena itu adalah kegalauan berjamaah. Celakanya, jangankan bercakap-cakap di pos kamling atau area tongkrongan di sekitar permukiman urban, berkumpul di Musholla untuk shalat 5 waktu saja, tak diperkenankan untuk sementara waktu. Darurat Corona membuat komunalisme yang telah mendarah-daging dalam keseharian kita,  bergeser ke wilayah individualisme yang janggal.
Kita tak henti-henti meneriakkan himbauan Di Rumah Saja sebagai bagian dari etos kebersamaan dalam menghadapi wabah berbahaya, tapi pada saat yang sama, kita harus mengurung diri sendiri, tanpa bertatap muka dengan tetangga dan para sejawat karib di lingkungan kita. Demi kemaslahatan bersama, solidaritas ternyata harus dipaksakan bekerja dengan individualitas. Atas nama ancaman, komunalisme “dilumpuhkan,”  karena yang dipercaya dapat menyelamatkan hidup  kita kini adalah individualisme. Inilah paradoks besar yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya.
”Rejim” ketakpastian bukanlah barang baru dalam “habitus” kewargaan kita sebagai bagian dari Indonesia. Janji-janji tentang kesejahteraan, harapan-harapan akan perubahan nasib di masa datang, komitmen-komitmen tentang layanan publik yang manusiawi, dan pemenuhan rasa keadilan bagi seluruh warga yang kerap dipidatokan, apakah sungguh-sungguh telah tegak sebagai kepastian yang tak perlu lagi diragukan? Itupun bukan persoalan bagi kita, sepanjang basis komunal tidak diruntuhkan. Dalam situasi ketakpastian itu, banyak orang masih dapat mengalihkan harapannya pada ruang-ruang mistis dan eskatologis di komunitas-komunitas Burung Berkicau atau penyuka Batu Akik misalnya, atau ruang-ruang klenik-futurustik yang tersedia dalam janji-janji membuai di kerumunan pengikut Ratu Kerajaan Ubur-ubur, Kraton Agung Sejagat, atau visi-visi agung dan adiluhung yang  pernah diwartakan oleh pejabat tinggi Sunda Empire.
Tapi, kini  kanal komunal guna merawat harapan-harapan baru itu sedang disumbat rapat-rapat, atas nama keselamatan umat sejagat. Tak ada yang boleh melarikan diri dari pusaran ketakpastian. Tak ada yang diperkenankan mengurangi beban kebimbangan dengan cara mempercakapkannya di Musholla selepas Subuh, Maghrib, atau Isya. Tak ada yang bisa mengeluhkan harga sembako yang melonjak di kerumunan ibu-ibu hebring saat berbelanja di bakul-bakul sayur. Tak ada jaminan keselamatan bagi  warga yang masih nekat menggelar arisan RT, meski banyak anggota yang belum dapat giliran sedang didesak oleh banyak kebutuhan. Semua pintu komunal telah dikunci, sebagaimana pintu masuk Musholla kecil kami. Semua akses untuk bertatap muka boleh jadi akan segera dijaga oleh tentara. Ruang-ruang untuk menjaring kegembiraan sesaat di masa pagebluk ini bagai sedang dipasang garis polisi.
Kabar tentang vaksin Corona belum juga tiba. Kurva data kematian akibat virus itu entah kapan bakal melandai. Timbunan ketakpastian demi ketakpastian telah menyesak hingga pangkal pernapasan. Para pengurus Musholla yang sudah terkunci itu, kini mengelola ketakpastian-ketakpastian dalam kesepian, dalam individualitas yang ganjil, tanpa canda-tawa, tanpa tatap muka, tanpa bahasa…

                          



Thursday, March 19, 2020

Korona dan Belantara Angka-angka


Damhuri Muhammad



Di belantara kelisanan tentang wabah korona yang begitu rimbun hari-hari ini, sejatinya saya tak ingin nimbrung bicara. Sebagai rakyat jelata, saya sudah rela menerima apapun akibat dari penularan wabah itu bagi hidup keseharian saya. Saya selamat alhamdulillah, saya mati konyol pun tak soal. Tapi bagaimana mungkin saya menghindar dari kenyinyiran yang beranak-pinak hampir setiap menit? Segala macam gawai telah saya istirahatkan, tapi iklan-iklan sampiran platform Youtube yang dilayarbesarkan oleh anak-anak, tetap saja melintas sewaktu-waktu. Saya melarikan diri ke pos kamling, topik inti obrolan tetap saja; korona.
         Dari semua perbincangan yang keluar-masuk di gendang telinga saya, arus utamanya tak beralih dari semesta angka-angka. Jumlah kasus per hari ini, jumlah pasien terdeteksi, jumlah pasien sembuh, jumlah yang meringkuk di ruang isolasi, hingga jumlah pasien meninggal dunia. Hari-hari saya bagai dikepung oleh grafik, diagram, dan kurva di mana isinya tak lebih dari angka-angka. Seolah-olah angka-angka itu lebih berkuasa dari bahasa. Seolah-olah statistika itu lebih jumawa dari jiwa-jiwa yang dikalkulasikannya. Hari ini sudah berapa orang yang mati? Begitu bunyi pertanyaan pentingnya.  Jawabannya tak lebih dari angka-angka, tanpa perlu dijelaskan, apakah itu mati konyol, mati terhormat setelah upaya penyelamatan habis-habisan, atau mati auto-pilot karena memang saat itulah ajalnya tiba.


ilustrasi: DetikCom


         Oleh karena yang saya peroleh melulu angka-angka, saya tidak lagi percaya bakal ada pihak-pihak yang dapat menjelaskan duduk perkara bagaimana sebenarnya cara virus itu menghabisi nyawa manusia?  Bagaimana cara tuan-tuan dokter melakukan observasi, variabel apa saja yang diteliti, uji-laboratorium jenis apa saja yang ditempuh, alat apa yang digunakan (saya tidak yakin Indonesia punya alatnya) sebelum mereka mengambil kesimpulan; Positif Covid-19. Bagi saya, adalah hak setiap orang (apapun status sosialnya) untuk mendapatkan argumentasi yang matang tentang kenapa dia divonis kanker otak, gagal-ginjal, diabetes, bahkan sekadar panu, kurap, dan kutu air. Apalagi Covid-19 yang notabene virus baru. Apa jenis detektornya, bagaimana cara kerjanya, dan seakurat apa temuannya? Menurut saya, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan remeh itu tak dapat dibereskan dengan angka-angka belaka.
       Kejengkelan semacam itu telah bermula sejak lama. Dimulai dari vonis dokter atas orang-orang dekat saya. Katakanlah sahabat karib yang pernah menerima diagnosa gagal-ginjal, dan dengan lagak seperti ahli nujum, seorang dokter memperkirakan usianya tak akan lebih dari 2 tahun lagi. Sahabat saya tak menyangkal vonis itu. Ia ikuti saja saran cuci-darah rutin, ia tebus semua resep di apotek tanpa peluang tawar-menawar serupiah pun. Menurut saya, inilah bisnis paling zalim di dunia. Disebut bisnis, tapi tak ada peluang tawar-menawar bagi konsumen. Berapapun bandrol obat yang tertera pada nota, dibayarnya saja dengan lapang dada. Hingga 9 tahun kemudian, setelah menjalani hidup dengan cuci-darah 3 kali seminggu, dengan pembiayaan yang tak perlu saya kalkulasikan dengan angka-angka, ia masih sehat-wal’afiat, tak kurang satu apapun jua. Lalu di mana pertanggungjawaban diagnosa perihal tenggat usia seorang pasien?  Teman saya yang ditakar usianya dalam 2 tahun ke depan saja, ternyata tidak mati-mati, alias hidup sentosa sebagaimana manusia-manusia sehat lainnya.
        Dalam kasus Positif Covid-19, bagaimana kalau seandainya pasien tervonis merasa baik-baik saja, tak mengeluh sakit sama sekali, sementara ia sudah terlanjur menanggung stigma, rumahnya dipagari garis-polisi, dikucilkan dari pergaulan, atau bahkan di-bully khalayak jamak dengan kenyinyiran tingkat dewa?  Bagaimana kalau diagnosa itu salah atau kesimpulan Positif Covid-19 cacat-ilmiah?  Risiko apa yang mesti dipikul oleh para pekerja statistik yang telah mencantumkan dirinya sebagai bagian dari kurva penderita? Di mana tanggungjawab keilmuan orang-orang medik yang selama berkurun-kurun dipandang sebagai profesia mulia tempat banyak orang menyandarkan cita-cita?
Itulah sebabnya, saya tidak bisa percaya pada angka-angka. Saya lebih hormat pada jiwa-jiwa di mana para penderitanya adalah para manusia. Kecemasan manusia atas ancaman besar yang bakal merenggut nyawa mereka tak mungkin dibaca oleh statistik. Kekecewaan manusia atas orang-orang yang telah dipercayainya bakal memberi rasa aman dalam hidupnya sebagai warga negara, juga mustahil diukur dengan angka-angka. Kemarahan manusia atas manusia-manusia lainnya yang sengaja mencari keuntungan ini-itu di atas bencana kemanusiaan itu sendiri, hanya bisa dibaca dengan naluri kemanusiaan pula. Bukan dengan matematika, apalagi dengan grafik, diagram, dan kurva.  
Peduli setan dengan angka-angka dan statistika! Alih-alih membaca angka-angka, saya lebih tertarik untuk bercakap-cakap dengan kucing liar yang meminta suaka ke rumah saya--lantaran dibuang seperti binatang berpenyakit oleh majikannya. Sesekali saya tergoda untuk  bertanya pada hewan itu;  kenapa kaum binatang malah kebal dari virus korona? Kenapa saya tak mendengar kabar tentang kucing kesayangan nyonya-nyoya Jakarta terinfeksi korona?  Maka, di musim korona yang semakin mencekam ini, kalaupun saya akan bertanya dengan angka-angka sebagai jawabannya, pertanyaan terakhir saya adalah; sudah berapa banyak rakyat Indonesia yang gila, lantaran saban hari disuapi statistika?           
  
                       

Mulut Era Corona

Damhuri Muhammad Menjelang malam, selepas pergunjingan yang berkesinambungan, seorang per...