Tuesday, April 07, 2020

Hidup Kita Setelah Pandemi

-->
Damhuri Muhammad



 
Foto ilustrasi: Corona Cepatlah Berlalu (drawing pen on paper), karya Aidil Usman




Tak lama setelah himbauan penjarakan sosial (social distancing), atau yang kemudian berubah menjadi penjarakan fisik (physical distancing) dimaklumatkan, unggahan pose foto bersama di linimasa dari peristiwa pesta pernikahan mengalami trend penurunan tajam, bila tak dapat disebut raib sama sekali.  Sejak penularan Covid-19 merajalela, jangankan peristiwa pesta pernikahan, sekadar prosesi akad-nikah di hadapan petugas KUA saja, tak semuanya terpenuhi. Undangan telah tersebar, gedung telah di-booking, jasa Wedding Organizer (WO) telah dibayar, seragam tuan rumah telah siap pakai, tiba-tiba semuanya batal lantaran pandemi Corona. Beberapa video viral berisi peristiwa pembubaran pesta pernikahan oleh aparat memperlihatkan betapa pandemi itu tidak main-main. Betapa kerumunan orang adalah salah satu penyebab panjangnya mata rantai penularan, dan karena itu tak ada kompromi, tak ada basa-basi. Semuanya harus patuh atas nama kegentingan.         
Di Bogor, Jawa Barat, samar-samar terdengar keluhan sepasang pengantin baru, yang sejatinya telah merelakan pembatalan resepsi dan hanya akan menjalani prosesi akad-nikah secara cepat tanpa kerumunan, tapi ia tetap menyesali situasi yang tak normal itu. Betapa tidak? Pasangan itu tak akan punya dokumentasi atas kenangan berharga dalam tarikh keluarganya, tak akan ada ucapan selamat dari sahabat dekat, tak ada pelukan hangat dari karib-kerabat, termasuk nasihat dan doa-doa selamat dari para guru dan orang-orang terhormat. Kalau masih mungkin membuat dokumentasi penting, itu tak lebih dari pose formal-seremonial kedua mempelai bersama keluarga dari dua pihak bersama petugas KUA. Tampak muka memang, tapi hidung, mulut, hingga dagu tertutup masker. Kelak, pose bersama orang-orang “bertopeng” itu tak akan banyak berguna. Sebab, raut muka riang di hari bahagia tak akan terpancar sempurna tanpa ekspresi senyum yang terang-benderang. Raut muka apa yang dapat dibaca dari mulut terbalut masker?
         Lain peristiwa pernikahan yang sakral dan istimewa itu, lain pula pose bersama dalam grup reunian yang sebelumnya membanjiri linimasa. Kegandrungan berkumpul dengan teman-teman  di mall, restoran, cafĂ©, atau ruang-ruang publik lainnya, juga bagai raib dari peredaran. Bila masih ada yang nekat mengunggah pose-pose terkini dari kegitan reunian rutin, mungkin ia termasuk netizen yang kebal dari sinisme, komentar miring, bahkan caci-maki. Konten-konten visual yang diproduksi dari  berbagai aktivitas komunal sedang terhenti. Tak ada visual tentang syukuran rumah baru, syukuran kelahiran bayi pertama, syukuran khitanan putra semata wayang, atau sekadar visual arisan rutin yang biasanya bergilir dari rumah ke rumah.
Background  ruang publik pose selfi  yang biasa padat manusia, kini sepi dan mencekam. Pintu masuk pusat-pusat perniagaan hanya dijaga satu-dua petugas. Bila sebelum pandemi perkakas mereka adalah detektor logam, kini berganti termometer tembak, guna memastikan suhu tubuh pengunjung. Hampir semua gerai makanan, hanya melayani pesanan take a way alias bawa pulang.  Pose-pose personal jelas tidak diproduksi dalam situasi normal. Sebab, semua warga harus berada di rumah, tapi karena desakan kebutuhan, mereka harus menembus realitas abnormal. Dalam masa Work From Home (WFH), sejatinya warga dapat menggunakam jasa pesan makanan daring, tapi berurusan dengan kurir bukanlah tanpa risiko. Bila tak terelakkan, kita akan mengandaikan kurir itu sebagai carrier alias pembawa virus.
Kurir menyantolkan bungkusan makanan di pintu pagar, Tuan mengambilnya tanpa kontak fisik sama sekali. Sebelum membukanya, Tuan akan mencuci tangan lebih dahulu. Bukan Tuan saja yang “mencurigai” kurir itu sebagai pembawa virus. Kurir itu pun mencurigai Tuan sebagai “Orang Dalam Pemantauan” (ODP). Petugas keamanan di pusat perbelanjaan juga akan membaca Tuan sebagai pembawa virus, yang sewaktu-waktu akan menjadi bagian dari angka-angka dalam statistik pasien positif Covid-19. Di masa pandemi ini telah sempurna sebuah lingkaran setan kecurigaan dan pusaran ketakutan yang tak ada ujungnya. Saling curiga, saling waspada, saling menabung ketakutan. 
Para ahli menyebut situasi baru yang  janggal ini dengan istilah  new normal. Semacam normalitas  yang ganjil  karena kita terbiasa dengan kenyataan masa kini. New normal akan kukuh sebagai kenormalan di masa datang. Tak tertutup kemungkinan, normalitas di masa lalu, juga akan kembali menjadi new normal  di masa setelahnya. Normal dan new normal bergerak secara bergantian. Bila dipahami secara parsial, kita akan terkepung dalam ketakutan, seakan-akan krisis terus muncul. Tapi kalau dipahami secara holistik, pergantian situasi itu tak lebih dari sebuah siklus. Maka, yang diperlukan hanyalah beradaptasi dengan keadaan new normal itu.
Pada level yang lebih kritis, ada dua tokoh dunia yang menulis catatan penting perihal masa depan hidup kita pasca pandemi Corona. Pertama, sejarawan dan eskatolog kondang  asal Israel, Yuval Noah Harari. Dalam artikel pendeknya The World After Coronavirus (Maret 2020), Yuval mencemaskan kebangkitan totalitarisme akibat teknologi pengawasan yang kini sedang bergerak dari pengawasan “di luar kulit” ke pengawasan “di dalam kulit”. Bila sebelum pandemi, pengawasan atas warga hanya sebatas preferensi ideologi dan sikap politik, kegemparan wabah Corona telah membuat setiap warga di dunia harus rela “ditelanjangi” sedemikian rupa, meliputi suhu tubuh, detak jantung, dan situasi kejiwaan saat menghadapi keganasan Covid-19. Menurut Yuval, kelak data-data yang telah dihimpun oleh teknologi komputer  berbasis algoritma yang digunakan penguasa  itu tak akan dibuang percuma dengan dalih kedaruratan selanjutnya. 
Tokoh kedua, novelis India, Arundhati Roy. Dalam catatan kritisnya  atas kebijakan lockdown pemerintahan India yang berujung kacau, ia menyebut pandemi sebagai portal, gerbang yang memisahkan masa lalu dan masa datang. Dalam artikel  bertajuk The Pandemic is a Portal (April 2020) itu, Roy menjelaskan normalitas di masa lalu India adalah kebencian rasial, ketamakan penguasa, kerusakan lingkungan, dan yang terkini adalah nestapa pekerja migran Delhi yang diusir para tuan tanah dan kaum kelas menengah sejak lockdown dimaklumatkan. Mereka harus berjalan kaki ratusan kilometer menuju Badaun, Agra, Azamgarh, Aligarh, Lucknow, Gorakhpur, kampung halaman mereka. Atas nama kedaruratan, media arus utama di India membubuhkan “racun” Covid-19 dalam kampanye anti-Muslim. Organisasi Jamaah Tabligh yang menggelar pertemuan akbar di Delhi sebelum lockdown, diklaim sebagai super spreader  (penyebar kuat). Persepsi jamak yang muncul kemudian adalah, kaum muslim India sengaja menyebarkan virus itu atas nama jihad. Memasuki portal  new normal  pasca pandemi,  menurut Roy, apakah warga akan membawa kompleksitas persoalan masa lalu itu, atau akan melangkah ringan dengan sedikit barang bawaan, lalu berjuang untuk itu?
Kenyataan baru di Indonesia tak kalah janggal. Kabar duka dari toa masjid kini tidak lagi memberi stimulus bagi solidaritas kemanusiaan agar kita berbondong-bondong mendatangi rumah duka. Justru menghunjamkan ketakutan yang tak terbahasakan. Jangan-jangan jenazah yang terkapar adalah orang terinfeksi  Covid-19 yang tak melapor. Jangan-jangan ia akan menjadi penyebab kematian massal di permukiman kita, dan karena itu harus dijauhi. Bila ada kumandang adzan pertanda waktu shalat, alih-alih merangsang keinginan untuk berkumpul dan berjamaah, yang muncul sekali lagi ketakutan. Jangan-jangan suara muadzin itu masih mengundang kerumunan.  Jangan-jangan salah satu dari jamaah adalah orang yang terjangkit virus, dan karena itu permukiman kita bisa dipasang garis polisi, atau bahkan semua warga bakal digelandang ke ruang isolasi.
Begitulah pandemi bekerja, memproduksi lingkaran kecurigaan, mendedahkan pusaran ketakutan. Bukan saja pada abang-abang Ojol tumpangan saban petang, teman-teman kantor, bakul sayur di depan rumah, petugas pencatat tagihan listrik, tukang sol sepatu, bahkan pada  suami, istri, dan anak-anak sendiri, kita pun memendam curiga, menabung rasa takut. Menghapus jejak kecurigaan dan ketakutan selama pandemi melanda tentu tak semudah membasuh tangan dengan hand sanitizer...          




Saturday, April 04, 2020

Jas, Dasi, dan Tangan Kasar Dokter Hewan

-->
Damhuri Muhammad






Apakah karena saya dokter hewan sehingga saya nggak boleh menerapkan ilmu Fisiologi dan Petogenesis yang saya pelajari? Apakah karena saya tak punya gelar  sehingga tak pantas belajar atau berpikir? Apakah karena dandanan saya yang terlalu gembel sehingga nggak pantas bersanding dengan jas kalian? Apakah karena muka ndeso saya yang nggak enak kalian lihat? Apakah karena kalian baca text book virus sehingga saya yang sudah 15 tahun meneliti virus langsung nggak boleh ngomong?

Cuplikan kekesalan di atas saya copy-paste dari linimasa akun facebook pribadi atas nama Moh Indro Cahyono, 2 April 2020. Hingga kolom ringan ini saya turunkan, konten unggahan itu telah memperoleh 3.5K Like, 660 Comment, dan 203 Share, yang rata-rata berasal dari akun-akun organik alias bukan akun robot. Begitu juga dengan “Pakde Indro” (demikian netizen menyebutnya), pemilik akun dengan 47.075 orang pengikut itu, adalah akun asli dengan nama terang dan profesi sebagai dokter hewan, dan praktisi pencegahan wabah virus unggas. Dilengkapi dengan sebuah link URL blog pribadi dengan alamat www.mediaunggas.blogspot.co.id.


Sejak kegemparan akibat wabah Covid-19 bermula di Indonesia pada awal Maret lalu, rekaman video “Pakde Indro” yang berasal dari kanal Youtube telah berseliweran di platform kelompok percakapan daring. Dengan tampilan jaket cokelat, kumis-jenggot tipis yang tak rapi, rambut yang terkesan aut-autan, dan dialek ndeso, Indro menjelaskan duduk perkara virus Corona dalam ungkapan sederhana, ditambah ilustrasi gambar tangan di atas whiteboard. Bahwa virus (apapun jenisnya), membutuhkan inang untuk bertahan hidup. Sebagaimana benalu yang membutuhkan pohon lain sebagai tempat hidupnya, begitu juga virus. Adapun inang yang dibutuhkan oleh Covid-19 adalah droplet alias cairan atau lendir yang berasal dari sistem pernapasan. Penularan virus Corona yang sangat cepat itu, juga terjadi melalui media droplet itu.  Jika Anda batuk atau bersin, lalu droplet-nya jatuh di tubuh orang lain, atau jika Anda melakukan kontak fisik (bersalaman tangan misalnya) dengan orang yang terinfeksi, ada peluang penularan dalam peristiwa itu.
Foto: FB Moh Indro Cahyono
Foto: FB Moh Indro Cahyono

Saya tidak ingin masuk ke ruang perbincangan tentang sifat virus dan cara penularannya yang kini belum dapat teratasi itu, karena saya bukan ahli, dan tak ingin menambah daftar ahli dadakan di musim genting ini. Saya hanya berminat pada pola komunikasi yang digunakan Indro. Logis, mudah dicerna, dan mengandung itikad kuat untuk melawan arus ketakutan, akibat “teror” angka-angka dan statistika tentang korban Covid-19, baik di luar, lebih-lebih dalam negeri. Sebagai praktisi pencegahan wabah, dan peneliti virus dengan jam terbang 15 tahun, Indro berkali-kali menegaskan bahwa status positif Covid-19 bukan situasi yang tetap, melainkan dinamis. Di hari pertama pasien boleh jadi positif Covid-19, tapi pada hari kesekian sel-sel memori dalam tubuh, akan merekam virus yang masuk, untuk kemudian membangun antibodi guna melawan keganasan virus itu. Pada hari selanjutnya, sesuai hitungan para pakar,  virus akan mati. Di titik itu, status positif akan berubah negatif. Pakde Indro sering mencontohkan kasus pasien 1, 2, 3 (asal Depok) yang sembuh setelah menjalani masa isolasi.


Tak bermaksud mengurangi empati pada tim medik dalam kerja pelayanan yang bagai menyabung nyawa, dan upaya keras para pemangku kepentingan dalam percepatan pencegahan penularan Covid-19, cara yang ditempuh seorang dokter hewan seperti Indro, cukup menenangkan warga yang dari hari ke hari dikepung kecemasan, bahkan ketakutan.  Dari respons para netizen yang tercatat di kolom-kolom komentar pada setiap konten yang diunggah Pakde Indro, terang benderang betapa mereka lebih tenang dan merasa lebih aman ketimbang menyimak laporan angka-angka dan statistika yang saban hari dimaklumatkan oleh juru bicara Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Penularan Covid-19.


Kurva peningkatan jumlah kasus yang tak kunjung landai, hujatan atas kelalaian pemerintah yang tak sudah-sudah, APD medik dan masker yang langka, termasuk aktivitas ekonomi yang nyaris lumpuh, dan rupa-rupa kabar yang kian memperluas tumpukan kecemasan, seolah-olah mendapatkan oase yang sedikit menyejukkan bila sepintas lalu muncul konten pendek berisi narasi-narasi saintifik Indro Cahyono. Bahwa penularan itu telah mengalir sampai jauh iya, bahwa virus ini telah merenggut nyawa saudara-saudara kita juga iya, bahwa keputusan-keputusan untuk merumahkan karyawan di masa physical distancing juga terjadi di mana-mana, bahwa ada jutaan orang masih bertarung di jalan guna menghidupi keluarga juga tak terbantahkan, bahwa kita sedang berada dalam pusaran ketakpastian yang entah kapan berakhirnya, benar adanya. Tapi bukan berarti peluang untuk membangun harapan baru, tertutup sama sekali.


Dengan gaya bicara ndeso-nya itu, di berbagai kesempatan, Pakde Indro seperti tidak sedang melawan keganasan Corona, tapi sedang membendung arus deras ketakutan, bahwa esok atau lusa akan tiba juga giliran kita. Positif Covid-19, dikucilkan dari lingkungan, digelandang ke ruang isolasi, menghembuskan napas penghabisan, lalu dimakamkan tanpa iring-iringan karib-kerabat dan doa sanak-saudara. Tidak begitu, Saudara! Yang terdiagnosa positif Covid-19, baik melalui metode PCR (Polymerase Chain Reaction) maupun Rapid Test, bukanlah akhir dari riwayat kita. Kita akan selamat dan segera keluar dari krisis ini!  Demikian kira-kira substansi ajakan dari Pakde Indro. 

Dalam jangkar simulakra dan semesta hiper-reality di ranah pasca-fakta, tempat berhimpunnya sekian banyak suara, apa yang dilakukan Indro bukanlah tanpa risiko. Untuk mencegah penyakit yang sedang menyerang manusia, banyak orang malah mempercayai teori dari kitab usang seorang dokter hewan. Begitu kira-kira sinisme yang juga berseliweran di linimasa. Bukan hanya dari khalayak awam, cemoohan kasar itu tak jarang pula datang dari seorang dokter spesialis bertitel Ph.D. Saya tidak perlu menyebut nama-nama mereka.


Pada level yang lebih ekstrem, sejumlah haters menyebut lulusan fakultas kedokteran hewan Universitas Gajah Mada itu sebagai pendukung strategi Herd Immunity (Kekebalan Kawanan). Istilah yang belakangan kerap diembuskan oleh banyak pakar virus di luar negeri. Prinsipnya tidak lagi mencegah penularan, tapi justru mengundang virus hingga angka pasien terinfeksi mencapai 60-70% populasi di sebuah negara. Di titik itulah kemudian antibodi bersama akan terbentuk, dan penularan berhenti dengan sendirinya. Pendek kata,  dalam kasus Indonesia, dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 10% saja, maka metode pencegahan akan mengakibatkan jutaan orang meninggal dunia, terutama kelompok usia 60 tahun ke atas. Bila tuduhan itu benar, maka timbunan jenazah yang diangkut ke pemakaman massal bukan lagi korban infeksi Covid-19, tapi korban genosida paling santun di dunia.


Bagi saya, Pakde Indro jauh dari klaim sepihak dan mengada-ada itu. Ukurannya sederhana saja. Meski disebut-sebut sebagai ahli virus, dan telah berhasil membuktikan Flu Burung tidak menular pada manusia, Indro tidak sedang bekerja “menangkap” virus guna mempelajarinya di laboratorium, tapi sedang habis-habisan bertarung melawan ketakutan yang sedang memasung segenap rakyat Indonesia. Maka, saya tidak akan ikut-kutan menelusuri jejak keilmuannya, karya-karyanya, apalagi membanding-bandingkan reputasinya dengan ahli-ahli virus atau epidemiologis lain, yang sedang bekerja keras menghadapi keganasan Covid-19.


Dalam situasi normal saja, kita biasa menabung harapan dan optimisme untuk bangkit, pada orang-orang yang kita percayai dapat menyuguhkan kesejukan. Katakanlah para tokoh agama, orang-orang terpelajar yang dalam ilmunya, para guru, dan para arif-bijaksana. Bahkan tak jarang pula, banyak yang menggantungkan harapan akan perubahan nasib di masa datang pada seorang ratu di Istana Ubur-ubur, Kanjeng Prabu di Kraton Agung Sejagat, atau mengadukan nasib dan peruntungan yang tak kunjung berubah pada seorang pejabat teras Sunda Empire.Kini, para ustadz, mubaligh, ulama hanya dapat bersuara di kanal-kanal maya tanpa tatap muka, karena masjid dan musholla sedang dikunci, forum-forum majelis taklim sedang berhenti, kuliah subuh ditiadakan, karena tak seorang pun yang diperkenankan membuat kerumunan. Maka, kedahagaan akan harapan untuk selamat dari kegentingan ini  secara tak sengaja terkanalisasi pada sosok Pakde Indro. Dokter hewan berpenampilan juru parkir, yang sekali waktu dipuja dan dihormati, tapi kali lain dicerca dan dihina, sedina-dinanya.


Tak ada yang dapat menghentikan upaya  Indro Cahyono dengan caranya yang unik dan ndeso itu. Tak ada yang memaksa untuk mempercayai teorinya. Di kanal-kanal pribadinya, tak ada simbol larangan mem-bully. Silahkan saja! Tapi ketenangan dan kesejukan yang dihembuskannya, sebagaimana penularan virus Corona, juga telah mengalir sampai jauh, telah menenangkan jiwa-jiwa yang  menderita. Tak ada jaminan kumuntlakan dari pendekatan saintifik yang digunakannya, begitu pula dengan temuan ilmiah pakar-pakar lainnya. Selalu ada ceruk bagi kealpaan, bahkan potensi kesalahan.


Yang pasti, dalam sejarah keilmuan,  kebenaran tak butuh dukungan banyak orang. Ia tegak dengan tubuhnya sendiri. Tanpa dukungan para pemandu sorak berbayar sekalipun, wajah kebenaran tak akan terdistorsi. Siapa tahu, penyakit yang kini sedang menggerogoti manusia, memang harus dibereskan dengan tangan kasar seorang dokter hewan. Jangan-jangan manusia masa kini, yang berada dalam balutan jas dan dasi, tapi senantiasa merawat nafsu hewaniah, telah  tertular  banyak penyakit, yang hanya bisa disembuhkan oleh seorang dokter hewan…

Damhuri Muhammad

Kolumnis                                                         


Mulut Era Corona

Damhuri Muhammad Menjelang malam, selepas pergunjingan yang berkesinambungan, seorang per...