Saturday, May 02, 2020

Mulut Era Corona




Damhuri Muhammad






Menjelang malam, selepas pergunjingan yang berkesinambungan, seorang perempuan tua tak berdaya melawan kantuk. Tiga ronde ia menguap hebat. Diameter rongga mulut pada uapan pertama masih dalam batas normal. Pun yang kedua. Hanya sedikit lebih luas dari nganga mula-mula. Tapi uapan penghabisan, lantaran kantuk yang kian ajaib, diameternya hampir menyamai ukuran putik kelapa. Jarak antara bibir atas dengan ujung hidungnya amat dekat. Sementara bibir bawah nyaris bertaut dengan daging dagunya. Dalam sepersekian detik,  terdengar bunyi  krak dari rahang yang terbuka. Ditimpali suara ngok, ngok, ngok dari pangkal kerongkongannya. Seperti ada katup yang terkunci secara otomatis. Mulut yang menganga dalam ukuran di atas rata-rata, tidak bisa dikuncupkan kembali. Senantiasa menganga seperti mulut bangkai musang yang dikarantina.

Sumber: https://suatmm.com/collections/face-masks/products/tiger-king-joe-exotic-face-mask


Beruntunglah kepanikan itu segera dibereskan oleh seorang tukang pijat yang tampak mulai uzur. Digenggamnya lingkar dagu dari mulut yang mulai mengering itu, lalu dalam satu kali hentakan napas, ia pelintir dagu itu seperti kerja beruk memetik buah kelapa dari tandannya. Kraaaaaaaaak…Puji Tuhan,  mulut itu kembali elastis. Mangap dan mingkem seperti khittah-nya. Kelak, bertahun-tahun kemudian, peristiwa langka itu menjadi tauladan perihal hukuman ringan bagi mulut yang surplus bicara. Cangkem yang bagai tak letih-letih bergunjing. Diam! Atau mulut itu bakal menganga sepanjang masa! Seperti goa di kedalaman rimba raya yang dihuni oleh kawanan kelelawar. Begitu kira-kira nasihat para tetua.  
            
Suatu masa di kurun modern, sedemikian bahayanya organ  tubuh bernama mulut, hak untuk berbicara dan berpendapat pernah dianggap aib. Dimaklumatkan sebagai ancaman laten, lalu penguasa membuat pasal-pasal pembungkaman. Dalam sebuah anekdot, Gusdur menukilkan kisah tentang pejabat tinggi Indonesia yang angkat bicara dalam suatu seminar. Ia bilang, banyak orang Indonesia yang pergi ke Singapura hanya untuk memeriksakan giginya. Gus Dur yang hadir dalam acara itu terkejut mendengar cerita itu. Setelah pejabat itu bicara, ia duduk persis di sebelah Gus Dur. Sambil berbisik Gus Dur bertanya, “Pak, apa kita kekurangan dokter gigi atau mutu dokter gigi kita rendah, sehingga banyak orang kita ke Singapura hanya untuk periksa gigi?”
“Bukan itu masalahnya,” jawab si pejabat.
“Lalu apa?” kejar Gus Dur.
“Ah, masa sampeyan ndak tahu. Di negara kita kan sekarang orang tidak boleh buka mulut.”
“Ooooo, ya..ya..ya,” kata Gus Dur, mengangguk-angguk. “Mengerti saya,”  kata Gus Dur agak telat, mungkin takut dicekal. Demikian kisah yang terbukukan dalam Ger-Geran Bersama Gus Dur (2010), yang disiar-ulangkan oleh www.alif.id (2019).
            
Pada 2015, seniman Putu Wijaya, memanggungkan lakon monolog berjudul Mulut. Seorang perempuan desa yang tak punya mulut. Di bawah hidungnya kosong, tak ada bibir. Tak ada yang tahu apakah ia punya gigi dan lidah di balik wajah yang terkunci itu. Dalam keadaan tuna mulut itu, ia membuat bingung warga. Kedua matanya membelalak seperti mata ikan koki, tetapi kerlingannya tajam seperti cakar harimau. Hidungnya bangir, namun tidak kepanjangan seperti Petruk. Kulitnya lembut dan hangat. Wajah dan air mukanya sangat cantik. Kata tukang jual siomai, tanpa mulut, perempuan itu justru seperti bidadari. Siapa saja yang memandangnya dengan bebas dan rahasia dapat menempelkan dalam angan‑angannya jenis mulut yang dia sukai. Wajahnya yang  begitu luwes.  Diberikan mulut apa pun cocok. Mulut dower, mulut monyong, atau yang sedikit nyakil pun cocok.            
            
Karena tak ada mulut, bibirnya malah bisa digonta‑ganti seenaknya.  Mau bibir kowel-kowel model orang utan atau  bibir  bekicot yang nyerep dan becek, terserah. Tapi ada juga yang menilai tampangnya jelek, bahkan menakutkan.  Semolek apapun mata dan raut wajahnya, sebening dan sesempurna apapun perasaan yang terlontar dari wajah itu, tanpa mulut ia adalah makhluk cacat. Hanya setan yang bisa mencampur kecantikan dengan yang mengerikan. Artinya perempuan itu mungkin setan. Hanya setan yang bisa menikmati setan. 
           
Maka, timbullah masalah. Perempuan tanpa mulut itu ditangkap! Pasalnya sederhana; ia tidak punya mulut, dan karena itu telah meresahkan. Betapa tidak? Ia telah membuat warga menganggap yang tak normal sebagai normal. Warga sudah habis-habisan membela, tapi petugas tetap ngotot, dan ingin mengamankan biang keresahan itu. “Mana mulut kamu?” kata petugas dengan tampang sangar. “Kamu sembunyikan di mana mulut kamu?” gertaknya lagi. Lha, bagaimana ia mau menjawab, wong mulut saja tidak ada? Berbulan-bulan setelah diamankan, perempuan itu kembali dengan penampilan yang sama sekali berbeda.
                 
Ia sudah punya mulut! "Kini aku sudah punya mulut. Aku tidak minder lagi. Aku sama dengan kalian. Mulutku ini sudah terlatih dalam banyak hal. Bisa menyanyi. Bisa bahasa Inggris. Bahkan juga bisa baca puisi kalau diperlukan. Maaf sekarang sudah bisa cipokan," demikian Putu Wijaya berkisah. Tak pelak lagi, masalah baru pun tiba. Perempuan itu ngoceh terus, meski tak ditanya. Dari pagi sampai malam ia terus ngomong. Mungkin karena kemaruk. Barangkali ia terlalu gembira. Matanya sudah terpejam, tapi mulutnya nyerocos seperti ban bocor. Ia berubah cerewet, bawel, menyebalkan.
              
Negara yang telah berbaik hati memasangkan mulut indah di bawah hidungnya, seperti membesarkan anak harimau. Setelah wajahnya lengkap sempurna, malah sekali lagi jadi biang keresahan. Menganggu stabilitas. Terlalu banyak bicara, adalah tidak beriman di masa itu. Tak ada jalan lain. Perempuan normal yang telah bikin ulah itu sekali lagi harus “diamankan.” Mulut itu harus kembali rata seperti semula. Dipulangkan ke rupa mula-mulanya; perempuan tuna mulut. Dibungkam dengan cara mengembalikannya pada khittah; silence is golden.
            
Di masa kini, ketika gosip dan gunjing merajalela di dunia maya. Dongeng usang tentang nganga cangkem yang tak bisa kembali mingkem rasanya tidak lagi ampuh. Undang-undang pun tak mempan membendung air bah suara dari jutaan akun yang beranak-pinak setiap hari. Nganga mulut era digital telah menyamai kelebaran mulut toa, yang dalam sepersekian detik dapat menyebar ke mana-mana. Tak ada pula pembungkaman seperti di masa lalu. Semua bebas bicara. Tentang apa saja. Dengan siapa saja. Didengar atau tak, pokoknya bicara. Penyakit ini sudah menular ke mana-mana. Menjangkiti siapa saja. Saya bicara, saya berkomentar, maka saya ada.
        
Lalu, tersiar kabar tentang wabah corona. Virus yang tak kasat mata. Bukan ancaman pembungkaman dari penguasa. Bukan pula nasihat para ulama agar berbicaralah yang baik-baik atau diam saja. Tapi ancaman kematian. Bila masih petantang-petenteng buka mulut di keramaian, congor itu bisa memuncratkan lendir,  yang di dalamnya bermukim malaikat maut, bernama Corona.  Bila tidak tertular, Tuan akan dituding sebagai penular. Maka, sumbatlah mulut itu. Pakai masker, atau mati!  Mulut dibungkam bukan untuk menyembunyikan bau lantaran sedang berpuasa. Bukan karena gamang pada pasal-pasal pembungkaman, melainkan karena takut pada maut.  
           
Tapi karena banyak bicara adalah niscaya, nyinyir adalah takdir, mulut-mulut yang sudah disumpal masker tetap gandrung bersuara, yang kadang-kadang mulai terdengar janggal. Tuan bilang Wuhan, kami dengar Tuhan. Tuan bilang tabah, kami dengar wabah. Tuan bilang Sampar, kami dengar tampar. Mereka bilang jangan mengeluh, kami dengar jangan bersetubuh. Mereka bilang percayailah data, kami dengar hormatilah dusta. Mereka bilang kobarkan semangat, kami dengar pasanglah niat menuju kiamat…
           
                 
                        

-->


                 

No comments:

Mulut Era Corona

Damhuri Muhammad Menjelang malam, selepas pergunjingan yang berkesinambungan, seorang per...