Puisi sebagai Pesan yang Tak Berstatus Centang Biru


Damhuri Muhammad




Saya membaca buku puisi bertajuk Ambavasnabhisma (Serenada Kata-kata) karya Lintang Ratri, bersamaan dengan keriuhan linimasa medsos akibat isu eksodus besar-besaran pengguna aplikasi percakapan daring WhatsApp (WA) ke platform Telegram dan Signal. Pasalnya terdengar cukup serius. WhatsApp disebut-sebut membuat kebijakan baru yang konon setengah memaksa para penggunanya untuk merelakan data yang tersimpan di WA terintegrasi secara otomatis dengan Facebook. Netizen +62 pun meradang, karena privacy mereka bakal semakin bertelanjang. Maka, mereka ramai-ramai melakukan perlawanan dengan bermigrasi ke platform lain yang dianggap lebih menghormati kerahasiaan data pribadi.  

Foto: Damhuri Muhammad


Oleh karena buku setebal 88 halaman ini sebagian besarnya dirancang dengan corak surat-surat tak berbalas dari perempuan bernama Amba kepada lelaki pujaan bernama Bhisma, perkenankan saya mengamsalkan puisi dalam buku ini sebagai platform pengiriman pesan, sebagaimana WhatsApp, Telegram, maupun Signal. Bedanya, puisi sebagai platform pengiriman pesan, tak bakal berbalas, tak akan terlapor dengan dua centang biru, bahkan risiko paling fatal; gagal sampai di tujuan. Bila pesan-pesan tak kesampaian, pesan centang satu, centang dua hitam, atau dua centang biru (tapi no-reply) di platform WA, bisa bikin netizen kecewa bahkan tak jarang berkelahi sepanjang hari, pesan-pesan puitik Amba pada lelakinya, saya pastikan jauh dari kemungkinan itu. 


Alih-alih meluapkan amarah lantaran pesan yang tak berbalas itu, atau setidaknya mencurigari puisi sebagai platform lemot dan tak bisa diandalkan, menurut hemat saya, Lintang justru amat bersetia pada piranti puitik itu. Tuhan, aku tenggelam, tapi jangan biarkan aku terselamatkan...Demikian cuplikan dari puisi berjudul Aku, Kau dan Itu (hal 27), yang seperti hendak menegaskan bahwa ia tak ingin diselamatkan dari penantian panjang, tak ingin rindu menahunnya dibereskan oleh perjumpaan. 


Pesan-pesan puitik yang mengandung permintaan untuk pulang lantaran rindu yang terus membuncah, dan modus-modus bertanya perihal durasi panjang penantian (hari ke berapa, Bhisma? Hari, berapa lagi? Ke berapa? Aku. Kamu. Kita. Berapa hari lagi?), sama sekali tidak berpretensi untuk terjawab. Lagi pula, bagaimana mau berbalas ketika tak satu pun pesan yang berstatus sebagai centang biru? Alih-alih si pengirim berharap pesannya sampai di tujuan, ia malah memperlakukan puisi sebagai kurir yang gagap membaca alamat, bekerja amat lamban, bahkan kalau bisa diserang banjir atau komplotan perompak di tengah jalan. 


Dengan begitu, wajarlah Bhisma tak pernah tahu jika Amba, perempuan masa silamnya, ternyata begitu tekun menulis surat. Saban hari ia meredakan keliaran rindu dengan memproduksi pesan, menghadang derita penantian dengan menata keriuhan debar dada saat dilanda senja, purnama, dan dejavu. Guna menggambarkan suasana ganjil itu, Lintang menggunakan takaran-takaran tertentu sebagaimana kita memiliki impresi auditif saat mendengarkan musik. Level pertama adalah platform pesan puitik berisi kenangan malam pertama, sesak rindu, tawanan senja, suwung, dan permintaan lekas pulang, yang ia namai dengan Allegro alias tempo cepat, lebih cepat, dan cerah. Begitu gegas, lebih lekas, tapi suasananya cerah. Jadi, betapapun luapan kerinduan pada Bhisma begitu menggebu-gebu, substansi pesannya dibuat langsung pada pokok soal dalam waktu sangat cepat  (barangkali hampir sama dengan kecepatan jari  Netizen +62  saat mengetik pesan di platform WA), tapi begitu tombol send dipencet, seketika kelegaan tiba, suasana kalut berubah cerah. Dalam tempo ini,  dibalas atau tak, dua centang biru, atau satu centang hitam, bukanlah soal. Yang hendak dikejar bukan ketergesaan, melainkan kelegaan dan kecerahan luar dan dalam subyek pengirim.  


Level kedua ia namai Vivace alias tempo lebih cepat dan hidup. Judul pesan makin pendek, makin lugas (Suaka, Buih, Ah), yang mengingatkan saya pada pesan supersingkat Netizen +62 dengan satu huruf saja, semisal y untuk "yes", n untuk "no"  dan p untuk "pak."  Malam pertama. Hujan di balik jendela. Sempurna. Demikian puisi berjudul Ah (hal 29). Meski level ini temponya lebih cepat (dari Allegro), tapi pesan-pesan puitik untuk Bhisma, tak hanya membuat si pengirimnya mengalami suasana cerah, lebih jauh ia merasa lebih "hidup." Barangkali seperti "hidup" yang dialami oleh subyek penyair Sitor Situmorang saat melahirkan sajak pendek berbunyi;  Malam lebaran. Bulan di Atas Kuburan.  "Hidup" yang dimaksud si pengirim pesan tentu bukan karena pesan berisi dejavu malam pertama telah tersampaikan, tapi sekadar terungkapkan. Sekali lagi, sampai atau tak, si pengirim pesan tak akan sekarat, tapi justru akan semakin hidup. Malam kedua. Hujan cerita. Mencerahkan, hati dan kepala (dalam sajak berjudul Ah 2).


Tempo ketiga ia sebut dengan Adagio, alias tempo melambat, tapi ekspresinya luar biasa. Di level ini pesan-pesan puitik seperti telah melampaui fase ketergesaan, daya ungkapnya kembali datar, tapi ekspresi masih tampak sedemikian rupa dan luar biasa. Dalam puisi berjudul Histeria, Lintang menggunakan amsal perempuan yang membutakan dirinya begitu saja, agar ia tidak lagi dapat melihat apa-apa, tapi ekspresi muka subyek yang sedang dimabuk rindu, ternyata tidak bisa dibutakan. Dalam ungkapan yang tenang dikatakan Kurasa aku menuju ke sana/Mencintaimu lebih melelahkan dari yang aku duga (hal 38). Mencintai Bhisma mungkin melelahkan, tapi memformulasikan pesan yang mengandung kisah tentang keletihan, adalah soal yang lain.  Semakin letih, raut muka si pengirim pesan justru tampak semakin ekspresif. 


Pada level yang terakhir, lelaku menanggung rindu benar-benar kembali stabil, sebagaimana lazimnya orang berjalan atau ia sebut dengan ANDANTE.  Harap dan cemas pada Bhisma telah menjadi stamina yang menggerakkan organ tubuh, sudah amat menyehari. Tiada lagi ekspresi menyala-nyala, tak tergesa-gesa, tak ada ekspresi berlebihan, tapi tanpa pesan-pesan puitik untuk kekasih yang hilang itu, justru bisa berakibat kelumpuhan.  Pesan-pesan yang terasa datar,  di titik ini malah menjadi sumber tenaga, agar kaki dapat melangkah, agar hidup dalam keranda kerinduan, tetap terus berdenyut.  


Di dunia cerita, tentu sudah banyak musabab kenapa surat-surat beraroma kerinduan yang menahun tak kunjung sampai pada alamatnya. Ibu tiri yang jahat, jodoh pilihan keluarga, atau tukang kebun yang dibayar guna menguburkan setiap surat beraroma perempuan yang masuk ke kotak di depan pagar, biasanya menjadi pihak-pihak yang tertuduh. Dalam kasus Amba-Bhisma kisah-kisah klise itu diselamatkan oleh platform pengirim pesan bernama puisi. Berbeda dengan platform percakapan daring yang harus menjamin ketersampaian pesan secara instan,  agar secepatnya pula dibalas (bahkan bila perlu disempurnakan dengan pesan suara), platform puitik tidak mungkin memanjakan para penggunanya dengan janji-janji itu. Ia hanya menyediakan ruang yang lapang sebagai kanal bagi luapan air bah  ekspresi puitik yang tak akan mungkin berstatus centang biru. Maka, data pribadi sangat aman di platform ini, tak bakal ada kebocoran. Platform jadul ini dapat menyimpan rahasia begitu rapat. Kalaupun ada yang tak tersembunyikan, itu sekadar gigil ujung jari saat menekan tombol-tombol keypad virtual, atau air muka saat produksi pesan tiba-tiba jeda sesaat karena serangan dejavu. Selebihnya hanya semesta asing, tapi  selalu melegakan, mencerahkan, menghidupkan.

"Hai telpon pintar! Mana Tuanmu? Sampaikan pesanku; revisi saja kisah usangnya. Reparasi takdir buruknya. Pastikan dua centang biru!" begitu kira-kira saya membayangkan daya ungkap Lintang sekali waktu. "Ia tak mungkin menggulung waktu, Wahai Nona  pembawa pesan. Tapi percayalah, yang kadaluarsa sudah ia perbaharui, yang rusak parah telah ia reparasi. Kini telah berdiri sebagai bilik kecil berjeruji besi, tempat ia menjalani pidana seumur hidup," balas telpon pintar dalam pesan yang tak akan pernah berstatus centang biru... 


Damhuri Muhammad

Esais. Kolumnis


     

     


Comments

Popular Posts