Tungku Pemuaian Puing Tembaga dan Zoom yang Menyala di Seluruh Belahan Dunia

DAMHURI MUHAMMAD 

"Saya akan melakukan semua yang saya bisa, sampai Anda memberi tahu saya bahwa saya tidak akan pernah bisa datang ke sini lagi. Jika tidak, saya tidak akan berhenti!" kata Eric Yuan kepada pegawai  Kedubes USA di Cina, sebagaimana dikutip oleh Alex Konrad (2019) dalam Zoom, Zoom, Zoom! The Exclusive Inside Story of The Billionaire Behind Tech's Hottes IPO di www.fortune.com. Sikap pantang menyerah itu diungkapkan Yuan saat verifikasi nama dan data kewarganegaraannya dalam versi bahasa Inggris guna mendapatkan Visa USA yang sudah berkali-kali berujung dengan penolakan. Masa itu, data-data pribadi Yuan membuat petugas mencurigai sarjana jebolan Shandong University of Science & Technology itu sebagai pekerja paruh waktu.  



Masa kecil Yuan yang tumbuh dalam keluarga pekerja tambang di belahan timur Cina (provinsi Shandong) ditandai dengan kesibukan memuaikan puing tembaga sisa kontruksi tambang di halaman belakang rumahnya, untuk kemudian dijual. Suatu hari, api dari pembakaran untuk mencapai suhu tinggi itu menjalar sampai ke rumah tetangganya, hingga petugas pemadam harus turun tangan membereskannya. "Orangtuaku benar-benar kesal," kata Yuan, mengenang masa lalunya. 

Permohonan Visa USA Yuan baru diterima pada 1997, setelah ia bekerja di Jepang selama 4 tahun. Keberangkatannya menuju "ibukota" teknologi digital, Silicon Valley AS itu rupanya terinspirasi oleh  pidato Bill Gates tentang masa depan internet. Karier pertama Yuan sebagai pekerja expert dengan keahlian matematika komputasional berlangsung di WebEx, perusahaan rintisan (Startup) yang bergerak di sektor web-conference. Sebagai bagian dari dotcom bubble, WebEx sedemikian mentereng sebagai penyedia  piranti lunak konferensi-video yang memanfaatkan kecepatan internet. Yuan tercatat sebagai angkatan perintis di perusahaan yang kemudian menggelar Initial Public Offering (IPO) pada Juli 2000 itu, dan diakuisisi oleh Cisco dengan nilai sebesar 3,2 milyar dolar AS pada 2007.     

Pada musim panas 1997, Yuan bergabung dengan WebEx yang waktu itu baru berusia 2 tahun, berbasis di Milpitas, California. Sebagai karyawan muda, Yuan secara rutin membuat kode sepanjang malam, dan kadang-kadang  tanpa tidur sama sekali. Berkat ketekunan dan keuletannya, setelah WebEx diakuisisi  Cisco,  Yuan  didaulat sebagai Vice President bidang teknik. Tapi pada 2010, sebagaimana diungkap oleh Alex Konrad, Yuan tidak terlalu berbahagia dengan posisi pentingnya itu. Menurut Yuan,  layanan WebEx  memiliki banyak kelemahan. Setiap kali pengguna masuk ke platform video-konferensi WebEx, sistem harus mengidentifikasi versi produk mana (iPhone, Android, atau PC ) yang akan dijalankan, dan itu yang memperlambat segalanya. Terlalu banyak orang di jaringan  telepon akan membebani koneksi dan menyebabkan audio atau  video terputus-putus. Layanan WebEx masa itu juga belum memiliki fitur modern seperti berbagi layar untuk perangkat seluler.  

Yuan tidak melihat satu pun pelanggan yang  puas dengan produk video-conference yang telah ia kembangkan selama bertahun-tahun di WebEx. Pada 2011, Yuan menawarkan sistem video-conference yang pro gawai cerdas pada  manajemen Cisco. Tapi penawaran itu ditolak. Barisan elit Cisco tampaknya masih betah menggunakan kode buggy  bikinan Yuan  untuk WebEx  20 tahun yang lalu. Atas dasar ketakpuasan itu, posisi Vice President pun ia tinggalkan, lalu Yuan merintis perusahaaan baru bernama  Zoom Video Communications. "Cisco lebih fokus pada jejaring sosial, mencoba membuat perusahaan seperti  Facebook. Cisco membuat kesalahan. Tiga tahun setelah saya pergi, mereka menyadari apa yang saya katakan itu benar," kenang Yuan. 

Masa-masa awal membangun Zoom, bukanlah momen-momen yang mudah. Rintangan terbesar Yuan adalah meyakinkan istrinya yang tampak ragu, lantaran ia telah membuang kesempatan memimpin perusahaan yang mengelola 800 karyawan. "Saya tahu ini perjalanan yang panjang dan sangat sulit, tetapi jika saya tidak mencobanya, saya akan menyesalinya,” kata Yuan. Tak lama kemudian, sekitar 40 rekan insinyur  WebEx bergabung dengan Yuan untuk mengembangkan Zoom, meski perjalanan Zoom tetap saja  tidak mulus. Zoom pernah dikomplain salah satu pelanggan perihal ketakjujuran yang dalam sistemnya, tapi Yuan mampu meyakinkan bahwa tuduhan itu tidak benar. Perlahan, Zoom mulai berkembang dan semakin pesat. Dan Scheinman, mantan kepala pengembangan perusahaan Cisco, tidak ragu-ragu menyiapkan cek senilai 250 ribu dolar AS sebagai pendanaan awal Zoom. Yuan juga berhasil mendapatkan 3 juta dolar AS dari Subrah Iyar, mantan bos, sekaligus pendiri Cisco.  

Ketika versi pertama Zoom diperkenalkan ke pasar pada 2013, aplikasi itu berhasil memikat 3500 perusahaan dalam waktu 5 bulan sejak peluncuran. Dua tahun kemudian jumlah itu bertambah menjadi sekitar 65.000 perusahaan.  Saat bel pertanda dimulainya Initial Public Offering (IPO) di Nasdaq pada April 2019, dengan percaya diri, Yuan mengatakan "Sebuah permainan baru dimulai hari ini.", Startup milik Yuan  memang tak setenar Lyft dan Pinterest, dua perusahaan konsumen yang baru saja melakukan IPO waktu itu,  Tapi bagi siapa pun yang sudah mengenal Yuan, akan terkejut.  Bukan karena bagaimana ia sampai di sana,  tapi karena pendiri aplikasi video-conference yang popular sejak Pandemi Covid-19 itu betul-betul hadir secara fisik.  

Sebelum Pandemi Covid-19  Zoom fokus menyediakan layanan bagi dunia bisnis dan baru digunakan oleh  10 juta orang yang kebanyakan berasal dari kalangan pekerja atau pebisnis saja. Tapi perjumpaan fisik yang dibatasi sejak WHO memaklumatkan Covid-19 sebagai pandemi global, Zoom diklaim telah mengalami peningkatan pelanggan dalam level yang tak terduga sebelumnya. Pada April 2020, Zoom dilaporkan telah digunakan oleh 300 juta orang. 

Zoom menawarkan 9,9 juta saham Kelas-A dalam IPO-nya untuk mengumpulkan dana segar hingga  346,9 juta dolar AS. Di hari pertama, saham Zoom naik sebesar 72%. Yuan pun menjadi miliarder instan pada usia 49 tahun, di mana ia memiliki 20% saham perusahaan bernilai sekitar US$ 2,9 miliar itu.Yuan langsung menduduki peringkat No. 192 di daftar 500 orang terkaya versi Bloomberg. Lima bulan kemudian, ia menjadi orang terkaya No. 50  di dunia dengan nilai kekayaan yang sebesar 66 triliun dalam 3 bulan.

Setelah mendominasi pasar pengguna video-conference, dan jauh meninggalkan pemain-pemain lama seperti Skype, Hangouts, bahkan  WebEx sendiri, Yuan mengatakan bahwa Zoom akan fokus pada keamanan, sebagaimana disorot berbagai kalangan di awal popularitasnya. Perusahaan yang berbasis di San Jose, California itu telah mengumumkan beberapa peningkatan keamanan pada versi terbaru aplikasinya, seperti fitur melaporkan pengguna dan peningkatan keamanan di level enkripsi.

Demikianlah Zoom yang kini telah menjadi keseharian kita dalam masa Work From Home (WFH)  yang entah bila bakal bersudahnya. Platform rapat daring yang lahir dari tangan Eric Yuan telah menjalar ke mana-mana, seperti menjalarnya api di tungku pemuaian puing tembaga di belakang rumah masa kanak-kanaknya. Nyala itu tidak sekadar membakar rumah tetangganya, tapi  telah menerangi raut muka temaram segenap warga dunia yang hingga kini tak bisa saling bertemu muka... 






 


 

       



Comments

Popular Posts