Chairil Anwar dan Hal-ihwal yang Tak Tergenggam

Damhuri Muhammad


PUNCAK pendakian kepenyairan Chairil Anwar (1922-1949) adalah keberanian mendeklarasikan “keakuan”  dalam realitas “kekitaan” yang sepanjang waktu dijaga ketat oleh tentara, bahkan hingga naik-turun detak jantungnya di malam buta. Di tangan Chairillah bermulanya kesadaran eksistensial dari subyek otonom dan otentik bernama; manusia Indonesia. Aku yang mandiri. Aku yang tiada bakal tergoda, apalagi terbeli. Aku yang “haram-jadah” berkompromi apalagi berdamai dengan kawanan maling yang masih leluasa menggeledah rumah sendiri. 


Ilustrasi: IG @besthitmember

Dalam tarikh dan riwayat yang singkat, Chairil mengerahkan segenap tenaga dan stamina, menyelam hingga ceruk-ceruk paling dalam, menikam hingga hulu belati ikut terbenam, guna merengkuh semesta keakuan yang bebas, keakuan yang menerabas tebing-tebing paling cadas, keakuan yang tegas; Kalau sampai waktuku/Kumau tak seorang kan merayu/Tidak juga kau. Demikianlah sajak yang mengembuskan energi pembebasan, gairah yang mendidih, tapi sekaligus  membersitkan ketakutan tak terkira, di jaman ketika setiap liang keliaran dipasung dan dikekang rapat-rapat oleh kedigdayaan kuasa Jepang. 

Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang menerjang/Luka dan bisa kubawa berlari/berlari. “Binatang jalang? Apa saudara ini jago-jagoan begitu. Saudara bisa celaka sendiri, saudara bisa mati digebukin orang,” begitu ungkapan kegamangan Rosihan Anwar, selepas mendengar sajak itu dideklamasikan oleh Chairil. Seperti petir di siang bolong, bagai ledakan mahadahsyat yang menggempur labirin kesunyian. Sebelum itu, tak ada yang berani secadas Chairil, tak ada yang bernyali tegak berkacak pinggang di hadapan kekuasaan Jepang yang sedemikian menakutkan.

Peristiwa itu berlangsung di sebuah ruangan di Pusat Kebudayaan Jepang, yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai Keimin Bunka Sidosho. Lembaga yang dibentuk Jepang pada 1 April 1943, guna mendukung kekuasaannya di tanah jajahan baru. Armijn Pane, Sutomo Djauhar Arifin, Usmar Ismail, Inu Kertapati, dan Amal Hamzah adalah para seniman yang berkhidmat di bagian kesusastraan lembaga itu. Secara rutin mereka menggelar diskusi dan deklamasi sajak. Hari itu dideklamasikan sajak penyair Pujangga Baru: Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Sanusi Pane. Tak lama berselang, seseorang tampil berdiri dengan rasa percaya diri yang tak tanggung-tanggung. Tanpa beban ia mengatakan, sajak-sajak itu sudah usang.  Lekas ia mengambil kapur tulis dan mulai menuliskan sajak yang ia hapal di luar kepala. Ia menulis sambil mengiringinya dengan bacaan suara penuh, hingga para hadirin ternganga. Entah karena takut pada Jepang, entah karena sungguh-sungguh terpesona. Itulah sajak yang kini dikenal sebagai Aku. Sajak yang paling popular dalam khazanah sastra Indonesia, paling banyak dibaca dan dibacakan, paling banyak dikaji-dipelajari, dan sudah menjadi artefak yang tiada lekang dimakan waktu. Dan, laki-laki yang tegak berkacak pinggang itu bernama Chairil Anwar. 

Chairil adalah personalitas yang terbelah. Ia punya sajak Aku, yang telah menjadi suluh di kerak malam, yang membangkitkan ketangguhan dalam situasi ketika racun berada di reguk pertama/membusuk rabu terasa di dada/tenggelam darah dalam nanah, tapi Chairil juga mendedahkan Cemara Menderai  Sampai  Jauh. Sajak yang mengandung kepasrahan pada hidup yang rapuh. Hidup yang hanya menunda kekalahan, sebagaimana kekalahannya dalam menaklukkan Ida, Sumirat, dan Hapsah. Tiga dari beberapa perempuan yang ia kekalkan dalam sajak-sajaknya. Tiga perempuan yang mungkin pernah berada di tangannya, tapi tak sungguh-sungguh ada dalam genggamannya. Ida adalah sosok perempuan yang melambungkan imaji Chairil, tapi dalam kenyataan Ida tidaklah mungkin terjangkau. “Chairil itu memang binatang jalang yang sesungguhnya. Tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak karuan itu?” kata Ida pada HB Jassin suatu ketika. Beruntung Jassin tidak tega menyampaikan sinisme Ida itu pada Chairil. Jassin tahu persis, betapa Chairil memuja kecantikan dan kecerdasan Ida, bagai memuja berhala yang tiada cacatnya.

Ida Nasution adalah mahasiswi sastra Universitas Indonesia. Takdir dan Jassin memujinya sebagai penulis esai dan kritik yang cemerlang. Bersama Miriam Budiardjo--yang kelak menjadi guru besar Ilmu Politik UI--Ida pernah bekerja di kantor bahasa bentukan Jepang yang dikelola Sutan Takdir. Di kantor itulah para sastrawan kerap datang untuk berkumpul, berolok-olok, atau berbincang serius. Dan, Chairil sudah menjadi binatang jalang yang mengganggu ketenangan di kantor itu. Ida penerjemah yang baik. Bukan kebetulan, ia menerjemahkan Les Conquerent Andre Gide menjadi Sang Pemenang dan dimuat di majalah Pembangunan. Chairil menerjemahkan karya Gide yang lain, Le Retour de l’Enfant Prodigue menjadi Pulang Dia Si Anak Hilang, dimuat Pujangga Baru, September 1948. 

Bagi Chairil, Ida adalah nama menjulang tinggi. Nama yang menggelisahkan. Bahaya yang lekas pudar. Menurut catatan Hasan Aspahani (2015)--penulis buku Biografi Chairil Anwar--bersama Ida, Chairil seakan kembali menjadi lelaki 17 tahun. Menikmati kembali kegembiraan polos sepasang anak remaja, bersepeda bergandengan, berkejar-kejaran, menghidupi jalan-jalan Batavia. Cinta yang sesaat membutakan. Keduanya tak peduli pada apa-apa. Tak menghiraukan apapun kesulitan. Biar hujan datang. Kita mandi-basahkan diri. Tahu pasti sebentar kering lagi

Namun, cinta Chairil bertepuk sebelah tangan. Rindu Chairil adalah rindu yang meregang seorang diri. Pada 1948 Ida hilang jejak. Ia terakhir kali diketahui dalam perjalanan dari Jakarta ke Bogor. Sejak itu tak ada lagi kabar Ida. Dan jauh sebelum itu, Chairil telah pasrah dan melupakannya; kita musti bercerai, sebelum kicau murai berderai. Inilah pula yang terjadi dalam asmara Chairil dengan Sumirat. Boleh jadi Mirat pernah “dimilikinya,” tapi lagi-lagi tidak bisa jatuh ke dalam genggamannya. Hidup yang luntang-lantung, pekerjaan yang serampangan, penghasilan yang tak tentu, membuat ayahanda Mirat menolak kehadiran Chairil. “Orang selalu salah sangka, tapi mereka akan menyesal nanti. Aku akan sanggup membuktikan bahwa karyaku ini bermutu dan berharga tinggi. Jangan kita putus asa, Mirat. Aku akan terus berjuang untuk memberi bukti,” janji Chairil sebelum berpisah dengan Mirat. Apalah daya Chairil, Mirat akhirnya menikah dengan seorang dokter tentara. Pada 1948, Chairil menyelesaikan sajak terakhir untuk Miratnya, dan setahun kemudian ia meninggal dunia.

Tidaklah berlebihan kiranya bila Ida menuding Chairil sebagai “manusia tak karuan.” Gaya hidupnya bohemian tulen. Kelimpasingan bila sudah melihat perempuan cantik. Pembangkang kelas berat. Bukan hanya pada Jepang, tapi juga pada HB Jassin yang tak henti-henti membela sajak-sajaknya di meja redaksi Panji Pustaka, pada Sutan Takdir Alisjahbana, pada siapa saja yang sekiranya menghambat laju kencang kepenyairannya, bahkan tak segan-segan memasang namanya pada sajak yang sebenarnya disadur dari karya penyair barat yang dikaguminya. 

Chairil adalah juga pencuri buku yang sangat terlatih. Dalam sekejap ia bisa mengelabui petugas kasir toko buku. Ia bisa melenggang dengan santai di hadapan kasir, dengan buku yang sudah berpindah ke dalam bajunya. Itu ia lakukan berkali-kali, dan tak sekalipun tertangkap tangan. Konon, penyair Sitor Situmorang pernah diajari Chairil cara mendapatkan buku-buku terbaik dari toko tanpa harus melalui meja kasir alias mencuri. Atas dasar kelihaian itu, Mochtar Lubis tak pernah ragu meminjamkan uang padanya, sebab Chairil akan membayar utang-utang itu dengan buku-buku hasil mencuri. 

Karya-karya Marsman, Perron, dan Slauerhoff dilahapnya. Sajak-sajak Auden, Cornford, Rilke diarunginya. Bahasa Belanda dan Perancisnya fasih dan terpuji. Buku-buku filsafat tak lepas dari kesehariannya. Saban hari ia bergelimang kesadaran puitik, hingga hidupnya terhisap jauh ke dalamnya. Ia tak punya waktu mengurus Hapsah, istrinya. Tak ada uang untuk menafkahi keluarganya, hingga dalam sebuah pertengkaran, ia angkat kaki dari rumah istrinya dengan membawa buku-buku koleksinya. Chairil meninggalkan Evawani, putri semata wayangnya yang baru berusia 1 tahun. Pendek kata, ia telah mengorbankan hidupnya sebagai laki-laki biasa, sebagai bapak, sebagai suami. Chairil adalah sebuah anomali di jaman yang sedemikian payah.

Suatu hari Chairil menunduk dan menyadari betapa cinta platonik pada Sumirat telah kandas di tengah jalan. Perempuan pujaan yang mustahil dapat digenggam. Betapa keluarga kecilnya bersama Hapsah dan Evawani telah dirampas oleh birahi kepenyairannya yang meluap-luap. Betapa tubuhnya makin tak terurus, badannya yang makin kurus. Tiba-tiba muncul semangatnya untuk mengumpulkan sajak-sajak yang berserakan guna diterbitkan. Chairil berniat menikahi istrinya kembali dan bersama-sama membesarkan Evawani. Ia rindu Ketan Srikaya bikinan Hapsah. Royalti dari buku itu ia niatkan untuk menebus kembali perkawinannya yang berantakan. Namun, saat itu pula penyakit parah menyerangnya. Hanya dalam hitungan hari, meriang yang melanda, membuat sekujur tubuhnya hampir membeku. Muntah darah tak sudah-sudah, hingga pada 28 April 1949 ajal datang merenggutnya. 

Chairil tak sempat menyaksikan bukunya terbit, apalagi menerima royalti. Ia tak pernah merasakan betapa karya-karyanya dikaji dan dikenang hingga kini. Chairil tak pernah bisa pulang pada Hapsah, pada Evawani, dua perempuan terakhir dalam tarikh singkatnya. Chairil mati muda, dalam usia 27 tahun, tapi nyala dan tenaga hidup dalam sajak-sajaknya tiada mungkin padam. Dalam genggaman kesadaran kita, Chairil akan terus hidup, melebihi 1000 tahun usia yang dulu pernah didambakannya…


Damhuri Muhammad
Cerpenis, Esais


*versi cetak dari artikel ini tersiar sebagai kata pengantar dalam buku CHAIRIL, karya Hasan Aspahani (2016). Versi digital ini telah mengalami beberapa penyesuaian sesuai kebutuhan kontekstual.     


Comments

Popular Posts