Keris Mpu Gandring dalam Limbah Digital

Damhuri Muhammad


Rubrik Udar Rasa harian Kompas Minggu, ruang penyiaran mula-mula dari 67 kolom dalam buku bertajuk Kritik, Fakta, Fiksi karya Bre Redana ini, tidaklah asing bagi saya. Sebelum berubah nama menjadi Udar Rasa, rubrik itu menyiarkan esai seni, dan saya pernah menjadi salah satu kontributornya. Dalam rentang 2005-2017, ketika saya masih rutin menulis esai seni, Bre Redana, berkhidmat sebagai penanggungjawab atau kepala desk halaman minggu Kompas, yang artinya atas keputusannyalah esai-esai kiriman para kontributor, layak tayang atau tak. Saya tahu, Bre tak bekerja sendiri (ada Kenedi Nurhan, Efix Mulyadi, Frans Sartono, Putu Fajar Arcana), tapi saat "pecah-telur" (setelah ratusan kali mengirim esai)  publikasi perdana saya di ruang seperempat halaman itu, membuat saya tak bisa lupa bahwa atas panggilan hati Bre lah esai saya yang masih kaleng-kaleng itu mendapatkan tempat di Kompas. Saya sering membayangkan betapa telitinya Bre dan kawan-kawan membaca setiap esai yang masuk, betapa tak mudahnya membuat Bre berkeputusan memilih tulisan saya, hingga tak terasa saya sudah menghabiskan waktu lebih kurang 11 tahun, dan barulah pada  2005, Bre menurunkan sebuah esai polemis saya bertajuk  Sastra (a)Moral?

Foto: @damhurimuhammad


Sedemikian hormatnya saya pada disiplin dan ketelitian  para editor Kompas Minggu, saya tak berani membayangkan bisa bercanda, sebagaimana layaknya kawan akrab dengan Bre, baik pada saat ada kesempatan berjumpa dalam acara-acara yang digelar Kompas di Palmerah, maupun dalam obrolan-obrolan singkat di twitter. Esai pecah-telur tadi telah membuat saya riang alang-kepalang seperti Beruk dapat mainan, dan aroma kertas koran yang menyeruak bersama aroma kopi pagi di bilik kerja mini rumah kontrakan saya, membuat akhir pekan saya di pinggiran Jakarta terasa begitu istimewa. Bukan karena gairah narsistik lantaran nama saya akhirnya tertera juga di halaman koran yang saya baca saban hari sejak masa SMA, melainkan karena jalan panjang mendaki-menikung selama memenuhi kriteria layak-muat sebuah tulisan yang kebetulan masa itu gawangnya dijaga Bre. Itu membuat saya lega, dan diam-diam saya memperlakukan rubrik itu tak semata-mata ruang penyiaran esai, tapi juga saya anggap  sebagai "akademi kepenulisan" yang telah melahirkan jago-jago esai seni, meliputi sastra, teater, seni rupa, fotografi, film, musik,dan lain-lain. Sekali lagi, Bre Redana adalah salah satu  pengelola "akademi" itu. Dengan begitu,  bila dalam kolom bertajuk GM Sudarta (hal 81), Bre mengungkap penegasan Jakob Oetama tentang kebudayaan sebagai roh koran Kompas, dan bagi Bre salah satu roh itu adalah GM Sudarta, maka bagi saya, setelah GM Sudarta tiada, roh kebudayaan di harian Kompas adalah Bre Redana sendiri.

Jika kembali pada cerita tentang Kompas, sebagai "akademi" kepengarangan,  "bekas manusia koran" (begitu Bre menyebut dirinya pada kolom Melawan Dengkul) baik sebagai redaktur yang terlibat secara intens dalam mekanisme kuratorial guna memilih tulisan layak tayang untuk pembaca koran publik seperti Kompas, maupun  sebagai  sebagai pemikir kebudayaan, yang bersusah payah mengumpulkan kepustakaan dan menghimpun pengalaman baca guna mendedahkan sebuah kolom yang subtil dan  reflektif, tidaklah mungkin dikerjakan secara instan dan serampangan, tak semudah menulis cuitan di twitter atau mengunggah status di facebook. "Dulu, dengan mesin tik merk Olympia, butuh beberapa waktu untuk memenuhi kertas ukuran A4. Mikir dulu sebelum memencet tuts. Kalau salah, ribet. Jika salahnya terlalu banyak, kertas dicopot, diganti yang baru," kenang Bre Redana (hal.65).

Romantisme tentang zaman analog yang berulang-ulang dikatakan Bre dalam buku ini, seperti langit dan bumi bedanya dengan habitus kepenulisan era media daring, apalagi media sosial. Demi mengejar engagement  (klik, like, share,) substansi sebuah artikel news tidak lagi penting, karena yang dikejar adalah pembaca yang banyak, bukan pembaca yang dalam. Judul berita lebih penting daripada isinya. Sensasi lebih perlu ketimbang fakta. Banyak pembaca hanya butuh berkas lunak tangkapan layar (screenshoot) dari judul berita yang sensasional untuk diperlakukan sebagai konten pendukung preferensi politis tertentu, sementara lawan debat juga melakukan hal serupa sehingga diskursus pengetahuan tumbuh dari teks yang sengaja digarap untuk keperluan agitasi, propaganda, adu domba. Lebih parah lagi situasinya di media sosial di mana hukum yang  berlaku adalah I post therefore i am. Pokoknya tulis saja! Berkomentar saja! Benar-tidaknya urusan belakangan. Semua orang adalah komentator, semua adalah pengamat, semua adalah penasihat, ("termasuk menasihati Presiden," kata Bre) di linimasa akun pribadi masing-masing. 

Intelektual sekaliber guru besar bisa di-bully tak henti-henti oleh seorang facebooker yang (mohon maaf) tidak lulus SD. Begitu juga seorang pecandu game-daring bisa menasihati Presiden atas sebuah pernyataan resmi yang tertera pada konten tangkapan-layar. Batas antara fakta dan fiksi hampir tiada. Batas antara kebenaran dan dusta telah runtuh. Netizen hanya mau mendengar apa yang ingin ia dengar, dan menyangkal setiap konten yang berbeda dengan preferensinya. Hanya ada dua kelompok besar manusia yang menghuni jagat medsos, yaitu suka-tak suka, memuji-mencaci, mendukung-menjatuhkan, bumi bulat-bumi datar, Cebong-Kadrun, dan semacamnya.  Dalam situasi seperti ini di manakah letak kenyataan yang otentik? Atau di mana kebenaran bersembunyi? "Sebagai wartawan, dulu saya utusan fakta. Sebagai pensiunan kini saya utusan fiksi," kata Bre (hal 65). Sikap yang memperlihatkan betapapun seorang kolumnis yang berdisiplin jurnalistik sudah berusaha keras, tetap sulit untuk selamat dari gelombang besar pasca-kebenaran (post-truth) atau Bre menyebutnya dengan istilah "zaman pasca-kasunyatan."

Perihal otentisitas kenyataan yang terdisrupsi habis-habisan, baik karena medium baru bernama social-media maupun karena implikasi etis bagi para penggunanya, sebagaimana sering ditegaskan oleh Bre dalam buku ini, mengingatkan saya pada analogi koin usang dari filsuf Friedrich Nietzsche (1844-1900)  dalam  On Truth and Lies in a Nonmoral Sense (1896). Bagi Nietzsche, yang kita sebut sebagai “kebenaran” tak lebih dari ilusi tentang sesuatu yang telah dikelupaskan dari diri sejatinya. Nietzsche menggunakan analogi koin yang telah terdistorsi sebagai logam, karena simbol dan gambar di permukaan koin itu sudah luntur dan tak dapat dikenali lagi. Adapun yang mengakibatkan kebenaran terpelanting menjadi ilusi menurut Nietzsche adalah armada metafora (army of methapors), yang di era pasca-kebenaran ini mungkin dapat diamsalkan  dengan  cyber army atau pasukan buzzer yang saban hari berkhidmat mendistribusikan informasi berdasarkan pesanan, guna membangun persepsi atas kepentingan tertentu. Akibatnya, seperti koin yang hanya tersisa sebagai logam, kebenaran terdegradasi menjadi persepsi belaka.

Kecemasan utama Bre yang menjadi napas dari buku setebal 235 halaman ini adalah berakhirnya tarikh  penggalian pengetahuan dari buku tercetak, akibat tak terbendungnya gelombang revolusi digital. Buku, yang disebut Bre dengan "Ibu" dan saya pahami sebagai "Ibu" yang telah melahirkan peradaban modern, termasuk teknologi internet sejak penghujung 1950-an, setelah temuan Integrated Circuit (IC) oleh Robert Noyce (teknologi semikonduktor dari bahan silicon, yang kemudian menjadi  penamaan bagi  Silicon Valley,  ibukota teknologi digital dunia). Tapi setelah  internet menandai bermulanya zaman yang menurut pemetaan Bryfjolfsson dan McAffe (2014) dalam The Second Age Machine Work, Progress, and Prosperity in Time of Briliant Technologies disebut era Mesin Kedua (sementara Mesin Pertama ditandai dengan  temuan Mesin Uap oleh James Watt), lalu "Ibu" (buku) yang melahirkan peradaban baru itu ditikam oleh anaknya sendiri. Bre mengamsalkan keterbunuhan dunia buku oleh dunia digital seperti Mpu Gandring yang ditikam oleh keris bikinan sendiri. "Di hari tua Ibu Buku, kalian menghabisinya sepertinya Ken Arok menikamkan keris pada pembuatnya, Mpu Gandring," demikian hipotesa Bre Redana (hal 116).

Setajam-tajamnya keris itu, sebagaimana tajamnya tikaman dunia digital terhadap realitas analog, Mpu Gandring tidaklah mati tertikam, mungkin hanya luka gores yang sesaat akan sembuh kembali. Tengoklah buku-buku terus diproduksi, marketplace dibanjiri oleh etalase buku tercetak yang siap dipesan tanpa harus datang ke toko buku. Cerita tentang ketahanan dunia buku ini dapat  merujuk pada sejarah mula-mula Amazon.com yang dalam catatan  Brad Stone (2013) kini telah ternobat sebagai The Everything Store. Muhammad Rahmat Yananda dan Ummi Salamah (2020) dalam buku terkininya Ekosistem Inovasi dan Kewirausahaan Rintisan menceritakan kisah persaingan Amazon sebagai platform e-commerce dengan toko-toko buku konvensional. Sejak 1995, Amazon tampil sebagai pelaku disrupsi dengan berbagai inovasi di bawah kepemimpinan Jeff Bezos. Pada tahap awal, Amazon melakukan disrupsi terhadap toko buku besar seperti Borders dan Barnes & Noble. Di era internet, Amazon menaklukkan Borders dari aspek efisiensi ruang toko, pembiayaan, tenaga kerja, pengalaman konsumen, teknologi dan sistem layanan, dan model bisnis. Borders membutuhkan ruang yang luas untuk menampung 140 ribu judul buku. Sementara Amazon, dengan teknologi internet dapat menghilangkan kebutuhan akan ruang toko yang luas, bahkan mampu menawarkan 3 juta judul buku kepada konsumen. Borders berutang pada industri buku dengan memanfaatkan sistem kredit sehingga utang mereka menjadi lebih banyak dari nilai buku yang tersimpan di toko. Saat dinyatakan bangkrut, Borders berutang 130 juta dolar AS pada 4 penerbit besar seperti Hatchette Book Group, Simon & Schuster, Random House, dan Harper Collins. Sebaliknya, Amazon memanfaatkan komputer yang dirancang dengan pendekatan pemesanan dan pengorganisasian bisnis sehingga dapat melakukan permintaan pemesanan kepada pemasok atau penerbit setelah ada pemesanan dari konsumen. Amazon mendapat pembayaran saat pemesanan dilakukan dan melakukan pengiriman barang 15-30 hari setelahnya. Cerita tentang  Amazon ini, alih-alih membinasakan dunia buku, justru membuat buku tercetak mudah diperoleh dan lekas tiba di hadapan pembaca.

Platform e-commerce yang digunakan oleh Amazon untuk berjualan buku tercetak berbasis pada apa yang kita kenal sebagai Web 3.0 dan Web 4.0.   World wide web (www) yang diinisiasi oleh  Tim Berners-Lee, telah menjadi salah satu teknologi penting abad 21. Web 1.0 yang juga disebut web tradisional, hanya dapat menyampaikan informasi, sementara Web 2.0 di samping bertujuan untuk menyampaikan informasi (baca), pengguna juga dapat menulis pesan. Web ini juga membuka kesempatan kepada sesama pengguna untuk dapat berinteraksi. Oleh karena itu disebutkan bahwa web ini berfokus pada orang. Sementara Web 3.0 berfokus kepada mesin yang mampu memahami informasi untuk kepentingan komputer (semantic dan meaningfull web) yang bertujuan melakukan agregasi informasi dan menawarkan pengalaman yang lebih produktif dan intuitif kepada pengguna.  Sementara itu, sebagaimana dikatakan Murugesan (2010),  Web 4.0 bertujuan untuk memaksimalkan potensi kecerdasan. Web 4.0 adalah satu agen (komputer) yang dapat berpikir, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan agen lain dalam suatu sistem yang mewakili kepentingan pengguna. Saat ini kita sedang berada di masa Web 4.0 itu.

Kecemasan Bre selanjutnya yang tertuang dalam buku ini  adalah tentang matinya pikiran (yang sekaligus berarti matinya kebudayaan) lantaran daya kognitif manusia telah digantikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence). Kabar terkini yang melintas di linimasa kita  adalah hasil saringan dari rekam jejak digital kita; buku, musik, film, olahraga yang kita suka, topik obrolan yang kita gemari, teman dari latar belakang apa yang ingin kita gauli, dan semacamnya. Dengan begitu, ia hanya akan mendekatkan kita dengan orang-orang yang punya kesamaan dengan kita. Itulah sebabnya media sosial dikuasai oleh  keseragaman. Yang saban hari disuguhi informasi tentang bahaya pemikiran tertentu, bakal alergi dengan gagasan baru yang bukan berasal dari kelompoknya, hingga timbullah fanatisme buta. Pemerhati internet Eli Pariser mengungkapkan kecemasannya pada keseragaman massif itu dengan  dengan istilah Filter Bubble (gelembung saringan). “Sebuah dunia yang dibangun dari kesamaan (familiar), adalah tempat kita tak bisa belajar apa pun,” ungkap Eli Pariser. Demikianlah algoritma media sosial membentuk cara berpikir kita, yang dalam sinisme Bre Redana hanya akan melahirkan "pikiran gadungan." Pikiran yang seolah-olah mampu menyingkap kenyataan, padahal yang berhasil ia rengkuh tak lebih dari "kenyataan gadungan".   

Tapi di sisi lain, pola interaksi pada platform C2C (consumer to consumer) berbasis Web 4.0 di sektor e-commerce agaknya dapat sedikit meredakan kecemasan Bre dalam buku ini. Dengan platform C2C,  konsumen dapat menawarkan akses kepada pihak lain untuk barang-barang konsumsi, dan bertindak seperti agen penyewaan skala kecil, atau konsumen sekaligus dapat berperan sebagai produsen jasa. Ketika penyewaan itu ditransaksikan melalui platform dan meminta imbalan, maka terjadilah apa yang disebut Michael Munger (2018) dalam Tomorrow 3.0: Transaction Cost and Sharing Economy sebagai peer to peer economy. Konsumen juga memiliki lebih banyak opsi untuk memperoleh akses yang tidak melulu harus berdasarkan kepemilikan. Kini, ada kecenderungan pengurangan kepemilikan mobil di kelompok konsumen usia muda karena meluasnya akses untuk berbagi kendaraan seperti layanan platform Relayrides, berbagi tujuan yang disediakan oleh BlaBlaCar, penyewaan murah seperti yang dilakukan oleh Zipcar, Car2Go, Sixt, atau taksi panggilan seperti Uber, Lift, dan Didi. Dalam catatan Munger, praktik ekonomi seperti ini mengarah pada bentuk sharing economy (ekonomi berbagi), di mana pergerakannya tidak lagi bergantung pada korporasi-korporasi besar.  Arun Sundarajan (2016) dalam The Sharing Economy: The End of Employment and The Rise of Crowd-based Capitalism mencatat bahwa praktik ekonomi di marketplace  telah mendorong transformasi dari kapitalisme berbasis korporasi ke kapitalisme orang banyak atau kapitalisme kerumunan (Crowd-based Capitalism). Sistem  ekonomi yang tampak lebih komunal itu, menurut Sundarajan menyediakan modal dan tenaga kerja melalui jaringan berbasis orang banyak (crowd-based), karena itu sharing economy  lebih mengandalkan individu-individu ketimbang institusi yang tersentralisasi dan hierarkis seperti korporasi atau negara. Sebagian pakar menimbang sharing economy sebagai paradigma baru yang akan memberikan suatu kesempatan ekonomi lebih baik kepada lebih banyak pihak yang terlibat.  Sebaliknya, pakar lain berpendapat,  sharing economy hanyalah kelanjutan dari paradigma ekonomi kapitalistik,  dan  hanya akan menguntungkan para pemain dominan di sektor teknologi. Sampai saat ini, kedua pandangan itu memang dapat dibuktikan. Sharing economy  membawa kebaikan, bersamaan dengan masalah-masalah yang dimunculkannya.

Tak usah jauh-jauh, jika kita menginginkan database tentang pelaku UMKM di Indonesia, adakah database yang lebih baik dari apa yang telah diadministrasikan secara sistemik oleh marketplace semacam Bukalapak dan Tokopedia? Menurut hemat saya, kepeloporan yang telah diawali oleh Ahmad Zaky (Bukalapak), Viktor Fungkong (Tokopedia), Nadiem Makarim (Gojek) dalam mengadministrasikan pelaku usaha kecil dan menengah Indonesia,  bahkan tak bisa dilakukan oleh pemerintah sejak lama. Belum lagi kalau kita mau kembali mengenang apa yang telah dilakukan oleh Tim Berners-Lee, pria kelahiran London, 8 Juni 1955. Tak akan terbayangkan panjangnya petualangan manusia di jagat maya, tanpa pintu gerbang bernama World Wide Web atau biasa disingkat www. Itulah pangkal jalan dari setiap pengembaraan di dunia digital dengan segala macam faedah dan kompleksitas persoalannya. Pada 1980, saat bekerja sebagai kontraktor lepas Conseil EuropĂ©ene pour la Recherche NuclĂ©aire (CERN)---dewan yang dibentuk untuk mendiskusikan pembangunan fasilitas penelitian fisika nuklir di Eropa---Berners-Lee mengajukan proyek berbasis hypertext guna memfasilitasi pembagian dan pembaharuan informasi di antara peneliti. Atas bantuan Robert Cailliau, ia menciptakan sistem prototipe bernama Enquire. Pada 1984, Berners-Lee menggunakan ide yang mirip dengan apa yang ia gunakan pada Enquire guna menciptakan World Wide Web. Lalu, ia membuat situs jaringan internet dengan alamat www.http://info.cern.ch, yang sekaligus menjadi server-web pertama di dunia, yang  mengudara pada 6 Agustus 1991. Di sinilah awal mula keterhubungan milyaran manusia dari delapan penjuru mata angin di bumi, dalam ruang tak berbatas bernama cyberspace. Gegap gempita dunia maya yang kian tak terbendung kini, tak lepas dari sumbangsih besar Lee. Di usia 62 tahun, Lee hidup sebagai pribadi yang rendah hati. Ia tak berkeinginan mematenkan temuannya, hingga bisa dipakai secara bebas sampai detik ini. Atas jasa besar itu, lulusan terbaik Fakultas Fisika Queen’s College, Oxford University itu memperoleh penghargaan Order of Merit (2007), anugerah bergengsi di Inggris Raya, penghargaan personal Ratu Inggris yang untuk memberikannya Sang Ratu tak perlu nasihat dari siapapun. 

Keteladanan Lee ditemukan pula pada sosok Blake Ross, pengembang piranti lunak yang menciptakan Mozilla, fasilitas penjelajah internet. Anak muda kelahiran  Miami, Florida  12 Juni 1985 itu membuat website pertamanya di usia 10 tahun. Saat Mozilla Web Browser diudarakan pada 2004, usianya baru 19 tahun. Mozilla kemudian digabungkan dengan Firefox--program yang diciptakan bersama Dave Hyatt--hingga namanya berubah menjadi Mozilla Firefox. Secara  cepat Mozilla Firefox diterima para pengguna internet karena dinilai lebih aman dan mudah digunakan, hingga merebut sebagian pasar penjelajah internet yang sebelumnya dikuasai Microsoft Internet Explorer. Pertama kali mengudara, Firefox versi 1.0 diunduh  lebih dari 5 juta  pengguna dalam 12 hari pertama. Sebagaimana pintu gerbang dunia maya temuan Lee, Mozilla Firefox, yang dikembangkan oleh Yayasan Mozilla dan ratusan sukarelawan, juga dapat digunakan secara cuma-cuma. 

Dari kerja para sukarelawan yang dimulai dari tangan dingin Ross, warganet dapat menjelajahi dunia maya dan berinteraksi di medan-medan pergaulan yang dalam bahasa Manuel Castells (2010) kemudian disebut Masyarakat Jaringan (network society). Kita  tidak dapat masuk ke dalam situs media sosial tanpa Mozilla Firefox. Karena  World Wide Web dan Mozila Firefox, jutaan orang dari berbagai negara, latar belakang keilmuan, suku dan agama, saling bertukar informasi, hingga keramaian itu berujung pada apa yang dibahasakan Castells sebagai mass-self communication, yakni individu-individu yang menggunakan berbagai perangkat media sosial, lalu mengirimkan pesan yang dapat menjangkau banyak orang. Yang telah dimulai oleh Lee dan Ross dengan  etos berbagi, komunalisme, dan multikulturalisme, rupanya kini berakhir dengan permusuhan abadi, dan kebencian yang menggumpal sebagai ideologi, seperti dicemaskan Bre dalam buku ini.

Matinya Kepakaran (The Death of Expertise) yang merujuk pada buku karya Tom Nichols, adalah kecemasan Bre selanjutnya. Tak ada lagi batas antara pakar dan awam. Semuanya adalah warga yang bermukim di rimba raya big data. Sebagaimana Mpu Gandring yang bagi saya hanya terluka gores (tidak mati tertikam keris sendiri), pakar juga tidak mati, melainkan hanya terjebak dalam gelombang besar samudera big data, dan tak bisa membebaskan diri dari sana. Pakar bekerja sendiri di kedalaman pikiran, dan sering berbeda dengan pikiran jamak. Saat mengunggah tulisan, lantaran terlalu sibuk menggali kedalaman, pakar tak sempat memahami rumus-rumus Search Engine Optimization  (SEO), tidak punya  content strategy,  tak punya waktu mengukur engagement secara berkala, dan pastilah tidak punya buzzer. Akibatnya, alih-alih produk pikirannya dapat ditemukan netizen, justru tertimbun dalam tumpukan raksasa limbah digital. Semakin ia men-digitalize karya-karyanya, ia semakin tersuruk jauh di kedalaman. Dibandingkan dengan konten-konten sampah di platform berbagi-video, refleksi pemikiran seorang expert, bagai mentimun bungkuk saja. Masuk karung, tapi tak masuk hitungan. 

Hanya orang-orang yang bersetia dengan kedalaman  seperti Bre Redana, yang bisa menemukan pakar dalam keterjebakannya. Orang yang telah menikmati sinema di platform Netflix, tapi masih merindukan gedung bioskop tua di masa remaja. Orang yang sudah beradaptasi dengan suasana pertunjukan di Madison Square Garden, New York, tapi masih merindukan pertunjukan Wayang Orang di Taman Sriwedari, Solo. Orang yang tak henti-henti mendambakan nalar sehat, tapi masih "mencurigai" ada kearifan dalam mitos yang terus hidup dalam masyarakat Nusantara. Orang yang dalam perjalanan darat dari Jakarta  ke Salatiga sudah dipandu oleh teknologi canggih bernama Google Maps, tapi saat melintasi tanjakan maut di Alas Roban, masih ingin melemparkan sekeping koin limaratusan ke sisi jurang, agar hantu-hantu penunggu di situ tidak murka, tak bikin celaka. Buku ini hendak mengantarkan pembaca dalam petualangan panjang meringkus kenyataan yang hilang, nalar yang sehat, dan kepakaran yang terjebak, nun entah di kedalaman mana...                               


Damhuri Muhammad
Esais, Kolumnis

DATA BUKU

Judul      :  Kritik, Fakta, Fiksi
Penulis   :  Bre Redana
Penerbit :  Tanda Baca, Yogyakarta, Juli 2021
Tebal       : 235 hal


Comments

Popular Posts